
Salim dan Yahya terlihat sangat terkejut mendengar perintah orang Jerman yang menyuruh mereka untuk dibunuh. Dan itu sepertinya tidak main- main karena beberapa menit berikutnya Salim dan Yahya lebih terkejut lagi saat mereka bertiga menggotong satu persatu mayat itu dan melemparnya ke tengah Samudra luas itu.
"Jetzt bist du dran! (Sekarang giliran kalian!)" kata pria Jerman itu sembari menodongkan senapannya ke arah Yahya.
"Ya, Tuhanku, Ya Rabb-ku, ampunilah aku!!!" jerit Yahya sambil memejamkan matanya.
Rasanya seperti mimpi dia bisa berada di situasi ini. Tak henti- hentinya dia mengucapkan asma Allah dan juga kalimat syahadat sambil memejamkan matanya.
"One ... two ...."
Pria Jerman itu sepertinya ingin mempermainkan psikologi calon korbannya sebelum membunuhnya. Yahya sudah siap dengan segala kemungkinan yang terjadi.
"Three!!!"
BRAAAKKK!!!
DOOORRR!!!!
Yahya merasakan nyawanya seakan sudah berada di awang- awang. Namun belum sempat dia berpikir apakah dia sudah mati atau belum, terdengar suara lagi yang lebih ribut dari tadi. Perlahan Yahya membuka matanya untuk melihat apa yang terjadi dan dia tercengang melihat Salim tengah menghambur ke arah pria Jerman itu dan menendangnya.
Rupanya tembakan tadi berhasil digagalkan oleh Salim setelah dia menendang kursi di dekatnya ke arah pria itu. Dan tendangan itu tepat sasaran dan membuat peluru yang harusnya menembus jantung Yahya itu kini menembus dinding kapal kayu yang mereka tumpangi itu.
Yahya tidak menyangka kalau teman sekerjanya itu ternyata sangat pandai berlaga meskipun dengan tangan terikat. Hanya dengan mengandalkan kakinya saja Salim bisa melumpuhkan dua orang dari mereka. Perkelahian di atas kapal kayu itu tak dapat terhindarkan. Hal itu dimanfaaatkan Yahya untuk berusaha melepas pengikat tangannya.
Yahya hampir putus asa melepas pengikat tangannya. Tapi saat melihat Salim agak sedikit lengah karena terfokus menendang salah satu dari ketiga orang itu, dan seseorang dari mereka seseorang menebas punggung Salim dari belakang. Entah karena ada perasaan terdesak dan urgensi, Yahya seperti mempunya kekuatan super untuk melepas simpul ikatan itu.
Salim terhuyung- huyung dengan darah mengalir deras di punggungnya. Dan orang yang menebas punggungnya tadi hendak melayangkan lagi samurai itu pada Salim, namun kali ini Yahya tak lagi membiarkannya. Dengan berani dia mengangkat kursi itu dan memukulkannya dengan sekeras- kerasnya tepat di kepala orang itu.
Samurai berdarah itu langsung terlepas dari tangan lelaki itu. Kini dia berdiri sempoyongan menahan sakit di kepalanya. Tetapi hanya beberapa detik orang itu kembali bangun dan mencoba menyerang Yahya. Yahya dengan sigap mengambil samurai yang tergeletak tak jauh darinya dan spontan samurai itu diacungkannya ke arah pria yang sedang bersiap menyerangnya. Dan ...
Jlebbbb!!!
"Arghhhhhh ....!!!!"
Samurai itu sukses menghunjam perut pria itu.
__ADS_1
Darah mengucur deras mengalir di sepanjang permukaan samurai dan berakhir hingga di telapak tangan Yahya.
Lelaki itu mengaduh sambil mencoba menahan darah yang bocor dari dinding perutnya. Namun tak lama dia akhirnya roboh juga, menyisakan nelangsa di hati Yahya. Karena itulah pertama kalinya seseorang tewas di tangannya. Lebih tepatnya dia membunuh orang itu.
Tak cukup sampai disitu Yahya lagi- lagi harus menyerang dua orang dari musuh mereka itu yang kini mencoba bangkit dan menyerang salim. Dan untuk kedua, dan ketiga kalinya, seseorang tewas di tangannya. Namun tak ada waktu baginya untuk menyesalinya. Dengan memberanikan diri, dengan tangannya sendiri Yahya menyeret tubuh ketiga orang itu dan membuangnya ke laut lepas untuk menghindari resiko mereka akan diserang lagi.
Usai menangani masalah musuh tersebut dengan sisa- sisa tenaganya dia menghampiri Salim yang hampir tak sadarkan diri dengan luka bekas sabetan samurai yang menganga di sepanjang punggungnya. Hal itu terjadi karena Salim ingin menyelamatkan hidup mereka. Dan mereka saling berhutang budi satu sama lain. Kalau bukan karena tindakan saling menyelamatkan, pastilah kini mereka hanya tinggal nama, meninggalkan istri dan anak di Indonesia dan Malaysia sana.
***
Tahun 1994
Pria yang sudah mendekati usia 50 tahunan itu tersenyum sumringah saat melihat sahabatnya datang untuk menghadiri peresmian cabang market material bangunan Guna- 1 di daerah Jakarta Timur miliknya. Beberapa tahun tak bertemu membuat mereka saling merindukan satu sama lain.
Mereka adalah Tengku Yahya Nirwan dan Salim Gunawan yang telah berpisah selama belasan tahun dan jarang bertemu satu sama lain. Namun keduanya masih sering saring berkirim surat dan saling memberi kabar.
Sejak peristiwa pertumpahan darah itu, keduanya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman masing- masing dan sepakat saling membagi harta rampasan bajak laut di Kapal Yolanda.
Itu adalah sesuatu yang salah mungkin jika dikembalikan ke nilai- nilai moral dan kemanusiaan. Namun tekad ingin memperbaiki hidup dan keluarga mereka membuat keduanya memutuskan untuk tidak mengembalikan harta rampasan itu kepada pemiliknya.
Selama di Kamboja, Yahya dan Salim memulihkan diri selama beberapa saat, menjual barang yang tidak mencurigakan untuk dijual dan menyembunyikan barang- barang antik penemuan mereka.
Dengan bekal uang yang mereka dapatkan dari hasil rampasan bajak laut itu jugalah, keduanya kembali ke negara masing- masing, mendirikan usaha yang akhirnya berkembang menjadi perusahaan retail bernama N- one milik Tengku Yahya Nirwan dan Guna-1 perusahaan di bidang material milik Salim Gunawan.
"Jadi, kau adalah Ilham?" tanya Salim pada cucu sahabatnya itu.
Bocah lelaki berusia 4 tahun itu mengangguk.
"Hu uh. Atok siape?" tanyanya polos.
"Saya adalah kakek Salim, teman dari Atokmu," jawab Salim sambil membelai rambut anak itu.
"Kakek itu ape, Atok?" tanyanya lagi2 dengan mimik yang sangat polos.
"Kakek itu, ya Atok," jawab Salim yang juga ikut dibingungkan oleh jawabannya sendiri.
__ADS_1
Anak kecil itu manggut- manggut.
"Kalau begitu bolehlah aku panggil atok dengan atok sahaja?"
"Mmm ...." Salim pura- pura berpikir dahulu. Kemudian dia menjawab dengan logat Malaysia. "Tentu. Boleh sahaja kalau kau mahu."
"Baiklah kalau macam tu. Atok tak de cucu ke? Ilham tak suke kalau tak de kawan bermain," kata bocah itu.
Salim tertawa.
"Cucu Atok belum pula lahir ke dunia. Nanti kalau Atok punya cucu perempuan, bolehlah dia jadi kawan Ilham seumur hidup," kata Salim dengan seloroh.
Namun selorohan itu ditanggapi Yahya dengan serius.
"Boleh sangat hal tu terlaksana kalau kau punya cucu perempuan. Kite boleh jodohkan mereka berdua," sahut Yahya denga serius.
Ilham yang tak mengerti pembicaraan kedua orang tua itu bertanya lagi dengan polosnya.
"Siape nama cucuAtok tu? Bila Ilham boleh berjumpe dengan die? Dia sehebat Ilham ke? Atok kate N- one kelak adalah milik Ilham. Cucu Atok die punya juga ke N- one macam Ilham?"
Salim tersenyum.
"Dia belum ada di sini bersama kita. Tapi kalau dia sudah ada di sini, hmmm .... bolehlah kita memanggilnya Yolanda. Yolanda Gunawan," kata Salim setelah berpikir sejenak.
"Ape dia punya N- one juga macam Ilham?" tanya Ilham kecil mengulangi pertanyaannya.
"Dia punya Guna- 1. Itu sama saja seperti N- one," jawab Salim. "Kelak kalian akan berkolaborasi menjadi kesatuan yang hebat."
Salim mengusap kepala Ilham kecil dengan sayang meskipun anak itu tak paham apa yang dikatakannya.
Dari jauh Abimanyu diam- diam mendengarkan percakapan kecil itu. Saat ini kekasihnya tengah mengandung calon anaknya juga. Mungkinkah anak yang di kandung oleh kekasihnya itu adalah Yolanda yang diharap- harapkan sang ayah? Tapi ayahnya tak suka pada gadis itu. Bagaimana ini? Bagaimana cara dia menyampaikan berita ini?
****
Like, koment dan hatinya dulu beib... Biar author rajin upnya
__ADS_1