Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Surat dari Salim Gunawan


__ADS_3

Suara ledakan keras yang terjadi di rumah keluarga Nirwan, membuat para penghuninya khususnya pekerja disana tiba-tiba berhamburan keluar dari kamar masing-masing. Tak terkecuali Melisa sendiri.Melisa segera sigap keluar ingin mengetahui situasi apa yang terjadi di luar setelah kekacauan yang dia buat.


Sonia di dalam kamar pun tak urung terkejut setengah mati. Dia masih sempat melihat gelagat-gelagat mencurigakan dari perawat suruhan Mr. Y itu sebelum suara ledakan itu terjadi. Dari tingkahnya yang celingak-celinguk di balik pintu, Sonia bisa merasa kalau wanita itu tengah bersiap menunggu sesuatu yang kelihatannya sangat besar itu. Dan sepertinya ledakan itulah yang telah ditunggu wanita itu.


Dari koridor yang berjarak kurang lebih 10 meter saja, Melisa sudah melihat merah api yang berkobar-kobar dari arah dapur. Para pembantu di rumah itu hingga supir, tukang kebun berlarian ke sana kemari mencoba membantu memadamkan api di dapur agar tak meluas ke arah depan. Listrik pun segera dipadamkan dari meteran utama agar api yang semisalnya membakar kabel listrik di dapur, tidak merembet kemana-mana.


"TuanYahya!!! Tuan??? Tuan dimane??!Tolong!! Kemane Tuan Yahya??!" teriaknya berharap ada yang menjawab pertanyaannya. Namun semua sibuk memadamkan api. Lupa akan tuan besar mereka itu.


Asisten pribadi Tengku Yahya Nirwan yang juga tinggal di rumah itu sibuk mencari tuannya. Dia mendobrak masuk ke kamar pria tua itu, namun tak menemukannya di sana. Hingga akhirnya saat dia masuk ke ruang kerja dengan bantuan cahaya senter di ponselnya, pria itu menemukan sang pemimpin syarikat N-one Grocery itu telah terkapar jatuh di lantai dari kursi kerjanya. Rupanya suara ledakan itu, membuat Tengku Yahya Nirwan merasa shock dan tak sadarkan diri.


"Tuan Yahya, bangunlah!Tuan!!!" panggilnya.


Karena tak berhasil menyadarkan Yahya, lelaki itu akhirnya keluar dan mencari seseorang untuk membantunya mengangkat pria tua itu. Hal itu tak luput dari pengamatan Melisa yang memandang pergerakan orang-orang itu dari keremangan cahaya kobaran api.


Tengku Yahya Nirwan langsung digotong oleh asistennya dan salah seorang securty rumah ke mobil untuk dilarikan ke rumah sakit. Tak terpikirkan lagi oleh mereka hal-hal yang lain selain menyelamatkan lelaki penting itu.


Kondisi saat itu tentu saja sangat menguntungkan bagi Melisa, dia dengan segera masuk ke ruang kerja Presiden Direktur N-one itu. Sebagai seorang sepuh yang tidak kuat lagi mondar-mandiri N-one - rumah setiap hari, Tengku Yahya Nirwan memang sengaja membuat ruang kerja sendiri di rumahnya untuk dapat memantau mobilitas N-one dari rumah.


Dalam kegelapan, Melisa menutup pintu ruangan itu dan menyalakan senter yang ada di ponselnya. Tak mau membuang waktu, gadis itu segera mencari-cari apa saja yang kira-kira bisa dijadikan petunjuk oleh Mr. Y untuk mendapatkan kembali harta rampasan dari kapal pesiar Yolanda.


"Dimane orang tua tu kire-kire sembunyikan harta tu? Macam mana aku boleh tahu ape yang mesti dicari bila aku tak tahu harta ape sebenarnya yang hilang tu?" gerutunya sambil menggumam.

__ADS_1


Melisa mencari dari laci meja, rak buku, lemari kaca hingga di balik-balik bingkai foto di dinding siapa tahu ada brankas rahasia seperti yang sering di lihatnya di film-film action di televisi.


Sebenarnya jika Melisa memutuskan mencari di seluruh ruangan itu, mungkin dia masih punya kemungkinan untuk menemukan petunjuk, namun Melisa sadar waktunya tak banyak. Bisa saja kalau api di dapur tak kunjung padam, maka mereka akan memanggil pemadam kebakaran segera. Dan itu artinya rumah ini tak akan lagi sepi. Sementara dia masih perlu memeriksa lagi kamar orang tua itu.


Memikirkan semua itu, Melisa memutuskan untuk pindah ke kamar orang tua itu untuk menjalankan misinya. Dan secara garis besar dia bisa menyimpulkan kalau apa yang ingin dia cari tahu tidak ada di ruang kerja pribadi Tengku Yahya Nirwan.


Setelah berada di luar ruang kerja Atok Yahya, Melisa sempat berpapasan dengan dua orang yang tergopoh-gopoh keluar sambil menelepon Zubaedah.


"Puan, dapur kite kebakaran. Saye pun tak tahu ape yang terjadi. Mase ni semua sedang sibuk menyiram api," lapor orang itu dalam kegelapan.


Melisa bisa menebak, mungkin itu adalah salah seorang asisten rumah tangga di situ. Kalau kabar ini sudah sampai di telinga Zubaedah, pasti tak lama Ilham dan anggota keluarga lain mungkin saja akan berdatangan di sini, dan itu akan membuatnya sulit dalam menjalankan misi. Sementara kesempatan begini tidak akan selalu datang dua kali. Melisa harus bergerak cepat.


Kamar bernuansa kuno itu rapi dengan tatanannya, membuat Melisa harus hati-hati setiap menyentuh barang, takut kalau dia ceroboh si empunya barang nanti akan menyadari ada yang menyentuh barang-barangnya.


Dari laci nakas, bawah bantal, hingga bawah kasur kapuk yang jaman sekarang sudah jarang dipakai oleh orang itu, tak luput dari pemeriksaan Melisa. Hingga saat dia memeriksa dua buah lemari dengan masing-masing 2 pintu yang berderet berdekatan, Melisa menemukan di laci dalam lemari itu tumpukan surat-surat yang nampaknya sudah lama termakan usia.


Meski hanya dengan cahaya senter ponsel saja, Melisa bisa melihat bercak kekuningan pada kertas dan amplop surat itu. Segera Melisa membuka salah satu surat itu. Pada kertas belakang amplop, tertulis nama pengirim Salim Gunawan dengan alamat pengiriman dari Jakarta cap pos.


Jakarta, 12 Desember 1982


Teruntuk sahabatku Tengku Yahya Nirwan.

__ADS_1


Yahya, bagaimana kabarmu semenjak saat itu? Aku harap kabarmu selalu sehat tak kurang suatu apa pun. Jarak kita yang jauh sekarang membuatku merasa kesulitan untuk dapat saling terhubung denganmu kawan.


Oh iya, seiring pertanyaanku yang menanyakan kabarmu, kau juga pasti sangat ingin tahu tentang bagaimana kondisiku saat ini, kan? Jangan khawatir, luka bacokan di punggungkh waktu itu sudah hampir sembuh berkat perawatan dirimu juga waktu itu, Kawan.


Yahya, selain ingin menanyakan kabarmu, sebenarnya aku juga ingin menanyakan sesuatu tentang peti berisi harta itu padamu. Ahhh, andai kita saling berdekatan alangkah lebih mudahnya bagi kita untuk membahas ini. Tetapi karena jarak yang terlalu jauh, dan keterbatasan keuangan yang semakin menipis dari hari ke hari, mau tidak mau, aku terpaksa harus menanyakan ini padamu. Meski hanya lewat surat.


Yahya, bagaimana menurutmu kalau isi dalam peti itu kita ambil dan jual saja pada orang yang mau membelinya? Dengan uang itu kita bisa membangun usaha kita masing-masing dan menghidupi keluarga kita.


Hahaha, kau mungkin akan mengira aku serakah, tapi hidup ini pahit kawan? Kita harus lihat realitanya. Lagi pula orang itu sepertinya sudah mati...


Sampai di situ, Melisa berhenti sejenak membacanya. Sayup-sayup dia bisa mendengar ada suara mobil datang dan pekikan panik dari Zubaedah.


Sial! Dia harus pergi dari sini!


****


Nah, nah makin seru nggak sih, atau makin ngebosanin?


Jangan lupa like dan komentarnya dulu ya, beib.


Oh, ya author juga mau bilang. Kalian bacanya udah kayak nonton film sinetron nggak sih? wkwkw ... Author ngerasa ini udah nggak mirip novel. Panjaaaang .... Hahahah ...

__ADS_1


__ADS_2