
Drama Ammar yang meminta dibelikan lot saham akhirnya berakhir setelah sang kakek Abimanyu mengabulkan keinginan cucunya itu. Padahal Yola telah menawarkan akan mengganti uang Papanya namun pada akhirnya Abimanyu membelikan dengan uangnya sendiri saham dari perusahaan yang hampir bangkrut itu.
Yola melirik jam di pergelangan tangannya itu dengan gelisah. Sedari tadi ponsel di dalam tasnya juga sepertinya akan berdering terus karena panggilan dari Hafiz andai Yola tidak mengaktifkan mode silent pada ponsel itu.
"Abang nanti tidur dimana?" tanya Yola resah ketika mereka sedang berada dalam perjalanan ke rumah Atok Yahya untuk mengantar Ammar.
Dia takut Hafiz menunggunya di luar sementara dia pulang berbarengan dengan Ilham. Terasa aneh memang, dia harus pergi sembunyi- sembunyi seperti ini padahal dia pergi dengan suaminya sendiri. Dia takut akan terjadi pertikaian antara Hafiz dengan Ilham nanti.
"Abang tidur dengan isteri Abanglah," jawab Ilham enteng.
"Abang!!!" protes Yola.
Dari kaca spion dia melihat Ammar yang tertidur di pangkuan Saidah, pengasuhnya. Memalukan sekali mereka harus membahas hal seperti ini di depan orang lain.
"Ape??" bisik Ilham menggoda sambil mencondongkan wajahnya ke arah Yola yang duduk di sampingnya.
"Yang fokus nyetirnya!!" tegur Yola lagi.
Rasanya Ilham ini tak henti- hentinya membuat dia merasa malu pada Saidah. Wanita tua pengasuh Ammar itu bahkan pernah melihat mereka berciuman di dapur apartemennya. Ah, tidak, tidak!! bantah Yola dalam hati. Waktu itu jelas- jelas Ilham yang menciumnya.
Ilham kembali fokus menyetir hingga akhirnya mereka sampai di kediaman Tengku Yahya Nirwan. Ilham segera mengambil alih Ammar dari gendongan Saidah dan menggendongnya sendiri ke kamar anak itu.
"Kita pulang sekarang!" ajak Yola.
"Oke, kalau macam tu, deal ya? Kite balik ke apartemen Abang!" jawab Ilham.
"Maksudku, abang antarin aku, terus abang nanti balik ke sini," ralat Yola.
"Kenape?" tanya Ilham keberatan.
"Aduh, Abang! Nggak usah pura- pura nggak tahu deh. Ada Hafiz dan kakaknya di rumah. Aku nggak enak kalau nginap di luar," jawab Yola memberi alasan.
"Terus macam tu tak ape kalau mengabaikan Abang, macam tu, ke?" balas Ilham.
"Abang, maksud aku bukan begitu. Gimana sih cara ngejelasinnya?" Yola terlihat frustasi.
"Yola, suami kau tu abang. Bukan Hafiz!"
"Iya. Aku tahu tapi ...."
__ADS_1
"Kite bermalam di sini. Di rumah Atok!!!" kata Ilham final.
Yola tak berdaya lagi membantah suami yang menikahinya secara siri itu.
Dan malam itu untuk pertama kalinya Yola menginap di rumah Atok Yahya. Atok Yahya sendiri telah tidur saat mereka datang.
"Mamah nggak kelihatan dari tadi. Kemana mamah, Bang?" tanya Yola sesaat setelah mereka berada di kamar Ilham.
"Mamah ke Johor. Mamah kan cakap waktu tu kalau mamah nak ke Johor dahulu menemui papah. Habis tu baru balik kat sini untuk kawani dan uruskan menantu kesayangannya sampai bila adik Ammar nak keluar dari perut Mommy Yola," jawab Ilham.
"Owh ...." jawab Yola.
Dia kemudian duduk di pinggir ranjang sembari memperhatikan Ilham yang sedang berganti pakaian dengan pakaian rumahan. Ilham hanya memakai kaos tipis yang membentuk otot- otot tubuhnya serta boxer sepaha.
Tak menunggu lama Ilham pun akhirnya bergabung di ranjang itu dengan Yola. Dia segera membaringkan tubuhnya di sana dan memaksa Yola untuk berbaring di sebelahnya.
"Abang, aku mau tanya," kata Yola lagi.
"Tanya sahaja," janwab Ilham.
"Abang percaya kalau Ammar itu benar benar jenius?" tanya Yola.
"Emmm ...." Ilham pura- pura berpikir. "Percaya."
"Darimana abang bisa percaya? Memangnya sebelumnya Abang pernah lihat Ammar baca grafik saham?" tanya Yola.
"Abang tak pernah sebelumnya tengok dia membaca grafik saham macam tadi. Tapi dia fasih bercakap dalam 5 bahase. Melayu, English, Germany, Netherland, dan mandarin. Dia pandai dalam 5 bahasa tu semenjak dia masih berusia 4 tahu. Kurang pandai dan genius macam mana lagi anak abang?" kata Ilham bangga.
Yola pun seketika takjub. Dirinya saja bahkan hanya menguasai bahasa Inggris dan Indonesia saja. Bahkan bahasa melayu pun dia tidak benar- benar menguasainya padahal suaminya adalah orang Malaysia ditambah lagi dia bersahabat dengan Hafiz dari sejak dia masih kecil.
"Emmm, itu hebat sekali. Tapi kenapa Abang nggak mengasah betul- betul kemampuannya Ammar itu? Dia bisa jadi orang hebat dan masuk rekord dunia kalau publik tahu," kata Yola antusias.
Ilham menggeleng.
"Tak mestilah macam tu, Sayang. Kite pun boleh sahaja memberi dia kehidupan yang layak dan cukup. Untuk apa dia dikenal orang banyak? Itu hanye akan membuat banyak tekanan dan kehilangan mase kecilnya," jawab Ilham.
Yola menggangguk- angguk tanda paham.
"Kalau mommy Ammar dah paham, kalau macam tu, bolehlah daddy dapat bahagian dari ...."
__ADS_1
"Nggak ya! Abang! Kita tidur sekarang!" sela Yola cepat sebelum Ilham melanjutkan kata- katanya.
Yola segera menarik selimutnya dan tidur dalam posisi membelakangi Ilham.
Ilham yang mendapat perlakuan seperti itu dari sang isteri, tak bisa marah. Yola sedang mengandung anaknya. Dia harus lebih bisa bersabar.
"Baiklah, kalau macam tu no problem, but ... can I hug you, Mommy?"
"Of course. Tapi jangan macam- macam. Dijaga tangannya," omel Yola.
Dia malam ini benar- benar tak ingin berhubungan pasutri dengan suaminya itu. Dia lelah.
"Baiklah, kalau macam tu. Kalau Yola tak mahu abang takkan pula memaksa, "kata Ilham sembari menyusupkan tangannya di balik selimut untuk memeluk wanitanya itu.
****
Di sebuah pub malam, Hafiz terlihat sedang berada dalam kekacauan. Matanya nanar menatap semua orang disana yang sedang berjoget- joget seperti tak punya beban hidup.
"Hafiz?! Kamu hafiz, kan?" tanya seseorang tiba - tiba membuyarkan lamunannya.
Hafiz menoleh. Tiba-tiba saja sesosok wanita yang sebenarnya tidak begitu cantik itu telah bergabung dan duduk di sampingnya.
"Yuri?" tanya Hafiz ingin memastikan kalau yang dilihatnya itu adalah benar- benar teman sekelasnya di Jakarta sewaktu SD dulu.
"Kamu masih ingat padaku, Ndut?" kekeh Yuri.
Padahal Hafiz sedang setengah mabuk tetapi masih ingat dirinya. Hatinya seakan berbunga- bunga. Apalagi sejak Yola menjanjikan akan jadi comblang untuk membuat Hafiz dan Yuri dekat dan berjodoh.
"Yola mana?" tanya Yuri.
"Tak payah cakap pasal wanita tu. Die tu pengkhianat!!!" maki Hafiz.
Yuri tertegun melihatnya. Terlebih- lebih saat pria itu menangis tersedu- sedu. Ekspresinya benar- benar polos, seperti Ehsan yang selalu diganggu oleh Yola saat mereka masih duduk di bangku sekolah dahulu.
"Yolaaaa .... kenapa kau lakukan hal seperti ini? Kenape kau tak boleh lupakan diaa...." raungnya di tengah hiruk pikuk suara musik di pub itu.
Yuri tertegun melihatnya. Sepertinya Yola- lah yang menyebabkan pria di depannya itu terlihat sangat putus asa.
****
__ADS_1
Jangan lupa lke, koment dan dukungannya lagi ya beib...a