
"Ape?? Sejak bile...?" Zubaedah nampak tak percaya dengan apa yang dikatakan Yola.
Hafiz, meski telah lama selalu berusaha memisahkan diri dari keluarga Nirwan, Zubaedah selalu merasa kalau Hafiz adalah putranya. Dan putranya yang dia kenal selama ini tidak pernah dekat dan berusaha mendekati wanita mana pun selain Yola. Dan kini Yola bilang yang ada di hadapannya ini adalah calon menantunya? Ahhh, yang benar saja?
Yola beringsut dari duduknya dan pindah ke kursi di dekat Mamah Zubaedah. Lalu ia pun mendekatkan diri pada ibu mertuanya itu dan berbisik,
"Itu teman sekolah kami waktu SD, Mah. Hafiz menghamili perempuan itu. Tapi dia enggan tanggung jawab," bisik Yola memprovokasi sang mertua.
"Ape???" Zubaedah lebih terkejut lagi akan berita yang diceritakan oleh Yola ini.
Dia bahkan nyaris berteriak hingga teman-temannya dan pengunjung stand sate padang ini menatapnya dengan rasa ingin tahu.
"Hafiz!!! Lepas ni, kau dan Mamah mesti berbicara dahulu," kata Zubaedah marah.
Semua yang ada disitu nampak bingung. Tapi tidak dengan Hafiz. Hafiz sepertinya tahu Yola telah mengadukannya ke Mamah Zubaedah.
"Yola, kau cakap ape dengan Mamah?" serang Hafiz.
"Cakap yang sebenarnyalah," jawab Yola ketus.
"Yolaaa!!!!" Hafiz menggeram marah pada Yola.
"Ape pula kau marahkan Yola. Mamah yang akan marahkan kau! Kau ni sejak memisahkan diri dari Keluarga Nirwan, Mamah dah tak tau-tau, ape-ape yang kau buat di luar sana," omel Zubaedah.
"Hafiz tak lakukan sesuatu yang salah pun, kenape mesti kena marah?" bantah Hafiz.
"Tak salah ape? Kau dah buat anakk gadis orang berbadan dua macam mana tak salah?" tuding Zubaedah. "Dah pun macam tu, tak mengaku pula!"
Teman-teman Mama Zubaedah pun langsung geleng-geleng kepala mendengar hal itu.
"Is, is, is .... tak patut, tak patut. Kau tak boleh macam tu lah! Seorang pria mustilah bersikap macam gentleman sejati. Bukan habis manis sepah dibuang," kata salah satu teman Mamah Zubaedah.
Yang lain yang ada di meja itu langsung mengangguk-angguk mengiyakan.
"Bukan macam tu, Mah, Makcik, pasalnya saye tak ..."
Hafiz langsung mengurungkan niatnya untuk memojokkan Yuri. Kasihan juga gadis itu kalau nanti Mamah Zubaedah dan kawan-kawannya mencap Yuri sebagai gadis murahan yang mencoba menjebak Hafiz, begitulah kira-kira yang ada di pikiran Hafiz.
"Tak?" tanya teman Mamah Zubaedah lagi mencoba memojokkan Hafiz agar mau bertanggung jawab.
"Haisss ... saye belum siap berkahwinlah," jawabnya pada akhirnya.
"Kalau macam tu kenape dilakukan perbuatan tak baik macam tu?"
__ADS_1
Hafiz menghela napas panjang menerima semua serangan berupa tuduhan yang dilemparkan pasukan. emak-emak itu padanya.
"Khilaf, Makcik," jawabnya pasrah sambil melirik Yola dan Yuri berganti-gantian seolah dia mau bilang "puas?puas?puas?".
Yola memang cukup puas dengan hasil kerjanya. Setelah ini, Yola yakin Mamah Zubaedah akan mendesak Hafiz untuk menikahi Zubaedah. Dan Yola juga cukup tahu, meski selama ini Hafiz selalu menjauhkan diri dari keluarga Nirwan, tapi kasih sayangnya pada Zubaedah layaknya kasih sayangnya pada ibu sendiri.
"Kenape kau lakukan tu?" bisik Ilham pada Yola.
"Biar dia tanggung jawablah," kata Yola ketus.
"Ckckck ..., biarkan mereka mengurus problem mereka sendiri, Honey," bujuk Ilham.
"Isss, Abang. Diam aja deh. Aku tuh pengen Hafiz tu ada yang mendampingi, gimana sih? Abang nggak pengen Hafiz bahagia?" omel Yola dengan berbisik.
"Kamu harus kahwinkan dia secepatnya kalau macam tu, Hafiz ..." kata Mamah Zubaedah tegas.
Yola mengangguk-angguk antusias.
"Betul, Mah. Gimana kalau nikahnya samaan sama aku dan abang pas resepsi pernikahan kami nanti?" usul Yola.
"Yola??" protes Ilham.
Dia terkejut mendengar ide Yola yang mulai tak masuk akal itu. Dia mempersiapkan majlis perkahwinan itu untuk membuat dirinya dan Yola menjadi raja dan ratu dalam sehari dan untuk menunjukkan pada dunia kalau mereka adalah pasangan suami istri dan kekasih yang sesungguhnya.
Hafiz geleng-geleng kepala karena kini semakin tak bisa lepas dari persoalan masalah tanggung jawab dengan Yuri ini.
"Yu- Yuri, Tante," jawab Yuri gugup.
"Yuri, kau usah risau. Saye akan menjamin kalau Hafiz akann tanggung jawab dengan kau. Hafiz ni, tak tahu sejak bila berubah menjadi degil," kata Zubaedah sambil menatap Hafiz dengan pandangan melotot.
"Iyalah, iyalah. Hafiz pula yang salah. Tak pernah dipercaya. Hafiz kan hanya anak pungut je," kata Hafiz tiba-tiba.
"Hafiz!!!!" tegur Zubaedah dan Ilham bersamaan.
Keduannya selalu tak bisa mengerti kenapaa Hafiz selalu berprasangka buruk pada mereka.
Teman-teman Zubaedah yang ada disana menjadi tak mengerti apa yang terjadi di keluarga Nirwan sebenarnya.
Zubaedah masih ingin menceramahi Hafiz dan menyadarkan pria itu kalau dia masih selalu menjadi anak bungsu bagi Zubaedah. Namun tiba-tiba ponsel Zubaedah berdering. Zubaedah menerima panggilan telepon itu. Panggilan dari kediamann keluarga Nirwan.
"Hallo?"
"Puan, dapur kite kebakaran!" lapor salah seorang asisten rumah tangga.
__ADS_1
"A-ape?"
***
Di rumah kediaman keluarga Nirwan, sesaat setelah Ilham pergi.
Melisa yang hampir ketahuan oleh Ilham sedang menguping itu kembali ke kamar dia dan Sonia berada. Ya, kedua orang itu memang dijadikan satu kamar oleh Zubaedah. Alasannya agar kalau Sonia membutuhkan sesuatu, Melisa bisa sekalian membantunya.
Melisa menutup pintu kamar rapat-rapat.
Rumah ini sedang sepi. Hanya ada Tengku Yahya Nirwan. Para pembantu yang saat ini mungkin sudah berada di kamar tidurnya masing-masing untuk istirahat. Zubaedah sendiri dan Ammar belum pulang dari berjalan-jalan dengan teman-teman Zubaedah.
Dia dalam kamar Melisa mondar-mandir sendiri, berpikir keras bagaimana agar dia bisa memanfaatkan situasi ini dan menyelinap ke dalam ruang kerja sang pemimpin perusahaan besar itu.
Tak mendapatkan ide, gadis itu pun keluar dari kamar, menuju belakang. Ketika dia hampir sampai di dapur tak sengaja Melisa melihat seorang ART yang baru keluar dari dapur sedang membawa termos air panas.
Melisa segera bersembunyi di balik sebuah lemari buffet hingga ART itu menghilang dari pandangannya.
Sepeninggal ART itu, Melisa pun masuk ke dalam dapur. Terlintas idenya saat melihat panci yang tampaknya bekas dipakai sang ART untuk merebus air panas.
Lalu Melisa pun membuang sisa air yang berada dalam panci, menutupnya dan meletakkannya kembali di atas tungku kompor. Kemudian perlahan Melisa pun menyalakan kompor itu dengan panci kosong yang tertutup rapat di atasnya.
Lalu sesegera mungkin dia pergi dari sana, sebelum tekanan yang terjadi akibat suhu yang semakin memanas di dalam panci kosong tertutup itu, tak terbendung dan membuat ledakan di dapur ini.
Usai melakukan misi kecilnya, Melisa segera kembali ke kamarnya dan Sonia. Dengan hati berdebar dia melihat jam dinding di kamar itu.
"Satu ..." Melisa mulai berhitung menanti agar ledakan itu segera terjadi.
"Dua ..."
"Tiga ..."
Tak terdengar suara apa pun.
"Tiga?" gumam Melisa sekali lagi.
Apa yang terjadi? Kenapa panci itu tak meledak?
Tak sabar Melisa ingin mengecek kembali, tapi saat di masih ingin membuka pintu kamar, apa yang direncanakannya berhasil terjadi.
BOOOMM!!! DUUAARR!!!
***
__ADS_1
Wah, wah, wah ... Apakah yang akan terjadi setelah ini ya reader beib. Jangan lupa like dan komentarnya dulu donk.