Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Pengakuan


__ADS_3

Hafiz memperhatikan Putri yang tampak sibuk dengan makanannya. Roasted Australian Lamb Rack with Oregano adalah menu yang dipilih Putri malam ini untuk dinner-nya bersama Hafiz. Menu ini adalah iga domba Australia yang dipanggang dengan oven dan ditaburi dengan oregano kering setelah matang, menu yang dianggap Putri cukup untuk membuatnya terlihat sibuk sehingga ia tak perlu terlibat pembicaraan yang cukup serius dengan Hafiz.


Hafiz sendiri menyadari ada yang berbeda dari Putri sejak dia bertemu Nizam di lift tadi. Putri yang sebelumnya terlihat mau merespon candaan dan gurauannya meski dengan omelan, kini lebih banyak berdiam diri dan menanggapi obrolan Hafiz dengan jawaban-jawaban singkat seperti "Oh", "iya", "mungkin", "kurang tau", "terserah aja" dan beberapa jawaban singkat yang intinya tetap ingin menunjukkan kalau dia tidak berminat untuk banyak bicara dengan Hafiz.


"Put, makanannya sedap ke?" tanya Hafiz, mencoba mengajak Putri untuk berbicara lagi setelah beberapa kali mencoba Putri terlihat sengaja menolak beramah tamah dengannya.


"Lumayan," jawab Putri cuek, masih sibuk memisahkan daging dari tulang iganya.


Hafiz menghela napas. Sepertinya perubahan Putri yang bersikap cuek padanya pastilah karena Nizam. Apakah Putri mendengar saat Nizam mempertanyakan soal dirinya yang mungkin belum bisa move on seutuhnya dari Yola?


"Kamu kenapa belum makan? Cepetan donk! Kalau kamu lama begitu kita pulangnya jam berapa entar? Ini udah jam berapa ni? Kelamaan pulang juga nanti aku yang nggak enak sama Makcik dan Bang Ilham," gerutunya dengan tangan masih sibuk memainkan garpu dan pisau yang dia gunakan sebagai alat untuk memisahkan daging dan tulang iga.


"Putri, kau tahu tak kalau abang pernah meminang Yola di hotel ni? Kat sini?" tanya Hafiz.


Putri menghentikan aktivitasnya sejenak. Sungguh lelaki yang kejam! Jadi dia sengaja mengajakku ke sini untuk menunjukkan kalau dia dan Yola benar-benar pernah terikat dalam satu hubungan? Cih, dia anggap aku apa? batin Putri.


Sakit hati? Iya. Tetapi Putri tidak ingin menunjukkannya, setidaknya dia tidak ingin terlihat konyol di sini. Yola adalah sepupunya. Tak akan lucu kalau dia harus menangis akibat patah hati karena cinta bertepuk sebelah tangan pada mantan tunangan sepupunya itu.


"Oh ... aku baru tahu. Diterima Yola donk waktu itu?" tebaknya. Sikapnya kembali acuh kemudian. Tak ada niat kepo atau penasaran. Jelas Yola menerima kan? Karena itulah mereka sempat bertunangan waktu itu.


Hafiz mengangguk. Hafiz membuka kalung yang berada di lehernya, yang ternyata di balik kaos yang dia kenakan ada sepasang cincin yang bergelantung pada kalung itu.


Kalung itu kini berada di genggamannya. Lalu dengan sekali tarik sepasang cincin itu pun dilepaskannya dari kalung itu. Hafiz meletakkannya di meja, di hadapan Putri.


"Apa?" tanya Putri heran.


"Itu cincin pertunangan aku dengan Yola," jawab Hafiz.


Putri benar-benar menghentikan makannya kali ini. Garpu dan sendok yang menjadi alat makannya kini diletakkan begitu saja. Selera makannya menguap entah kemana.


"Pulang yuk!" ajaknya. "Aku udah kenyang."


Putri segera berdiri. Dia merasa sesak sendiri saat ini. Berulang-ulang kali dipermainkan Hafiz, diberi harapan tetapi palsu. Lelaki itu sepertinya belum bisa move on dari Yola, pantas temannya tadi menanyakan hal itu.

__ADS_1


Hafiz buru-buru ikut berdiri dan memaksa putri kembali duduk.


"Putri tenang dahulu! Abang belum selesai bercakap," bujuk Hafiz yang kini sadar Putri sedang diliputi amarah.


Putri mendengus, membuang napasnya banyak-banyak untuk mengurangi gemuruh dalam dadanya yang terasa sesak. Hafiz! Kamu jahat!


Suasana Sky Cafe dan Resto malam ini agak ramai. Tak sama saat dulu Hafiz melamar Yola di tempat ini. Saat itu Hafiz telah mereservasi tempat ini beberapa hari sebelumnya hingga mereka bisa menikmati momentnya berdua karena pihak cafe hotel telah mengosongkan cafe itu untuk beberapa jam ke depan. Tetapi karena malam ini Hafiz mendadak mengajak Putri tanpa planning, dia terpaksa menghubungi beberapa relasi dan temannya untuk mempersiapkan moment malam ini melalui aplikasi chat. Itulah sebabnya dia menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan asyik berbalas chat di dalam mobil.


Hafiz berjongkok di hadapan Putri sambil memandang gadis itu lekat-lekat. Tangannya meraih tangan Putri.


"Abang tahu ape yang kamu pikirkan. Putri mase ni mesti sedang mempertanyakan macam mana perasaan Abang pada Yola, kan?" tebaknya.


Putri tak menjawab. Dia memalingkan wajah melempar pandangannya jauh. Mereka saat ini sedang berada di meja paling pinggir. Tempat strategis untuk berbicara tanpa khawatir ada yang berlalu lalang di sisi meja.


Merasa diabaikan oleh Putri, Hafiz merem*s tangan Putri erat agar perhatian gadis itu kembali padanya.


"Aku menyayangi Yola, dia wanita pertama yang kucintai, dan yang aku rasa akan tetap ingin kulindungi sampai bila ..."


Putri ingin melepaskan tangannya dari genggaman tangan Hafiz. Tetapi Hafiz menahannya dan menggenggam tangan itu semakin erat.


Putri ingin melepaskan tangannya lagi dan lagi dari genggaman Hafiz. Tetapi lelaki itu semakin erat menggenggamnya.


"Tetapi Putri, hajat di hati ingin meminang kau sebagai isteri itu sungguh-sungguh. Dari lubuk hatiku yang paling dalam aku ingin kau menjadi isteri aku," ucap Hafiz bersungguh-sungguh.


"Maksudmu ingin menjadikan aku pelarian gitu?" tukas Putri dengan ketus.


"Tak macam tu," Hafiz buru-buru menjawab sebelum Putri makin salah paham padanya.


"Terus gimana maksudnya? Kamu sendiri mengakui kalau kamu masih memiliki perasaan pada Yola. Hafiz, Yola itu sepupuku! Jangankan menikah denganmu, menjalin hubungan dekat saja aku tidak berani, karena masih ada Yola di hatimu. Yang benar aja suamiku masih mencintai sepupuku, itu gimana ceritanya? Udahlah, nggak usah repot-repot berdalih. Insiden di kamar mandi hanya sesuatu yang harusnya tidak pernah terjadi dan tidak disengaja. Dan lagi pula itu salahku karena tidak lihat-lihat dulu ada orang di kamar mandi atau tidak. Jadi nggak perlu merasa bertanggung jawab. Kalau begini aku yang jadi merasa tak enak hati," kata Putri.


"Kau salah sangka padaku. Putri, bagaimana caraku menjelaskan?Aku tak jadikan kau pelarian. Aku sungguh-sungguh berminat jadikan kau isteriku. Aku juge ingin melupakan Yola sepenuhnya. Dan kite akan belajar mencinta satu sama lain sedari awal, biarkan kite saling mengenal dan mencinta setelah perkahwinan, hmm?"


Putri tertawa kecil. Alangkah konyolnya pria ini! Dia ingin menikahi Putri tetapi mengaku kalau di hatinya masih ada Yola.

__ADS_1


"Kalau kau tak bisa melupakan Yola bagaimana? Aku yang apes donk?"


"Mesti. Aku mesti dapat lupakan dia, asalkan kau dapat maklum dan memberiku sedikit masa," kata Hafiz mencoba meyakinkan Putri.


Putri menggeleng.


"Hati nggak ada yang tahu Hafiz, nggak ada jaminan atau bukti yang bisa membuatku percaya kau bisa melakukan itu," jawabnya lirih.


Hafiz mengangguk dan meraih sepasang cincin tunangannya dengan Yola itu dari atas meja. Kemudian dia berjalan ke pinggir cafe outdoor tak jauh dari meja mereka. Lalu tanpa diduga Putri, dia melempar sepasang cincin itu jauh-jauh.


Putri yang terkejut melihatnya langsung berlari menghampiri Hafiz.Dia menatap nun jauh di bawah sana.


"Hafiz! Kau sudah gila? Kenapa dibuang cincinnya? Sayang tau nggak? Duuuh... kaya juga ga perlu segitunya kali," omel Putri sambil menatap ke bawah, berharap dia bisa mencari dengan matanya kemana cincin itu jatuh.


"Itu satu bukti kalau aku sungguh-sungguh nak buang masa lalu dan perasaanku pada Yola. Putri, aku dapat sahaja tak bagi tahu kau tentang semua ini, tetapi aku tak nak tutupi apa pun dari bakal isteri aku. Aku ingin kite saling terbuka antara satu dengan yang lainnya. Tak ade dusta di antara kite," kata Hafiz lagi.


Putri terdiam. Hatinya yang sedari tadi jelas-jelas sudah mantap untuk tidak lagi berharap dari pria ini, mulai bimbang kembali.


"Putri, bagi aku kesempatan sekali sahaja. Aku tak akan sakiti kau, akan setia padamu dan pasti akan cintakan kau lebih dari rasa yang pernah ade pada Yola, asal kau percaya padaku dan mahu bersabar sikit, hmmm?"


Lama Putri membisu, Hafiz juga tak ingin mendesaknya. Suasana cafe outdoor itu mulai sepi. Hanya ada tiga meja yang terisi di sana. Hingga akhirnya Putri buka suara.


"Baiklah, sepanjang aku di KL aku pikir-pikir dulu. Tetapi perlu kamu tahu aku tak suka dibohongi. Kamu harus menceritakan padaku tentang hubunganmu dengan temannya Yola itu, dan soal hubunganmu dengan Yola sendiri sejauh apa kalian pernah punya hubungan. Aku tidak mau bertaruh tentang hal seperti ini. Apa yang pernah kalian laku ...."


Putri tersentak saat Hafiz membungkam bibirnya dengan satu ciuman mengejutkan.


Oh tidak! My first kiss.


Putri mematung tak menyangka akan mendapat ciuman tiba-tiba dari Hafiz. Hingga Hafiz melepaskannya dia masih mematung tak bergerak.


"Sejauh itu. Tak lebih dan tak kurang. Dan itu hanya sekali. Aku tak nak berdusta padamu, Put."


***

__ADS_1


Ahhh modus ini Hafiz mah. Ditanya nggak langsung praktek juga kali wkwkw ...


Hai, reader! Sorry author ga tepat janji update tadi malam. Maaf ya. Tetap suport author yak.


__ADS_2