
Yola kembali ke rumah lebih dulu dari Ilham, karena Mama Zubaedah menyuruh ART untuk menelepon dan menyuruhnya pulang dari N-one Grocery secepatnya. Kata asisten rumah tangga yang menelepon itu , Mama Zubaedah bersama Ammar pulang diantar oleh seorang gadis dalam kondisi terluka. Hal itu membuat Yola khawatir dan segera pulang tanpa berpikir panjang terlebih dahulu. Dia khawatir pada mertuanya itu, terlebih-lebih pada Ammar karena ART itu tidak menjelaskan secara spesifik bagaimana keadaan sebenarnya.
"Terima kasih, Pakcik!" ucap Yola pada supir pribadi keluarga Nirwan begitu mobil yang ia tumpangi sampai di depan rumah. Dengan perutnya yang membesar bumil itu mulai merasa kesulitan bahkan untuk keluar dari mobil, hingga supir itu merasa perlu membukakannya pintu.
"Sama-sama, Mommy Ammar! Pakcik mesti ke N-one lagi. Siapa tahu Daddy Ammar perlu pertolongan Pakcik untuk hantar-hantar kat sana," kata Pakcik.
"Hmm ... hati-hati bawa kereta, Pakcik," kata Yola mengingatkan.
Supir itu mengiyakan lalu tanpa menyempatkan diri untuk mampir, dia pun segera kembali menuju N-one Grocery.
Yola segera masuk ke dalam rumah, asisten rumah tangga yang membukakan pintu untuknya.
"Mamah mana, Makcik?" tanyanya pada Makcik Saripah.
"Ade, kat bilik," jawab wanita itu.
"Sakit apa Mamah? Kok bisa jatuh? Terus yang antar kesini tadi siapa?" tanya Yola.
"Kamu tengok sahaja sendiri, hmm?"
Yola bergegas ke kamar Mamah Zubaedah, dan tertegun melihat siapa yang ada di sana. Mamah Zubaedah tak menyadari kehadirannya. Dia terlalu fokus memperhatikan seorang gadis yang tengah bermain bersama Ammar. Ammar terlihat serius mengajari gadis itu menyusun rubik. Ketiganya berada di atas ranjang Mama Zubaedah.
Sadar melihat siapa yang ada di sana, mata Yola membulat sempurna. Seulas senyum tersungging di bibirnya.
"Wahhh, ada Aunty Dini rupanya," katanya memecah konsentrasi Ammar dan Andini. Mamah Zubaedah yang sedang duduk bersandar di ranjang pun menoleh padanya.
"Yola, kau dah balik?" tanya Zubaedah pada menantu kesayangannya itu.
Yola ikut bergabung duduk di pinggir ranjang Mama Zubaedah.
"Hu um, iya. Katanya Mamah lagi sakit. Nggak tenang juga donk Yola kalau masih di N-one, jadi Yola minta pulang duluan tadi. Tapi Abang masih ada urusan yang harus dia selesaikan, Mah. Jadi pulangnya pasti agak sorean. Ngomong-ngomong aunty Dini ke sini sama siapa, Aunty?" tanya Yola.
Sengaja dia memanggil Andini dengan sebutan "aunty" agar gadis itu merasa lebih akrab dan merasa sedang berada di dalam lingkungan keluarga yang sebenarnya.
Andini tak menjawab. Dia merasa canggung dengan situasi ini, tentu saja. Karena Andini sepertinya enggan menjawab, Yola kemudian lmengalihkan pertanyaan itu pada Ammar.
"Ammar?"
"Ammar tadi dijemput Grandma, lepas tu Grandma tinggalkan Ammar sekejap kat kereta. Tak lama ade aunty Dini yang tolong Grandma masuk ke kereta. Jadi Aunty yang hantar kite hingga sampai Kat rumah macam ni. Pandai Aunty bawa kereta," kata bocah itu. "Tak macam Aunty Putri."
__ADS_1
"Oh, iya, Putri mana?" tanya Yola mencari-cari sepupunya itu.
"Ade di biliknya, Mom. Seronok talipon dengan uncle Hafiz," adu bocah itu.
"Ammar ..." tegur sang nenek. "Tak baik tahu urusan orang dewasa macam tu."
"Haiss, Grandma, Ammar pun tak sengaja dengarlah. Tadi Ammar lewat bilik Aunty, Ammar dengar uncle Hafiz cakap sayang-sayang pada Aunty Putri," kata Ammar dengan polosnya hingga membuat Yola tertawa cekikikan mendengar aduan putranya itu padanya.
"Hisss!! Ammar!" tegur sang Grandma lagi.
"Betul ke?" tanya Yola pada putranya itu.
"Hum, betul. Nak ape Ammar berdusta, tak Ade untunglah, Mom," jawabnya semakin membuat Yola tertawa cekikikan.
"Is, is, is. Hafiz ni lah, sudah pintar sayang-sayangan rupanya. Mamah, Mamah dengar nggak tuh? Sebaiknya segerakan aja. melamar Putri ke Palembang untuk Hafiz," usul Yola.
"Mamah bukan tak nak. Kau dulu yang kite urus hingga melahirkan adiknya Ammar nanti, lepas tu bolehlah kita buatkan acara pinangan untuk Putri. Tetapi ... kite belum tahu macam mana pendapat Mamahnya Putri akan hal ni. Mereka tak keberatan ke kalau Putri kita pinang untuk Hafiz?" tanya Mama Zubaedah.
Yola berpikir-pikir sejenak.
"Nanti Yola bantu ngomong deh sama Tante, Mamanya Putri. Tante orangnya enak aja kok diajak ngomong. Mama tenang aja. Tapi Mama setuju nggak punya mantu Putri?" tanya Yola.
"Syukurlah kalau Mamah setuju sama Putri, takutnya aja Mamah udah punya calon untuk Hafiz. Kayak dulu Abang mesti nikah sama Yola. Maksa, sampai anak masih SD pun musti nikahkan sama putranya," cibir gadis itu.
"Tak de," jawab Zubaedah terkekeh. "Yola tak payah marah dengan Mamah macam tu. Mase tu Mamah memang suka sangat dengan Yola, ditambah lagi ...." Mamah Zubaedah tak melanjutkan lagi kata-katanya.
Zubaedah melirik Andini yang dalam diam mendengarkan mereka berbicara. Rasa canggung masih dia rasa dan tak mau ikut campur dalam pembicaraan itu.
"Kalau Mamah tak memaksa untuk mengawinkan kau dan Ilham secepatnya mase tu, macam mana kalau dan Ilham boleh bersatu hingga mase ni? Macam mana ada Ammar? Kau ni, masih nak salah-salahkan Mamah pula," kata Zubaedah pura-pura marah.
"Mamah memang pemaksa," cibir Yola, namun dia tak dapat membantah kata-kata sang Mama Mertua.
Lalu kemudian dia pun berpaling pada Andini.
"Dini, kamu nginap di sini aja, ya. Kakak ada acara tujuh bulanan tiga harian lagi di sini," kata Yola pada Andini.
"Cih, kakak! Kita ini seumuran keleus ... Malah mungkin masih lebih tua aku. Enak banget nih orang mau dipanggil kakak," katanya kesal.
"Ya iyalah, aku kakak. Kan aku nikah sama Abang. Kamu adiknya Abang Ilham," gerutunya.
__ADS_1
Andini ini menyebalkan.
"Nggak kenal," jawab Andini ketus.
"Makanya nginap disini, biar kenal," balas Yola tak mau kalah. "Abang juga pengen ketemu katanya sama kamu."
"Dini, kamu bermalam kat sini ya, Sayang. Nanti malam kite berkumpul bersama kat sini. Kite talipon Mama dan Papa kau juga, di Penang dan di Jakarta, hmm? Mamah tak akan egois. Tak akan menyuruh kau tinggalkan apalagi nak lupakan mereka. Mereka tetap akan jadi mama dan papa kau sampai bila pun, Sayang. Mamah pun akan sangat berterima kasih kerana mereka dah besarkan dan jagakan puteri Mamah hingga sebesar ni, hidup dengan baik, tak kurang suatu apa pun. Tetapi biarkan Mamah menebus masa yang hilang di antara kita. 24 tahun, itu bukan masa singkat kehilangan seorang anak. Mungkin umur Mama pun tak akan sampai sebanyak itu lagi. Biar hanya satu tahun, dua tahun sisa hidup mamah, Mamah hanya nak hidup bersama Dini tanpa penyesalan. Tak banyak permintaan Mamah di sisa hidup mama ni. Hanya itu je, tolong Andini kabulkan permintaan Mamah, hmm?" bujuk Zubaedah. Tangannya kini meraih lembut bahu gadis itu dan mengusapnya.
Kali ini Yola memilih untuk diam tak ingin mengganggu moment ibu dan anak itu.
Andini meraih tangan Mamah Zubaedah yang mulai mengeriput dan menggenggamnya. Memorinya tak banyak mengingat wanita ini. Hanya ada memori saat dia memata-matainya dari dulu. Tetapi sentuhan lembut wanita ini benar-benar bisa menyentuh sanubarinya. Hanya dari sentuhan itu dia bisa tahu kalau orang ini adalah ibunya. Kemudian matanya berkaca-kaca, tak sanggup berkata apa-apa lagi dia mengangguk.
Andini pun tak ingin ada penyesalan di kemudian hari. Dia tak ingin menyesal karena tak memberi kesempatan pada ibu kandungnya untuk bersamanya. Dia takut wanita ini akan pergi lagi darinya sementara dia belum sempat merasakan dicurahi kasih sayang oleh ibu kandungnya sendiri. Dia pasti akan sangat menyesal nanti jika itu sampai terjadi. Jika ibu kandungnya ini berpulang sebelum dia memberi kesempatan. Tidak! Tidak! Dia tidak akan membuang-buang waktu dengan bersikap kekanak-kanakan seperti itu.
Perlahan dari bibirnya terucap kata itu dengan air mata yang berurai.
"Mama ...."
Zubaedah terperangah dipanggil seperti itu oleh Andini. Tak terkecuali Yola bahkan Ammar. Yola bahkan sampai berlinang air mata mendengarnya. Ini moment yang mengharukan, tentu saja.
"Ape? Andini cakap apa tadi? Cuba cakap lagi, Sayang ..." pinta Zubaedah tak percaya pada apa yang didengarnya.
"Mama ..." ucap Andini lagi.
Zubaedah terhenyak, dia tidak salah dengar. Di hadapannya ada putri kandung yang telah lama dinantinya sedang memanggilnya dengan panggilan Mama.
"Mama ... " panggil Andini lagi tanpa diminta.
Zubaedah memejamkan matanya, memanjatkan syukur pada Tuhan atas kebaikan-Nya telah mempertemukan dirinya dan putrinya. Tadinya dia merasa sudah tak punya harapan bisa bertemu putrinya sampai dia mati. Tetapi Allah masih berbaik hati padanya. Dari sudut-sudut matanya yang mengeriput, air mata itu menetes tanpa bisa tertahan.
Dia mengangguk. Kemudian dia memeluk putrinya itu.
"Andini ... anak Mamah dah balik kat rumah."
Kemudian di kamar itu hanya terdengar sedu sedan dan tangis keduanya. Yola mengajak Ammar untuk keluar. Bahagia tentu saja. Entah ini salah, tetapi Yola berpikir andai Andini tidak pernah menghilang dahulu, mungkinkah saat ini dia masih berada di sini? Mungkinkah dia akan tetap menjadi menantu di rumah ini? Mungkinkah dia masih menjadi istrinya Ilham? Mungkinkah akan ada Ammar buah hatinya ini? Ahh, rasanya dia ingin mengucapkan sebanyak-banyaknya terima kasih pada Andini. Andini adik iparnya.
****
Jangan lupa like dan komentarnya reader love2... Author mungkin nggak sempat balas semua. Tapi author baca loh, dan itu bisa menambah suport untuk author.
__ADS_1