
"Yola, Mamah tahu ini tak adil buat kamu, tapi Mama harap Yola dapat mengerti. Mamah dah anggap kau puteri mamah sendiri, kerana itulah Mamah paksa mama papa kau untuk mengawinkan kau dan Ilham semenjak kau masih 12 tahun. Itu kerana Mamah tak mahu kehilangan kau sebagai pendamping Ilham. Mamah nak kalian bersama- sama selamanya. Tetapi Mamah ni hanyalah seorang ibu biasa, Andini pun anak Mamah. Dia, entah macam mana nasib dan kehidupannya semenjak hilang diambil orang yang entah siapa di rumah besar keluarga Gunawan. Hati Mamah ni, merasa bersalah tak mampu jagakan dia, tak boleh memeluk dia. Ape salah kalau Mamah nak berusaha mencari dia semampu Mamah? Satu- satunya kunci yang boleh pertemukan Mamah dan Andini hanya Sonia. Dan dia tak nak pertemukan Mamah dan Andini jika Ilham tak kahwinkan dia. Mamah tak punya pilihan lain, sayang. Tapi Mamah juga tak nak kehilangan Yolanda. Kamu adalah puteri menantu Mamah. Mommy dari cucu Mamah. Mamah tak nak kalian tercerai berai macam ni," kata Mamah Zubaedah dengan air mata berlinang.
Yola membiarkan sejenak Zubaedah menangis. Sementara Ilham merangkul lembut Mamahnya tersebut. Sementara Ammar hanya terlihat bingung melihat sang nenek menangis.
"Why do you cry, Grandma?" tanyanya polos sembari mengelap air mata Zubaedah.
Zubaedah menggeleng sambil menyeka airmatanya.
"Tak ade ape- ape. Grandma cuma mahu Mommy kamu bersama dengan kite, tapi Mommy kau tak nak," kata Zubaedah mendramatisir keadaan.
Ammar mendelik pada Yola.
"Mom, betul ke itu? Mommy tak nak bersama-sama dengan Ammar?" tanya Ammar dengan mimik wajah sedih.
"Ah, sayang. Nggak seperti itu, Mommy ...."
Yola bingung menjelaskannya bagaimana.
"Mommy sepertinya sama dengan Mommy Yola. Tak sayang pade Ammar. Mommy Yola pun tinggalkan Ammar. Dad, macam mana ni? Kenape Ammar tak boleh punya Mommy yang sayangkan Ammar?" ratap Ammar pada Ilham.
Rupanya Ammar masih pura- pura tidak tahu kalau Yola adalah Mommy kandungnya.
"Ammar, tak macam tu," kata Ilham pura- pura
membujuk Ammar.
"Iya sayang, Mommy sayang dengan Ammar. Kamu nggak boleh bilang begitu, ya ...." bujuk Yola lagi sembari buru- buru memeluk Ammar.
Tapi Ammar malah mendorong Yola.
"Mommy dan Daddy pendusta! Mommy kate, Mommy sayang Ammar tapi sekarang Mommy tak mahu bersama- sama dengan Ammar. Daddy pun sama, cakap kalau Mommy akan bersama-sama dengan Ammar. Tapi semua berdusta dengan Ammar. Mulai mase ni Ammar tak nak panggil Mommy lagi. Aunty, balik sahaja! Ammar tak nak berjumpa dengan aunty!" kata Ammar sembari berlari masuk ke dalam salah satu kamar.
Yola buru- buru mengejarnya tetapi Ammar telah menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Hatinya merasa tertohok saat Ammar tak mau lagi memanggilnya Mommy.
"Ammar!! Buka pintunya, sayang! Open the door! Mommy mau bicara dengan Ammar!" bujuk Yola sembari mengetok- ngetok pintu kamar itu.
"Tak!!! Ammar tak nak bukakan pintu. Aunty pergi mase ni juga! Ammar tak nak berjumpe dengan Aunty!!"
"Ammar, kok begitu? Mommy sayang sama Ammar .... Let's talk with Mom, Kid!"
"Tak!! Tak nak!"
Sampai capek Yola membujuknya, bocah itu tetap tak mau membukakan pintu untuknya.
"Kamu tengok? Betape dia ingin berkumpul dan bersama lagi dengan Mommy dan Daddynya. Tapi kamu sekali pun tak mahu peduli dengan keinginan budak tu," kata Zubaedah.
Yola tak menjawab. Kepalanya pusing saat ini. Dalam hatinya menimbang- nimbang apakah dia memang harus rujuk kembali dengan Ilham walaupun itu demi Ammar? Lalu bagaimana dengan Mama dan Papanya di Jakarta? Mereka pasti tidak akan setuju jika dia kembali dengan Ilham.
Astaga, jadi bagaimana denganmu, Yola? Kau sendiri apa telah memaafkannya dan mau menikah kembali dengannya? Batinnya pada diri sendiri.
Tak sengaja pandangannya bertemu dengan Ilham yang duduk di ruang tengah. Lelaki itu membiarkannya begitu saja sendiri membujuk Ammar tanpa berusaha membantunya.
Yola kembali mengetuk pintu kamar pelan.
"Oke, Honey. Give me a little time about think it. Mommy juga mesti berunding dengan kakek dan nenekmu di Jakarta. Ammar, jangan merajuk lagi, okey?"
Ammar tak menyahut, hingga akhirnya Yola memutuskan sebaiknya dia tidak mendesak Ammar untuk sekarang. Yola kembali masuk ke dalam kamar, ia bahkan tak berselera untuk sarapan. Dan Yola juga tersadar ia bahkan lupa membawa tas dan ponselnya. Semoga Hafiz menemukannya dan menyimpannya untuk sementara.
Tak ada yang Yola lakukan di kamar selain merenung. Tak lama Ilham datang membawakannya beberapa lembar roti dan susu.
"Yola makanlah dahulu, nanti Ammar biar abang yang akan membujuk," kata Ilham mencoba menenangkan hati Yola.
"Abang," panggil Yola.
Hati lelaki itu benar- benar bahagia dipanggil 'abang' kembali oleh Yola.
"Hmmm?" sahutnya.
__ADS_1
"Bisakah abang menjelaskan pada Ammar kalau kita tak akan bisa bersama- sama lagi?" tanya Yola.
Raut wajah Ilham berubah menjadi gusar lagi. Kenapa Yola harus sesulit ini sih?
"Ape maksud Yola? Kite dah habiskan malam bersama seperti semalam, tapi Yola masih tak nak kembali dengan abang?" Katanya geram.
Yola membuang napas kasar.
"Aku sudah pernah bilang, setiap orang dewasa punya kebutuhan biologis. Anggap saja yang tadi malam itu terjadi karena itu dan juga karena kita mabuk," kata Yola.
Ilham tiba- tiba saja mencengkram lengan Yola kasar.
"Kebutuhan biologis? Kamu kire abang lakukan tu karena kebutuhan biologis semata? Selama 7 tahun abang tak bersama Yola, abang sanggup menahannya dan bersedia tak menyentuh perempuan lain kerana apa? Kerana Abang cinta dengan Yola! Semalam pun sama. Bahkan 7 tahun lalu, abang menyempatkan diri datang dari Berlin menjemput Yola ke Jakarta dan meminta hak abang sebagai husband-nya Yola, itu Yola kire bukan kerana cinta ke? Yola kire abang tak boleh dapat wanita lain untuk penuhi kebutuhan biologisnya abang? Itu karena abang cinta dengan Yola. Yola tahu tak??!" katanya geram.
Yola terdiam oleh kata- kata Ilham. Dia tak dapat berkata apa pun lagi.
"Yola, usah risaukan kata- kata Mamah. Abang tetap akan ceraikan Sonia. Apa pun yang akan terjadi. Takkan dua kali abang membuat Yola menderita," janji Ilham. "Abang tak mau kehilangan Yola lagi. Cukup 7 tahun abang sia- siakan waktu tanpa Yola. Mase ni abang hanya mahu bahgiakan kamu dan Ammar, buah cinte Yola dan abang."
Dan demi apa pun Yola selalu tak habis pikir kenapa ia selalu gampang dirayu oleh Ilham. Kata- kata manis pria itu entah bagaimana, akhirnya membuatnya luluh. Meski pun pada akhirnya nanti ia akan menyesalinya, tapi sekarang dia merasa bahagia dengan perlakuan lelaki itu terhadapnya
*****
"Budak ni .... Kau dah makan banyak sangat gula- gula. Nanti gigi kau sakit, sayang ...."
Ammar yang tengah asyik bermain game di ponsel neneknya terkejut melihat Ilham yang masuk lewat jendela samping kamar tersebut.
"Dad! Macam mana Daddy boleh masuk kat sini? Grandma kate orang tak boleh masuk lewat jendela. Orang yang masuk lewat jendela itu dinamakan pencuri," omel Ammar.
"Macam mana Daddy tak lewat jendela, pintu pun Ammar konci. Jadi jalan satu- satunya, lewat jendelalah," sangkal Ilham membela diri.
"Daddy mestilah berterima kasih pada Ammar. Kalau bukan kerana akting Ammar, Mommy tak kan mahu pertimbangkan bersama- sama kite."
Ilham tersenyum sembari mengacak- acak rambut putranya itu.
"Ya, that's right. You're very- very amazing, Boy. Kau patut dapat piala Oscar. Kelak Daddy akan perjuangkan kau jadi aktor sahaja," puji Ilham.
"Ammar tak nak. Kalau Ammar jadi aktor, siape yang akan urus N-one kelak?" tanyanya polos.
"Adik?" gumam Ammar lugu.
Beberapa dari temannya di tadika ada yang telah memiliki adik dan memamerkannya padanya.
"Hu uh. Adik. Kenape? Kau tak nak pula punya adik?"
Ammar berpikir sesaat. Selama ini dia tak pernah berpikir akan memiliki adik.
"Lil bro or lil sist?" tanyanya balik dengan lugunya.
"Emmm ...." Ilham ikut- ikutan juga berpikir.
Andai itu benar terjadi, alangkah bahagianya. Ilham tak turut andil menjaga Yola saat isterinya itu hamil Ammar. Namun andai Yola mengandung anaknya lagi, dia berjanji akan selalu ada di sisi wanita itu sebagai suami yang siaga.
"Dad ... Lil bro or Lil sist?" desak Ammar membuyarkan lamunan Ilham.
"Apa pun boleh. Lil bro, lil sist, keduanya apa pun itu pabila boleh terjadi, tetap adiknya Ammar juga," kata Ilham.
"Ehmmm .... Oke. Tapi Ammar tak nak punya adik perempuan. Little sister tak boleh main bola sepak. Ammar nak lil bro sahaja, Dad!"kata anak itu riang.
"Oke, deal! Little brother untuk Ammar!" kata Ilham senang.
Tapi Ammar berubah bingung.
"Mana adik Ammar, Dad?" tanyanya lagi- lagi dengan ekspresi imut.
"Tentu tak sekarang. Bila kau mahu, kau mintalah dengan Mommy Yola," kata Ilham
Dalam hatinya Ilham ber- 'iyes' ria. Idenya sangat brilliant. Memanfaatkan Ammar dengan cara ini pastilah bisa jadi kode keras untuk Yola.
__ADS_1
"Daddy yang tawarkan pada Ammar, kenape Mommy yang mesti Ammar minta?" tanyanya bingung.
"Kerana Mommy yang boleh beri Ammar Lil Bro, Daddy hanya boleh beri Lil sist sahaja untuk Ammar," kata Ilham ngeles.
"Hmmm, baiklah. Nanti Ammar minta pada Mommy," jawabnya polos.
"Kau memang anak Daddy yang paling pandai!" puji Ilham.
******
"Kite mesti kembali ke N-one sekarang juga," kata Ilham pada Yola. "Atok menyuruh abang mengklarifikasi hubungan kita yang simpang siur pada media. Para pemegang saham mendesak agar kekacauan ini segera dibereskan."
Yola terdiam. Mengklarifikasi hubungan? Hubungan yang seperti apa?
"Yola percaya pada Abang. Abang tak nak tutupi hubungan kite pada dunia. Kaulah istri abang yang sesungguhnya," kata Ilham mencoba meyakinkan Yola. "Kerana itu tetaplah bersama Abang, ya?"
Yola lagi- lagi tak menjawab. Dan dengan bodohnya dia mengangguk mengiyakan. Apa iya cinta bisa membuat seseorang semakin bodoh?
Dan di sinilah mereka sekarang, di depan N-one grocery dikerubungi oleh para wartawan yang berjibun.
"Tuan Ilham, tolong beritahu kami, ape maksud Tuan ketika berkate pada Tuan Victor Alexander agar jangan mengganggu isteri orang lain? Ape betul kabar angin yang menyebutkan kalau Tuan Ilham telah berkahwin lagi dan mengkhianati Puan Sonia?" tanya salah seorang wartawan.
"Tuan Ilham, beberapa tahun silam terdengar kabar kalau Tuan Ilham dan Tuan Alexander berselisih paham dan terlibat cinta segitiga dengan Puan Sonia, apakah kali ini pun Tuan dan Tuan Alexander terlibat masalah yang sama dengan wanita berbeza?
"Tuan Ilham, kabarnya wanita yang jadi isteri kedua Tuan adalah Pengarah pemasaran N- one Grocery, ape ini memang dah direncanakan sedari awal, atau apakah Tuan dan isteri kedua Tuan tu terlibat kisah romantis kerana cinta lokasi?"
"Tuan Ilham, Puan Sonia seperti diberitakan tahu pasal Tuan berkahwin lagi, ape ada sedikit rasa bersalah kerana menduakan Puan Sonia?"
Pertanyaan- pertanyaan para wartawan itu seperti tak ada habisnya. Ilham telah mengatakan pada Yolanda bahwa dia akan membereskannya sendiri dan Yola tak perlu khawatir tentang itu.
"Ada banyak pertanyaan- pertanyaan dari kawan- kawan media. Dan saya tak dapat menjawab satu persatu pertanyaan tersebut. Namun apa bila ada yang nak tahu kebenarannya, saya tak boleh pula sembunyikan hal ini lebih lama. Dan hari ini saye pun akan menjawab pertanyaan dari rekan media bahwasanya benar Yolanda, wanita yang ada di perhelatan anniversary N-one semalam dan yang ada di samping saya ni adalah isteri saye sendiri. Jadi tak benar kabar ada hubungan sulit antara kami. Tak ade yang namanya main serong, berselingkuh, skandal, affair atau apa pun itu. Rumah tangga saya baik- baik sahaja, jadi saye harap kawan- kawan bijak dalam memuat berita," kata Ilham.
"Lalu, kenape perkahwinan kedua Tuan ini tak diberitakan? Kenapa terkesan disembunyikan?" tanya mereka lagi.
"Tak ade yang bermaksud menyembunyikan. Kami hanya belum sempat sahaja membuat majlis perkahwinan untuk publik. Harap dimaklumi, kami sama-sama sibuk. Tetapi secepatnya kami akan mengadakan majlis perkahwinan dalam mase dekat ni. Bila dah waktunya, sila kawan- kawan semua dapat hadir di majlis perkahwinan saye dan Yolanda." kata Ilham.
Mata Yolanda sampai membelalak mendengar klarifikasi dari Ilham itu. Majlis perkahwinan katanya? Dia bahkan belum memutuskan apa dia akan kembali dengan Ilham atau tidak. Bagaimana mungkin Ilham dengan segamblang itu langsung membicarakan rencana perkawinan pada para wartawan. Gila! Ini gila. Yola bahkan tak tahu bagaimana cara menjelaskan ini pada papa dan mamanya nanti.
"Puan Yolanda, macam mana perasaan Puan berkahwin dengan suami orang lain?"
Pertanyaan yang dilontarkan oleh salah seorang wartawan itu membuat hati Yola seakan tertohok. Tetapi bukan Yolanda namanya kalau dia tak bisa mengatasi perasaan sakit itu dan membalikkan situasi.
"Ah itu, saya dan kakak Sonia telah kenal lama. Hubungan kami baik seperti adik kakak. Jadi kalau ingin tahu bagaimana perasaan saya merebut suami orang, kakak Sonialah yang paling tahu jawabannya. Kalian boleh bertanya padanya. Sebab yang meminta saya menikah dengan Abang Ilham adalah Kakak Sonia sendiri. Mungkin karena saya dan abang terlalu dekat dari kecil hingga sekarang, kakak Sonia takut menjadi fitnah, dan memilih untuk menikahkan kami," jawab Yola. "Iya kan, Bang?"
Ilham menangkap kode di mata Yola untuk mengiyakan. Dalam hatinya dia heran, kenapa seluruh orang di keluarganya sangat pintar memainkan drama.
"Hahaha, iya benar. Keluarga Gunawan dan Keluarga Nirwan dah bersahabat sejak lama. Kerana itu kami pun dekat sedari dulu. Dan Sonia yang mengusulkan agar saya berkahwin dengan Yola. Jadi saya mestilah berterima kasih dengan Sonia. Sonia, pabile kau dengar ni, aku nak ucapkan terima kasih dah ijinkan aku berkahwin dengan Yola. Terima kasih, sayang!"
Kalimat terakhir Ilham itu membuat mata Yola jadi menyipit.
Hingga klarifikasi dengan wartawan itu berakhir Yola menuju ruang kerjanya. Semua orang menatapnya penasaran. Yola mendengus kesal. Dalam semalam saja, dia berubah jadi pusat perhatian di negeri jiran ini.
"Yola, tadi pagi Hafiz datang, titip kau punya bag. Katanya tertinggal di perhelatan semalam,"kata Nadira.
"Terima kasih, Nadira," Yola menerima tas itu.
"Dari tadi, kau punya handphone terus berbunyi. Tapi aku tak berani buka kau punya bag, takut ada barang berharga pula," kata Nadira.
"Tak ada barang berharga di sini," jawab Yola sambil membuka tasnya.
Hal pertama yang diperiksanya adalah ponselnya yang hampir habis kehabisan baterai itu.
Yola terkejut melihat hampir 30 panggilan tak terjawab dari papanya. Ya Tuhan, itu bukan pertanda baik.
Dan masih dengan rasa khawatir yang sangat papanya menelepon lagi. Dengan gugup Yola mengangkatnya.
"Hallo, Pa!"
__ADS_1
Suara berat dengan nada bariton terdengar di seberang sana.
"Yola! Kamu pulang hari ini juga! Jangan buat Papa marah dan jemput kamu kesana!"