Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Bukan Skenario


__ADS_3

"Ape yang kau maksud Yola??" tanya Hafiz tak mengerti.


Bukannya Yola dan Ilham harusnya baik-baik saja?


"Ihh, Hafiz!!! Kamu nggak ngerti juga? Huuuu ... abang mau menelantarkan aku lagi dengan anak yang sedang kukandung ini. Gimana siiih???!!!" omelnya.


Hafiz masih tak percaya dengan apa yang didengarnya. Kemudian tanpa berpikir panjang dia pun lalu melompat ke atas balkon dan berpindah ke balkon milik apartemen Ilham.


"Kau jelaskan sahaja ape sebetulnya terjadi. Aku tak paham pun," katanya sembari duduk di sebelah Yola yang menangis dengan air mata buatan, obat tetes mata.


"Aku kan udah jelasin tadi," omel Yola.


"Tapi kau tak de cakap ape penyebab abang melakukan hal tu. Aku rase abang Ilham tak kan berbuat macam tu lah, Yola. Dia dah kehilangan kau lama. Tak mungkinlah dia tu sia-siakan kau lagi," kata Hafiz membela Ilham.


Loh? Kok dia jadi belain buaya darat itu, ya? Ckckck ... Hafiz tak habis pikir tentang apa penyebab dia jadi melunak pada Ilham.


"Nduuut!! Kok kamu jadi belain abang, sih? Bukannya biasanya kamu benci sama dia??!!" serang Yola.


Hafiz tak dapat berkata apa-apa lagi pada pertanyaan Yola yang memojokkan itu. Dia aja tidak tau kenapa dia harus membela laki-laki buaya darat itu.


"Kamu masih sayang sama abang, ya Ndut?" tebak Yola sambil melempar pandangan menuduh pada Hafiz.


Hafiz tersentak mendengar pertanyaan Yola yang memalukan itu.


"Cakap ape kau tu?!!" elaknya sambil menjentik kening Yola sehingga wanita itu mengaduh kesakit.


"Aww!!! Sakiiit, Nduuut!!!" protes Yola.


"Kau hanye pura-pura je nak keluarkan air mata buaye sama dengan husband kau tu depan aku. Sekarang cakap kau nak aku lakukan ape?" tanya Hafiz to the point.


Yola mengelus-elus jidatnya yang sedikit sakit akibat dijentik oleh Hafiz.


"Janji kau mau menuruti permintaanku, Ndut?" tanya Yola.


"Hmm," sahut Hafiz. "Sekarang kau cakap, kau nak aku buat ape? Kau mahu aku nak pukul buaya darat tu ke?"

__ADS_1


Yola terdiam sejenak menatap Hafiz hingga Hafiz pun penasaran dan kembali memandangnya.


"Ape tengok aku macam tu?" tanyanya bingung.


"Aku mau kamu nikahin Yuri, Ndut. Please aku mohon," pinta Yola.


Hafiz mendesah panjang.


"Itu pula yang dibahas," keluhnya.


"Hafiz, kasihan anaknya Hafiz. Itu anakmu juga. Dia nggak bersalah. Bagaimana kamu bisa nggak peduli padanya?" bujuk Yola.


"Dah pun aku kate, aku tak de berbuat tak pantas dengan dia. Macam mana kalian boleh menuduhku membuat dia mengandung? Membayangkannya sahaja dah pun membuatku nak tertawa. Dia tu tak mirip perempuan. Tingkahnya macam anak jantan. Meski aku mabuk sekali pun takkan mungkin aku sampai khilaf nak berhubungan macam tu dengan dia. Kau ni ... macam betul je. Kau tu mestinya belakan aku, bukan dielah," kata Hafiz menyalahkan Yola.


"Kau tak boleh menghina seseorang seperti itu, Ndut! Kau ini, kayak udah handsome aja," ledek Yola.


"Memanglah. Hafiz memang handsome, sungguh sangat merugi kau menolak jadi isteri aku," ledek Hafiz.


"Hafiz, aku serius, kau menikahlah dengan Yuri, ya. Aku mengenal Yuri sudah lama. Dia akan cocok mendampingimu, Ndut! Kau juga butuh seseorang untuk mendampingimu, membuatmu bahagia. Ada seseorang yang kamu jaga," kata Yola.


"Dan itu kau, bukan wanita mana pun," kata Hafiz.


"Sudah nggak apa-apa, Yola. Aku bisa mengerti kalau Hafiz mungkin tidak akan pernah suka padaku. Tapi bagaimana dengan nasib kandunganku? Aku juga nggak mau ini terjadi padaku." Tiba-tiba saja Yuri keluar dari dalam apartemen dan kini berdiri di ambang pintu.


Hafiz sempat terkejut tapi tidak dengan Yola. Yola dan Yuri memang sengaja ingin menjebak Hafiz agar mau bertanggung jawab dengan Yuri. Diana, kakaknya Hafiz yang menjadi perencana semua skenario ini.


"Yuri," gumam Yola.


"Aku hanya tidak sengaja bertemu Hafiz di pub, dia mabuk dan aku berniat ingin mengantarkan dia pulang ke rumahnya. Tapi aku nggak tau, terus aku ngantar dia ke hotel. Siapa yang menyangka dia akan memaksaku di sana. Huuu ... huuu, sekarang aku hamil anak dia tapi dia juga nggak mau tanggung jawab. Hey, Gendut! Siapa juga yang mau mengandung anakmu ini. Aku lebih baik mati dari pada harus menanggung semua ini sendirian! Kau adalah lelaki paling tidak bertanggung jawab yang pernah ku kenal. Kamu itu banc* tau, nggak!!!" maki Yuri.


Hafiz tetap tidak bergeming. Itu membuat Yuri menjadi speechless.


"Jadi kamu tetap tidak mau tanggung jawab? Aku juga nggak mau menikah denganmu, Ndut! Tapi demi anak ini aku terpaksa harus merendahkan martabatku. Tapi sekarang serendah apa pun aku merendahkan diriku tetap saja itu tak ada gunanya. Sebaiknya aku mati saja!!!"


Tak disangka-sangka, bahkan di luar skenarip yang Yola tahu, Yuri tiba-tiba memanjat di tembok balkon dan berdiri di sana.

__ADS_1


"Terima kasih Yola, kamu udah mau berusaha bantuin aku untuk membujuk si Gendut berhati batu ini untuk tanggung jawab meski pun pada akhirnya tetap sia-sia saja. Dia tetap tidak mau tanggung jawab, rasanya aku mau mati saja, huhuhu ...."


Yuri menyeka air matanya.


"Kamu sahabat terbaikku Yola, dan selamat ..."


"Hey! Tak payah banyak cakap kalau nak akhiri hidup. Tak payah pakai muqaddimah segala. Kalau nak lompat, lompatlah, jom!"


Yola langsung memukul Hafiz dan menyuruhnya diam.


Yuri hanya diam saja. Kini pandangannya jauh menerawang nun jauh di sana. Mungkin orang-orang yang hanya mengenalnya sekilas sama seperti Hafiz ini, hanya memandangnya sebagai cewek tomboy yang urakan.


Tapi dibalik itu semua, tak ada yang tahu beban seperti apa yang ditanggungnya. Tak apalah mati saja, tiba-tiba kalimat enteng itu dengan entengnya masuk di pikirannya dan ketika sebelah kakinya sudah mencoba menginjak udara, satu kaki lagi akan menyelesaikan semuanya. Yuri memejamkan matanya. Dan ...


Sebuah pelukan kuat menarik pinggangnya ....


Brukkk!!!!


"Arghhhh!!!" pekik seseorang yang Yuri yakin itu adalah Yola.


Saat Yuri membuka matanya, tangan Hafiz masih melingkar di pinggangnya dan mereka sedang dalam posisi terbaring di lantai. Lebih tepatnya karena terjatuh di lantai balkon. Yola masih tercengang menutup mulutnya tak menyangka ada kejadian seperti itu di hadapannya.


"Kau ni gile ke?" teriak Hafiz marah. "Kalau kau nak membunuh diri kau sendiri. Pergilah ke tempat sunyi. Tak payak mati di tempat orang," kata Hafiz ngos-ngosan.


Tadinya dia mengira gadis itu hanya bercanda. Tapi melihat tatapan kosongnya yang menatap jauh, Hafiz merasa kalau Yuri benar-benar ingin membunuh dirinya sendiri.


"Nggak ada yang menyuruh kau tuk selamatkan aku, Gendut! Dasar bodoh!!!" teriaknya sambil memukul-mukul Hafiz.


Yuri kini menangis kejer seolah dia baru saja gagal mendapatkan apa yang sudah lama diidam-idamkannya.


Entah kenapa melihat Yuri menangis seperti menggerakkan hati Hafiz. Dia kasihan melihat gadis ini walaupun dia tidak sepenuhnya yakin gadis ini benar-benar hamil olehnya.


"Dah diamlah! Aku akan tanggung jawab! Tak payah mesti menangis macam tu. Diamlah," katanya seraya memeluk Yuri yang masih menangis kencang di pelukannya.


Dan Yola hanya bisa mengernyitkan dahi. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Yuri? Bunuh diri sama sekali tak ada dalam skenario mereka tadi.

__ADS_1


***


Selamat malam reader... Jangan lupa tinggalkan like dan komentnya ya ....


__ADS_2