Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Rencana Untuk Eva


__ADS_3

Budayakan like sebelum baca dan komentar setelah selesai ya genks... Maaf ya, author nggak update selama beberapa hari. Kan udah dijelasin hp yang dipake ngetik rusak. Jadi ini sudah normal kembali. Happy reading ya....


Yola keluar dari kamar mandi dengan menggunakan jubah mandinya. Dan dia menangkap perubahan wajah Ilham yang terlihat tertegun entah karena apa.


"Abang kenapa?" tanyanya polos seakan lupa kalau dia sedang merajuk pada lelaki yang telah membuatnya berbadan dua itu.


Ilham mendongak untuk memandang wajah cantik yang kini telah berada di hadapannya itu.


"Tak de ape-ape, Sayang ..." kata Ilham sembari memeluk tubuh bumil yang masih ramping itu.


Yola menyisir-nyisir rambut Ilham iseng dengan jarinya. Membuat Ilham merasa sangat disayang.


"Yola ... " panggil Ilham dengan wajah mendongak ke atas.


Kepalanya masih menempel manja di perut Yola.


"Hmmm ...."


"Esok kite balik ke KL, ya?"


Yola tak langsug menjawab. Rasanya dia berat kembali ke sana. Ada banyak masalah yang menunggunya di sana. Rasanya dia ingin melarikan diri selamanya dengan pria ini. Tentu saja dengan membawa putranya Ammar dan calon anak mereka tentunya. Tapi tentunya tak akan selamanya dia bisa lari dari masalah ini.


"Kenape? Kau masih ingin lebih lama lagi di sini?" tanya Ilham.


Yola menggeleng walaupun hatinya ingin menjawab iya. Dia tau kalau semisalnya pun dia menjawab iya, lelaki itu akan menurutinya. Tapi suaminya bukanlah pengangguran yang bisa berlibur sesuka yang dia mau. Suaminya Ketua Pengarah N-one, perpanjangan tangan Atok Yahya untuk mengurusi perusahaan berskala nasional itu.


"Oke, kita bakik ke KL," jawab Yola.


Ilham melepas pelukannya pada sang istri. Masih dalam posisi dia duduk di ranjang dan Yola berdiri, Ilham menggenggam tangan Yola .


"Yola mesti janji dengan Abang. Jangan lemah! Kite mesti pertahankan perkahwinan kite. Apa pun problem yang menunggu kite di KL, Yola mestilah tegar. Yola mesti berpendirian teguh berdiri di samping Abang. Yola dengar tak?" tanya Ilham.


Yola menatap Ilham. Dia tak ragu berdiri di sisi Ilham. Tapi melawan Papa apalagi sampai mempertahankan kesehatan Mama, itu yang Yola ragu untuk bisa melakukannya.


"Yola ...."


"Hmm?"


"Yolaa dengar tak? Abang tak akan sanggup lagi kalau mesti kehilangan Yola lagi," kata pria itu sendu. Dia tampak serius mengatakannya.


Dan akhirnya Yola mengangguk. Hingga kemudian Ilham membenamkan lagi wajahnya di pelukan wanitanya itu.


"Abang ...," panggil Yola.


Ilham kembali mendongak melihat pada wajah cantik itu.

__ADS_1


"Aku lapar ..."


***


Mereka kini telah berada di depan gedung apartemen Gold Century setelah menempuh perjalanan darat selama 5 jam. Usia kandungan Yola yang masih menginjak 6 mingguan membuat Ilham cemas jika istrinya itu harus menempuh perjalanan udara.


"Jadi, kau tak nak Abang hantarkan kau sampai ke atas?" tanya pria itu sedikit kecewa.


Padahal dia ingin sekali menumpang istirahat di apartemen Yola sebentar untuk menghilangkan capek akibat menempuh perjalanan yang lumayan jauh itu untuk sebuah perjalanan darat. Di benaknya, tidur sambil berpelukan selama beberapa jam dengan istrinya itu pastilah bisa membuat lelahnya hilang.


"Ada Eva di atas. Aku nggak mau dia sampai lapor ke Papa sementara kita sama sekali belum punya persiapan untuk menghadapi Papa. Mohon Abang mengerti," pinta Yola.


Ilham mendengus. Wanita itu, sepupunya Yola yang bernama Eva itu, dia harus membereskannya sebelum dia membuat Yola stress karena tinggal satu atap dengannya. Tiba- tiba saja terlintas di benaknya satu ide.


"Kau kate dia nak bekerja di N-one, kan?" tanya Ilham.


Yola mengangguk malas. Tinggal satu atap saja dengan orang itu dia malas, apalagi harus bekerja dalam satu perusahaan yang sama. Yola menjadi semakin lebih kesal di buatnya.


"Kalau macam tu, kite mestilah berikan dia satu posisi di N-one," kata Ilham dengan senyum yang licik.


"Maksud Abang?" tanya Yola tak mengerti.


"Yola tengok sendirilah nanti," kata Ilham dengan penuh misteri.


"Ehm .... ehmm .... Macam mana honeymoon-nya ketua Pengarah? Manis tak?" goda ibu beranak satu itu.


"Ya, macam tu lah," jawab Ilham sedikit tersipu.


"Syukurlah kalau macam tu. Aku berdo'a semoga lepas ni, Yola segera memberi kabar bahgia untuk kite," kata Nadira tulus.


"Kabar bahgia dah ade pun," jawab Ilham.


"Hmmm? Kabar bahgia ape?" tanya Nadira tak mengerti.


Ilham menatap Yola yang duduk di sebelahnya sambil tersenyum bahagia. Diraihnya tangan gadis itu dan digenggamnya dengan penuh cinta.


"Yola pregnant, Nadira! Aku akan jadi Daddy untuk dua budak kecil," katanya gembira.


Ilham terlihat sangat antusias memberi kabar itu untuk Nadira. Dia tak lagi memikirkan perasaan Yola yang masih sedikit kecewa dengan waktu kehamilannya yang tidak telat waktu.


"Yang betul kalau becakap tu! Kapan kau dan Yola ...."


Nadira tak percaya begitu saja dengan kabar kehamilan Yola yang baru dia dengar dari Ilham.


" ... Ape saat kau tinggalkan aku dan bawa pergi Yola dari hotel Victor?" tanya Nadira.

__ADS_1


"Tak terjadi apa pun malam itu antara aku dan Yola sepulang dari hotel Victoria. Aku berdusta je pada Yola," kata Ilham sambil tertawa ngakak.


Dia masih ingat ekspresi Yola yang percaya kalau mereka telah tidur bersama.


"Abaaaang!!!" teriak Yola tak terima sambil memukuli tubuh suaminya itu bertubi- tubi.


Bisa-bisanya dia ditipu oleh Ilham saat itu. Dia bahkan sangat percaya telah terjadi sesuatu malam itu.


Ilham yang melihat ekspresi gusar Yola malah semakin tertawa.


"Usah marah, Sayang. Sebejat-bejatnya abang, abang tak kan mungkin mahu memanfaatkan orang mabuk," bujuk Ilham dengan tawa masih berderai.


Yola mendengus. Sementara itu panggilan teleponnya masih tersambung dengan Nadira.


"Kau memang buaya. Licik!" ledek Nadira di telepon.


Ilham hanya cengengesan mendengar ledekan Nadira. Mereka bersahabat telah belasan tahun lamanya. Adalah hal biasa baginya mendengar olokan dari wanita itu. Ilham bahkan lebih dekat pada Nadira daripada Leon. Bahkan seperti saat ini pun, Nadira adalah orang kedua yang diberitahunya tentang kehamilan Yola setelah Mama Zubaedah.


"Aku menalipon kamu, nak bagi tahu. Cutimu cukup sampai hari ini je, besok kau dan Yola akan masuk kembali bekerja. Untuk hasil laporan peninjauan lokasi pembangunan mini market N-one di Penang, bile ade yang bertanya, kau cakap sahaja kalau kau dah serahkan report-nya untuk aku, oke?"


"He em, baiklah. Tapi tak ape ke kalau Yola masih bekerja?"


"Die keras kepala. Tak nak berdiam diri sahaja di apartemen. Untuk sementara tak ape.dia bekerja, dan aku nak minta tolong pada kau. Rahasiakan sementara soal berita Yola mengandung dari siape sahaja. Aku akan bagi tahu pade publik kalau semua problem kami dah usai. Boleh tak kamu dipercaye?" tanya Ilham pada Nadira.


"Kamu usah khawatir pasal tu. Rahasiamu aman di tanganku," jawab Nadira meyakinkan.


Ilham mengangguk. Dia percaya penuh pada Nadira.


"Dan aku mahu minta tolong satu permintaan lagi bagi buat kau," kata Ilham.


"Ape tu?"


"Carikan satu posisi untuk seseorang di N-one," titah Ilham.


Di seberang sana Nadira mengernyitkan keningnya. Ilham sedang merekrut siapa untuk masuk N-one?


"Untuk siape?"


Ilham tersenyum dan melirik Yola yang juga memandang heran pada dirinya.


Serius Ilham ingin memasukkan Eva di N-one? Yola mengernyitkan keningnya. Tapi buat apa? Apa yang direncanakan Ilham?


***


koment dan likenya jangan lupa ya... nanti kalau sempat malam author update lagi part berikutnya.

__ADS_1


__ADS_2