Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Membujuk Andini


__ADS_3

Seperti yang dijanjikan oleh dr. Abraham, antara dia dan keluarga Nirwan yang diwakili oleh Ilham dan Yola pun akhirnya membicarakan perihal Andini dengan hati dan kepala yang dingin. Tak lupa pula Abraham, melakukan panggilan vidio dengan sang istri di Indonesia, karena istrinya perlu juga tahu tentang kepentingan apa pun yang menyangkut anak semata wayang mereka. Dari pembicaraan itu akhirnya kedua belah pihak pun menyetujui untuk mencoba melakukan pendekatan dan pengertian pada Andini terlebih dahulu sebelum mempertemukan lagi gadis itu dengan keluarga kandungnya. Mereka merasa perlu melakukan itu untuk mengantisipasi penolakan Andini pada keluarga yang dia anggap telah membuangnya. Dan Yola menawarkan diri untuk ambil peran dalam hal itu.


Yola menjentikkan jarinya di depan hidung Andini yang sedang menatapnya dengan wajah kusut.


"Wah, kaget ya kedatangan ipar? Aku nggak disuruh masuk ni? Kejam sekali iparku ini, kamu nggak lihat aku sedang mengandung keponakanmu begini? Malah dibiarin berdiri aja di depan pintu. Aku masuk ya, assalamualaikum ..."


Andini tak kuasa menghalangi Yola saat bumil itu menerobos masuk ke dalam kamar kostnya dan langsung menuju ranjangnya dan duduk manis di sana.


"Kamu ngapain?" Andini pun mengikuti Yola ke arah ranjang.


Yola pura-pura berpikir sejenak.


"Aku ngapain? Udah dibilang ngunjungin dikpar, malah nanya terus, huuu .... jadi sekarang rencananya kamu mau tinggal di Kuala Lumpur biar lebih bisa total stalking ipar?" cibir Yola.


"Aku nggak ngerti maksud kamu apa. Aku tau kamu sedang hamil karena itu aku nggak kasar sama kamu. Tetapi aku baru tau kalau kamu sepertinya juga nggak waras. Sekarang bisa kamu tolong pergi? Sebentar lagi aku mau berangkat ke kampus," kata Andini galak.


Yola manggut-manggut.


"Kasar? Kayak dulu waktu di mall itu? Waktu kamu nyandung kakiku sampai aku jatuh? Tapi kamu malah nggak nolongin, tega sekali ..."


Andini terkesiap dibuatnya. Sialan, ternyata Yola masih ingat dengan sangat baik kejadian di mall itu.


"Hey, dengar ya. Aku nggak kenal sama kamu. Kamu siapa? Jangan SKSD (sok kenal sok dekat) sama aku deh, mending kamu pergi sekarang, aku masih harus ke kampus," katanya masih dengan nada jutek seperti yang tadi.


"Enak aja nyuruh-nyuruh aku pergi, susah tau nemuin kamu. Udah deh, kalau kamu mau pergi ke kampus, pergi aja dulu. Aku nungguin di sini. Atau mau kutemenin ke kampus? Biar kamu nggak kabur?"


"Cih, kabur? Buat apa? Kamu tuh yang pergi dari sini. Datang-datang ke tempat orang, sok-sok'an mau nunggu di sini, mau maling di kostku, Neng?" balasnya sengit.


"Idiiih, maling teriak maling ... Bukannya kamu yang suka nyopet? Tas dan Hp-ku kemarin yang kamu copet di mall kamu lupa siapa pelakunya? Amnesia atau demensia, Neng?" balas Yola tak kalah sengit.


"Isss, pergi nggak dari sini!" Andini dengan geram menarik tangan Yola agar bangkit dari tempat tidur.


Tetapi Yola menepis tangan gadis itu.


"Nggak, aku mau di sini pokoknya sampai kamu pulang!" tolak Yola.


"Pulang, pulang kemana maksudnya? Ini kostku, kamu tuh yang harus pulang! Ayoooo, banguuun!" Andini menarik kembali tangan Yola yang sengaja menempelkan b*kongnya lebih erat di tempat tidur.


"Ihhh, apaan, nggak mau ah ... kecuali kamu mau ikut pulang sama aku!"


Situasi itu tak seperti mereka baru pertama kali saling mengenal. Mereka terlihat seperti orang yang sudah kenal lama sebelumnya.


"Ihhh, aneh! Ikut kamu pulang. Kamu siapa emang? Datang-datang ngaku-ngaku ipar. Ipar apaan, cuuiih! Aku nggak kenal ya sama kamu. Kamu kalau masih tetap nggak mau pergi, aku akan panggilkan ibu kostnya biar ngusir kamu dari sini!" ancamnya.


"Terserah. Lakukan apa yang kamu mau ..." jawab Yola acuh.


Dan Andini yang sebal pada Yola langsung pergi keluar mencari pemilik kost. Dan dengan menahan jengkel dia menanyakan kenapa ada orang sembarangan yang bisa masuk ke dalam kost dan Andini pun meminta pada pemilik kost itu untuk menyuruh Yola pergi dari kamarnya.


"Ini orangnya, Makcik. Lagian kenapa sih orang asing bisa masuk kesini. Aku tu perlu hunian yang lebih privat, nggak ada yang bisa masuk-masuk sesukanya gitu," keluh Andini pada wanita itu.


"Tetapi adik ni cakap, awak ni adik ipar dia, manalah makcik tahu kalau ternyata dia berdusta," kata induk semangnya Andini.


"Eeh, nggak berdusta kok, Makcik. Dia beneran adik kandungnya suamiku," bantah Yola saat dituduh berdusta.

__ADS_1


"Ihhh, apaan? Kenal sama kamu aja aku nggak, apalagi sama suamimu. Ihh, ngaku-ngaku. Udah deh, nggak usah kebanyakan membual, pergi dari sini nggak kamu sekarang," kata Andini lagi-lagi merasa jengkel.


Kali ini dia menarik tangan Yola agar bangun dari ranjang. Dan agak sedikit kasar, dia sedikit menyentak dan menggeret Yola hingga keluar dari kamarnya.


"Pergi nggak kamu dari sini! Aku nggak kenal sama kamu, aku nggak tau siapa kamu. Jangan datang-datang kesini lagi," katanya dengan galaknya.


"Kalau belum kenal, kenalan donk kalau gitu..." bujuk Yola lagi dengan senyum manisnya. Tangan kanannya terulur untuk mengajak berjabat tangan.


"Idiiih, nggak perlu kenalan-kenalan. Memang kamu siapa?" balasnya dengan sengitnya.


"Yolanda Gunawan, idiiiih sok-sok'an nggak tau padahal sering stalking dan kepoin iparnya," goda Yola.


"Cewek sinting!" Andini memiringkan telunjuknya di kening. Kemudian menutup pintu kamar kostnya dan membantingnya.


Yola menghembuskan napas panjang. Tampaknya butuh usaha yang lebih keras untuk bisa menaklukkan hati sang adik ipar ini.


Makcik pemilik kost-kost Putri itu melihat Yola dengan tatapan tak mengerti.


"Dia itu memang adik ipar saya, Makcik. Dia hilang semenjak bayi dan baru kami temukan sekarang. Dan kelihatannya dia mengira keluarga kami telah membuang dan melupakannya. Tetapi tidak demikian yang sebenarnya terjadi," kata Yola mencoba menjelaskan meski tanpa diminta.


Pemilik kost itu mengangguk tanda mengerti situasi yang dihadapi oleh Yola.


"Oh macam tu. Korang sabarlah sikit, Dik. Batu karang di hatinya mesti lama-lama akan hancur juga," kata Makcik itu.


Yola mengangguk.


"Mungkin saya akan lebih sering datang kesini," kata Yola.


"Hmm tak mengapa, datanglah. Jika memang memungkinkan bagi saye untuk menolong, saye akan tolong," kata wanita itu lagi.


Usai meminta nomor ponsel pemilik kost itu, Yola pun kembali pulang ke N-one. Setengah harian ini dia menghabiskan waktu yang harusnya bekerja hanya untuk membujuk adik iparnya itu. Dia dan Ilham sepakat untuk mrmbujuk Andini dahulu sebelum mengatakan pada Zubaedah kalau Andini telah mereka temukan.


Begitu Yola sampai di N-one, pemandangan pertama yang dia temui di ruang kerjanya adalah Zubaedah yang sedang bertengkar sengit dengan Ilham.


"Ape maksud kau tak dapat menuruti keinginan Mamah, Ilham? Kamu sama sahaja dengan Hafiz! Kenape korang berdua tak percaye kalau Yuri adalah anak kandung Mamah? Korang ni hanya perlu mencabut laporan kat balai polis. Yuri hanya tertangkap kamera nak panjat bilik jendela Sonia, tak ade bukti ape pun yang boleh tunjukkan kalau dia yang lakukan tu pada Atok!" Zubaedah nampak bersikeras pada pendiriannya.


Ilham hanya mendengus kasar.


"Yuri bukan Andini, Mamah. Bukan! Ilham dapat pastikan hal tu. Jika Mamah belum juge percaya kite akan uji paternitas antara Yuri dan Mamah untuk dapat memastikan kalau Yuri bukan anak Mamah, dia bukan keturunan Nirwan!" balas Ilham frustasi.


Dia bukannya tak mau mengatakan saat ini kalau Andini telah ditemukan. Tetapi sebelum dia memastikan Andini dapat menerima baik kehadiran keluarga kandungnya dalam hidupnya kembali, Ilham sebaiknya menunda untuk mempertemukan Zubaedah dan Andini dahulu. Dia tak mau Zubaedah semakin sedih akan penolakan Andini nanti. Mengingat Andini yang sebenarnya sudah tahu siapa keluarga kandungnya yang sebenarnya dan memilih untuk tetap memyembunyikan diri, Ilham dan Yola berpendapat kalau gadis itu memiliki kekecewaan yang besar terhadap keluarga mereka.


"Tak! Tak perlu ade uji paternitas atau apelah namanya. Yuri sudah pasti Andini. Mr. Y sendiri yang dah cakap pada Mamah kalau dia Andini kite. Ilham, kau mesti tolong adik kau! Macam mana pun buruknya dia, dia tetap memiliki darah yang sama. Kalian dilahirkan dari rahim yang sama. Macam mana dia boleh hidup dalam bui macam ni dah pun selama hidup dia sengsara jauh dari kite? Ilham, tolong adik kau Ilham. Kalau tuntutan tak dicabut mase ni boleh jadi dia dihukum dalam waktu yang sangat lama kerana tuduhan pembunuhan atas Datuk dia sendiri! Jangan menjadi abang yang sampai hati macam ni!" rengek Zubaedah, tak kuasa menahan air matanya.


Dia tak mau melakukan tes DNA karena jauh dalam lubuk hatinya, dia takut kalau tes DNA itu akan mematahkan lagi harapannya untuk bisa bertemu dengan Andini. Dia takut res DNA itu akan membuktikan kalau Yuri memang bukanlah anaknya. Hatinya saat ini tak lagi peduli apakah dia harus membohongi diri sendiri atau. Dia hanya ingin berada dalam situasi yang diinginkannya, yaitu menemukan anak kandungnya yang telah lama dirindukannya itu.


Ilham mengusap wajahnya kasar. Bagaimana cara menghilangkan doktrin yang telah ditanam Mr. Y dalam pikiran sang Mama?


"Mamah ..."


"Abang!" tegur Yola pada Ilham, sebelum suaminya itu semakin kalap dan kemudian mulai menyakiti sang mama dengan kata-katanya.


Ilham dan Zubaedah menoleh pada Yola yang baru datang. Zubaedah mengusap air matanya.

__ADS_1


"Yola, tolong kau bujuk Ilham untuk menarik tuntutannya pada Yuri, hmmm Andini maksud Mamah. Dia kawan kau juge waktu SD di Jakarta, kan? Dia adalah iparmu? Kamu pasti mahu nak tolongkan dia, betul?" Zubaedah membujuk Yola.


Yola mendekati perempuan itu dan duduk di sampingnya, menggeser kursi hingga posisi mereka berhadapan, Yola sedih melihat mertuanya yang terlihat kacau saat ini. Yola meraih tangan Zubaesah dan menggenggamnyam


"Mamah, abang benar. Yuri itu bukan Andini, tolong Mamah jangan percaya begitunsaja pada apa yang dikatakan Mr. Y, jangan telan mentah-mentah apa yang dikatakannya. Yuri bukan Andini," kata Yola dengan lembut.


Zubaedah segera melepas genggaman tangan Yola.


"Dah lah! Kamu sama sahaja dengan Ilham, tak dapat mengerti perasaan Mamah. Kalau korang berdua tak mahu cabut tuntutan tu, Mamah sendiri yang akan usahakan untuk keluarkan Andini dari sana. Mamah akan cari lawyer (pengacara) paling best yang ade kat Malay sini untuk dapat keluarkan Andini dari sana. Kalau Andini dah keluar, Mamah akan pergi jauh bawa Andini dari sini agar kalian tak dapat lagi sakiti dia!" tuding Zubaedah.


"Astaghfirullah, Mamah! Siapa yang mau menyakiti Andini? Gini aja deh! Beri Yola waktu, Yola akan bawa Andini yang asli ke sini," kata Yola.


Zubaedah mengernyitkan keningnya.


"Maksudnya?"


Yola melirik Ilham yang terlihat merutuki sang istri yang tak berembuk lebih dulu padanya dan membocorkan rahasia lebih awal.


"Maksud Yola, kami sudah menemukan Yola yang asli Mamah, anak Mamah. Tetapi dia sepertinya butuh sedikit waktu untuk dapat menerima kehadiran kita. Mamah sabar sedikit! Yola akan pertemukan Mamah dan dia kalau hatinya sudah melunak, ok?"


"A-ape?" Zubaedah tampak syok. Namun kemudian dia menggeleng. "Tak, tak mungkin. Korang berdua pasti nak hibur mamah sahaja. Kalian mesti dah rancangkan ini sewaktu dari Penang. Iya kan?" tuduhnya.


Yola menggeleng geli.


"Nggak, Ma. Nggak. Kami memang sudah menemukan Andini yang asli juga orang tua yang sudah mengangkatnya anak selama ini. Dan sudah dikonfirmasi kalau dia benar-benar Andini," kata Yola lagi.


Zubaedah masih setengah percaya setengah tidak percaya kini menatap Ilham.


"Betul ke?" tanyanya.


Ilham mengangguk. Ini sudah berada di uar rencananya.


Zubaedah kembali berpaling pada Yola.


"Kalau betul macam tu, pertemukan Mamah dan dia. Barulah Mamah dapat putuskan korang berdusta atau tak pada Mamah," kata Mamah Zubaedah.


"Yola akan teleponkan, Mamah dengan orang tua angkatnya nanti, tapi Mamah harus janji untuk tetap tenang. Dan soal Andini, harap Mamah mengerti kalau dia belum dapat sepenuhnya menerima semua ini. Yola akan berusaha untuk membujuknya dulu nanti," ujar Yola.


Zubaedah terdiam.


"Kenape? Dia membenci Mamah ke?" gumamnya lirih. Hatinya sekarang berkali-kali lebih sedih dari sebelumnya.


"Dia mungkin hanya salah paham, mengira kita membuangnya padahal ...."


"Pertemukan Mamah dengan dia, Mamah akan jelaskan padanya ..." Dan air mata seorang ibu itu kini mengalir lebih deras dari sebelumnya.


Anak yang dikasihinya, diambil darinya dan sangat dirindukannya mengira kalau telah dibuang olehnya, itu sungguh sangat melukai hatinya.


Yola hanya bisa memeluk sang mertua dengan sayang. Dia sungguh sangat mengerti apa yang dirasakan oleh Mamah Zubaedah. Berpisah dari anaknya selama 7 tahun meski dia tahu dimana keberadaannya, juga menyisakan luka yang sangat mendalam di sanubarinya. Dan untunglah saat itu Ammarnya sang malaikat kecilnya, tidak membencinya. Bocah kecil itu memaafkaan dirinya yang jelas-jelas sempat membuangnya. Betapa beruntungnya dirinya. Bahkan tak bisa dipungkiri semua itu pun berkat Mamah Zubaedah dan keluarga Gunawan yang selalu mensuport putranya untuk tetap setia menanti kembalinya dirinya ke pelukan Ammar. Dan saatnya Yola menebus semua kebaikan itu.


"Mamah jangan khawatir, Andini akan tetap kembali pada kita.Yola berjanji, Yola sendiri yabg akan membawa dia ke sini. Asal Mamah janji, jangan lagi ke balai polis untuk menemui Yuri, hmm?"


****

__ADS_1


Sekitar 6 episode lagi ya beib, biar tuntas semuanya. Jangan desak author untuk balapan. 2000 kata itu bikinnya hampir 5-6 jam loh.... jangan lupa suportnya yak ...


__ADS_2