
"Maaf, Ketua Pengarah, Puan Yolanda kate dia tak nak diganggu. Puan Yolanda sibuk sangat mengurus rencana kerja sama dengan Malaysian Airport."
July yang telah diwanti- wanti oleh Yola untuk tidak menerima tamu siapa pun mencegah Ilham untuk masuk ke ruangan Yola. Ilham terdiam. Setahunya tentang kerja sama itu hanya tinggal tanda tangan kontrak, jadi sudah tak ada lagi yang harus direncanakan. Ilham sengaja mengejar Yola ke sini selepas menemani Sonia dan Ammar makan siang karena dia tahu wanita itu pasti sangat terluka akan kelakuan Sonia tadi.
Apa yang dilakukan wanita itu di dalam? Apakah dia sedang menangis?
Ilham sangat paham sifat istrinya itu. Yola adalah pribadi yang tak membiarkan siapa pun melihat kelemahannya. Bahkan 7 tahun yang lalu pun saat Ilham menikahi Sonia, Yola dengan tegar mengucapkan kata- kata perpisahan dan mendoakan agar Ilham dan Sonia bahagia.
Yolanda adalah tipikal wanita tegar yang kuat. Dia selalu menerima dan menghadapi masalah apa pun yang dihadapinya.
Tok!Tok!Tok!
Ilham mengetuk pintu.
"Yola, ada yang abang nak bicarakan dengan Yola. Buka pintunya, Yola!" kata Ilham tak mempedulikan larangan July tadi yang melarangnya untuk mengganggu Yola.
Tak ada jawaban apa pun dari dalam.
July yang melihat lembutnya sikap Ilham mengetuk pintu Yola sampai tercengang melihat Ketua Pengarah yang dikenal sebagai King Devil itu. Apa katanya tadi? Abang?
Heuhhh .... Andai tidak takut pada King dan Queen Devil, July pastilah sudah menyebarkan fenomena perubahan sikap direktur utama mereka ini pada para karyawan karyawati N-one. Ini adalah berita terspektakuler.
"Yola ...." panggil Ilham lagi.
Masih tak terdengar suara apa pun. Ilham pun memutuskan untuk memberikan Yola waktu untuk sendiri dulu.
Yola sebenarnya mendengar saat Ilham membujuknya, tetapi rasa sakit hatinya ditambah lagi tak ingin orang lain melihat keadaannya yang berantakan membuatnya tak mau membukakan pintu.
Sepeninggalan Ilham, Yola masih saja hanya bisa menangisi diri dan ketidakberdayaannya. Dia ingin mengejar lelaki itu, mengatakan padanya kalau dia mencintainya dan melampiaskan kekesalannya karena pria itu telah menghabiskan malam dengan wanita lain yang bukan dirinya. Sisi egoisnya mengatakan kalau Ilham adalah miliknya. Lelaki itu miliknya dari sejak belasan tahun yang lalu. Dan Yola tidak rela berbagi dengan wanita mana pun termasuk Sonia. Sungguh dia tidak rela meski kenyataannya sekarang Ilham telah menceraikannya
Tetapi pada akhirnya keinginan hanya berakhir dengan keinginan. Yola tetaplah tidak berdaya.
Jika dia memutuskan untuk mengejar Ilham, Ilham mungkin akan kembali padanya, tetapi tetap tidak merubah kenyataan kalau orang tuanya tetap tidak akan menerima pria itu. Lalu apakah sebaiknya dia mengajak Ilham rujuk saja? Sebaiknya dia dan Ilham lari ke Berlin, atau Amerika bersama Ammar dan tinggal di sana bersama bertiga tanpa dipusingkan oleh masalah keluarga mereka.Tetapi bagaimana kalau jantung mama kambuh lagi jika dia memilih jalan itu? Lalu bagaimana dengan Hafiz?
Memikirkan semua itu selama berjam- jam membuat pikiran Yola lelah dan akhirnya tertidur dengan posisi tertelungkup di meja kerjanya.
***
"Kenape Mamah datang kemari?" tanya Ilham pada Zubaedah begitu dia sampai di apartemen Gold Century, dan melihat sang Mamah sudah menunggi di unitnya.
Mamah membiarkan Ilham membuka pintu apartemennya dengan akses cardnya sebelum kemudian ia melengos masuk ke dalam tanpa mempedulikan si empunya apartemen.
"Kau menceraikan Yolanda, ape maksudmu Ilham? Kau mengucapkan talak padanya. Kau tahu tau tak betapa sulit bagi Mamah dahulu untuk membuat orang tua die setuju dengan perkahwinan kalian ni? Ditambah lagi dengan masalah Andini dan Sonia dan perpisahan kalian selama 7 tahun. Masih baik dia mahu datang ke KL dan kau pun ade kesempatan untuk buat die balik. Tapi ape sekarang kau bikin ni? Kau ucapkan padanye talak, ape yang ada di pikiran kau tu?" tanya Zubaedah menginterogasi putranya itu.
Ilham membuka sepatu dan kaos kakinya, begitu pun jas dan dasinya sebelum dia menjawab pertanyaan mamanya.
"Ilham!!!" desak Mamah.
Ilham menghempaskan tubuhnya begitu saja di sofa dan menatap Zubaedah dengan wajah letih.
"Mamah usah khawatir, Ilham masih boleh rujuk dengan Yola nanti, Mah. Aku ceraikan die sementara sahaja. Aku nak bereskan problem Andini dan Sonia dahulu. Aku nak cari tahu siape orang dibalik penculikan Andini dan memanfaatkan Sonia untuk berkahwin dengan aku. Lepas tu Ilham nak luluhkan hati Papa Abi dahulu, Ilham mesti dapat maaf dari Papa Abi dan Mama Ratih. Kalau tak macam tu, Yola tak kan mahu kembali dengan Ilham," kata Ilham menjelaskan.
__ADS_1
"Tapi Ilham, perbuatan kau ini beresiko. Kau tak mungkin tak tahu, kalau Yola dan Hafiz berencana untuk berkahwin, kan? Kalau dah begini macam mana? Mamah juga menyayangi Hafiz. Dia adik kau juga. Tapi Mamah tak nak kalau Yola bersama Hafiz. Yola adalah menantu terbaik yang Mamah pilihkan hanya untuk kau seorang. Kerana biar macam mana, darah tetaplah lebih kental daripada air. Dan Mamah tak rela kalau Yola bersama Hafiz. Dia hanya menantu Mamah dari anak kandung Mamah, yaitu kau, Ilham!"
Ilham menghela napas.
"Mamah usah khawatir, Yola tak akan boleh berkahwin dengan siapa pun. Setidaknya tak untuk mase ni. Dia mesti melewati masa iddah dahulu kalau nak berkahwin. Jadi, Ilham masih memiliki kesempatan memperbaiki ini semua. Kelak kalau semua problem dah usai, Ilham nak dapatkan Yola kembali dengan usaha Ilham sendiri sebagai seorang pria. Jadi Mamah doakan Ilham sahaja," kata Ilham.
Zubaedah menatap putranya itu dengan ekspresi wajah meminta kepastian.
"Kau mesti berjanji dengan Mamah kalau kau akan berhasil mengajak Yola rujuk kembali," tuntut Mamah.
"He eh," jawab Ilham sembari memejamkan mata.
"Ilham! Kau mesti serius bawa Yola kembali ke keluarga Nirwan!!!" tuntut Mamah lagi dengan nada yang lebih keras. Dia tak puas dengan jawaban Ilham.
"Ya ampun, Mama!!! Iya, iya! Ilham berjanji! Mamah nak Yola balik, Ilham lebih- lebih nak, nak, nak isteri Ilham kembali. Ilham dah pun lama sangat tidur sendiri je. Siape tak nak dikawani isteri sendiri, Mamah ni!" gurau Ilham.
Tetapi gurauannya malah membuat Zubaedah memukulkan bantal sofa berkali- kali padanya.
"Pikiran kau tu kotor sangat. Pantas sahaja Yola tak nak balik dengan kau!"
"Aduuuh, ampun, Mah! Hahaha ....!" tawa Ilham sembari menghindar dari pukulan sang Mamah.
***
Yola terbangun saat hari sudah gelap. Dia dapat melihat itu dari jendela kantornya yang masih terbuka. Kelap kelip lampu dari berbagai bangunan di bawah sana terlihat menambah indahnya suasana malam hari di kota Kuala Lumpur.
Yola segera bangun dari duduknya dan kini badannya terasa sakit karena tertidur dengan posisi duduk dalam waktu yang cukup lama. Yola melihat jam di pergelangan tangannya. Jam 7 malam.
"Lambatnya Puan Direktur balik office?" sapa security itu.
Yola tersenyum simpul.
"Iya. Saya ada banyak sangat job hari ni. Jadi saya ambil lembur, Pak!" jawab Yola. "Saya duluan, ya!"
Entah security itu mengerti maksudnya atau tidak, tapi Yola tak ambil pusing.
Yang jadi masalah sekarang adalah bagaimana caranya kembali ke apartemen. Jarak antara N- one dan Gold Century tidak begitu jauh. Mungkin hanya sekitar 200 meter saja. Sangat nanggung kalau harus memesan taksi, sementara berjalan akan membuat kakinya yang keseleo kemarin akan terasa semakin sakit. Biasanya, Nadira dan Leon akan mengantarnya sampai ke depan apartemennya, tapi mungkin hari ini karena dia tidak mau bertemu siapa pun, ditambah lagi karena Leon bercerita kejadian siang tadi dengan Sonia membuat Nadira urung mengajak Yola pulang bersama.
Dan kini Yola tak punya pilihan lain selain memilih pulang berjalan kaki sendiri. Kakinya terasa sakit ditambah lagi dengan sepatu high heels yang dia pakai membuatnya berjalan tertatih.
Sementara itu Ilham yang sedari tadi menunggu kedatangan Yola tak sabar dan ingin menyusulnya ke kantor. Di tengah jalan ia melihat wanita yang dicintainya itu sedang berjalan dengan langkah kaki tertatih dan wajah meringis. Ilham geleng-geleng kepala melihat Yola.
Ck...ck... Sungguh pengorbanan yang luar biasa. Demi penampilan perfeksionis tanpa cela, meski kakinya sakit tetap memakai high heel setinggi itu.
Segera Ilham membanting setirnya dan berhenti tepat di dekat trotoar tempat Yola berjalan.
Ilham membuka kaca mobilnya.
"Jom, masuklah!"
Yola yang melihat mobil siapa yang berhenti dan menyuruhnya masuk ke mobil itu, berusaha tak menghiraukannya. Dia tetap berjalan dan tetap memandang lurus ke depan.
__ADS_1
Merasa diabaikan, Ilham menjadi tak sabar dan turun dari mobil.
"Yola, jom ikut abang pulang!" katanya sembari menarik tangan Yola.
Yola menepis tangan itu kasar. Ilham tak menyerah. Dengan memaksa dia memeluk tubuh Yola dan ingin membawanya masuk ke mobil tapi Yola memberontak.
"Pergi! Pergi kamu! Jangan sentuh aku! Kamu menjijikkan, tau nggak!"
"Yola! Abang boleh jelaskan pasal Sonia!"
"Aku nggak peduli kamu mau ngapain sama dia! Pergi kamu sekarang! Aku benci padamu! Kenapa kamu masih menahanku untuk bekerja di N-one lagi?! Kamu masih kurang puas menyakitiku, haaa?" teriak Yola.
Rasanya emosinya meluap- luap saat ini. Dia mendorong Ilham dan memaksa mempercepat langkah kakinya menjauh dari laki- laki itu. Tetapi kakinya yang sakit ditambah heelsnya yang tinggi malah membuatnya jadi terjatuh. Yola menangis meraung-raung sekarang. Tak peduli lagi dengan beberapa pengguna jalan yang heran menonton dirinya yang menangis bak anak- anak yang kehilangan mainannya. Padahal yang sebenarnya adalah ia sedang meluapkan kesedihan dan sakit hatinya.
Ilham pun mengejarnya dan menghampiri Yola yang kini terpuruk di lantai. Karena kesal, Ilham pun membuka paksa sepatu Yola dan membuangnya entah kemana. Tanpa meminta persetujuan Yola, dia menggendong wanitanya itu ke dalam mobil, tak peduli dengan tangisan Yola dan Yola yang memukulnya tanpa henti.
Lama mereka berada di basement parkir Gold Century. Ilham menunggu tangis Yola mereda.
"Abang! Abang jahat!! Sampai kapan abang mau nyakitin hati Yola?! Huuuu.... Hu...." raungnya.
Ilham menatap mantan isterinya itu penuh kasih. Kali ini Yola benar-benar tak bisa membendung emosinya. Tanpa harus dibuat mabuk, wanita itu mengungkapkan sendiri perasaannya.
"Abang bilang, abang cuma milikku, tapi .... Kenapa abang dan Sonia ...." Yola tak melanjutkan kata-katanya lagi.
Ahh, siapa dirinya sekarang? Dia bukan lagi istri Ilham. Dia sadar sekarang posisinya.
"Sudahlah! Lupakan!" Yola membuka pintu mobil ingin keluar tapi Ilham menahannya dan memeluk Yola.
"Abang hanya cinta pada Yola. Antara abang dan Sonia tidak seperti yang Yola pikirkan," kata Ilham lembut. "Bersabarlah sikit lagi, Abang akan perjuangkan cinta kite, sayang. Abang dah pernah berjanji takkan dua kali abang membuatmu menderita. Yola masih ingat ape abang cakap, kan?"
Yola menunduk.
"Yola, tengok abang! Yola percaya dengan abang, kan?"
Yola mengangkat wajahnya dan menatap Ilham. Lelaki itu terlihat sangat serius dengan ucapannya.
"Percaya?" tanya Ilham lagi.
Yola tetap bungkam. Sesekali bola matanya bergerak- gerak seakan mencari kejujuran di sana.
Tak mendapat jawaban dari bibir bungkam itu, Ilham mendaratkan ciuman pada bibir Yola. Dia tak bisa menahannya. Ini berbeda dengan ciuman terpaksa yang dilakukannya terpaksa dengan Sonia tadi malam. Yola adalah magnet baginya, candu yang tak bisa dihindarinya saat mereka hanya berdua seperti ini.
Dan tindakannya itu sepertinya memberikan jawaban padanya. Yola membalasnya, dia tak bisa melawan kata hatinya. Dia juga menginginkan pria ini. Tak terpikir lagi orang tuanya, Sonia, dan semua alasan yang membuatnya harus melepas pria ini. Aktivitas dalam mobil itu semakin memanas dan mungkin akan sampai pada tahap seperti yang mereka lakukan di green house tempo hari. Tetapi saat Yola memeluk erat kepala Ilham yang sedang asyik mencumbunya, tiba- tiba dia tersentak saat melihat cincin yang melingkar di jarinya.
Deg! Hafiz!
Segera Yola mendorong Ilham dari tubuhnya dan merapikan pakaiannya yang sudah sempat kusut itu.
"Yola?!!!"
Yola tak menghiraukan keheranan Ilham. Dia segera membuka pintu dan berjalan cepat meski tertatih dengan kaki telanjang di lantai basement itu.
__ADS_1
Ini tak boleh! Hafiz! Yola tau dia tak bisa mempermainkan begitu saja perasaan Hafiz. Lelaki itu meski dia tidak mencintainya sebagai seorang kekasih, tetapi Yola tak bisa memperlakukan Hafiz seperti ini. Ahh rasa bersalah kini menderanya.