
Nur Khadijah menatap Ilham iba. Nada bicara Ilham biasa tak pernah sekeras ini jika berbicara padanya. Ilham anak yang santun padanya. Tetapi untuk kali ini, sahabat dari anaknya itu agak meninggikan intonasi saat berbicara padanya. Khadijah tak dapat sepenuhnya menyalahkan Ilham.
"Makcik tak dapat pertemukan kau dan mereka. Sebab makcik pun tak tahu dari mana asal mereka, dimana mereka duduk makcik pun tak tahu. Hanya sahaja mungkin makcik dapat bantu kau untuk bagi tahu ciri pria itu," kata Khadijah.
Ilham nampak tak puas dengan hal itu.
"Baiklah kalau macam tu, dari pada tak de juga. Makcik sila sebut macam mana dia punya ciri!" kata Ilham mempersilahkan.
Nur Khadijah mengingat-ingat lagi sosok pria yang menemuinya di Tadika Ceria, sekolah pendidikan usia dini tempat cucunya bersekolah di setiap paginya.
"Dia tu pria yang usianya mungkin lebih tua sikit dari pada kau dan Leon. Rambut dia diwarnai abu-abu macam warna perak. Dia pula memakai anting-anting, di leher dia ada tatto. Saat berjumpa dengan mak cik mase tu dia bawa kereta. Mak cik tak terpikir untuk hapalkan nomor kereta tu. Perawakan dia nampak macam orang berada tapi nampak degil. Mak cik takut dengan dia, Ilham. Dia mesti orang berbahaya. Kau mesti berhati-hati. Kau juge mesti jaga Ammar dengan baik," kata Nur Khadijah mewanti-wanti.
Ilham menghela napas berulang-ulang kali. Sesekali dia berdecak sebal. Sebal pada keadaan ini yang membuat pikirannya mumet. Di mana dia bisa menemukan orang dengan ciri-ciri seperti itu? Ilham berpikir, sebenarnya orang itu bukan orang yang sulit untuk dikenali andai dia berjumpa satu kali saja dengannya. Lelaki itu sepertinya cukup nyentrik dari ciri penampilannya sesuai dengan yang diceritakan ibunya Leon.
Meski Ilham belum puas dengan gambaran tentang pria yang dia anggap sebagai Mr. Y itu, Ilham memutuskan untuk tidak terlalu menekan Ibunya Leon. Dia sadar di usia wanita itu yang mulai senja, Nur Khadijahhl pasti memiliki tingkat kekhawatiran yang berlebihan jika diancam seperti itu. Apalagi si pengancam mengancam menghabisi nyawa cucu satu-satunya yang dia anggap lebih berharga dari apa pun.
"Leon, kau cari detectif yang dapat bantu kita memecahkan semua problem ni. Aku dah pening urus semua dari perkara syarikat, Lucas, hingga pemilihan ketua pengarah yang baru. Aku mahu tengok orang yang mengancam makcik tu macam mana rupanya. Dia mestilah Mr. Y, aku yakin itu, Leon," kata Ilham geram.
"Hmmm baiklah kalau macam tu," kata Leon. Dia tak berani membantah Ilham saat ini.
"Dan tolong kau persiapkan keberangkatan Hafiz, ke Cambodia! Kau carikan orang untuk dapat lindungi Hafiz dari jauh. Aku yakin, Lucas tak akan membuat kite senang dengan pasal ni," kata Ilham.
Dan Leon yang biasa selalu menjawab Ilham dengan candaan kini tak berani lagi menanggapi suruhan Ilham dengan bantahan sekaligus banyolan.
__ADS_1
"Hmmm, oke!" jawabnya singkat.
****
Beberapa hari berlalu setelah itu, Hafiz pun kini telah berangkat ke Kamboja dengan keberangkatan yang sama tentunya dengan Yuri. Selama di sana, Lucas telah menyediakan fasilitas apa yang dibutuhkan oleh Yuri dan Hafiz, termasuk hotel tentunya.
Awalnya, Ilham akan menolak tawaran Lucas untuk menyediakan hotel bagi Hafiz selama dia berada di sana. Tetapi mengingat kalau mereka memiliki misi lain selain urusan pemilihan ketua pengarah, Iham dan Hafiz pun akhirnya setuju untuk menerima tawaran Lucas.
Kedua belah pihak, baik dari pihak Ilham atau Lucas sebenarnya saling tahu kalau keberangkatan Hafiz dan Yuri ke Kamboja sama-sama memiliki resiko masing-masing. Lucas bukannya tidak tahu, kalau Ilham berniat menyelidikinya lewat Hafiz, begitu pun dari pihak Ilham sebenarnya bukannya tak memiliki kecurigaan kalau selama di sana, mungkin saja Lucas telah mempersiapkan hal yang buruk seperti membuat Hafiz mendesak Ilham untuk segera menandatangani perjanjian kerja sama antara N-one Grocery dan Indopenh Group. Tetapi antara Ilham dan Lucas sama-sama memiliki prinsip yang sama. Yang harusnya terjadi, biarkan terjadi. Kepalang tanggung jika tidak dituntaskan sampai akhir.
Dan di hotel inilah Yuri dan Hafiz berada sekarang. Ini salah salah satu hotel terbaik yang dipilihkan Lucas untuk mereka. Masing-masing mereka diberikan kamar berbeda namun tetap bersebelahan.
Hafiz baru saja menutup pintu saat Yuri datang mengetuk pintu kamar hotelnya. Orang suruhan Lucas yang mengantar Hafiz dan Yuru ke hotel baru saja pergi setelah memastikan keduanya telah mendapatkan kamar mereka masing-masing.
Hafiz memandang penuh kecurigaan pada Yuri, sedikit pun dia tak percaya lagi pada wanita ini. Apa lagi ingin sekedar cari makan bareng. Siape sudi! batin pria itu.
"Kau ni nak rancangkan ape lagi?" tanya Hafiz dengan pandangan penuh selidik.
"Diiih, Ndut! Cuma ngajakin makan bareng aja, curigaan amat lu, udah kayak polisi aja," kata Yuri.
Hafiz menatap Yuri dengan pandangan memicing.
"Saye tak de urusan dengan kau, Yuri. Cepat pergi dari sini. Saye nak tidur. Esok saye mesti ke Indopenh group pusing-pusing nak cari ape kelebihan syarikat punya bapak kau angkat i. Dah lah tu, pergi, pergi!" usirnya sambil mengibas-ngibaskan tangannya dengan kode keras mengusir Yuri.
__ADS_1
Hafiz ingin membalikkan badan dan bersiap menutup pintu tetapi Yuri menahan pintu agar tidak menutup.
"Ihhh, Ndut! Kamu bisa nggak sih bersikap baik ke aku dikit sama seperti sikapmu ke Yola. Kasar banget jadi cowok!"
Hafiz mengurungkan niatnya sejenak menutup pintu dan kini berdiri dengan pandangan mencemooh pada Yuri.
"Kamu mau aku bersikap sama pada kau sama dengan yang aku lakukan pada Yola? Hey degil!" Hafiz mendorong kening Yuri dengan telunjuknya. "Jangan banyak bermimpi. Macam mana orang seperti kau dapat disamakan dengan Yola! Kau ni dah pun licik, kawan kau sendiri pun kau khianat macam ni. Coba aku tanya, kau ni mencuri di apartemen abang aku sampai kosongkan seluruh apartemen dia, mau kau tu ape? Sekarang kau pula bekerja sama dengan orang yang menjadi musuh keluarga kami. Dan turut membantu Lucas nak kuasakan N-one. Kau ni manusia macam ape? Nasib baik aku tak sampai berkahwin dengan wanita macam mau ni! Kalau ingat kau wanita yang menghalalkan segala macam cara untuk dapatkan jangankan untuk cari makan bersama, bertatap muka dengan kau macam ni pun aku tak akan sudi, apalagi bersikap sama pada kau sama dengan aku bersikap pada Yola. Lekaslah bangun! Jangan tidur sahaja!"
Hafiz kembali ingin menutup pintu kamar hotelnya. Tetapi lagi-lagi Yuri menahannya.
"Hey, Hafiz! Jangan sombong kamu! Aku tahu niat kamu ke sini tak cuma untuk urusan pemilih ketua pengarah saja. Kamu juga ingin tau banyak hal tentang Lucaz kan? Kamu yakin tak butuh bantuanku??"
Tawaran yang menggiurkan, tapi ... Hafiz tak bisa begitu saja mengikuti permainan Yuri. Dia harus memutar otaknya.
"Tak payah, dan tak perlu!"
Dengan dorongan yang tak terlalu kuat namun cukup kasar, Hafiz mendorong Yuri hingga gadis itu mundur beberapa langkah ke belakang. Lalu Hafiz segera menutup pintu kamar hotel, dan ...
BLAMMMM!!!!
***
Hai guys, jangan lupa like dan komentnya ya ...
__ADS_1