
Yola membawa Eva ke kamarnya. Sebenarnya tidak baik membawa orang lain ke kamar pasangan suami istri seperti dirinya dan Ilham apalagi jika itu adalah seorang wanita. Tapi Yola merasa perlu membawa Eva yang sedang menelepon ke tempat sepi tanpa gangguan, dan Yola merasa kamarnya adalah tempat yang paling cocok saat ini, karena rumah sedang ramai oleh keluarga dan beberapa orang kerabat dan teman Mamah Zubaedah yang datang untuk bantu-bantu persiapan acara tujuh bulanan walimatul hamliku esok hari.
"Aktifkan speaker-nya!'" bisikku dengan nada seperti memerintah pada Eva.
Eva mengangguk
"Yolanda! Kamu dimana?" Terdengar suara pria itu, Martin tentunya.
Aku sempat mengernyitkan keningku heran kenapa Martin menyebut namaku, hingga akhirnya aku sadar kalau dia tidak sedang berbicara denganku, melainkan bicara dengan Eva. Hal itu bisa kulihat dari sikap Eva yang merespon panggilan itu dengan sikap yang sangat biasa seolah dia sudah biasa dan lama dipanggil seperti itu.
Oh ya Tuhan, jadi Martin ini pun sangat mengerti situasi ini, bahkan soal aku dan Eva yang memiliki perselisihan dengan nama yang sama. Jadi dia selama ini memanfaatkan nama itu untuk memprovokasi Eva agar menurut padanya seolah dia adalah orang yang paling mengerti keinginan gadis itu? Setidaknya itulah yang kulihat saat ini.
"Yolanda, kau dengar aku?" sapa Martin lagi ketika Eva tak kunjung menjawab panggilannya.
Eva mungkin menyadari keheranan Yola saat mendengar nama Yolanda disebut. Oh ayolah, kenapa dia jadi malu sendiri mengetahui Yola yang sekarang tahu tentang obsesinya terhadap nama itu.
"Iya, sayang, aku dengar," jawab Eva berusaha untuk sewajar mungkin agar Martin tak curiga.
"Kamu dimana?" tanya pria itu mengulangi pertanyaannya.
"Kenapa memangnya?" tanya Eva balik. Dia berusaha mengulur waktu agar bisa mencari alasan yang masuk akal untuk menjawab pertanyaan Martin.
"Aku ada di ...." Eva melihat pada Yola, meminta bantuan bumil itu untuk menjawab dengan tepat jawaban apa sebaiknya yang dia berikan pada Martin.
Yola yang paham langsung mendekati Eva dan berbisik di telinganya.
"Katakan saja yang sejujurnya. Bilang kamu lagi ada di KL, tapi jangan bilang kalau kamu ada di rumah sini," bisik Yola.
Eva mengangguk dan menjawab sesuai dengan perintah Yola.
"Aku lagi ada di KL, kenapa memangnya?"
__ADS_1
"Oh? Apa yang kamu lakukan disitu? Bukankah kau ditempatkan di Alor Setar oleh suaminya Yolanda yang itu?" tanya Martin terdengar heran, namun sepertinya dia tidak curiga. "Aku sedang ada di rumah sewaanmu di Alor Setar. Tapi kamu nggak ada. Kunci juga kamu nggak tinggalin. Padahal aku jauh-jauh dari Jakarta datang khusus untuk mengunjungi kamu."
Martin terdengar sebal karena Eva tidak ada di kediamannya.
Eva manggut-manggut. Usaha yang bagus sekali untuk mengelabui aku, Martin! umpat Eva dalam hati.
"Maaf, Sayang. Aku juga dapat kabar dari N-one. Aku disuruh datang oleh bagian personalianya untuk ditempatkan ulang bekerja di KL," jawab Eva.
"Kok bisa?" tanya Martin seolah tak percaya.
"Entahlah, mereka menyuruhku untuk bekerja di N-one pusat KL, aneh kan?Tapi baguslah, setidaknya aku bisa keluar dari Alor Setar. Kamu tau di sana sama sekali tak menyenangkan? Apa gunanya aku ke Malaysia tapi tidak bisa melakukan apa-apa pada anak anak brengsek yang telah mengambil namaku itu. Kalau di sini setidaknya aku bisa mengawasi dialah dan merencanakan ulang sesuatu untuk membalas penderitaan yang selama ini aku rasakan dan mama, pokoknya dia harus merasakan betapa aku menderita!!" katanya dengan geram.
Yola yang mendengarnya menjadi mengelus dada. Dia jadi meragu mengajak Eva bekerja sama. Apa itu yang sebenarnya selama ini dirasakan gadis itu terhadapnya?
"Ngomong-ngomong, kamu bukannya lagi ada di Pnomh Penh buat ngurusin masalah ayah kamu? Kok kamu bilang kamu dari Jakarta? Ngapain di sana?" tanya Eva mulai dengan pancingannya.
"Oh ... itu ..." Martin mulai tergagap. "Iya, a-aku sepulang dari Pnom Penh langsung ke Jakarta. Bu-buat ngecek rumah dan usaha ayah yang ada di Jakarta. Aku ingin tahu apa kasus ayah ini berdampak atau tidak pada usaha ayah di Jakarta, tetapi sepertinya masih adem ayem aja. Atau mereka memang sengaja ingin memancing ayah agar datang ke Indonesia?"
Eva terdiam. Bukan polisi yang ingin menjebak ayahmu, tapi keluarga Nirwan dan aku yang akan membantu mereka, batin Eva.
"Maksudku begini, mungkin saja media dan polisi di Indonesia terlihat tenang dan tak beraksi apa pun karena ingin menjebak ayah, kan? Kamboja, Malaysia dan negara-negara tetangga di ASEAN tampak sangat heboh memberitakan berita itu. Hanya Indonesia yang sepertinya tak memberitakan apa pun. Seolah mereka tak kenal dengan ayah, perusahaan ayah. Ya memang kuakui sih, ayah sudah lama tidak berkecimpung di dunia bisnis di Indo. Dia sengaja mengantisipasi hal itu agar kalau ada hal seperti ini, dia bisa dengan mudah melarikan diri dan pulang ke Indonesia," kata Martin.
"Memangnya ayahmu sekarang ada dimana? Nggak mungkin kan dia tidak memberi kamu kabar sama sekali sekali pun dia sedang bersembunyi?" tanya Eva.
Martin menghela napas panjang.
"Papa sejak muda biasa bersama kelompoknya di Jerman. Terus terang aku tidak tahu soal itu, dia tidak mengabariku. Tetapi yang pasti keadaannya jadi buronan sama sekali bukan hal yang menyenangkan. Dia tidak bisa merasa aman dan bebas. Dan kau tahu itu menyakitkan," kata Martin.
Eva manggut-manggut. Lalu Martin yang saat itu sedang berada di Alor Setar pun tiba-tiba tersadar sesuatu.
"Kamu kok tahu tentang ayahku?" tanyanya tiba-tiba dengan curiga.
__ADS_1
Martin tidak pernah menceritakan apa pun tentang ayahnya pada Eva. Eva sendiri mengutuk dirinya sendiri yang mencoba menggali informasi tak kira-kira terlebih dahulu. Harusnya dia bisa lebih sabar dan tak terburu-buru mendesak Martin.
"Yola ...." panggil Martin dengan nada sedikit mengancam, membuat Yola yang sebenarnya menjadi merinding mendengar namanya dipanggil begitu oleh Martin.
"Ah, itu! Aku melihat ayahmu di berita, aku pernah bertemu sekali dengannya di Jakarta, kamu lupa? Aku hanya mengkhawatirkanmu dan dia, hanya itu," jawab Eva dengan nada yang sangat prihatin.
"Ini semua gara-gara orang itu, suaminya Yolanda anak dari papamu itu!" tuding Martin. "Eva kamu harus bantu aku!"
Yolanda meneguk salivanya sendiri mendengar ancaman Martin itu. Dia sedikit takut kalau orang bernama Martin itu akan melakukan sesuatu yang buruk pada suaminya.
Eva yang melihat ketegangan di wajah Eva, meraih pundak Yola dan mengelusnya mencoba menenangkannya.
"Apa pun akan kulakukan untuk membantumu dan membalaskan sakit hatiku pada mereka, jadi apa yang harus aku lakukan?" tanya Eva.
Pada saat yang sama Ilham yang baru pulang dari kantor itu membuka pintu kamar, tertegun melihat Eva dan Yola ada di sana.
"Yol ..."
"Ssssttt ..." Yola memberi kode pada Ilham untuk tetap diam.
Ilham menurut dan masuk dengan perlahan tanpa suara ke dalam kamar. Dia pun duduk di samping Eva.
"Masuklah ke N-one, terima saja pekerjaan itu. Bantu aku menghancurkan mereka sampai ke akarnya. Tidak hanya keluarganya, tapi perusahaannya juga! Dan juga Yolanda saudaramu itu, bantu aku mengamankannya," kata Martin.
"Mengamankan bagaimana maksudnya?" Eva tak mengerti. Yola dan Ilham pun sama. Mereka mendengar dengan perhatian kata-kata selanjutnya dari Martin.
"Apa yang diinginkan ayahku ada padanya.Bantu aku menculik dia. "Penderitaan ayahku bermula dari mereka, dan sekarang mereka melakukannya lagi. Harus ada harga sebanding untuk itu. Dia harga yang cocok untuk itu."
Ilham dan Yola sampai membelalakkan matanya karena terkejut. Begitu pun dengan Eva.
"Maksudnya?"
__ADS_1
***
Hai reader, like dan komentarnya donk!