Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Di Belakang Rumah


__ADS_3

Dengan kesal dan wajah merengut Putri membanting-banting baju yang sedang dicucinya itu ke keramik lantai tempat cuci di belakang rumah Yola itu. Teringat lagi perdebatannya dengan sang Mama tadi malam.


"Mama, Putri boleh ikut ya sama tante Ratih ke KL," bujuk Putri pada Imelda di kamar utama rumah keluarga Gunawan yang ditempati Mama dan Papanya itu.


Imelda dengan mata memicing langsung menatap tajam putrinya itu hingga Putri langsung menunduk karena merasa dicurigai oleh sang Mama.


"Nggak boleh!" jawab Mama Imelda ketus.


"Please, Ma! Putri belum pernah main ke KL. Putri juga kan pengen ikut menyaksikan resepsinya Yola di sana," rengek Putri.


"Mama bilang nggak boleh ya nggak boleh! Lagian disini kurang puas apa kamu ketemu sama Yola, udah 5 hari loh, 5 hari! Kamu udah menyaksikan acara pinangannya, akad nikahnya juga. Ya udahlah! Kita harus balik ke Palembang besok," kata sang Mama.


"Mama please .... Lagian Putri juga di Palembang nggak ada aktivitas juga, masih nganggur, kuliah juga udah kelar. Boleh ya, Ma ... Paling juga Tante Ratih dan Om Abimanyu disana cuma 5 harian juga. Tante Ratih bilang boleh Putri ikut, tiket dibayarin Tante entar asal Mama ngijinin Putri." Putri lagi-lagi merengek.


"Iss, dibilangin nggak boleh, ya nggak boleh!


"Mamaaa ...."


"Putri!!!" bentak Imelda. "Kamu jujur deh, kamu kesana mau ngapain? Biar bisa deket-deketan sama Hafiz, gitu???!!"


Putri terdiam. Sejujurnya dalam hatinya dia mengakui tebakan sang Mama Imelda ada benarnya. Dalam hatinya dia mengakui kalau dia mulai tertarik pada pria itu. Pria yang ingin bertanggung jawab menikahinya hanya karena insiden tak disengaja di kamar mandi itu. Jika karena hal sekecil itu saja pria itu mau bertanggung jawab padanya apalagi dengan sesuatu yang lebih besar. Sungguh dia ingin mengenal lebih dekat pria itu. Karena itu dia ingin ikut ke Malaysia, karena hanya dengan menempel pada Yolalah, dia berkesempatan mengenal lebih dekat Hafiz. Pria yang sangat berani melamarnya langsunh di depan Mama dan Papanya.


"Kenapa diam? Benar kata Mama kan? Kamu kesana memang mau ngintilin si Hafiz. Ihhh, otak kamu itu dimana coba? Jadi cewek kok agresif banget mau datangin cowok ke sana!" tuding sang Mama tanpa tedeng aling-aling.


Perkataan Mama sontak membuat Putri menjadi sakit hati.


"Mama, kalau Mama nggak bolehin Putri ikut ya sudah! Tapi nggak usah sampai ngomongin Putri sampai segitunya donk, Ma!" kata Putri tersinggung.


Dan hari ini Yola dan keluarga suaminya akan kembali ke Kuala Lumpur. Termasuk Hafiz tentunya. Di saat semua orang dari negeri jiran itu sedang sibuk beres-beres barang yang akan mereka bawa pulang, saat ini Putri lebih memilih untuk menyendiri di belakang sambil mencuci bajunya yang sebenarnya bisa saja dicuci dengan memakai mesin cuci.


"Sebell! Sebel!! Sebeeeee!!!! Argggghhh!!!" jeritnya nyaris berteriak sambil membanting celana jeansnya keras-keras ke lantai.


Putri hampir menangis kini. Saat ini mungkin mereka telah masuk ke mobil. Dan Putri sungguh tidak ingin melihat rombongan itu berangkat.


"Arggghhh!!! Mamaaa!!!" jeritnya kesal.

__ADS_1


Air matanya sampai menetes karena jengkelnya.


"Lihat aja pokoknya! Aku nggak bakal mau nikah sama siapa-siapa. Mama jahaaat ...!" katanya kesal.


"Dengan abang juga tak nak?"


Suara lembut dan terdengar menggoda itu mengagetkan Putri dan spontan mengangkat wajahnya.


Di ambang pintu belakang ada Hafiz yang berdiri santai sambil menatapnya yang sedang berjongkok sambil memegang sikat. Putri buru- buru menyeka air matanya dengan lengan bajunya.


Dalam hatinya bertanya-tanya ada keperluan apa Hafiz datang ke belakang dan lagi-lagi memergokinya sedang melakukan hal yang memalukan.


Hafiz tersenyum dan mendekat pada gadis itu. Kini dia ikut berjongkok di pinggir lantai keramik itu dan memandang pada Putri yang masih berusaha menyeka air matanya itu. Sepertinya dia tidak akan salah memilih wanita kali ini. Hatinya begitu yakin ingin mempersunting gadis ini, meski mereka baru saja saling mengenal satu sama lain.


Ditatap seperti itu oleh Hafiz malah membuat Putri menjadi salah tingkah.


"A-apa?" tanya Putri gugup. "Nggak ada Yola di sini!" jawabnya berlagak ketus.


"Siape yang mencari Yola? Abang kat sini nak cari Puteri lah," kata Hafiz.


"Di Malaysia Putri berarti Puteri. Tetapi Putri yang ade kat Indonesia sini adalah Puteri dalam hati Abang," kata Hafiz.


Tunggu, tunggu, tunggu ... sejak kapan Hafiz pintar menggombal ya? Sebenarnya Hafiz pun bingung. Entah kenapa dirinya yang tidak pernah berpengalaman ini tiba-tiba saja bisa mengucapkan kata-kata rayuan maut seperti itu.


"Idiih ... sok-sok'an manggil abang. Kita seumuran kali," jawab Putri masih berlagak ketus dan jual mahal.


"He em. Mungkin betul cakap Putri tuh. Tetapi kalau biase sepasang kekasih meski sebaya, tetaplah yang wanita mesti memanggil abang pada yang pria. Apalagi kalau nanti dah berkahwin. Itu mesti jadi suatu keharusan Putri panggil saye abanglah," jawab Hafiz.


Putri langsung menganga mendengar kata-kata Hafiz yang luar biasa pede.


"Ih, siapa yang mau kawin sama situ. Pedenyaaaa," cibir Putri.


"Semalam Putri cakap mahu di depan semua oranglah. Putri lupa ke?" Hafiz kembali mengingatkan.


Putri seketika gelagapan saat Hafiz mengingatkannya kejadian kemarin.

__ADS_1


"Aku tuh cuma salah ngomong. Maksudku, aku nggak mau ..." jawab Putri ngeles.


Hafiz manggut-manggut namun dengan mimik wajah tak percaya.


"Oh, macam tu. Okelah. Kalau macam tu aku tak mestilah tanggung jawab pasal kat bilik air tu." kata Hafiz. "Kerana Putri dah kate tak mahu, berarti kite dah tak de saling perasaan bersalah lagi. Kite dah saling ridho dan ikhlas memaafkan ape yang terjadi kat bilik air tu."


Putri terdiam tak bergeming. Hafiz meliriknya. Ada raut kecewa di wajah tu.


"Baiklah, kalau macam tu. Abang pamit, Putri! Haisss, semua pasti dah tunggu abang kat keretalah," kata Hafiz sambil melirik jam di pergelangan tangannya.


Lalu masih dengan kemampuan sandiwara yang mumpuni Hafiz berbalik badan bersiap seolah ingin pergi detik itu juga. Padahal dalam hatinya dia ingin agar gadis itu menahannya. Sungguh dia sangat tertarik dengan gadis itu.


Jom! Kau larang aku pergi! Panggil aku sekarang! begitulah kira-kira isi hati Hafiz.


Pura-pura sibuk mengamati ponselnya, Hafiz sengaja memperlambat langkah kakinya, masih berharap Putri menahannya.


"Macam mana nih. Mereka dah pun tak sabar nak bertolak balik mase ni. Putri abang pam ..."


Belum sempat Hafiz mengucapkan kata-kata pamitannya, tubuhnya sudah disiram segayung air oleh Putri.


"Ihhh!!! Nyebelin banget sihhhh!!! Kalau mau pergi, pergi aja sana! Nggak perlu pamit-pamitan segala!!! Dasar dodol! Buaya darat!!! Bisa-bisanya mau pergi lepas tanggung jawab, padahal kamu udah lihat semuanya!!! Jahaaaat!!!"


Tanpa diduga Hafiz Putri kini tak hanya menyiram Hafiz dengan air. Namun melemparnya juga dengan pakaian basah dari dalam ember.


"Eh, Putri!Putri ... sabar sikit!! Put ..." Hafiz berusaha menangkis serangan dari Putri.


"Nggak ada sabar-sabar ya! Tega-teganya kamu udah lihat semua mau main pergi aja.Nanti siapa lagi yang mau nikahin aku kalau tau kamu udah lihat semuanya!!! Aku bakal jadi perawan tua gara-gara kamu. Jahaaat!!!"


Dan adegan Putri yang menyerang Hafiz di belakang rumah hingga pria itu basah kuyup baru terhenti saat keduanya sadar bahwa telah ada beberapa pasang mata yang yang menatap mereka dengan wajah melongo. Termasuk Yola, mama Ratih, dan mama Zubaedah.


***


Ehmm ... ehm... Kira-kira si Putri diijinin ke KL nggak tuh kalau udah begini.


Jangan lupa like dan komentarnya yah beib... Jangan velit-velit donk ... wkwkw ...

__ADS_1


__ADS_2