
#Cinta_Dua_Negara/Jodoh dari Malaysia
Part 27
Suasana di ruang makan itu menegang beberapa saat. Abimanyu menatap Yola tajam seakan memberi peringatan agar Yola menjaga sikapnya. Sementara Ratih, sang Mama yang duduk disebelahnya menyentuh punggung Yola berusaha untuk memberi ketenangan pada putrinya itu. Yola sungguh berharap agar keluarga Rafly mengerti bahwa dia tidak menginginkan perjodohan ini. Namun sesuatu yang tak diduga membuat Yola malah semakin tak bisa lepas dari situasi ini.
"Kami sudah tau. Maafkan Tante ya Yola. Harusnya kami lebih mengerti perasaanmu. Harusnya kami lebih dulu menanyakan kabar tentang anakmu. Jadi, bagaimana kabar tentang Ammar? Dimana dia sekarang? Dia pasti adalah anak yang lucu dan menggemaskan," kata Marisa.
Yola mengernyitkan keningnya.
"Darimana tante tahu tentang Ammar?" tanyanya.
"Dari Rafly. Dari siapa lagi? Kami tidak keberatan soal itu. Ammar akan menjadi cucu kami juga," jawab wanita itu.
Yola melirik curiga pada Rafly.
"Setahuku aku tidak pernah menyebutkan nama anakku. Kenapa Kak Rafly bisa tau?" tanya Yola curiga.
Rafly tersenyum. "Kamu pernah menyebutkannya sekali."
Lagi- lagi Yola mengernyitkan keningnya lagi.
Masa sih? Yola kok nggak yakin dengan kata- kata Rafly.
"Jadi bagaimana? Karena masalah ini sudah dibicarakan dan tak ada masalah bagi kami untuk menerima Yola sebagai menantu di keluarga ini, bisakah kita lanjut membicarakan rencana pernikahannya?" tanya Firdaus, ayahnya Rafly.
Yola segera berdiri dari duduknya.
"Maaf, Om. Saya benar-benar tidak bisa menikah dengan Kak Rafly," tolak Yola.
"Yola!" ultimatum Abimanyu pada Yolanda.
"Maaf, Pa! Om, Tante, Kak Rafly. Yola pulang duluan," pamit Yola dan buru-buru menggeser kursinya dan pergi dari sana.
Pikiran Yola benar-benar kalut sekarang.
"Maafkan Yola, ya Rafly. Dia mungkin hanya merasa ini terlalu mendadak. Nanti saya akan bicarakan lagi dengannya," kata Abimanyu.
Sementara itu Ratih dengan cemas melihat kepergian Yola. Dia ingin menyusulnya tapi sebelah tangan Abimanyu menggenggam tangannya, mengisyaratkan Ratih untuk tetap berada ditempatnya.
Berbeda dengan Rafly, dia segera meninggalkan makanannya dan mengejar Yola.
Di depan rumah Rafly, Yola sedang sibuk mengotak- atik ponselnya untuk mengorder angkutan online.
"Yola, kita harus bicara!" kata Rafly sembari menarik tangan Yola.
"Bicara apa? Bicara tentang pernikahan? Maaf aku nggak bisa. Kak Rafly bisa gitu, ya? Kita kan udah sepakat kalau kita hanya pura- pura. Tapi kenapa tadi di depan mama papaku dan mama papa kak Rafly, kak Rafly sama sekali nggak menolak perjodohan itu? Padahal itu tadi moment yang pas untuk kita menolak perjodohan itu dan bilang kita nggak cocok satu sama lain. Tapi Kakak sama sekali nggak bantu aku!" kata Yola marah.
"Itu karena aku memang benar- benar ingin menikah dengan kamu, Yola. Aku menyukaimu sejak dulu," aku Rafly.
"So? Apa aku harus menikahi semua orang yang menyukai aku? Dari awal aku sudah bilang aku tidak tertarik menikah. Dan kita sepakat hanya pura- pura saja. Lalu kenapa sekarang begini?" tanya Yola masih dengan amarah.
Rafly melipat tangan di dadanya.
"Baiklah, aku tidak punya pembelaan diri apa pun terkait itu. Dan soal rencana pura- pura itu, aku memang sengaja agar bisa dekat denganmu," katanya. "Dan aku tidak merasa bersalah melakukannya."
Yola menghela napasnya kasar. Berketepatan dengan aplikasi online G-car, yang berhenti tepat di depan rumah Rafly.
"Baiklah kalau begitu, tak ada yang perlu dibicarakan lagi," kata Yola kesal sembari masuk ke dalam mobil.
Sesampainya di rumahnya, Yola segera menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Dirinya lelah hati dan pikiran. Bagaimana mungkin papanya masih begitu diktator memerintahkan dirinya agar menikah. Dia bukan lagi Yola yang dulu.
Yola dengan posisinya yang berbaring telentang menangis sambil menatap langit-langit kamarnya. Dia benci dirinya yang seperti ini.
Di saat Yola masih menangis sesenggukan tiba- tiba ponselnya berdering. Ilham benar- benar tahu waktu yang tepat untuk menghubunginya. Yola mengangkatnya.
"A- abang .... Hiks ...."
Ilham mengernyitkan keningnya. Yola menangis, kenapa?
"Yola, kamu menangis?" tanya Ilham.
Yola diam.
__ADS_1
"Jawab abang, Yola ...."
Yola masih saja diam. Hanya terdengar suara isak tangisnya sesekali.
Ilham akhirnya tak memaksa lagi. Lama keduanya terdiam dalam sambungan panggilan telepon. Tak ada kata di antara mereka selain senandung kecil dari mulut Ilham yang ikut serta mengikuti alunan lagu Mahen bertajuk Pura- pura lupa yang diputar di Mp3 televisi di kamarnya.
Jangan datang lagi cinta,
Bagaimana aku bisa lupa?
Padahal Kau tahu keadaannya,
Kau bukanlah untukku,
Jangan lagi rindu cinta,
Kutak mau ada yang terluka,
Bahagiakan dia, aku tak apa,
Biar aku yang pura- pura lupa
Mendengar senandung Ilham, Yola semakin mengencangkan tangisannya.
"Huaaaaa .... Abang, kalau abang nggak mau Yola datang lagi, bilang aja, nggak usah sok- sok nyindir Yola pakai lagu segala!"
Yola menutup teleponnya, membuat Ilham menjadi bengong seribu bahasa. Apa yang salah? Astaga sentimen amat sih itu wanita. Padahal Ilham hanya bersenandung iseng, karena dia memang menyukai lagu Mahen yang itu.
Ilham beberapa kali menghubunginya lewat panggilan telepon. Tetapi Yola sudah tidak mau mengangkatnya lagi.
Air mata Yola mungkin sudah terkuras habis karena lelah menangis saat kedua orang tuanya kembali dari tempat Rafly. Abimanyu segera mendatanginya ke kamar dan membuka pintu yang tak terkunci itu.
"Yola! Kamu sangat keterlaluan! Sikap seperti apa yang kamu tunjukkan di tempat Rafly tadi? Apa baik sikapmu itu? Kamu meninggalkan acara makan malam kita yang bahkan belum selesai. Dimana sopan santunmu???!!!" bentak Abimanyu.
"Papa! Yola nggak mau menikah dengan Rafly, Pa. Yola mohon, Pa! Untuk sekali ini biarkan Yola memilih jalan hidup Yola sendiri. Yola nggak mau dijodohin. Toh kalau pun nanti Yola akan menikah, biarkan Yola memilih sendiri calon pendamping Yola," kata Yola memohon.
Abimanyu menatap Yola sinis.
"Papa! Dulu pun saat Papa menyuruh Yola menikah dengan Abang, bukankah Papa juga bilang kalau abang adalah yang terbaik? Tetapi kenapa sekarang Papa juga mengatakan hal seperti itu, Rafly yang terbaik? Memangnya Papa bisa menjamin seseorang baik hanya karena luarnya aja?" balas Yola.
"Kamu makin berani membantah Papa sekarang, ya? Sudah besar kamu sekarang? Makanya kamu nggak butuh pendapat Papa lagi dalam hidup kamu? Begitu Yola?!!!" bentak Abimanyu.
"Papa bukannya berpendapat pada Yola. Tapi Papa ingin memaksakan kehendak Papa pada Yola. Pa, Yola sudah dewasa. Yola bisa memilih sendiri apa yang baik untuk hidup Yola. Selama ini Yola sudah menuruti banyak sekali keinginan Papa. Dan asal Papa tau, Yola nggak bisa menikah dengan Rafly karena Yola tidak pernah bercerai dengan Abang! Yola masih istrinya abang Ilham. Abang tak pernah mengucapkan talak pada Yola. Dan Yola bukan istri kedua atau pun perebut suaminya orang!!!" kata Yola tegas.
"Yola!!!!" teriak Mama Ratih kali ini. "Apa maksudmu berkata seperti itu? Kau ingin kembali rujuk lagi dengan Ilham. Sadarlah, sayang. Ilham sudah menikah lagi. Dia mengkhianatimu. Mama nggak rela anak mama satu-satunya kembali bersama dia! Seperti kamu nggak punya pilihan lain saja. Yola kamu jangan bikin mama kecewa dengan sikapmu yang lemah seperti ini. Baru beberapa minggu kamu ke sana. Dia sudah berhasil merayumu lagi, astaga Tuhan, apa yang sudah dilakukannya lagi kali ini sampai kamu bisa berubah bodoh lagi seperti dulu??!!!"
Yola menghampiri Ratih kali ini dan bersujud memeluk kaki wanita yang telah melahirkannya itu.
"Mama, Yola belum bercerai dengan Abang. Mama yang paling mengerti Yola. Aku .... Aku .... masih mencintai abang, Ma. Aku juga mau kembali dengan abang. Aku juga mau Ammar punya orang tua yang lengkap. Mama , Mama juga seorang ibu, Mama mengerti perasaanku, kan??" aku Yola.
"B*doh!!!!" teriak Papa. "Hentikan kebodohanmu itu Yola. "Belum bercerai katamu? Tak perlu menunggu 7 tahun, 3 bulan pun kalian sudah bisa dikatakan bercerai bila dia tak pernah bertanggung jawab padamu memberikan nafkah dan batin. Dan dimana dia selama 7 tahun ini?? Bersama istri keduanya, heh? J*lang itu?"
Perlahan Yola melepas pelukannya pada kaki sang Mama.
"Justru itu yang mau aku tanyakan pada Papa. Selama 7 tahun ini, bukannya Papa yang menghalangi abang untuk menemuiku? Papa yang nggak mau dan nggak menerima pemberian Abang untuk menafkahi aku. Papa kira Yola nggak bakal tau?"
"Ya, benar. Papa yang menghalangi dia bertemu denganmu. Tapi bukankah itu juga atas permintaanmu?Saat kamu hamil saat itu, Mama sudah menawarkan untuk menuntut keluarga Nirwan bertanggung jawab atas kehamilanmu. Tapi kamu menolak! Betul? Jadi dimana salah Papa kalau Papa ingin melindungi kamu dari penderitaan yang diakibatkan keluarga Nirwan itu? Sekarang pun sama. Papa sedang melindungi kamu dari keluarga tak punya hati itu. Karena itu Papa sudah memutuskan untuk menikahkan kamu secepatnya dengan Rafly. Minggu ini juga Papa ingin kamu melaksanakan akad dengannya. Sisanya resepsi dan lainnya, kita bisa adakan nanti dengan perencanaan yang lebih matang! Dengar kamu?" kata Abimanyu tak mau tau tentang keberatan Yola.
"Yola nggak mau, Pa!" tolak Yola tegas. "Papa nggak berhak maksa Yola!"
"Oh, ya?!!! Merasa hebat kamu sekarang? Kalau begitu, baiklah! Kamu pergi sekarang juga dari rumah ini! Kami nggak punya anak sepertimu!"
Bagai disambar petir Yola mendengar kata- kata Papanya. Papa mengusirnya?
"Papa!!!" Jerit Mama protes.
"Papa mengusir Yola?" tanya Yola tak percaya.
"Iya. Kamu ingin kembali pada lelaki itu, kan? Pergilah sana! Sampai kapan pun, kamu bukan bagian dari keluarga Gunawan lagi!"
"Nggak. Nggak boleh! Yola, kamu minta maaf sama Papa sekarang, Nak!" bujuk Ratih.
Yola tersenyum miris setengah ingin menangis.
__ADS_1
"Baik, Yola akan pergi. Yola nggak akan pernah injak kaki di rumah ini lagi. Maafin Yola, Ma. Tapi Yola juga sudah terlalu lama sabar menghadapi sikap otoriter Papa. Bukan Yola yang minta menikah di usia 12 tahun dulu dengan abang. Tapi kalian memaksa Yola, membuat dia menjadi orang pertama dan satu-satunya pria di hati Yola. Lalu kalau Yola jatuh cinta pada lelaki itu, suami Yola sendiri? Kenapa Yola yang jadi salah karena itu? Abang sudah meminta maaf dan menjelaskan alasan kenapa dia menikah dengan Sonia. Dan aku sudah memaafkannya. Tetapi kalian masih saja egois. Papa bahkan tak memikirkan perasaanku saat memisahkan aku dengan Ammar dulu. Memang awalnya aku tak mau menerima kehadiran Ammar, tapi andai Papa membiarkan Ammar tetap di sisiku dan tak menyerahkan Ammar pada Atok dan Mama Zubaedah. Aku tak mungkin tak mencintai putraku. Dan tak akan kehilangan banyak waktu berharga kami dengannya. Sekarang pun, aku tidak mau lagi kehilangan putraku!" teriak Yola histeris.
"Baik, pergilah kalau begitu!" kata Papa dingin dan tak berperasaan.
Yola tak membuang waktu segera mengambil beberapa barang yang diperlukannya. Tas, paspor dan beberapa lembar baju untuk ditaruh di koper kecil. Mama berusaha menghalangi dan membujuk Yola, hingga akhirnya Yola siap pergi dan telah menggeret kopernya. Tiba- tiba Mama Ratih memegangi dadanya dan ambruk di lantai.
Brukkk!!!!!
"Mama!!!!!"
******
"Ini semua gara- gara kamu. Kamu senang Mama drop lagi kan? Kamu lihat aja, kalau Mama sampai kenapa-kenapa, Papa nggak mau akuin kamu sebagai anak lagi," ujar Abimanyu saat mereka hanya bisa menunggu di luar ketika para tim dokter itu memberi tindakan pada Ratih.
Dan disinilah Yola sekarang, menemani Mama yang terbaring di ruang perawatan kelas I di sebuah rumah sakit ternama di Jakarta ini.
"Mama .... Bangun donk, Ma! Yola janji akan menuruti semua mau Mama asal Mama sehat kembali. Mama mau Yola nikah sama Rafly? Iya, Yola akan nurut sama Mama," katanya sambil menggenggam telapak tangan Ratih.
Janjinya pada Sang Mama, membuatnya memilih mengorbankan perasaannya sendiri. Hingga akhirnya Mama siuman Yola menyatakan kesediaannya menikah dengan Rafly pada Ratih. Tapi Ratih malah menatap putrinya itu dengan rasa iba.
"Mama sebenarnya nggak masalah kalau kamu nggak mau menikah dengan Rafly. Siapa pun asal pria itu baik. Dan asalkan lelaki itu bukan Ilham," kata Mama. "Papa juga buru- buru ingin menikahkan kamu, itu karena dia tak ingin kamu kembali pada Ilham. Pemberitaan di Malaysia tentang hubungan dan rencana pernikahanmu dengan Ilham, sangat membuat Papa gelisah, Yola. Kamu juga nggak boleh terlalu menyalahkan Papa."
Yola menarik napas dalam. Dia sungguh tidak ingin menikah dengan Rafly. Entah karena apa, Yola merasa kalau Rafly bukan orang yang tulus. Dia tidak bisa begitu saja menikah dengan lelaki itu.
Lalu siang ini, Yola menelepon Hafiz, sahabatnya. Hafiz begitu melihat panggilan dari Yola langsung mengangkat telepon itu.
"Hallo, Yola! Ada ape? Kau dimane? Aku dengar kau dah lebih dua pekan tak masuk N-one?" tanya Hafiz.
"Hafiz ...." panggil Yola. Lalu dia terdiam sejenak.
"Hmm .... Ape?" tanya Hafiz.
" .... Kita menikah yuk ...."
"Haaah ....? Yola, kau jangan bergurau. Dah dua kali kau ajak aku berkahwin macam ni. Kau tak takut ke anggap serius ucapan kau tu?" jawab Hafiz kesal.
"Aku .... Aku serius Hafiz. Ayo kita menikah!"
"Kau tak masuk akal. Atas dasar apa aku harus mau berkahwin dengan kau?? Ada banyak wanita cantik yang nak berkahwin dengan aku," balas Hafiz.
Yola terdiam sejenak. Tetapi Hafiz tetap menunggu kata- kata lanjutan dari Yola.
"Hafiz, Papa ingin menikahkan aku dengan Rafly minggu ini juga. Dia teman sekolah kita dulu, kamu ingat?"
Hafiz sepertinya paham yang menjadi alur masalah Yola.
"Tunggu sekejab. Kau nak dipaksa berkahwin dengab lelaki itu, tetapi kau tak nak, kerana kau masih cinta dengan abang aku yang buaya darat tu, betul tak?" tebak Hafiz.
Yolanda terdiam.
"Hafiz, abang menikahi Sonia karena terpaksa demi ditemukannya Andini. Abang bukan buaya darat," sangkal Yola.
"Sekarang kau nak belakan dia. Lalu kenape kau tak berkahwin dengan dia je? Aku dengar di berita, kau dan dia akan berkahwin ..."
"Justru itulah masalahnya Hafiz. Papa tau soal pemberitaan itu, makanya Papa buru- buru ingin aku menikah dengan Rafly. Tapi Mama bilang asal bukan Abang mereka nggak masalah aku menikah dengan siapa pun asal dia pria baik dan asal itu bukan abang. Dan .... Sebanyak apa pun aku berpikir, kau adalah yang paling memenuhi syarat. Aku tidak apa- apa menikah denganmu. Kau adalah sahabatku. Kau paling mengerti aku sejak dahulu. Hafiz, menikahlah denganku. Ya?" bujuk Yola.
Memenuhi syarat? Batin Hafiz.
"Yola, apa dalam hatimu ada sikit je rase cinta untukku? Sikit je ...."
Yola terdiam lagi.
"Hafiz ...."
"Ape ada kemungkinan kau boleh memberikan sedikit je kau punya hati dan cinte buatku bila kita berkahwin?"
Yola lagi- lagi diam. Sekarang dia merasa sudah gila karena telah mengajak Hafiz menikah. Dia taruh kemana urat malunya?
"Lupakan saja. Anggap aku tak pernah menelepon hari ini," sesal Yola.
Yola ingin menutup panggilan telepon itu. Tapi Hafiz menahannya.
"Baiklah. Kau tunggu aku datang ke Jakarta."
__ADS_1