Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Kondisi Membingungkan


__ADS_3

"Ilham, ade kabar buruk. Jom datang kat N-one!" Begitulah kata-kata Leon di telepon.


"Kabar buruk ape?" tanya Ilham.


"Aku tak sempat jelaskan kat talipon. Kau datang sahaja. Ini emergency, Ilham!"


Lalu dengan terburu-buru Ilham pun segera membuka pintu kamar dan menemukan Ammar ada di depan pintu.


"Dad, jom kite makan," ajak bocah itu lagi.


Ilham menggeleng. "


"I'm sorry, Boy! Daddy nak bertolak ke N-one mase ni juge. Daddy ade yang mesti diurus saat ni juge. Ammar makan dengan Mommy dan Grandma sahaja, Oke?" kata Ilham berusaha memberi pengertian pada Ammar.


"Tetapi, Mommy cakap Daddy belum makan semenjak semalam. Come on, Dad!Makan sikit sahaja barulah Daddy pergi, Oke? Kalau Daddy sakit macam mana? Kasihan Atok melihat Daddy merajuk macam ni," bujuk bocah itu.


Dan Ilham malu pada Ammar sekarang. Anak sekecil itu saja tahu mengendalikan perasaannya, bagaimana dengan dirinya yang telah dewasa ini? Ilham tahu kalau Ammar juga sangat merasa kehilangan akan kepergian sang atok buyut. Tetapi lihatlah, sekarang malah anak itu yang membujuknya untuk makan.


"Hey, Budak Kecil! Siape yang merajuk?" kata Ilham sembari berjongkok di hadapan Ammar.


"Daddy-lah, Daddy sedang merajuk, kan?" jawab bocah itu.


Ilham menghela napas.


"Little Buddy, Daddy tak merajuk, Son. Daddy hanya butuh waktu sahaja untuk terbiasa tanpa ade Atok bersama kite. Kamu usah risaukan Daddy. Daddy baik-baik sahaja, Oke?" kata Ilham.


Ammar menatap Ilham dengan ingin mencari tahu kebenaran di wajah itu.


"Jadi Daddy tak merajuk?"


Ilham menggeleng.


"Tak," jawabnya meyakinkan putranya.

__ADS_1


Ammar mengangguk-angguk.


"Kalau macam tu kite makan sahaja dulu sikit biar Daddy kuat bekerja kat N-one lagi," kata Ammar kemudian.


Ilham akhirnya mengalah.


"Baiklah, tetapi Daddy makan hanya sikit je. Daddy mesti pergi kat N-one segera. Daddy tak boleh berlama-lama," kata Ilham lagi.


"Baikah kalau macam tu, Dad. Jomlah kite makan sekarang," kata Ammar sambil menarik tangan ayahnya ke ruang makan.


Di sana telah menunggu anggota keluarga yang lain. Zubaedah, Ismail (Ayahnya Ilham), Yola dan Ratih. Abimanyu sendiri telah kembli ke Jakarta dikarenakan urusan pekerjaan yang tidak bisa ia kesampingkan. Sementara Ratih memilih untuk menemani Yola sementara waktu hingga masa berkabung di Keluarga Nirwan mulai berkurang. Ratih merasa perlu mendampingi Yola karena dia yakin di saat-saar seperti ini, Ilham bahkan mertuanya Yola, Zubaedah, mungkin tidak akan terlalu sempat mengurus dan memperhatikan Yola.


"Abang, makan yuk!" ajak Yola dengan senyum sumringah. Ilham agak kurusan selama beberapa hari ini. Yola merasa perlu memberi perhatian lebih pada Ilham.


"Hmm," sahut Ilham mengiyakan. "Tetapi abang makan sikit sahaja, hmm? Abang ade yang perlu di urus kat N-one."


Mengatakan hal itu, Ilham dan sang ayah, Ismail pun sempat saling bersitatap. Teringat kembali pertengkaran mereka akan pilihan Ismail yang tidak mau terlibat dengan urusan N-one. Itu membuat Ilham semakin sinis pada sang ayah. Kini hanya dialah satu-satunya yang dapat diharapkan mengurus perusahaan retail besar itu. Nasib ratusan cabang N-one, serta ribuan karyawan kini ada di tangannya. Betapa tidak mudahnya ini semua. Bahkan jika ia ingin dibantu oleh Yola pun, Ilham mungkin tida akan sampai hati membuat sang istri yang tengah mengandung anak mereka itu terbebani baik secara batin maupun pikiran akan hal itu.


"Ada urusan apa memangnya? Ini baru hari ke 5 atok meninggal, kan? Memang nggak bisa digenapin 7 hari dulu baru abang masuk kantor lagi?" tanya Yola sembari mengambil piring untuk Ilham.


"Iya, tapi urusan apa?" tanya Yola penasaran. "Masa Leon nggak bisa ngatasin disana?"


"Entah, abang pun tak tahu. Leon tak dapat jelaskan di talipon," kata Ilham. "Ya dah, Yola lekas buatkan makanan untuk abang."


Yola dengan sigap menaruh nasi dan lauk di dalam piring dan memberikannya pada Ilham.


Ilham pun menerimanya dan mulai menikmati makanan itu meski dengan agak terburu-buru. Hal itu tak luput dari perhatian Ratih.


Baru saja Ilham menyantap makanan sebanyak tiga suapan, tiba-tiba saja telepon dari Leon berdering kembali.


"Ya?"


"Kau dah dimana?" tanya Leon tak sabar.

__ADS_1


"Sekejap! Aku masih ade kat rumah," kata Ilham.


"Lekas sikit Ilham, kau dah ditunggu sedari tadi oleh semua petinggi syarikat," kata Leon di seberang sana.


"Oke, oke. Aku segera kat sana," kata Ilham meletakkan sendok yang dia pegang dan berhenti makan. Segera tangannya meraih segelas air minum yang disodorkan oleh Yola.


"Abang pergi dahulu," kata Ilham berpamitan sambil menyodorkan tangannya agar disalim oleh Yola.


Yola pun tanpa ragu menerima dan mencium tangan itu.


"Hati-hati di jalan, Abang," ucap Yola.


Sepeninggalan Ilham, Ratih pun mengajak Yola berbicara. Membuat kedua mertua putrinya itu mengernyitkan keningnya bingung.


"Yola, ikut Mama sebentar," ajak Ratih.


"Ngapain, Ma?"


"Udah ikut aja dulu. Kak Zubaedah, Bang Ismail. Saya dan Yola ke kamar sebentar. Ayo!" ajak Ratih lagi sambil menarik Yola yang masih kebingungan.


***


Di Syarikat (Perusaaan) N-one Grocery,


Mobil yang dikenderai Ilham memasuki halaman parkir gedung perkantoran syarikat N-one sekaligus supermarket pusat N-one Grocery itu. Masih berada di luar area saja Ilham sudah melihat banyak kerumunan wartawan. Mereka tentunya adalah pihak media yang ingin mencari sesuap nasi dari hasil mengangkat berita pewaris utama N-one Tengku Ilham Nirwan pasca berpulangnya sang Atok Tengku Yahya Nirwan. Segala gerak geriknya pastilah akan menjadi sorotan saat ini.


Ilham pun segera keluar dari mobilnya dan begitu menyadari kehadiran Ilham para wartawan dan awak media pun segera menyongsong Ilham dengan jepretan kamera berbagai tipe. Tak lupa dengan alat recorder mereka mulai menanyai Ilham dimulai dengan pertanyaan klise yang biasa ditanyakan oleh para wartawan, seperti apa yang dirasakan oleh Ilham setelah kepergian Atoknya. Sungguh pertanyaan yang tak sepatutnya dilontarkan untuk orang yang baru saja berkabung.


Namun bukan itu yang membuat Ilham terkejut. Semuanya semakin tak bisa dia mengerti saat Leon menyongsong kedatangannya dan membawanya ke ruang rapat. Di sana telah menunggu semua pemegang saham. Dan di kursi yang harusnya diduduki oleh sang Atok sebagai owner dan presiden directur itu. Duduk seseorang yang dia tidak harapkan ada di sana. Dia Lucas!


Ilham menatap Leon tak mengerti. Lebih tak mengerti lagi saat dia melihat seseorang yang familiar di sebelah Lucas. Dia Yuri!


****

__ADS_1


jeng!jeng!jeng!!!


Kenapa Yuri ada di sana guys? Apa hubungannya dengan Lucas? Like dan komentar yang banyak dulu guys...


__ADS_2