Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Memperkenalkan Yuri dan Sonia


__ADS_3

Yola menatap Yuri dan Sonia bergantian. Jendela? Apa maksud Sonia?


"Makcik, udah makan belum? Kita makan bareng-bareng yuk?" ajak Yola pada asisten rumah tangga itu.


Meski penasaran Yola sepertinya tidak terlalu tertarik untuk beramah-tamah dengan Yuri mau pun Sonia. Di pikiran Yola tentu saja keduanya saling mengenal. Bukankah keduanya sama-sama punya saling keterkaitan dengan Mr. Y? Kalau Yuri terang-terangan adalah anak angkat Mr. Y alias Lucas, sebaliknya Sonia, bukankah dia adalah penghubung antara keluarga Nirwan dan Mr. Y?


Jadi bukan tidak mungkin kalau keduanya saling mengenal sebelumnya. Mungkin karena itulah Yuri terlihat pucat. Tak menyangka kalau akan bertemu Sonia di rumah keluarga Nirwan. Ah, nanti saja kalau Yuri sudah pergi barulah Yola membahas hal itu dengan Ilham.


"Bareng-bareng?" Makcik ART agak bingung. Kosa kata itu asing baginya.


"Yola maksud bersama-sama, Makcik!" sahut Ilham yang mendengar percakapan mereka.


Punya istri orang Indonesia tentu membuat Ilham lambat laun mengerti bahasanya Indonesia baik baku dan bahasa gaul yang sering digunakan Yola sehari-hari. Bahkan pada dirinya.


"Oh macam tu? Emmm ..." Makcik itu terlihat berpikir sejenak namun dia mengelus lengan Yola. "Tak payah pikirkan saye, Puan. Saye dapat makan sendiri lepas uruskan Puan Sonia. Puan Yola makan sahaja yang banyak supaya baby dalam perut boleh bertumbuh dengan baik. Saye boleh pegang ke?"


ART itu bertanya apakah dia boleh memegang perut Yola yang segera dibalas anggukan oleh Yola.


"Boleh, Makcik."


Makcik itu pun mengelus-elus perut Yola yang kini sudah melendung tak bisa ditutupi itu lagi.


"Tak akan lama lagi akan muncul tuan muda Nirwan kecil ni. Ini perempuan ke? Atau lelaki?" tanya Makcik ART.


"Belum tahu, Makcik. Aku dan abang belum sempat periksa lagi," jawab Yola.


Makcik ART itu mengelus lagi bagian perut yang lain. Dia dan Yola sama-sama tertawa saat merasakan bagian perut yang dipegang oleh makcik itu terlihat berdenyut.


"Amboi, amboi nampaknya dia tahu kalau makcik tengah sapa dia," kata Makcik itu tetlihat senang. "Agaknya dia ni budak yang ramah nantinya."


"Aamin, aamin ya Allah," balas Yola tak kalah senang.


"Macam mana tak ramah, daddy dia pun ramah," celutuk Ilham menimpali.


Yola memutar bola matanya malas menanggapi celutukan Ilham membuat Ilham tertawa melihat ekspresi itu.


"Tak macam Mommy die yang pemarah," lanjut Ilham.


Yola kini melotot.


"Dah pun pemarah, suke merajuk pula," ledeknya sambil mengerling nakal pada Yola.

__ADS_1


"Iya, terusin aja, terusin aja terus! Abang kayaknya malam ni lagi mau tidur di luar ya?" ancam Yola.


Ilham tergelak mendengar ancaman sang istri.


"Aiss, jangan macam tu lah, Sayang. Cuba tengok, makcik! Belum ape-ape, dah pun mengancam-ancam husband dia. Jangan sampai anak aku nanti macam Mommy dia. Pemarah! Perajuk!"


"Terus kalau nggak mirip sama aku, maunya mirip sama siapa?" serang Yola sengit sambil melirik Sonia.


"Dah, dah, dah lah tu. Usah marah-marah sahaja. Abang ni hanya bergurau je. Jom lah kite makan. Makcik! Mari ikut makan! Yuri juge!"


Ilham menyadari situasi mulai tak menguntungkannya. Emosi Yola berubah-ubah setiap waktu seperti roller coaster, kadang naik, kadang turun. Bisa-bisa nanti Yola mencak-mencak dan akan merembet lagi membawa Sonia dalam pertengkaran mereka.


"Ah, tak payah. Biar nanti ..."


"Jangan menolak! Jomlah kite makan," ajak Ilham sembari merangkulkan tangannya ke bahu makcik ART itu.


Sikap Ilham dan keluarga Nirwan yang selalu menganggap orang yang bekerja pada mereka sebagai keluaga sendiri memang patut diacungi jempol. Apalagi untuk para asisten rumah tangga, supir, tukang taman dan yang menjadi orang yang selalu berinteraksi dengan mereka sehari-harinya.


"Ah tunggu sekejap! Kalau macam tu saye bawa Puan Sonia ke kamar dahulu," jawab ART itu tak kuasa menolak permintaan Ilham.


"Nggak apa-apa, Makcik. Bawa dia makan bersama kita," jawab Yola menunjuk pada Sonia.


Ilham pun mendelik pada Yola. Dia tak mengerti apa maksud Yola sebenarnya. Jangan bilang kalau Yola ingin membuat Sonia cemburu. Ilham tak akan setuju pada ide seperti itu.


"Nggak apa-apa, Abang. Kasihan Sonia di kamar terus. Kita ajak dia makan bareng sesekali." Yola masih bersikeras.


Kini Yola malah memutar balik kursi roda Sonia hingga menghadap ke arah dapur dan mendorongnya hingga ke meja makan.


"Ayo, Yuri!" ajak Yola.


Yuri yang sedari tadi lebih banyak diam, hanya manut saat Yola semakin mempertegas panggilannya.


"Ayo, sini!"


Mau tak mau Yuri terpaksa mengikutinya. Hingga kini mereka berada di meja makan yang sama. Bahkan Sonia berada di samping Yola saat ini.


"Makcik, bisa tolong bantu saya siapkan sayuran dan sambal dari kulkas?" pinta Yola. "Nggak enak kalau makannya cuma ayam doank. Pakai nasi juga, Makcik! Aku orang Indonesia!"


Ilham mengernyitkan keningnya.


"Memanglah orang Indonesia. Orang ape lagi?" cibir Ilham.

__ADS_1


"Maksudku itu abang, kebiasaan orang Indonesia itu, makan belun bisa dikatakan makan kalau belum makan nasi!" kata Yola menjelaskan.


"Kat sini pun macam tu. Tak de beza. Sama sahaja. Abang pun belum kenyang kalau makan belum pakai nasi. Itu berlaku tak hanya di Indolah. Kat malay juge sama je," jawab Ilham.


"Iyalah, iyalah. Abang mah gitu nggak mau kalah, suka ikut-ikutan. Coba ngalah gitu!" cibir Yola.


Perdebatan kecil antara suami istri itu nampaknya tak berpengaruh pada Sonia. Sejak dia mulai mengikhlaskan Ilham untuk Yola, wanita itu sudah belajar untuk mencoba menerima kalau kebahagiaan Ilham memang berada pada Yola. Bukan baru pertama kali Sonia melihat keduanya berada dalam kemesraan seperti ini. Dia bahkan pernah memergoki Ilham yang sedang menggebu-gebu ingin mencumbu Yola di taman belakang rumah.


"Abang, jangan di sini! Iss, sana dikit! Nanti kalau ada yang lihat bagaimana? Abaaang! Mending abang nggak usah ikut ke sini tadi, aku ke sini mau nyantai tau, bukan mau begini!" elak Yola waktu itu.


Ya, waktu itu Sonia sedang berada di sisi lain taman, sedang di jemur di matahari pagi oleh asisten rumah tangga keluarga Nirwan. Mungkin keduanya sedang libur bekerja dan bersantai di halaman belakang Zubaedah yabg dipenuhi bunga. Ah, andai dia masih Sonia yang dulu sudah pasti dia akan mendatangi Yola dan mencakar-cakar wajah rivalnya itu tanpa ampun. Tetapi Sonia kini sadar seperti apa pun, bagaimana pun dia ingin memiliki Ilham, sampai kapan pun hati pria itu tidak akan pernah menjadi miliknya. Ilham tidak akan pernah memperlakukannya sama dengan perlakuannya pada Yola.


Namun yang ada di pikirannya yang lemah saat ini adalah, siapakah wanita itu? Dia yakin orang itu adalah orang yang sama yang dilihatnya di hari Atok meninggal. Tetapi kenapa orang itu masuk lewat jendela kamarnya? Apakah wanita itu teman sekantor Ilham dan Yola? Lalu kenapa lewat jendela?


Pertanyaan itu diulang-ulang begitu saja oleh Sonia dalam pikirannya.


"Oh ya, Yuri, kamu dan Sonia saling kenal ya?" tanya Yola tiba-tiba.


"Haah?" Yuri tak menyangka kalau Yola tiba-tiba melontarkan pertanyaan itu to the point padanya.


Apa maksud Yola? Apakah artinya Yola sedang mencurigainya saat ini?


"Sonia? Siapa?"


Yuri pura-pura bingung. Tentu saja dia tau siapa Sonia, meski mereka belum pernah bertemu sebelum dia ditugaskan Lucas ke Kuala Lumpur.


"Sonia istri pertama abang eh, mantan istri maksudnya. Ini dia! Kenalan dulu!"


Yuri menatap Yola meski tak mengerti maksud dan tujuan wanita itu.


"Hai, aku Yuri! Senang berkenalan denganmu. By the way Yola yang bener nih, dia istri tua bang Ilham?"


"Aku pernah cerita ke kamu deh kayaknya," jawab Yola ketus. Malas dengan kepura-puraan yang Yuri tunjukkan.


"Sonia, maksudku Kakak Sonia, ini temanku Yuri. Dia dari Indonesia. Dia anak angkatnya Tuan Lucas loh. Kenal sama dia nggak? Dia maksudku Tuan Lucas adalah orang yang sama dengan Mr. Y ..."


Deg!


Kali ini Sonia yang terlihat pucat.


****

__ADS_1


Maaf updatenya lama. Bagaimanakah kelanjutannya setelah ini. Tetap pantengin pokoknya.


__ADS_2