Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Flashback Hafiz (1)


__ADS_3

Flashback On


"Yola, kau kemane? Kau tak sekolah hari ni?" tanya Hafiz di panggilan teleponnya.


"Emmm ... iya, Ndut. Aku ada di KL," jawab Yola di seberang sana. "Kenapa? Kamu nyariin aku ya? Abaaaang .... Is, tangannya ke sanain dulu, aku lagi nelpon. Abang!"


Suara rengekan manja Yola itu membuat darah Hafiz menjadi berdesir. Oh, jadi Yola sedang bersama abangnya sekarang. Hafiz memang tahu tentang kedatangan Ilham kemarin, tetapi dia baru tahu dari Mamah Zubaedah tadi malam kalau Ilham tidak akan kembali untuk makan malam di rumah mereka, karena saat itu Ilham dan Yola mungkin sudah bersama di Kuala Lumpur atas permintaan Atok.


Namun entah kenapa ada rasa tak nyaman di hati Hafiz manakala dia menelepon ke rumah Atok Yahya, tapi kata mereka Ilham sama sekali tidak datang ke rumah Atok. Karena itulah sore ini Hafiz menghubungi Yola setelah seharian kemarin ponselnya tidak bisa dihubungi. Dan siang ini setelah panggilan telepon itu terputus, perasaan Hafiz menjadi semakin tidak tenang.


Jadi saat ini Yola dan Bang Ilham ada di mana? Di hotel? Di rumah green house? Begitulah pemikirannya. Kalau terdengar dari suara Yola di telepon nampaknya gadis itu sedang menikmati masa berduanya dengan suaminya itu.


"Oh, baguslah kalau macam tu. Pasalnya ada banyak sangat kawan- kawan yang bertanya kenape kau tak masuk hari ini," jawab Hafiz mencoba menenangkan hatinya yang galau.


"Oh, iya, Ndut. Tapi Mama bilang, mama akan ngasih surat ijin kok lewat Pak Darman ke wali kelas," jawab Yola lagi. "Isss .... Kesanain coba tangannya. Abaaaang aaa!"


"Yola?" Hafiz mulai merasa tak enak mendengar suara Yola di telepon.


Sebenarnya apa yang abangnya dan Yola lakukan di sana?


"Ndut! Udah dulu kayaknya. Aku di sini cuma 3 harian aja, kok. Nanti kalau aku dah balik, numpang lihat catatanmu, ya?" pinta Yola.


"Hmmm ...." Hafiz mengiyakan.


Lalu panggilan telepon itu pun mati menyisakan banyak pertanyaan di hati dan pikiran Hafiz.


Dan tiga hari kemudian, Ilham pun kembali ke rumah mereka di Jakarta dengan wajah sumringah. Pria itu baru kembali dari mengantar Yola ke rumah Mamanya.


"Kau ni degil sangat!" umpat Zubaedah sambil mencubit lengan Ilham dan perutnya hingga pria itu mengaduh kesakitan.


"Aw!! Mamah sakit!!!" Ilham mengaduh.


"Kau ijin ke Mama Papanya, nak bawa dia ke rumah Atok tapi Mama talipon tanya Atok kau tak de pun bawa die ke sana. Kau tak berbuat sesuatu dengan dia, kan?" tanya Zubaedah penuh selidik.


Sementara itu Hafiz mengintip pembicaraan Ibu dan anak itu dari balik pintu.

__ADS_1


Ilham yang ditanyai macam- macam seperti itu oleh sang Mamah hanya tersenyum- senyum saja.


"Ilham!!! Jawab Mamah!" desak Zubaedah.


"Tak payah Mamah banyak tanya. Nanti kalau success jadi cucu Mamah juge yang bahagia," bisik Ilham tapi masih bisa terdengar oleh Hafiz.


"Astaghfirullahaladzim, Ilham! Jangan cakap kau dan Yola ...."


"Mamah usah pikirkan tu, Yola tu isteri Ilham pun, takkan ade yang boleh marah meski terjadi sesuatu, kan? Daripada risaukan hal tu lebih bagus Mamah persiapkan je nama untuk bakal cucu Mama nanti," jawab Ilham sumringah.


"Kau ni senang je cakap macam tu. Kalau Mamah Papahnya tahu, habislah kau Ilham! Dasar budak degiiiil!!!" Sang Mamah menjewer telinga Ilham gemas.


"Aduuuh ... ampun Mamah! Kenape Mamah marah dengan Ilham? Mamah pun ingin cucu, kan?" goda Ilham.


"Bertuah punya budak," umpat sang Mamah kesal.


Dan Hafiz yang mendengar obrolan Mamah Zubaedah dan Ilham hanya bisa terpekur dalam seribu rasa. Umurnya sudah 17 tahun saat itu. Tentu dia mengerti apa maksud pembicaraan Mamah dan Abangnya.


Jadi Yola dan Abangnya akhirnya telah melakukan itu? Hubungan yang membuat mereka benar- benar menjadi suami istri?


Dan hati itu semakin tambah sakit saat keesokan harinya di sekolah, dia bertemu Yolanda dan menemukan raut wajah berseri- seri di wajah Yola. Yola nampak sangat bahagia sepulang dari KL.


"Kau tak dapat ke sembunyikan perasaan kau yang bahagia tu?" sindir Hafiz saat mereka sedang makan bersama di kantin sekolah. Rasanya dia kesal melihat gadis itu selalu tersenyum. Kesal karena yang menjadi alasan senyum itu ada bukan dirinya.


"Ehsan, aku bahagia sekali," kata Yola dengan senyum merekah.


Hafiz terdiam namun tetap mendengarkan Yola berbicara.


"Abang bilang dia mencintaiku, Ndut. Walaupun aku nggak pernah bilang sebelumnya. Tapi kamu pasti tau kan, kalau sudah sejak lama aku cinta dengan abang? Aku cuma bisa mencintai dia diam- diam. Berharap suatu saat dia membalas perasaanku. Tapi sekarang itu jadi nyata, Ndut. Abang bilang abang mencintaiku. Dia ingin menjalin hubungan rumah tangga yang sebenarnya denganku. Nanti selesai abang wisuda di Berlin, kami akan tinggal bersama di sini. Habis itu kalau kita sudah lulus SMA abang akan bawa aku ke Berlin agar kita sama- sama bisa lanjutin kuliah di sana. Ya ampun, Nduuut... Aku senang banget tau nggak? Akhirnya sekarang kau akan jadi adik iparku. Hahahaa, tak peduli kau lebih tua tapi tetap aja, aku adalah kakakmu," ledek Yola.


Hafiz tersenyum simpul. Bagaimana agar Yola tahu, kalau selama ini diam- diam dia mungkin telah mencintai Yola juga? Mungkinkah perasaannya itu suatu saat akan terbalas?


"Ndut?" tegur Yola saat menyadari Hafiz sedari tadi lebih banyak diam tak seperti biasanya.


Hafiz menghabiskan makanannya dan menuntaskannya dengan minum.

__ADS_1


"Kalau kau mau aku anggap kakak, kau mestilah bayar makanan aku ni, Kakak Ipar??!" kata Hafiz.


"Eh, mana bisa begitu .... Ndutt!! Woy!!!"


Belum sempat Yola protes, Hafiz telah berlari menjauh. Lari, terus, terus, menaiki anak tangga hingga ke lantai atas gedung sekolahnya.


Untuk pertama kalinya dia meneteskan air mata untuk seorang wanita bernama Yolanda.


***


"Ini majlis perkahwinan siape, Mah?" tanya Hafiz bingung.


Dia melihat banyak karangan bunga dari florist bertuliskan happy wedding untuk Ilham & Sonia di hotel tempat Mamah Zubaedah membawanya. Berharap itu hanya kebetulan orang lain yang bernama sama dengan abangnya.


Tetapi tidak. Tak cuma karangan bunga. Di pintu masuk aula hotel itu berderet foto prewedding Ilham abangnya dengan wanita lain yang dia tidak kenal sebelumnya.


"Mamah, ape hal ini? Kenape ade abang Ilham dan ... bukan Yola?


Zubaedah terlihat kalut ditambahi pertanyaan Hafiz itu.


"Hafiz usah banyak cakap, okay? Kau ganti baju kau dengan ini!"


Mamah Zubaedah memberikan bungkusan baju yang tadi mereka sempat ambil di salah satu butik setelah keluar dari bandara.


Hafiz dengan ragu menatap pada bungkusan baju itu. Sebenarnya ala yang terjadi? Batinnya bertanya- tanya. Tetapi demi menuruti sang mama Hafiz tetap pergi mencari ruangan yang bisa dipakai untuk berganti pakaian. Lalu dia pun bertanya pada petugas hotel. Yang kemudian petugas itu pun dengan senang hati menunjukkannya.


Hafiz sudah selesai berganti pakaian saat ia tidak sengaja melewati sebuah kamar di hotel itu yang sedikit terbuka. Terdengar seperti ada suara perdebatan di dalam sana. Dan Hafiz mendengar suara Yola.


"Selama 16 tahun kehidupanku, selain papa, laki- laki yang kukenal dekat hanya abang. Aku jatuh cinta padamu karena kalian tidak membiarkan aku memiliki kesempatan mengenal dan mencintai orang lain. Bahkan sebelum aku mendapatkan menstruasi pertamaku, aku telah tahu kalau aku hanya boleh dan hanya akan menikah dengan putra keluarga Nirwan. Namun setelah semua itu pun, kenapa Abang berbohong padaku? Kenapa bilang mencintaiku kalau ternyata yang abang cintai orang lain? Aku tidak keberatan mencintai abang dalam diam meski tak terbalas, meski abang hanya menganggapku adik atau cuma istri boneka. Bahkan kalau pun kau hanya melampiaskan nafsumu padaku. Aku tak akan bisa menolak dan berkata apa- apa. Tapi kenapa .... Kenapa berbohong padaku? Kenapa bilang kau mencintaiku?"


Suara Yola terdengar sangat pilu. Hafiz bisa mendengar suara isakan di setiap kata- kata sahabatnya itu. Dan itu membuat Hafiz juga ingin menangis.


****


Jangan lupa like, koment reader akoe...

__ADS_1


__ADS_2