
Di rumah sakit, Hafiz dan Ilham segera membawa Sonia ke ruang IGD.
"Hafiz, kau tolong jagakan Sonia sekejap! Abang nak cari Atok ade di bilik rawatan (ruang perawatan) mane Atok berade," kata Ilham menyuruh Hafiz menunggu di IGD Rumah Sakit Permata Hati itu.
"Kau sahaja yang tengok dia. Biar aku yang cari Atok," kata Hafiz keberatan.
"Hafiz, abang nak minta tolong sekejap je," jawab Ilham tak habis pikir pada Hafiz yang tidak mau kooperatif sama sekali.
"Tetapi aku tak nak menolong," jawab Hafiz ketus. "Kau pun punya isteri lain aku."
"Baiklah kalau macam tu, kalau kau tak nak dimintai tolong, biar aku cari pegawai pengubatan (tenaga kesehatan) untuk jagakan Sonia," kata Ilham mengalah.
Ribut dengan Hafiz saat ini, bukanlah pilihan yang tepat.
Hafiz mengangkat bahunya tak peduli.
Tapi kemudian, Ilham pun menemukan perawat yang bisa ia minta tolongi untuk memantau kondisi Sonia.
"Saye akan balik kat sini nanti. Pasalnya saya mesti cari ruang rawatan Atok saye dahulu," kata Ilham membujuk perawat itu.
Perawat itu pun setuju. Toh dia juga sedang bertugas di ruang rawat ini sekarang. Apa sulitnya menjaga satu pasien saja.
Usai menitipkan Sonia pada perawat itu, Ilham pun segera mencari Atok Yahya dengan menelepon asisten pribadi sang kakek. Hafiz mengikutinya dari belakang. Hingga kemudian pria itu pun menemukan ruang rawat dimana Atok Yahya berada.
"Atoook!!!" Ilham langsung menghambur panik ke ranjang pasien tempat di mana sang Atok berbaring.
Pria itu sudah sadarkan diri sekarang.
"Syukurlah, alhamdulillah Atok tak ape," kata Ilham sambil memeriksa semua tubuh sang Atok dari ujung kaki hingga ujung rambut.
Ilham lantas memeluk kakek satu-satunya itu dengan penuh rasa syukur yang teramat sangat.
Atok Yahya menepuk-nepuk punggung Ilham dengan tangannya yang masih lemah. Suara ledakan itu hanya membuatnya merasa terkejut dan syok saja. Untunglah tidak membuatnya mati mendadak karena serangan jantung. Dia belum ikhlas pergi sebelum melihat cucu dan cucu menantunya hidup tenang.
"Kau ni macam budak kecil sahaja," omel Sang Atok.
__ADS_1
Ilham tertawa namun dengan air mata yang menggantung di sudut matanya.
"Atoklah yang macam budak kecil. Baru begitu sahaja, atok dah pun tak sedarkan diri. Macam mana Ilham boleh percaya kalau Atok mengalahkan bajak laut di masa silam?" kata pria itu terkekeh.
Mendengar itu Atok Yahya malah termenung teringat pada kejadian beberapa puluh tahun silam. Apa mungkin kejadian yang terjadi belakangan ini yang melanda keluarganya ada kaitannya dengan itu?
"Atok ...." panggil Ilham membuyarkan lamunan pria itu.
Atok Yahya menoleh pada cucu sulungnya itu.
"Ape yang Atok pikirkan?" tanya Ilham.
Atok Yahya menggeleng pelan.
"Atok hanya baru sahaja tersedar kalau Atok ni dah tua, Ilham," kata pria itu dengan suara yang lemah.
"Atok memang dah tua pun. Pasal ape Atok masih merasa muda? Atok nak bersaing dengan Ilham ke? Atok nak berkahwin macam Ilham juga ke?" godanya pada sang Atok.
Atok Yahya pun yang digoda seperti itu oleh Ilham langsung menarik telinga cucu kesayangannya itu.
"Bertuah punya budak. Kau ni semakin degil Atok tengok!!!" omel sang Atok.
Saat sepasang cucu dan kakek itu asyik bercengkrama, Hafiz akhirnya masuk ke ruang rawat itu. Tadinya dia tidak ingin ikut masuk, tetapi entah kenapa rasa penasarannya akan kabar Atok Yahya membuatnya memutuskan sebaliknya.
"Atok, macam mana kabar Atok?" tanya pria itu.
Atok Yahya menoleh mendongak melihat siapa yang sedang bertanya padanya. Dengan wajah kesal Atok Yahya menatap tajam pada Hafiz.
"Kau masih ingat ke kalau kau masih punya Atok?" tanyanya sinis.
Ilham mencoba menenangkan Atok Yahya. Dielus-elusnya punggung pria itu menyuruhnya untuk bersabar.
"Atok, Ilham yang bawa Hafiz kat sini ...." bujuk Ilham.
Dan rupanya itu malah membuat Tengku Yahya Nirwan semakin memandang sinis pada Hafiz.
__ADS_1
"Oh, jadi kalau kau tak ajak, budak degil ni takkan datang kat sini? Begitu ke?" tanyanya marah.
"Tak macam tu, Atok," Kali ini Hafiz mencoba melakukan pembelaan diri.
"Tak macam tu macam mana? Kalau kau tak dengar Atok sekarat macam ni, ape mungkin kau akan datang nak berjumpa dengan Atok?" tanya pria itu tajam.
Hafiz menghela napas kasar. Dia merasa seperti kelilipan di matanya. Matanya tiba-tiba sakit dan berair. Dia mendekat dan duduk di kursi sebelah ranjang Atok Yahya.
"Maafkan Hafiz, Atok ...."
"Kau ni berkepala batu, berhati baja, Hafiz! Macam mana selama bertahun-tahun ni kau tak ade pikiran dan perasaan untuk datang temui Atok? Ilham sibuk, Mamah dan Papah kalian pun sibuk. Atok hanya sendiri je di rumah merindukan korang semua datang bersama dan berkumpul kembali seperti mase dahulu," kata Atok Yahya sedih. "Tetapi terkadang Atok mendengar kau ade di KL pun tak juge kau nak datang kat rumah. Sering kali Atok nak tunggu kau datang, sampai kau pergi lagi dari KL, kau tak juge nak datang. Entah ape salah Atok ni."
"Tak ... Atok tak salah," gumam Hafiz lirih mencoba menahan diri untuk tidak menangis.
"Kalau Atok tak salah macam mana kau boleh menghukum Atok macam tu? Atok tak pernah bezakan kau dan Ilham. Korang berdua sama sahaja di mata Atok. Sedih hati Atok sejak kau tahu siape keluarga kandung kau, kau tak lagi ingat pada kami. Kami memang tak menurunkan darah kami pada kau, tapi kau tumbuh dan besar di Keluarga Nirwan. Kau tak ingat ke?"
Atok Yahya mencoba bangkit dari duduknya dan mencoba mendekat pada Hafiz. Dipukulnya pelan pipi Hafiz.
"Kau tak ingat ke macam mana Atok dahulu sayangi kau? Macam mana kau boleh lupa hal itu?"
Pria itu menampar pipi Hafiz lagi pelan.
"Kau ni bagai kacang lupa pada kulitnya, Atok kecewa dengan kau," kata Atok Yahya. mengusap air matanya yang berair kini.
"Atok, Hafiz ni hanya anak pungut je, Hafiz mesti sedar diri kalau Hafiz bukan darah daging keluarga Nirwan. Macam mana Hafiz boleh berdiri di samping korang semua, Atok?"
Bulir air mata kini jatuh berderai di pipi Hafiz.
"Hafiz merasa rendah bersanding di sisi korang semua, Atok ... Merasa tak patut," katanya dengan air mata yang semakin berderai hebat.
Ya, sebenarnya itulah yang dirasakannya selama ini, rasa rendah diri, merasa insecure dengan keluarga Nirwan membuatnya tanpa sadar menanam bibit benci yang bisa melawan rasa itu. Yang sebenarnya dia tidaklah benci. Benci yang selama ini ditunjukkannya hanya benci yang yang dicari-carinya sendiri untuk menghilangkan rasa rendah diri itu.
"Pulanglah, Nak. Kau tak payah merasa macam tu. Kau ni adalah Keluarga Nirwan juge. Di namamu pun ade nama keluarga Nirwan. Tengku Hafiz Nirwan, nama itu Atok yang memberi, itu berarti Atok pula yang ingin kau menjadi bahagian keluarga Nirwan. Umur Atok tak tahu sampaii bila. Jangan biarkan Atok mati dalam keadaan melihat korang semua tercerai-berai. Korang berdua dengar cakap Atok, tak?"
***
__ADS_1
Bawang, bawang, bawang lagi euy...
Author minta like dan komentarnya donk ....