Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Sebuah Pilihan Sulit


__ADS_3

Lanjut Flashback yak!


****


Abidin baru saja selesai sholat Jum'at dan akan kembali membuka toko N-one milik sang Abang saat salah seorang pelanggan tokonya datang untuk membeli beberapa cemilan ringan.


"Baru pulang sembahyang jum'at, Pakcik?" sapa pemuda yang memakai peci dan kain sarung itu. Di pundaknya tersampir sajadah yang menandakan dia pun baru pulang dari mesjid.


" He em. Tunggu sekejab. Pakcik bukakan dahulu pintu kedai ni," kata Abidin pada pelanggannya yang sering datang ke toko ini. Yusuf namanya.


"Tenang, Pakcik. Mase ni saye tak terburu-buru," jawabnya pada orang tua itu.


"Oh syukurlah kalau macam tu. Bos kau tak marah ke apabila kau agak terlambat datang ke hospital?" tanya Abidin pada anak muda itu.


Sepanjang yang dia ketahui Yusuf adalah seorang staf rumah sakit Healthy World yang lokasinya tak jauh dari toko N-one yang dikelolanya. Lihatlah, bahkan sang abang bisa membeli tanah dan membuka toko di area rumah sakit tersohor di Malaysia bahkan hingga ke luar negeri. Tanah yang dibelinya pastilah sangat mahal dikarenakan lokasinya berada tak jauh dari lingkungan rumah sakit yang namanya sudah dikenal hingga manca negara.


Jika ada yang bertanya apakah dia memiliki rasa cemburu atau iri pada sang abang, tentu jawabannya adalah ya! Munafik jika dia tak menginginkan nasib serupa dengan Tengku Yahya Nirwan.


"Saye kat hospital hanya coass, Pakcik. Dan saye dah selesai coass kat Healthy World," jawab pemuda itu sembari mengikuti Abidin masuk ke dalam toko begitu rolling door toko itu digeser hingga terbuka lebar.


"Coass?" tanya Abidin tak paham. Dia hanya orang awam yang tak mengerti prosedural pendidikan kedokteran.


"Hu um. Coas. Co-assisten," jawab pemuda itu menjelaskan. "Jadi Pakcik, saye tu mengambil kedokteran course. Lepas belajar di university, kami ade pula ujian sebelum mendapat gelar doctor. Dan untuk beberapaa stase, saye dah siap kat Healthy World Hospital. Lepas ni saye akan ambil stase berikutnya di Jakarta. Mungkin lepas tu saye pun akan ambil housemanship (di Indonesia dinamakan internship) kat sana selama dua tahun. Jadi saye ni akan lama baru boleh balik kat sini, Pakcik," kata Yusuf menjelaskan. Entah apa Pakcik Abidin mengerti atau tidak penjelasannya, Yusuf tidak ambil pusing.


"Oh macam tu? Kasihan Pakcik, ditinggal awak ni. Siape lagi yang akan beli di kedai ni?" kata Abidin pura-pura memelas.


"Haha, Pakcik ni, kedai sebesar ni tak mungkin tak ade pembeli selain saye. Macam betul je," gelak pria itu.


Abidin hanya tersenyum.


"Hahaha ... ade banyak pembeli kat kedai ni tetapi pelanggan setia hanya sikit je. Tak macam awak ni," imbuh Abidin lagi.


"Mestilah, Pakcik. Kedai ni dekat hospital. Mestilah pembeli pakcik kebanyakan adelah pesakit dari hospital. Pesakit tak selalu lah ade kat hospital tiap-tiap hari. Siape juge nak sakit berlama-lama, Pakcik, Pakcik. Mesti pesakit berganti-ganti setiap hari, hahaha," tawa pemuda itu lagi.


"Betul juga ape kau cakap tu, tetapi Pakcik menjadi sedih juge tak dapat berjumpa dengan awak lagi. Tetapi dari lubuk hati pakcik yang terdalam ini, Pakcik ucapkan selamat jalan, semoga awak ni sukses di rantau orang," ucap Abidin dengan tulus.


"Doa yang sama, Pakcik. Saye pun berdoa semoga Pakcik usahanya semakin sukses dan dapat membangun anak cabang kedai N-one ni hingga negeri jiran," balas Yusuf dengan tulus.


Abidin tersenyum kecut.


"Aamiin. Tetapi ini bukanlah kedai saye. Ini kedai abang saye. Ade pula cabangnya kat KL sana," kata Abidin.


"Hah? Saye sangke kedai ni punya pakcik lah ...." Anak muda itu terlihat tercengang.


"Taklah. Saye ni hanya mengelola punya abang saye saje. Doakan sahaja agar di suatu mase saye dapat membangun kedai saye sendiri," jawab Abidin.


"Aamiin ... mudah-mudahan Pakcik dapat membangun kedai yang lag besar dari ini," kata Yusuf.


"InsyaAllah," jawab Abidin.


Begitulah pertemuan terakhir Abidin dan Abraham Yusuf sebelum mereka bertemu kembali di Jakarta.


Beberapa tahun setelahnya perkembangan usaha Tengku Yahya Nirwan pun berkembang menjadi jauh lebih besar lagi. Tiga toko miliknya itu pun berubah menjadi mini market. Dan Abidin masih setia mengelola binis sang abang di Penang. Hingga di suatu hari seorang laki-laki kira-kira sebayanya datang ke mini market yang dikelolanya.

__ADS_1


Awalnya dia kira lelaki itu datang hanya sebagai pembeli biasa. Tetapi tidak, lelaki itu hanya mengelilingi rak pajangan sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling supermarket, lalu begitu langkah kakinya berhenti di depan kasir tempat Abidin berada, orang itu mulai mengatakan sesuatu yang aneh.


"Sepertinya kalian memanfaatkan uangku dengan sangat baik, ckckck, benar-benar tak tahu malu!" kata pria itu.


"A-apa maksud Tuan?" tanya Abidin dengan heran bercampur dengan rasa tidak senang.


"Umurmu sudah setua ini, tetapi kamu masih seperti penjaga toko biasa. Kamu tidak ingin punya usaha sendiri, Abidin? Abangmu bahkan telah punya cucu. Mungkin tidak akan lama lagi giliranmu. Anakmu sudah ada yang menikah, kan?"


Pakcik Abidin sampai terheran-heran dengan apa yang diketahui pria itu. Dia tidak mengenalnya tetapi lelaki itu tau sebanyak itu tentangnya.


"Kalau kau mati, kau tak ingin memberikan sesuatu sebagai warisan pada anak-anakmu? Dengar-dengar kehidupan rumah tangga anakmu pun tak kalah susah dengan hidupmu. Berpegang teguh pada prinsip mau sampai berapa lama? Sadarlah Tuan Abidin, kau sudah tua!"


"Ape maksud awak ni bercakap macam tu? Awak ni tak kenal saye dengan abang saye tetapi nak cuba campuri urusan pribadi saye?Sebenarnya siape Tuan ni? Dari mana asal Tuan? Kalau saye tengok Tuan ni pasti bukan orang Malay lah!" Abidin mulai marah pada lelaki itu.


Lelaki itu tertawa terkekeh dengan sikap Abidin yang seperti itu. Lalu ia kembali berjalan mendekat ke arah kasir, tempat dimana Abidin berada. Jarak mereka yang semakin dekat, membuat Abidin sempat merasa gentar karenanya. Lelaki itu punya aura penjahat, tatapan mata elangnya seakan ingin membunuh siapa pun yang ada di hadapannya.


"Abangmu mengambil sesuatu yang berharga dari saya. Sesuatu yang mahal yang tidak seharusnya dia berani mengambilnya. Aku rasa kau pun pasti heran dari mana dia bisa mendapat modal hingga mampu membuat usaha sebesar ini, kan?"


Abidin terdiam. Ya dia tidak tahu abangnya dapat uang sebanyak ini dari mana. Sejauh pengetahuannya, gaji sang abang sebagai anak buah kapal pekerja kasar tidaklah terlalu banyak meski pun lumayan mencukupi kebutuhan keluarganya.


"A-ape tu?" tanya Abidin tergagap.


"Tak perlu kau tahu apa itu. Yang jelas dia pasti telah menukarnya dengan sejumlah uang dan dibuatkan usaha N-one mart seperti ini. Dan oleh karena itu kamu tahu, aku akan mengambil kembali apa pun yang dia punya. Keluarganya, harta bendanya tak akan luput dari sasaranku. Termasuk adiknya, keluarga adiknya, keponakannya ...."


Abidin merinding dibuatnya. Tetapi dia bukan orang yang gampang untuk diancam.


"Awak jangan mengancam saye. Saye akan laporkan awak ke balai polis jika berani berbuat macam-macam dengan family saye!"


Lelaki itu kembali tertawa terkekeh.


Dan benar saja. Darah seorang ayah yang merasa putrinya terancam naik hingga ubun-ubun.


"Jangan cuba berani-berani barbuat ape pun pada dia! Awak pergi dari sini sebelum saye panggilkan polis!" usir Abidin dengan penuh amarah.


Lelaki itu tak gentar dengan ancaman Abidin. Lalu dia meraih bolpen dan buku yang berada di meja kasir dan menuliskan beberapa digit nomor di sana.


"Aku membutuhkan bantuan darimu. Jika kau mau membantu, aku akan mengurungkan niatku mengganggu putrimu," imbuh lelaki itu lagi tak peduli pada raut wajah berang yang ditunjukkan Abidin.


"Pergi! Sebelum kau kulaporkan ke polis!" kecam Abidin.


Namun kecamannya hanya disambut kekehan dari pria itu.


"Telepon aku, jika kau berubah pikiran."


Pria itu pergi setelah mengatakan itu.


Setelah itu Abidin pun melalui panggilan telepon sebenarnya sudah menanyakan itu pada Yahya sang abang. Tentang perjumpaannya dengan seorang pria yang mengaku hartanya dicuri oleh Yahya. Yahya terkejut mendengarnya, tak menyangka orang dari masa lalu akan datang mengejarnya hingga ke masa ini.


"Abang akan ceritakan pada kau nanti. Abang ni sedang berada di Jakarta. Ada pelelangan tanah murah di wilayah strategis membuka usaha. Siapa tahu abang dapatkan tanah tu dengan harga murah, bolehlah kita buat cabang N-one, kat Indo," kata Yahya waktu itu.


"Abang kat sana dengan siape?" tanya Abidin.


"Zubaedah dan Andini. Ilham tak ikut. Zubaedah pula nak hadiri perkahwinan kawan dia kat sini. Jadi sekalian bertolak bersama sahaja," kata Yahya.

__ADS_1


"Oh macam tu? Baiklah, saye tunggu sampai abang balik."


Hari berikutnya, meski ada rasa khawatir akan keselamatan putrinya, tetapi Abidin pun tak bisa berbuat banyak selain membiarkan putrinya untuk tetap pergi ke sekolah seperti biasanya. Namun kekhawatirannya nampaknya akan segera menjadi kenyataan manakala hingga malam hari Farida tak juga kembali dari sekolah. Panik melanda. Abidin telah mencari kesana kemari bahkan melaporkan kasus hilangnya putrinya pada kantor polisi. Menelepon sang abang yang waktu itu masih ada di Jakarta sama sekali tak membantu. Hingga pagi, Abidin tiba-tiba teringat akan nomor yang dicatat pria itu di meja kasir. Terpikir olehnya untuk menghubungi nomor itu.


"Hahaha kau akhirnya menghubungiku?" Suara di seberang sana, tidak salah lagi adalah suara pria yang sama, yang mendatanginya di mini market N-one.


"Putriku, dia di mana?" tanya Abidin sangat yakin kalau Farida pasti sedang berada di tangan lelaki itu.


"Tak ingin lapor polisi saja?" tanya pria itu balik dengan nada meremehkan.


Abidin mendesah panjang. Dia sudah mencobanya, tetapi sepertinya polisi tidak segera bergerak cepat untuk menemukan putrinya. Mereka masih berspekulasi kalau Farida mungkin hanya menginap di rumah temannya dan Abidin di suruh menunggu di rumah saja dengan sabar. Katanya kalau sudah tiga hari tidak pulang barulah dilaporkan segera ke kantor polisi. Tetapi Abidin tak bisa pasrah begitu saja menunggu selama tiga hari. Belum lagi waktu itu di tahun 90-an, sarana dan prasarana polisi untuk melacak keberadaan seseorang, belum secanggih sekarang.


"Wah, jadi kau sudah melaporkannya ke polisi tetapi mereka menyuruhmu menunggu selama beberapa hari. Berapa hari kira-kira? Tiga hari? Hahaha .... Lakukan saja. Menghabiskan waktu bersenang-senang bersama gadis muda belia bukanlah ide buruk," ejek pria itu.


"Jangan! Jangan lakukan apa pun pada putriku. Tolong, saye akan lakukan apa pun mau awak!" katanya cepat.


Sangat menakutkan membayangkan apa yang mungkin terjadi pada Farida mengingat dia berada dengan lelaki jahat. Di telepon pun rasanya ada banyak suara lelaki. Ya Tuhan, jangan biarkan mereka lakukan sesuatu pada Farida! jerit hati Abidin.


"Hahahah ... baiklah kita bicara kesepakatan sekarang!" kata pria itu lagi. Lalu setelah menunggu beberapa saat, pria itu pun membuka suara lagi. "Kau siap dengan kesepakatan apa pun? Kalau kau bersedia, putrimu akan ku pulangkan pagi ini juga ke rumahmu atau ke sekolahnya. Tentu saja selama syaratku belum terpenuhi, anak buahku akan mengawasimu dan putrimu. Dan aku tidak akan sungkan berbuat kasar dan keji jika kau coba-coba berbuat curang. Kau pilih saja!"


Abidin lagi-lagi menarik napas yang dalam. Yang terpenting saat ini di kepalanya hanya keselamatan Farida, putrinya.


"Ba-baiklah, Tuan," katanya dengan nada memelas.


"Bagus! Ayah yang bijaksana sekali. Kalau begitu langsung saja aku katakan kesepakatannya padamu. Keselamatan putri kau bisa menukarnya dengan cucu Yahya. Ilham atau adiknya, Andini," tandas pria itu.


"A-ape?"


Abidin sontak terkejut dengan syarat dari pria yang sampai saat itu tidak diketahuinya itu namanya. Menukar keselamatan putrinya dengan cucu sang abang, ibarat makan buah simalakama. Meski bagaimana Ilham dan Andini adalah juga cucunya. Apalagi Ilham, tiap dia datang ke Penang, anak lelaki itu begitu menggemaskan dan memperlakukannya bak kakek sendiri, tak ada bedanya memperlakukan dia dengan Yahya. Malah mungkin lebih akrab dari pada kakek kandungnya yang tak memiliki jiwa humoris itu.


"Ahh, kamu pasti ragu-ragu. Cepatlah putuskan! Aku beri tau ya, Tuan Abidin. Ini sebenarnya hanya pertarungan antara aku dan Yahya. Aku ingin melihatnya menderita. Karena dia pernah membuatku hampir mati dan merampok harta yang kudapat dengan susah payah dengan anggotaku. Kehilangan salah satu cucu kesayangannya mungkin akan membuat dia menderita. Karena itu aku membutuhkan bantuanmu. Tetapi jika kau pun ingin menanggung semuanya sendiri tak apa-apa. Silahkan kau pilih keselamatan cucunya Yahya Nirwan dengan putrimu sendiri. Gadis berusia 17 tahun, jika aku menjualnya di pelelangan para pria hidung belang, menurutmu siapa yang paling menderita di sini? Hanya putrimu seorang! Pikirkanlah baik-baik. Dan aku perlu jawaban segera. Se-ka-rang!!"


Pikiran Abidin yang kalut tak bisa lagi berpikir secara jernih. Hanya keselamatan putrinya yang ada di pikirannya.


"Tetapi putriku, ape dia baik-baik sahaja?" tanyanya ingin memastikan.


"Sejauh ini dia aman, tetapi tidak tau sejam lagi? Setengah jam lagi? 15 menit lagi? Semua tergantung keputusanmu. Bagaimana? Putrimu, Ilham, atau Andini?"


"Kau akan berbuat ape pada Ilham atau Andini kalau aku tolong kau?" tanya Abidin.


"Itu bukan urusanmu, orang tua! Sekarang pilih saja siapa yang harus dikorbankan di sini? Putrimu? Ilham? Atau Andini?"


Abidin menelan ludah gugup. Macam mana? Macam mana?


"Kau terlalu lama berpikir. Baiklah aku anggap kau memilih putrimu sendiri untuk dikorbankan. Suiiiiit!!!" Pria itu bersiul memanggil anak buahnya. "Seret gadis itu ke kamar!"


"Tidak, tidak! Jangan! Andini! Aku akan berikan Andini pada awak! Tolong! Jangan Farida!" jeritnya spontanitas dan histeris.


Terdengar kekehan lagidi seberang sana.


"Pilihan yang agak mengecewakan. Aku berharap setidaknya kau memilih Ilham. Tetapi Andini pun tidak masalah. Kelak aku akan membuat bayi kecil itu menghancurkan Atoknya sendiri!"


Dan Abidin merasa lemas seketika. Betapa jahatnya dia. Tetapi dia harus memikirkan cara lain nanti. Saat ini Farida harus selamat dahulu.

__ADS_1


****


Bab selanjutnya masih flashback yak... Like dan komentarnya bebeib ....


__ADS_2