
Yola dan Ilham berjalan bergandengan tangan turun ke lobby hotel. Rasanya seperti ada magnet di tubuh mereka masing- masing yang membuat keduanya secara naluriah ingin menempelkan diri satu sama lain. Seperti halnya tangan mereka yang selalu berpegangan tangan seolah- olah takut terlepas satu sama lain.
Di lobby hotel telah menunggu Pak Cik Abbas.
"Dah lama menunggu, Pak Cik?" tanya Ilham berbasa basi.
"Ah tak juga," jawab Pak Cik Abbas.
Padahal sedari tadi Pak Cik Abbas sampai menggerutu dan mengumpat dalam hati karena telah menunggu selama lebih dari satu jam di lobby hotel, menelepon Ilham berkali- kali namun tak juga diangkat karena kedua sejoli itu tengah membersihkan diri dan sholat setelah selesai melakukan aktivitas mereka sebagai pasangan suami istri.
"Ini konci motosikal, ini dah sedia pakai. Tuan Ilham pakailah," kata Abbas sembari memberikan sebuah kunci motor pada Ilham setelah mereka berada di luar hotel.
"Lalu macam mana, Pak Cik balik kat rumah?" tanya Ilham.
Pak Cik Abbas menepuk- nepuk pundak Ilham.
"Usah risaukan tu. Ade anak saye yang antarkan saye kesini. Dia sedang menanti saye di parking area," kata Pak Cik Abbas.
"Oke, kalau macam tu, Pak Cik. Saye dan isteri saye nak pusing- pusing dulu di Pulau Pinang ni sambil cari makanan," kata Ilham sambil menepuk-nepuk perutnya.
"Ah, iya. Kalau macem tu saye pergi dahulu. Kalau ade ape- ape yang nak Tuan Ilham perlukan, bolehlah Tuan talipon sahaja saye," kata Pak Cik Abbas.
"Iya, sila Pak Cik. Terima kasih dah hantarkan saye motosikal kat sini," kata Ilham.
"Sama- sama. Saye pergi dahulu. Assalamualaikum," pamit Abbas mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam," jawab Yola dan Ilham berbarengan.
"Jadi kita nggak naik mobil ni?" tanya Yola sambil menunjuk sepeda motor gede yang kini berada di hadapan mereka.
"Tak. Kite naik motosikal sahaja," jawab Ilham sembari naik ke atas sepeda motor. " Jom!"
Tak menunggu lama Yola segera naik ke sepeda motor produksi Japan itu.
"Peluk Abang, Sayang ...." kata Ilham seraya menarik tangan Yola agar melingkar di perutnya.
Setelah memakaikan helm pada Yola dan pada dirinya sendiri, lelaki usia kepala tiga itu pun mulai menghidupkan mesin motor dan membawa sepeda motor itu melaju di jalanan kota Penang.
"Kite makan di Gurney Drive sahaja, ya..." tanya Ilham setengah berteriak ditengah berisiknya laju kenderaaan di jalanan itu.
__ADS_1
Tangan Ilham memindahkan sebelah tangan Yola masuk ke kantong jaketnya, sementara sebelah tangannya tetap memegang kemudi, dan tangan Yola yang satunya tetap memeluk perutnya.
"Terserah Abang aja, yang penting enak!" jawab Yola setengah berteriak pula.
"Yola nak makan ape? Kalau ada yang Yola mahu, bagi tahu Abang. Abang akan carikan untuk Yola," kata Ilham.
"Aku ikut makan apa aja Abang, aku lapar. Aku makan cuma tadi siang sebelum berangkat ke sini," rengek Yola.
"Okey, kalau begitu kite makan di Gurney Drive sahaja," kata Ilham memutuskan.
Lalu tanpa berpikir panjang lagi Ilham pun segera membawa Yola ke Gurney Drive.
Gurney Drive adalah tempat yang sangat hits dan populer di Penang sebagai tempat kuliner di malam hari. Letaknya berada di kawasan pinggir laut utara George Town, Kota Penang. Di tempat ini sangat mudah menemukan makanan dan menyesuaikan dengan isi dompet pengunjung. Mulai dari pedagang kaki lima, restoran, hingga bar ada di sini.
Setelah memarkirkan sepeda motornya, Ilham pun lalu merangkulkan tangannya di pundak Yola.
"Jadi Yola nak makan di mana? Restaurant? atau dimana?" tanya Ilham sembari merengkuh leher gadis itu hingga semakin merapat padanya.
"Aaa- Abang ... " Yola merasa tercekik oleh lengan besar Ilham yang merangkul lehernya. "Kita makan di situ aja, ya!"
Yola menunjuk deretan warung kaki lima yang ramai oleh pengunjung.
Ilham kembali merengkuh Yola dan membawanya berjalan menuju warung itu. Rasanya sangat bahagia bisa berjalan bergandengan tangan bahkan merangkul istrinya di keramaian seperti ini.
"Nak makan apa?" tanya Ilham begitu mereka berada tepat di depan gerobak sebuah warung kaki lima.
Yola membaca tulisan yang ada di warung itu. "PASEMBUR, ROJAK, CUCUR UDANG".
"Yola nak makan pasembur?" tanya Ilham saat melihat perhatian Yola tertuju pada gerobak itu.
"Apa itu pasembur, Abang?"
"Pasembur tu perpaduan antara masakan Malaysia punya dengan India. Pasembur ini makanan khas Penang. Kalau dah ke Pulau Pinang ni mestilah cuba nikmati pasembur dahulu. Kalau tak berarti belum lengkap perjalanan orang yang melancong kat sini. Jom ikut abang," ajak Ilham.
Ilham menarik tangan Yola dan mendekati penjual di warung itu.
"Mak Cik, kami nak pasemburnye dua. Kalau saye minta pakai ini, ini, ini , dan ini, Mak Cik!" pinta Ilham sembari menunjuk pada beberapa jenis bahan campuran untuk pasembur.
Yola akhirnya paham apa yang dimaksud dengan pasembur. Pasembur adalah campuran dari berbagai macam jenis makanan seperti sayuran, tahu, kentang rebus, bakwan, cumi dan beberapa jenis makanan yang dipotong- potong dalam sebuah wadah dan kemudian disiram dengan saos kacang pedas manis. Ini termasuk golongan salah satu jenis salad.
__ADS_1
"Macam mana?" tanya Ilham menanyai respon Yola yang terlihat sangat menikmati makanannya.
"Ini sebenarnya kalau di Indonesia mirip gado- gado sih, Abang. Biasanya gado- gado aku nggak terlalu suka. Tapi ini enak banget, sumpah!" kata Yola dengan mulut yang masih penuh makanan.
Ilham senang melihat Yola yang makan dengan begitu lahap. Lalu entah bagaimana ia memiliki inisiatif untuk memberikan potongan- potongan seafood di piringnya ke piring Yola.
"Abang!! Aku nggak mau cumi- cumi. Dan ini apaan? Ada udangnya juga, kalorinya seafood itu tinggi, tau! Yola bisa gendut nanti," protes Yola.
"Biarlah. Abang lihat kau kurus sangat. Macam tak pernah diberi makan je. Kapan lagi Abang boleh beri Yola makan banyak- banyak? Puan Pengarah Marketing ada banyak sangat duit sekarang, jadi merasa tak perlu lagi dinafkahi oleh Abang," sindir Ilham.
"Isss, Abang .... Apaan coba maksudnya? Ya sudah, aku makan!"
Yola memakan potongan- potongan seafood yang dipindahkan Ilham ke piringnya. Tapi, baru saja dia makan beberapa potong, ekspresinya tiba- tiba berubah.
"Abang, aku nggak suka seafoodnya. Nggak enak. Rasanya cumi dan udangnya baunya agak aneh," keluh Yola sambil berbisik.
Yola merasa tak enak kalau sampai si pedagang sampai mendengar perkataannya barusan.
"Iya ke?" tanya Ilham tak percaya.
Lalu pria itu pun mencoba mengambil sepotong cumi dan mencicipinya kembali. Ilham merasa rasanya enak- enak saja. Apa mungkin karena bumbu di seafood itu tidak sesuai dengan lidahnya orang Indonesia? Tapi kan seafoodnya cuma digoreng? Atau wanita ini sedang membohonginya agar tidak dipaksa makan makanan yang tinggi kalori? Ilham tahu Yola sangat memperhatikan penampilannya, apalagi masalah berat badannya.
"Bagaimana? Baunya agak aneh, kan?" tanya Yola.
Belum lagi Ilham menjawab tiba- tiba ponsel Yola berdering. Yola membuka tasnya dan mengambil ponsel itu. Wanita itu tidak langsung menjawabnya, tapi malah menatap Ilham seolah bimbang antara ingin mengangkatnya atau mengabaikannya saja.
"Siape?" tanya Ilham.
Yola mengigit bibirnya gelisah.
"Hafiz," jawabnya lirih.
Ilham lalu menarik cepat ponsel itu dari tangan Yola dan memastikan siapa yang menelepon. Dan begitu melihat kontak di ponsel memang Hafiz, lelaki paruh baya itu langsung merejectnya dan menonaktifkan ponsel itu.
"Jangan memberi harapan padanya lagi, Yola. Kau dan abang telah rujuk kembali. Itu artinya kau dan Hafiz telah menjadi ipar kembali," kata Ilham mengingatkan.
Yola hanya bisa mengangguk pasrah dan melanjutkan menghabiskan sisa makanannya.
***
__ADS_1
Jangan lupa like, komentar dan votenya ya. InsyaAllah nanti malam author update lagi. Tadi malam author ada kelas kepenulisan dan ada tugas juga. Jadi baru sempat update.