Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Masa Iddah


__ADS_3

"Yola, kau tak ape?" tanya Ilham panik seraya mencoba membantu Yola berdiri. Dia juga membantu melepas tumit sepatu Yola yang tersangkut di grill penutup parit.


Yola mencoba berdiri sambil berpegangan pada Ilham. Kakinya benar- benar sakit sekarang terutama di bagian pergelangan kaki.


"Jom, kite ke hospital sekarang!" ajak Ilham seraya memapah Yola untuk berjalan ke arah mobil.


"Nggak. Nggak usah. Ini cuma terkilir sedikit. Dipijat dikit nanti paling sembuh. Kita balik ke kantor aja," tolak Yola.


"Tapi, Yola ...."


"Aku nggak mau ke rumah sakit," kata Yolanda.


Ilham menarik napas.


"Baiklah kalau begitu," katanya.


Keduanya pun masuk ke dalam mobil Ilham. Sepanjang perjalanan mereka lebih memilih berdiam diri tanpa suara. Namun sesekali Ilham melirik pada Yola yang terlihat meringis sambil menggigiti bibirnya untuk menahan sakit. Melihat itu Ilham memutuskan mampir ke toko obat untuk membeli koyo dan beberapa obat untuk luka pada kaki Yola.


"Kita mau kemana? Kok nggak berhenti?" tanya Yola saat mobil yang mereka kenderai melewati N-one Grocery.


Ilham tak menjawab melainkan terus membawa mobil itu hingga sampai di depan apartemen Gold Century.


"Kita ngapain pulang? Ini masih jam kerja!" protes Yola.


Namun lelaki itu nampaknya terlihat tak peduli akan protes Yola.


"Jom kite obati lukamu dulu!" kata Ilham.


"Nggak usah. Ini bukan apa- apa. Cuma luka kecil. Kita kembali ke kantor saja," bantah Yola.


"Kau tak nak dibawa ke hospital. Jadi kite obati di rumah sahaja. Aku tak nak orang berkate aku tak peduli pada aku punya bawahan dan memaksa mereka bekerja dengan keadaan sakit macam ni," kata Ilham.


Yola terdiam, sungguh tadi dia mengira kalau Ilham benar- benar peduli padanya sebagai seorang wanita yang dicintainya, tapi ternyata dia hanya peduli pada reputasinya. Huffft .... Sepertinya abang benar- benar sudah move on, batinnya dalam hati.


Baguslah, pikirnya kemudian. Tapi .... entah mengapa dalam hatinya ia sedikit kecewa.


Masih dibantu papah oleh Ilham, akhirnya mereka sampai juga di depan pintu unit Yola.


"Terimakasih sudah membantu mengantar aku sampai sini. Hari ini aku akan berusaha memulihkan kakiku dulu. Besok pasti aku akan masuk kerja," kata Yola sembari menggesek kartu aksesnya.


Pintu apartemen itu terbuka, Yola segera ingin masuk ke dalam, namun tak diduga Ilham malah menggesernya dan menerobos masuk lebih dulu ke dalam. Dan Ilham duduk begitu saja di sofa tanpa dipersilahkan.


Yola mengernyitkan keningnya hendak protea tapi Ilham mendahuluinya.


"Jom kat sini, aku periksa lukamu dahulu," kata Ilham sembari mengeluarkan obat-obatan yang dibelinya tadi dari bungkusannya.


"Nggak usah, aku bisa obati sendiri nanti. Beneran. Ketua Pengarah sebaiknya kembali saja ke kantor," tolak Yola.


Ilham mendengus kesal dan menarik Yola agar duduk di dekatnya.


"Kalau abang kate kamu kat sini,ya kat sini! Kau ni banyak sangat protes!" omel Ilham.


Tanpa diminta lelaki itu pun mengangkat kaki Yola ke pangkuannya dan memeriksa pergelangan kaki Yola yang sedikit membiru.


"Tahan sikit!" kata Ilham sembari mengoles sedikit cream untuk keseleo ke pergelangan kaki Yola dan memijatnya.


Yola mengernyitkan keningnya sambil matanya terpejam berusaha menahan sakit saat Ilham memijat pergelangan kakinya.


"Dah selesai!" kata Ilham setelah melakukan sentuhan terakhir yaitu menempelkan koyo di kaki Yola.


Perlahan Yola menurunkan kakinya dari atas pangkuan Ilham. Dirinya sampai berkeringat saat menahan sakit tadi. Ilham yang melihat hal itu mengambil sapu tangan dari kantongnya dan berinisiatif untuk mengelap dahi Yola yang berkeringat.


Yola mengelak, menahan tangan Ilham agar menghentikan tindakannya.


"Abang, sudah. Nanti aku bisa salah paham," katanya dengan nada suara yang rendah hampir tak terdengar.

__ADS_1


Ilham menatapnya sesaat dan berhenti mengelap keringat Yola. Namun kini tangannya yang beralih mengelus pipi gadis itu.


"Kau tak salah paham," jawab Ilham masih terus mengelus pipi Yola yang merona merah.


"Hmm?"


Yola tak mengerti maksud perkataan Ilham.


"Yola, abang ...."


Ilham ingin mengatakannya. Ilham ingin bilang kalau dia masih mencintai wanita itu, bahwa dia masing menginginkan Yola jadi isterinya, bahwa dia menceraikannya hanya ingin membuat hubungan yang lebih baik dari awal kembali.


Tapi belum sempat ia mengatakannya, tiba- tiba saja Hafiz datang, membuyarkan semua apa yang ingin diungkapkannya.


"Yola??!!!"


Yola terkejut dan secepat mungkin memperbaiki posisinya dan menjauh dari Ilham.


"Hafiz?"


Hafiz menatap Yola dan Ilham bergantian.


"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Ketua Pengarah hanya mengantarkan aku pulang. Kakiku sakit, lihat!" kata Yola sambil menunjukkan kakinya yang sakit.


"Aku percaya padamu, tapi sepertinya ketua pengarah N-one Grocery, sangatlah senggang, kau tak de job ke di N-one ke sampai kau sibuk sangat bawa tunanganku balik kat sini? Dan kamu juga, Yola. Kenapa tak telpon aku saje?" tanya Hafiz memojokkan.


"Oh, kami tadi ada makan siang dengan orang dari airport, habis itu ada yang jambret tasku juga hpku, Ndut. Sampai aku jatuh dan aww ... Ini sakit sekali!" kata Yola sambil mengaduh.


"Ya Tuhan, Yola, mana yang sakit. Kite ke hospital sekarang,ya?!"


"Nggak. Aku nggak mau, Ndut. Ini hanya perlu dipijat sedikit," kata Yola.


"Jom, sini aku tengok!" paksa Hafiz.


Sementara itu Yola memberi kode agar Ilham pergi saja, mumpung Hafiz lupa tentang masalah tadi. Yang sebenarnya adalah Yola ingin mengalihkan perhatian Hafiz agar tidak mempermasalahkan dirinya yang sedang tertangkap basah berduaan saja dengan Ilham.


"Kalau begitu aku balik kat N-one dulu," kata Ilham, mengalah.


Hafiz yang belum puas ingin memojokkan Ilham masih hendak mencerca lagi, namun Yola sigap dan tahu apa yang harus dilakukannya.


"Hafiz, aku lapar ...."


"Kau bukannya baru sahaja makan siang?" tanya Hafiz tak percaya.


"Melihatmu di sini aku jadi pengen makan nasi goreng buatanmu, Ndut. Kamu nggak akan menolak kalau aku minta kamu masakin aku itu, kan?" rayu Yola.


Hafiz menatap Ilham sejenak, tapi dia tak bisa menolak permintaan Hafiz.


"Iyalah, iyalah. Aku nak masakkan untuk kau. Tunggu sekejab," kata Hafiz. "Dan kau sebaiknya pergi sahaja!" Usirnya pada Ilham.


Ilham tersenyum sinis.


"Baik, aku pergi dahulu. Dan kau Puan Pengarah, sebaiknya tepati janjimu! Besok kau mesti datang bekerja!" tuntut Ilham.


Yola mengangguk.


***


Hafiz mungkin adalah calon suami yang baik, sangat perhatian, bahkan pandai memasak. Wanita mana yang tidak tertarik pada lelaki model seperti ini? Mungkin andai Yola tidak lebih dahulu jatuh cinta pada Ilham, dia pun pasti akan jatuh cinta pada lelaki ini.


"Ini enak sekali, Ndut!" puji Yola setelah kenyang menghabiskan seporsi nasi goreng buatan Hafiz.


Hafiz tersenyum.


"Aku akan bikinkan kau setiap hari, kalau kite dah berkahwin," katanya.

__ADS_1


"Wah, kau ini calon suami yang pelit. Masa iya istrimu mau kamu kasih nasi goreng tiap hari?" protes Yola.


Hafiz tertawa.


"Hahaha .... Tentu tidak tiap hari. Hanya kalau kau sedang ingin sahaja," katanya sambil mengelus rambut Yola dengan sayang.


"Oh, ya Ndut, kamu ngapain kesini tadi? Kamu kan harusnya tau kalau aku masih bekerja jam segini?" tanya Yola heran.


Hafiz memiliki satu akses card apartemennya, tapi dia tau kalau lelaki itu tidak akan datang kalau dia tidak ada di apartemen atau kalau tidak ada kepentingan mendesak.


"Oh, itu. Tunggu sekejab!"


Hafiz segera mengambil paper bag yang dibawanya tadi dan memberikannya pada Yola.


"Aku nak antarkan ini sahaja," kata Hafiz.


"Apa ini?" tanya Yola.


"Album planning majlis perkahwinan dari event organizer. Aku bawa itu untuk kamu pertimbangkan sebagai referensi untuk majlis perkahwinan kita. Kamu nak indoor ade, outdoor pun boleh. Terserah kamu sahaja," jawab Hafiz.


Yola menatap album foto itu sendu. Apa dia memang tak bisa mengelak lagi dari perkawinan ini? Kalau benar, ini akan jadi pesta pernikahan pertama baginya, karena dengan Ilham, dia hanya menikah seadanya tanpa pesta meriah.


"Yola, kite percepat sahaja planning perkahwinan kite, ya?" bujuk Hafiz.


Yola menatap wajah tampan calon suami plus sahabatnya itu.


"Ndut, sepertinya dalam waktu dekat kita belum bisa menikah," kata Yola sambil menggeleng.


Hafiz terdiam, air wajahnya terlihat berubah datar.


"Kamu masih mencintai Abang Ilham?" tanya Hafiz to the point.


"Bukan karena itu, Ndut ...."


"Lalu ape?" tanya Hafiz tak percaya. "Kau ragu berkahwin dengan aku kerana kau masih cinta dengan abang?" desaknya.


Yola menggeleng, sembari menggenggam tangan Hafiz.


"Aku percaya hati adalah sesuatu yang sulit diajak kompromi, tetapi bukan berarti tidak bisa berubah, Ndut. Aku memang belum sepenuhnya bisa menghilangkan perasaanku padanya, tapi seiring waktu aku juga yakin pasti bisa dan pelan- pelan aku juga bisa belajar mencintai kamu. Kamu bukan orang yang sulit untuk dicintai, kok. Sebaik ini, setampan ini, romantis, dan paling sayang padaku, kamu nggak percaya diri ya kalau lama- lama aku akan jatuh cinta juga padamu?" gombal Yola.


Hafiz terdiam dan menatap Yola ragu.


"Betul ke ape yang kau cakap tu?"


Yola tersenyum meledek. "Ya, tapi itu juga tergantung bagaimana caramu membuatku jatuh cintalah, Ndut," kekehnya.


Ya, betul juga, pikir Hafiz.


"Kalau macam tu, aku akan tunjukkan padamu nanti, bagaimana caraku membuatmu jatuh cinta," kata Hafiz.


Yola hanya mengangguk.


"Aku belum bisa menikah dalam waktu dekat ni, karena aku harus menghabiskan dulu masa iddahku," katanya. "Abang menceraikanku belum lama ini. Selama ini kami hanya berpisah begitu saja, tapi dia baru resmi mengucapkan talak padaku belum ada satu minggu, jadi selama beberapa bulan ini aku harus menunggu dalam masa iddah agar bisa menikah denganmu. Kamu pasti mengerti akan hal ini, kan?"


Hafiz menghela napas. Dia sangat mengerti tapi .... Dia ragu semakin lama pernikahannya dan Yola tertunda, akan lebih banyak halangan baginya untuk menikahi wanita yang dicintainya itu nanti.


"Baiklah, aku mengerti."


Selagi mereka membicarakan itu tiba- tiba bel apartemennya berbunyi. Hafiz yang membukakan pintu karena kaki Yola sakit. Dari monitor intercom dia sudah tahu siapa yang datang. Dan Hafiz telah siap menghadapinya.


Begitu pintu di buka, wanita yang berada di depan pintu itu langsung membelalak melihat siapa yang membukakan pintu.


"Hafiz!!!??" pekik wanita itu terkejut.


"Mamah ...."

__ADS_1


***


Like, koment, dan jangan lupa vote author ya.... Biar author semangat updatenya....


__ADS_2