Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Ammera Ruby Nirwan


__ADS_3

"Ammar tak nak punya Lil Sist, Dad!. Daddy dah janji akan bagi Ammar Lil Bro, bukan litte Sister, Dad! Daddy dah berdusta dengan Ammar!" protes bocah kecil itu pada sang ayah.


"Ammar tak boleh macam tu lah, kite mesti bersyukur Allah bagi kite adik perempuan untuk kawani Ammar main nanti," bujuk Grandma Zubaedah.


"Tak seronok, Grandma!" Ammar melipat tangannya di atas dada.


"Eh, tak boleh macam tu lah. Kasihan adik baby, kalau Abang Ammar tak sayangkan dia. 'Macam manalah aku, Abang Ammar. Kalau Abang Ammar tak nak jadi Abang aku, aku mesti cari Abang yang mana pula?' Macam tu lah, adik baby kalau dengar abang Ammar tak nak dengan dia nanti, menangis pula hingga Pakcik doktor ambil adik Ammar, tak nak di kasih balik pula pada kite macam Aunty Dini dahulu. Macam mana? Abang Ammar tak nak kan jika itu terjadi?"


Grandma Zubaedah berusaha membujuk Ammar dengan memberi perumpamaan seandainya adik barunya Ammar bicara. Dan itu sukses membuat Ammar terdiam. Dia memandang Aunty Dini bergantian dengan ayahnya yang sedang berada di layar ponsel. Ya,mereka sedang melakukan panggilan vidio ke Pnomh Penh.


"Daddy dahulu juge tak nak punya adik perempuan ke?" tanya Ammar.


"Emmm ...." Zubaedah menatap Andini yang sedang mendengarkan mereka bicara.


"Mana ade? Daddy sayang sekali pun dengan Aunty Andini semenjak Aunty lahir," bantah Ilham.


"Kau pun dulu macam tu lah, Ilham. Selagi Andini baru dilahirkan, kau kate tak nak bila kau punya adik perempuan. Kau suke dengan adik laki-laki," cibir Zubaedah.


"Ohh, gitu .... Kemarin padahal katanya dulu aku adalah adik yang paling disayang," imbuh Andini menimpali cibiran sang Mama.


"Eeh, cuba Mamah tengok? Kerana perkataan Mamah Andini tak percaya kalau dahulu Ilham sayangkan dia," protes Ilham.


"Oh, itu kan dulu. Sekarang sayangnya udah nggak sama adek lagi donk, tapi sayang sama bininya doank." Andini masih tak puas mencibir.


"Hahaha, usah terlalu dibawa hati, ape yang Mamah cakap tu, Dini. Abang kau tak salah pula. Mase tu dia masih budak kecil seusia dengan Ammar. Hanya sekejap sahaja dia cakap tak nak punya adik perempuan, tetapi pas dia dah ada adiknya, gembira tak terkira. Hari-hari tiap minit, tiap detik dia selalu jagakan kau, Sayang. Sekarang pun mestilah dia masih sayang dengan kau," kata Zubaedah mencoba meyakinkan Andini.


"Betul ke?" Kali ini Ammar menimpali kata-kata Grandma-nya.


"Betul, Daddy kau begitu tengok adiknya, Aunty Dini, langsung suke lah. Dia sayangkan Aunty Andini, selalu bermain bersama setiap hari. Seronok!" Zubaedah berusaha mengajak cucunya itu untuk mengubah mindset terhadap adik perempuan.


Ammar tampak masih tak percaya akan kata-kata Grandma-nya. Hingga kemudian Ilham mau tak mau menjanjikan sesuatu yang lain padanya.


"Dah lah tu, budak pandainya Daddy tak boleh merajuklah macam tu, kan dah jadi Abang pun," bujuk Ilham. "Kalau nanti Mommy dah sihat, lil sist-nya Ammar dah besar sikit, bolehlah minta pada mommy lagi untuk bagi Lil Bro untuk Ammar."


Perkataan Ilham itu sontak membuat Zubaedah menjadi membelalak.


"Ape? Ilham, kau tu jangan berjanji sembarangan macam tu lah! Ammar tu tak dapat diberi janji macam tu, nanti kau akan ditagih oleh dia. Yola sahaja belum lagi sedar dah berpikir nak tambah baby baru pula," omel Zubaedah.


"Memang tuh, pikirannya m*sum banget. Sadar woy, sadar! Tuh bininya Abang bangun aja belum!" cibir Andini.


Sekarang dia sudah bisa beradaptasi dan tidak canggung untuk bersikap santai pada Ilham dan orang-orang di rumah keluarga Nirwan.


Ilham hanya terkekeh mendengarnya. Dia sungguh merasa bahagia saat ini. Adiknya telah ditemukan, istrinya ada di sisinya, dan sekarang dia malah mendapatkan seorang putri lagi dari Yola. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang ingin dia dustakan?


Di saat Ilham sedang menelepon itu, Yola siuman dari pingsannya. Dia merasa lemah sekujur tubuhnya. Dia bisa mendengar Ilham sedang berbicara entah pada siapa. Kepalanya berat, dia tidak ingat apa pun. Pelan-pelan dia berusaha menggerakkan jarinya, membuka kelopak matanya. Perutnya terasa mual, tenggorokannya terasa sakit akibat alat pernapasan yang masih terpasang di tubuhnya

__ADS_1


"Aghhhhh ...." Terdengar suara erangan Yola, membuat perhatian Ilham langsung tertuju pada Yola.


"Mamah, tunggu sekejab!"


Ilham langsung menghampiri Yola.


"Sayang! Yola?"


Dengan lemah Yola berusaha membuka matanya lebih lebar lagi. Dilihatnya Ilham di hadapannya sedang memandangnya dengan panik.


"Yola, Yola? Yola baik-baik sahaja, kan?" Ilham bertanya sambil menggenggam tangan lemah itu.


Reaksi yang dirasakan oleh Yola begitu siuman dari pengaruh bius total adalah normal, dokter pun sudah menjelaskan hal itu sebelumnya pada Ilham. Oleh karena itu, Ilham pun segera keluar dan mencari Hafiz.


"Hafiz! Panggilkan doktor atau juru rawat! Yola dah sedar!" suruhnya.


Hafiz dan Eva yang sibuk dengan ponsel masing-masing, sontak terkejut.


"Yola sadar?" tanya Eva.


Ilham mengangguk.


Segera gadis itu berlari masuk ke dalam ruang perawatan ingin menemui Yola, dan Hafiz pun langsung mencari dokter seperti perintah Ilham.


Tak lama setelah diperiksa oleh dokter dan dijelaskan kalau kondisi Yola tak ada yang perlu dikhawatirkan, Ilham pun bisa bernapas lega. Hanya selang beberapa jam setelah dia sadar, Yola yang sempat bingung dan linglung efek dari obat bius pun kembali mengingat semua. Sistim motorik tubuhnya pun sudah normal dan bisa digerakkan kembali meski ia masih lemah. Alat pernapasan yang tadi sangat terasa mengganggunya pun telah dilepas oleh perawat.


Ilham menggeleng.


"Kau belum boleh berjalan, Honey. Tunggu sekejap hingga kau dapat duduk barulah kite berjumpa dengan dia, hmm?" bujuk Ilham.


Yola menggeleng.


"Udah nggak sabar," rengeknya.


Ilham bukan tidak mau mempertemukan keduanya, tetapi Yola bahkan belum bisa duduk sementara bayi mereka juga belum bisa keluar dari NICU.


"Abaang ..." rengek Yola.


"Abang tunjukkan gambar little sist-nya


Ammar sahaja, hmm?"


Ilham merogoh kantongnya, mengambil ponsel dari sana.


"Little sist?" gumam Yola.

__ADS_1


"Hmm, betul. Cuba tengok! Dia cantik, kan?" Ilham menunjukkan foto di galeri ponsel Ilham.


"Comelnya ...." kata Yola dengan mata berbinar-binar.


"Mestilah, Daddy-nya pun comel," kata Ilham sembari berpose memejamkan mata dan menekan pipinya dengan telunjuk dengan gaya sok imut.


"Ihh, Abang!! Dia mirip aku," kata Yola tak terima.


"Mirip kite berdua, Sayang," ralat Ilham sambil meraih tangan Yola dan menciumnya dengan sayang.


"Namanya siapa?" tanya Yola.


"Yola mahu dia diberi nama ape?" tanya Ilham meminta pendapat.


"Aku yang kasih nama?" Yola balik tanya.


Ilham mengangguk. Tapi kemudian setelah itu, Yola pun menggeleng.


"Abang aja deh yang kasih nama. Dulu waktu ada Ammar, yang kasih nama Mama," kata Yola.


Ilham berpikir sejenak.


"Abang bagi satu nama, Yola bagi satu pula, macam mana?"


"Memang bisa gitu?"


Ilham mengangguk.


"Hmmm .... apa ya?" Yola bingung. "Abang ngasih nama siapa?"


"Ruby," jawab Ilham.


"Ruby? Nama yang bagus," gumam Yola setelah berpikir sejenak.


Ruby berarti batu mulia berwarna merah. Ilham sengaja memberinya nama itu karena melihat bayinya begitu cantik saat baru lahir dengan kulitnya yang kemarahan.


Ilham mengangguk.


"Kalau gitu aku tambahi Ammeera, Abang. Karena dia adiknya Abang Ammar. Biar Ammar senang sama adiknya."


Ilham manggut-manggut setuju.


"Jadi ... Ruby Ammeera Nirwan?"


"No, no, no. Ammeera Ruby Nirwan."

__ADS_1


***


Hai reader, maaf telat update. Jangan lupa like dan komentarnya. Pilihan nama, othor pakai sesuai pilihan banyak reade. Ammeera. Ruby-nya dari author yak ...😘


__ADS_2