
"Awak (kamu) ni siape?" tanya Zubaedah gemetar.
Dalam hatinya dia bisa menebak siapa orang yang meneleponnya. Satu-satunya orang yang tahu dimana Andini, orang jahat yang menculiknya tentu saja.
Terdengar suara kekehan di sana.
"Puan Zubaedah sepertinya lupa dengan saya? Dengan Andini apakah juga sudah lupa?"
"Tu-tuan Y?" Zubaedah serasa bibirnya bergetar mengucap nama itu. Perasaannya campur aduk, gundah gulana antara gusar, amarah, sedih dan perasaan berharap menyatu menjadi satu.
"Mr. Y atau Lucas. Ilham dan Hafiz tak mengatakan apa-apa pada Puan?"
Zubaedah bangun dari duduknya. Telah lama dia ingin bertemu dengan orang ini. Orang yang menculik putrinya dan selalu mempermainkan keluarganya. Tetapi baru kali ini dia berkesempatan berbicara dengan orang ini secara langsung. Biasanya saat Sonia masih sehat, mantan istri dari putranya itulah yang sering menjadi mediator di antara mereka.
"Dimana Andini? Dimana hmm? Jawab saye, Tuan Y! Jawab saye!" Seketika histeris menguasainya.
Masih terdengar kekehan di seberang sana. Kelihatannya orang yang mengaku sebagai Mr.Y itu sangat menikmati sekali sikap Zubaedah yang terdengar histeris itu.
"Puan Zubaeda, sedari awal saya sudah mengatakan pada kalian keluarga Nirwan agar tidak bermain-main dengan saya. Termasuk harus menurut pada apa yang saya inginkan. Lupa?"
Zubaedah mendengus menahan amarah.
"Tuan Y, kami selama hampir 8 tahun ni, selalu menurut ape yang menjadi keinginan awak. Walau kami tak tahu siape awak ni. Perkahwinan putera saye Ilham pun pernah menjadi taruhannya. Sebenarnya ape maksud dari awak ni berbuat macam ni kepada kami? Tak hanya menculik puteri saye yang masih baby, awak pun ingin menghancurkan perkahwinan putra saye. Mereka tak salah ape pun. Kami tak tahu ape kesalahan kami yang sebenarnya. Dan tak hanya itu, putra saye Hafiz pun berkate kalau Tuan telah mencuri dan berbuat penipuan untuk mengambil saham ayah mertua saye. Dan ... yang lebih mengejutkan, katanya Tuan juge yang telah membunuh ayah mertua saye. Betul ke?!"
Matanya yang tadi hampir mengantuk menjadi panas berapi-api karena menahan amarah.
"Bukan saya yang membunuh Tengku Yahya Nirwan. Tetapi putrimu sendiri," kata Lucas dengan intonasi yang penuh dengan kemenangan.
"A-ape?"
Zubaedah merasa dia seperti salah mendengar. Apa katanya orang itu tadi? Putrinya sendiri yang membunuh mertuanya.
"Apa saya kurang jelas mengatakannya? Baiklah saya akan mengatakannya lagi. Tolong buka telinga anda lebar-lebar, Puan. Saya bilang, yang membunuh Tengku Yahya Nirwan, bukanlah saya. Saya tidak akan sebodoh itu mengotori tangan saya sendiri untuk melakukan tindakan paling beresiko seperti itu," kata Lucas lagi. "Putrimu sendiri yang melakukannya."
"A-ape? Ape yang awak cakap ni? Jangan cuba-cuba nak dustai saye. Cukup selama ini kami dibodohi anda tapi tidak lagi! Saye tak akan percaye ape pun yang anda ucapkan. Tidak! Itu tidak mungkin!"
Bagai mendengar petir di siang bolong, Zubaidah sangat terkejut dengan kata-kata yang diucapkan oleh Mr. Y itu. Hatinya menolak untuk mempercayainya. Sampai kapan pun dia tidak akan mempercayai hal itu. Tidak! Ini tidak mungkin!
Kekehan dari mulut Lucas atau Mr. Y, kembali terdengar. Kali ini terdengar kejam dan tak berperasaan.
"Saya tidak berbohong. Justru saye rase Puan Zubaedahlah yang tengah membohongi diri sendiri. Kenapa? Apa rasa rindu dan rasa menginginkan putri kandungmu kembali ke pelukanmu sudah menghilang setelah mendengar kabar baik ini? Yuri. Sebelumnya puan Zubaedah telah mengenalnya, bukan?"
Zubaedah menelan ludahnya yang terasa pahit. Terbayang dibenaknya sosok gadis bernama Yuri itu, gadis yang katanya adalah temannya Hafiz dan Yola selagi duduk di bangku Sekolah Dasar di Jakarta. Gadis yang katanya menjebak Hafiz, putranya dengan pengakuan hamil hingga mendesak Hafiz untuk menikahinya, dan juga gadis yang telah merampok apartemen Ilham dan juga yang baru beberapa jam lalu Hafiz bercerita kalau gadis itu adalah kaki tangan Lucas, orang yang menjadi musuh ayah mertuanya hingga akhirnya hari ini ditangkap sebagi tersangka pembunuhan Tengku Yahya Nirwan. Dan gadis dengan segudang keburukanya itu, benarkah itu putrinya? Yuri. Tidak! Itu tidak mungkin. Lagi-lagi kata tidak mungkin itu seperti menggema di gendang telinganya, seolah menyangkal hal terburuk itu agar tidak menjadi sesuatu yang nyata.
"Awak berdusta ..." geram Zubaedah dalam nada terendah. Dia tak sanggup lagi bersuara dengan nada tinggi. Takut kalau apanyang dikatakan pria itu menjadi nyata.
__ADS_1
"Terserah Puan Zubaedah mau percaya atau tidak. Saya hanya memberi tahu apa yang ingin saya beritahu," jawab Lucas terdengar enteng dan tak punya hati.
Zubaedah menghirup napas yang dalam dan membuangnya perlahan-lahan.
"Kenape bagi bagi tahu ini sekarang? Setelah sekian lama awak mempermainkan kami, hum?" tanya Zubaedah menuntut.
"Hahahaha ... pertanyaan yang sangat bagus sekali, Puan. Saya mengerti rasa penasaranmu, karena itu baiklah akan saya jawab. Karena saya senang melihat kalian keluarga Nirwan menderita. Kasihan sekali memang saat seseorang yang berbuat tetapi anak keturunannya yang harus menanggungnya. Maksudku Tengku Yahya Nirwan, apa yang telah dia perbuat pada saya di masa lalu, apa yang diambilnya dari saya di masa lalu, semua harus ada balasannya kan?"
"Apa? Apa memangnya yang telah dilakukan ayah mertua saye pada awak? Apa yang telah diambilnya sehingga awak tega berbuat macam ni pada kami?! Katakan!!"
Suara Zubaedah yang berteriak terdengar melengking sampai membuat Ammar terbangun dan duduk di tempat tidur.
"Grandma ..." panggilnya.
Zubaedah tersadar ada Ammar di sana dan buru-buru kembali ke ranjang dan memeluk cucu kesayangannya itu.
"Grandma kenape?" Ammar mengucek-ngucek matanya.
"Tak. Tak ape. Ammar tidurlah lagi, hum?"
Ammar, bocah kecil itu tahu pasti ada yang membuat sang nenek kalut. Dia tidak ingin mengganggunya atau membuat neneknya itu semakin terbebani dengan ketidakpatuhannya. Ammar pun mengangguk kemudian kembali merebahkan tubuhnya.
"Budak baik, Ammar tidurlah, Sayang. Besok Ammar akan ke tadika pagi-pagi, kan?"
Ammar mengangguk. Kemudian bocah itu kembali memaksa memejamkan matanya.
"Jangan cuba-cuba berani pikirkan hal macam tu!" balas Zubaedah murka. Tangannya spontanitas meraih tangan Ammar dan menggenggamnya. Takut kalau cucunya itu akan hilang dari genggamannya.
"Hahaha ... cobalah lindungi cucumu itu kalau kau bisa. Bahkan anak kandungmu sendiri kau tak bisa melindunginya. Dan ngomong-ngomong, Puan Zubaedah, kau tidak ingin tahu bagaimana cara Yuri membunuh Atoknya sendiri?"
Kata-kata provokasi dari Lucas nampaknya cukup membuat Zubaedah kembali histeris. Dan itu membuat Lucas semakin tertawa terbahak-bahak.
"Jahannam! Kau manusia iblis!! Celakalah awak yang telah membuat keluarga kami kacau macam ni! Saye tak akan membiarkan hidup awak tenang. Saye akan laporkan awak ke polis mase juge!" teriak Zubaedah semakin kalap.
"Silahkan saja! Kau tentu bisa melakukannya jika kau mau!" jawab Lucas enteng dan kemudian dia pun mematikan panggilan telepon itu.
Mau melaporkannya ke polisi? Hohoho, tidak semudah itu! batin Lucas. Karena sejak dia menutup telepon ini pun nantinya dia sudah memutuskan untuk melarikan diri. Lari dari kejaran aparat kepolisian Malaysia atau pun Cambodia. Itu bukan hal sulit buatnya. Dia adalah pemimpin Black Pearl. Sindikat perdagangan obat-obatan ilegal internasional yang sudah banyak pengalaman dan aral melintang serta memiliki pergaulan dengan para mafia-mafia kelas kakap di dunia. Apa sulitnya hanya bersembunyi? Tidak akan ada yang berubah dengan hidupnya. Dia masih bisa menikmati kebebasannya. Tentu saja!
Dengan berita yang dikabarkannya pada Zubaedah malam ini, Lucas yakin telah memukul telak keluarga Nirwan lebih dari apa pun. Dia hanya perlu menonton dari tempat persembunyiannya.
Sementara itu Zubaedah hanya bisa terhenyak di tempat tidur, tak mempercayai apa yang didengarnya baru saja. Beribu rasa berkecamuk dalam hatinya. Ya Tuhan, bagaimana ini?
Yuri adalah anaknya? Apa yang harus dilakukannya dengan kenyataan yang kini ada di hadapannya ini? Andai saja kabar yang diterimanya adalah tentang kematian anaknya. Pastilah hatinya tidak akan sampai sekalut ini. Mungkin Zubaedah akan berusaha ikhlas untuk menerimanya. Tetapi ini, Yuri? Yuri? Yuri? Bagaimana caranya bisa menghadapi semua ini? Jika itu benar, maka anak itu adalah anak yang telah membunuh atoknya sendiri. Anak yang dilahirkannya telah membunuh kakek kandungnya sendiri!
Sepanjang malam, sambil memeluk Ammar Zubaedah hanya bisa menangisi nasib buruk yang menimpanya.
__ADS_1
***
Pagi menjelang, semua kini berkumpul di ruang makan keluarga Nirwan. Zubaedah, Ammar, Putri dan juga Hafiz yang memang menginap semalam di rumah ini.
Semua asyik menyantap sarapan yang terhidang di meja. Hanya berempat, biasanya ada Ilham dan Yola hingga agenda sarapan pagi ini menjadi sepi, ditambah lagi semua tak ada yang bersuara. Tetapi rasanya bukan itu. Ada yang berbeda di meja makan ini. Suasananya.
Hafiz melirik Putri yang tampak tersipu-sipu duduk bersebelahan dengan Hafiz. Mereka terlihat seperti pasangan suami istri resmi kalau duduk berdampingan di meja makan seperti ini. Hafiz sedikit menyunggingkan senyumnya membayangkan hal itu juga. Tetapi lagi-lagi bukan itu.
Hafiz kini menatap Ammar di hadapannya. Anak itu juga agak banyak diam pagi ini. Biasanya dia akan mengeluarkan celotehan-celotehan yang membuat sang grandma menegurnya untuk tidak bersuara saat makan. Tetapi kali ini anak itu terlihat diam dan hanya menyantap rotinya serta menenggak segelas susu pertumbuhan yang selalu disediakan setiap pagi dan malam untuknya.
Kini perhatian Hafiz beralih pada Zubaedah, sang Mamah. Nampak sembab di wajah yang sudah mulai keriput itu. Bukan keriputnya yang berbeda pagi ini, sangat wajar jika kulit seseorang mulai mengeriput di usianya yang sudah melewati lima puluh tahun. Ya, Zubaedah sudah setua itu. Hafiz bertanya-tanya dalam hati apa yang membuat sang Mamah wajahnya sembab seperti itu, seperti habis menangis semalaman.
Hafiz memang bukan anak kandungnya, wanita itu bukanlah orang yang telah mengandung dan melahirkannya ke dunia ini, tetapi apa yang dirasakan oleh sang Mamah, dia juga dapat merasakannya. Seperti rasa sedih yang menyergap dalam batinnya hari ini, meski dia tak tahu apa penyebabnya. Mungkin itu dikarenakan di dalam tubuhnya juga telah mengalir darah Zubaedah dari air susu yang diberikannya saat Hafiz masih bayi, hingga tercipta ikatan batin seperti ini. Ah, Mamah, ape yang buat Mamah sedih dan menangis macam ni? batin Hafiz.
"Ammar, kau ke tadika dihantar oleh uncle Hafiz sahaja, hum?" Hafiz mulai berbicara memecah kesunyian yang terjadi di meja makan pagi ini.
Mamah Zubaedah mengangkat kepalanya, begitu pun Ammar.
"Hmm? Kenape?" tanya Ammar polos.
Hafiz memang tak pernah mengantarnya ke sekolah. Jelas saja dia akan tiba-tiba heran dengan tawaran dari pamannya ini.
"Pakcik driver dan Daddy-nya Ammar tak ade kat sini, uncle Hafiz pun hari ni tak ade job-lah. Jadi biarkan uncle yang hantar," jawab Hafiz.
"Tak payah. Biar Mamah yang hantar Ammar, tak mengapa," jawab Zubaedah dengan suaranya yang serak, membuat Hafiz semakin yakin kalau Mamahnya ini memang sedang menangisi sesuatu semalaman.
Tetapi apa? Seingatnya tak ada berita buruk apa pun tadi malam. Justru apa yang diceritakannya pada Zubaedah adalah sesuatu kabar baik, kan? Yuri, tersangka pembunuh Atok Yahya itu akhirnya tertangkap. Tak hanya itu, mereka pun akhirnya mendapatkan kembali surat jual beli saham antara atok Yahya dan Lucas dan hanya perlu menunggu notarisnya Atok tertangkap untuk bisa membereskan kekacauan terkait saham atok Yahya. Dan soal Ilham, Yola dan Sonia pun sepertinya tak ada berita buruk dari mereka. Ilham masih sempat menghubunginya tadi subuh sekedar menanyakan kelanjutan kasus tertangkapnya Yuri dan apa yang kira-kira bisa mereka lakukan untuk membuat hukuman Yuri semakin berat dan bisa menangkap Lucas sekaligus.
"Biarkan Hafiz sahaja yang menghantar Ammar ke tadika, Mah. Sekalian Hafiz bawa Putri juga pusing-pusing kat sini, belanja beli belah kat pasar juge. Dia pun mungkin mulai bosanlah di rumaha sahaja. Sudah tu kat rumah tak ade Yola pula," tutur Hafiz. "Betul kan, Put?"
"Mamah dah cakap biar mamah sahaja, kau tak dengar ke?" sahut Zubaedah dengan nada jengkel.
Itu tentunya membuat Hafiz semakin heran tak terkecuali Putri. Mendengar sahutan Zubaedah yang terdengar ketus dan jengkel, dirinya sebagai seorang tamu di rumah itu tentunya merasa tak enak hati. Dalam hatinya bertanya-tanya apakah mungkin dia melakukan kesalahan? Apakah kedekatannya dengan Hafiz mungkin membuat orang tua itu menjadi tak senang?
"Ahh, Putri nggak bosan kok di rumah. Kan ada TV? Bisa ngobrol sama makcik-makcik ART juga. Hafiz, nggak apa-apa kok. Biarkan makcik saja yang antar Ammar," kata Putri masih dengan perasaan yang tidak enak hati.
"Ammar? Kau dah siap ke? Jom, Grandma hantar," kata Zubaedah pada cucunya itu.
Saat ini dia sama sekali tak berminat untuk meladeni rasa keingintahuan Hafiz dan rasa tak enak hati Putri. Itu bisa diurus belakangan. Ada tempat yang ingin dikunjunginya saat ini. Maka begitu dia mengantar Ammar hingga ke tadika ceria, wanita berusia kepala lima itu pun segera melajukan mobilnya ke balai polis (kantor polisi). Dia harus menemui gadis itu.
Yuri!
****
Hai reader kesayangan. Jangan lupa tetap suport author yak. Sekarang kita mulai masuk di konflik paling terakhir Andini. Jangan tanya berapa bab lagi. Author belum bisa memperkirakan. Pokoknya selesai konflik tentang Andini, no konflik lagi pokoknya. Tinggal love-love dan part bahagianya aja lagi sampai tamat.
__ADS_1
Like dan komentar jangan lupa bebeib!!!