Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Yang Terjadi Waktu Itu


__ADS_3

Yuri tiba-tiba terhenyak dengan pertanyaan Lucas. Memorinya spontan memutar flashback adegan itu. Adegan saat dimana Tengku Yahya Nirwan meregang ajal karena bantal yang ditutupkannnya ke wajah lelaki tua dan renta itu.


Sebelumnya Yuri mendapat perintah dari Lucas untuk segera datang ke rumah besar keluarga Nirwan. Bukan hal yang sulit baginya untuk masuk ke rumah itu. Yuri yang sedari kecil adalah anak angkat Lucas pastinya telah diajari pula oleh bapak angkatnya itu berbagai macam tekhnik menyelinap ke rumah target sasaran mana yang ingin mereka susupi.


Lucas bukanlah maling kelas teri. Dia adalah komplotan pencuri kelas kakap yang telah berpengalaman dalam hal membobol, mencuri, bahkan membajak kapal bahkan pesawat. Semua itu di pelajarinya saat dia bergabung dengan para penjahat kelas international itu dalam sebuah geng di Jerman. Anggotanya adalah orang-orang dari berbagai negara yang luntang-lantung dengan nasib tidak jelas di salah satu negara maju itu.


Kembali ke hari dimana Atok Yahya meninggal. Setelah berhasil masuk dengan memanjat tembok melalui belakang rumah keluarga Nirwan, Yuri pun segera bergegas menuju ke arah kamar Atok Yahya melalui samping rumah. Tepat di bawah jendela kamar Atok Yahya, dia bisa mendengar dengan jelas dua orang sedang berbicara.


"Bila di suatu mase ade yang bertanya di mane Montha Somnang, kau cakaplah sahaja, dia masih ade di dalam kapal," kata Atok Yahya.


Yuri mengernyitkan keningnya. Ini harusnya adalah info yang sangat diharap-harapkan oleh Lucas. Patung emas Montha Somnang.


"Kapal? Mon ...? Mon ape tadi, Atok?" tanya Hafiz lagi.


"Montha Somnang. Dia masih ade di dalam kapal," kata Atok Yahya mengulangi kata-katanya.


"Monta Som-nang? Apa itu? Kapal ape maksud, Atok?"


Di saat itu Yuri secara spontanitas berdiri karena mendengar info yang sangat ingin di dengarnya itu. Dan di saat yang sama Atok Yahya tak sengaja melihat ke arah jendela. Ada Yuri di sana.


Yuri terperanjat, dan spontan mengacungkan senjata api ke arah Hafiz, bukan ke arah Atok Yahya. Senjata api berupa pistol itu memang sengaja dibawanya untuk berjaga-jaga andai ia ketahuan dalam misinya. Sengaja Yuri mengarahkan pistolnya ke arah Hafiz untuk mengancam orang tua itu. Sebab percuma kalau dia menodongkan pistol itu pada Tengku Yahya, selain itu tidak akan mempan mengancam orang tua itu, Yuri tahu tindakan seperti itu malah akan membuat kekacauanm


"Jangan ganggu keluargaku," kata Atok Yahya.

__ADS_1


Sepertinya orang tua itu cukup paham situasinya saat itu. Dia tahu wanita yang sedang berada di luar kamarnya itu adalah orang suruhan dari Lucas, lelaki yang baru saja menemuinya di resepsi pernikahan cucunya itu dan membuatnya mengalami sesak napas ringan karena terkejut.


"Atok ..." tegur Hafiz.


Hafiz bingung apa yang sebenarnya terjadi pada sang Atok. Dia tidak tahu apa yang membuat orang tua itu histeris seperti itu. Namun selang beberapa saat Hafiz menghembuskan napas lega karena sang atok kembali tenang.


"Atok nak rehat. Keluarlah, Hafiz!" perintah Atok Yahya.


Sepertinya Tengku Yahya ingin memberikan waktu dan kesempatan untuk berbicara pada orang suruhan Lucas yang berada di samping jendela kamarnya.


Atok Yahya benar-benar membingungkan bagi Hafiz mungkin. Setelah banyak bicara bagaikan orang tua yang sedang meninggalkan wasiat, dia segera menyuruh cucu angkatnya pergi. Yuri terkekeh dalam hati. Orang rua itu benar-benar kooperatif.


"Baiklah, Atok. Hafiz talipon Mamah dan Papah dahulu," kata Hafiz seraya bangkit, berdiri dan keluar dari dalam kamar Atok.


"Tutup pintu juge," suruh Atok Yahya dengan suara lirih.


Sepeninggalan Hafiz, pria tua itu dengan susah payah mencoba bangun dan duduk di ranjangnya.


"Masuklah!" perintahnya geram.


Yuri yang berada di luar kamar dan mendengarkan pembicaraan antara Atok dan Hafiz, segera masuk setelah mencongkel jendela kamar Atok Yahya dengan mudah. Setelah berada di dalam, tanpa basa-basi wanita itu pun langsung menodongkan pisau kecilnya pada Atok Yahya. Dia tidak ingin menggunakan senjata apinya saat ini.


"Katakan padaku, dimana kalian menyimpan Montha somnang!!??" tanya Yuri masih mengacungkan pisau itu pada Atok Yahya.

__ADS_1


"Dia masih berade kat kapal," kata Tengku Yahya Nirwan dengan raut wajah datar.


Sungguh dia tidak takut pada pisau yang ditodongkan wanita ini padanya. Tetapi dia takut pada hal yang mungkin akan dilakukan pria itu pada anggota keluarganya yang lain, khususnya Ilham, Yola atau Ammar. Terlebih-lebih saat dia tahu Lucas langsung mengirim orangnya ke sini. Dan wanita di hadapannya ini bahkan memiliki senjata api yang tadi sempat diarahkannya pada Hafiz. Tidak! Bahkan seorang Hafiz yang hanya cucu angkat keluarga Nirwan, Tengku Yahya tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya.


Hafiz adalah cucunya juga. Anak itu begitu malang sedari dia lahir. Kekecewaannya saat mengetahui dirinya bukan darah daging keluarga Nirwan saja sangat membekas di hatinya selama bertahun-tahun lamanya. Dan belum lama ini mereka baru bersatu kembali. Anak itu baru saja bisa memaafkan semua takdir yang tidak adil padanya, dan memberi kesempatan lagi baginya untuk bahagia bersama keluarganya yang seharusnya, Keluarga Nirwan. Kehadirannya kembali juga adalah kebahagiaan bagi keluarga mereka dan Tengku Yahya tidak akan membiarkan Hafiz dilukai oleh mereka.


"Kau jangan berbohong, Orang Tua! Cepat katakan, aku tidak punya banyak waktu. Atau kamu tahu sendiri kalau aku membawa senjata api di sini. Lelaki tadi, Hafiz maksudku, apa perlu dia saja yang ku bunuh agar kau mau berkata jujur?!" ancam Yuri sambil menunjukkan gagang pistolnya yang dia selipkan di pinggang celananya.


Atok Yahya melirik gagang pistol itu.


"Saye dah cakap, dia ade dalam kapal," jawabnya lagi.


Gigi Yuri gemeretak gemas mendengar jawaban keras kepala dari Tengku Nirwan. Rasanya dia ingin memukul pria ini sekarang juga. Tetapi dia tak punya banyak waktu. Dia masih ada tugas penting yang lain.


Segera Yuri membuka tasnya dan mengambil selembar kertas dan bolpen dari sana.


"Tanda tangan di sini!" perintahnya sambil menunjukkan kolom kosong untuk tanda tangan di bagian paling bawah kertas itu.


"Ini ape?" tanya Tengku Yahya.


Matanya membelalak lebar saat melihat judul surat itu. Sijil Perjanjian Jual Beli Saham. Dia sempat membacanya sesaat dan menolak untuk membubuhkan tanda tangannya. Sikap Tengku Yahya Nirwan yang seperti itu malah membuat Yuri hilang kesabaran dan membekap wajah orang tua itu dengan bantal. Tengku Yahya Nirwan yang kondisinya sedang lemah, tak kuasa melawan hingga akhirnya setelah beberapa saat napasnya terhenti karena paru-parunya yang renta mulai kekurangan pasokan oksigen.


Yuri sempat terhenyak. Ini pertama kalinya dia membunuh orang! Tetapi dia tak memiliki banyak waktu. Dari dalam tas ranselnya dia mengeluarkan stamp pad dan menempelkan jempol orang tua itu di sana dan menempelkannya di kertas surat itu. Setelah dapat cap jempolnya, dengan menggunakan cairan pembersih tinta atau thinner, gadis itu menghilangkan jejak tinta di jempol Tengku Yahya Nirwan dan mengelapnya dengan tisu basah untuk sentuhan terakhir.

__ADS_1


****


Aduuuh segini dulu beib jangan lupa like dan koment ya...


__ADS_2