
"Kamu senang udah berhasil nyingkirin aku sekarang?"
Eva menatap sebal pada Yola yang dengan santai sedang bermain ponsel.
"Menyingkirkan apa sih, kak Eva? Aku loh hanya membantumu mendapatkan pekerjaan di N- one. Kalau kemudian mereka mengirimmu ke Alor Setar, kenapa itu bisa jadi salahku?" jawab Yola membela diri.
"Terus terang saja, itu kau dan Ilham yang mengaturnya, kan? Kalian takut aku mengawasi hubungan kalian dan melaporkannya pada papamu. Iya, kan?" serang Eva lagi.
"Up to you ... " balas Yola dengan malas.
"Kau kira Papamu akan membiarkanmu kembali dengan Ilham? Itu tidak akan terjadi sepupuku, Sayang. Kamu harus ingat, saat ini kamu adalah tunangannya Hafiz!" balas Eva dengan gelak tawa jahatnya.
"Aku tidak butuh kau mengomentari kehidupan pribadiku, Kakak sepupu! Kalau memang sudah tidak ada lagi sesuatu yang penting di sini, berangkatlah ke Alor Setar sekarang. Karena kalau kau tersandung kasus hukum di sini, Papa nggak akan bisa membantumu apalagi aku," kata Yola.
"Ck ... " decak Eva jengkel melihat sikap apatis dari Yola.
"Pastikan tak ada yang ketinggalan lagi di sini," kata Yola sembari mengantar Yola hingga ke pintu.
Setelah Eva pergi Yola pun kembali masuk ke dalam kamarnya. Hari ini weekend. Dan dia punya waktu seharian untuk me time.
Suara ponselnya berdering beberapa kali, Yola berusaha untuk tidak menghiraukannya. Telepon dari Papa. Yola sudah bisa menebak kalau Papa pasti sudah mendengar pengaduan dari Eva dan kini ingin memarahinya. Yola tak ingin merasa stress karena hal itu, oleh karena itu dia mengabaikannya
Tak punya kegiatan apa pun Yola hanya menghabiskan waktunya dengan menonton televisi, hingga bunyi bell berbunyi dan membuat dia harus meninggalkan tontonannya sementara waktu.
Yola berjalan ke pintu dan senyumnya mengembang saat melihat siapa yang berada di intercom. Segera Yola membuka pintu itu.
"Hai Moooom!!!"
Seruan Ammar yang memanggil dirinya dan langsung melompat ke pelukannnya pun segera disambut oleh Yola. Telah beberapa hari dia tak berjumpa dengan putranya itu.
"Ammar, be carefully! Kalau Mommy jatuh macam mana? Adik baby-nya Ammar akan ikut jatuh nanti," omel Ilham.
"Adik baby?" tanya Ammar bingung.
Yola tersenyum dan tak menghiraukan Ilham, dia malah menggendong Ammar ke sofa.
"Yola ... " tegur Ilham.
"Nggak apa- apa, Abang. Yola baik- baik aja," jawab Yola tak menghiraukan.
"Mom? Ape maksud Daddy, adik baby Ammar jatuh kalau Ammar peluk mommy?" tanya anak itu polos. "Dimana adik baby Ammar, Mom?"
"Hmmm ... " Yola bingung menjelaskannya.
"Adik baby kau ade di perut Mommy. Itu pun tak tau ... " ledek Ilham pada Ammar.
__ADS_1
Ilham menatap wajah Yola kemudian turun menatap perutnya. Perut itu terlihat rata dan kempes. Lalu dengan mata mendelik, dia berpaling pada Ilham.
""Daddy jangan berdusta dengan Ammar. Don't lie to me. Di sini tak adelah adik baby. Di mana? di mana?" tanyanya sambil matanya mencari ke sekeliling ruangan itu.
"Adelah. Kau sahaja yang tak tengok," jawab Ilham masih menggoda putranya itu.
Dia memang sengaja ingin membuat Ammar kesal. Karena sesungguhnya Ilham juga kesal karena sejak Yola hadir kembali di hidup mereka, rasanya bocah itu mulai mengabaikannya dan lebih menyayangi mommy-nya.
"Mana, Dad? Mana?" desaknya tak sabar.
"Ade. Kau sahaja yang tak tengok. Adik baby kau tu, lil bro, handsome sangat dia. Lebih handsome dari Ammar ..." kata Ilham dengan mimik menyebalkan.
"Dad!!! Daddy jahaaat!! Ammar tak nak berkawan dengan Daddy lagi," kata bocah itu merajuk.
"Biarlah! Daddy pulaa dah punya adik baby nak kawankan Daddy, dia baik, comel dan menurut ape kata Daddy ... "
Matanya Ammar mulai berkaca- kaca mendengar Ilham yang terus memprovokasinya.
"Aku tak nak berkawan dengan Daddy lagi. Mom .... coba tengok Daddy!" Ammar mulai mengadu Yola.
Yola menarik Ammar ke pelukannya dan mencubit lengan Ilham.
"Abang!! Usil banget sih ... Nggak boleh gitu tau sama anak sendiri!" omel Yola yang segera disambut oleh pekikan mengaduh kesakitan dan mengaduh oleh Ilham.
"Jangan usil makanya!" balas Yola.
Yola membelai rambut hitam legam milik Ammar dan membujuknya.
"Sayang, jangan dengarin apa kata Daddy. Ammar tetap yang ter-best, tercomel, dan budak ter-handsome Mommy dan Daddy," kata Yola.
Ammar mendongakkan kepalanya menatap Yola.
"Ammar tak nak punya adik. Ammar mesti tak lagi disayang. Mom, Ammar tak nak punya adik," rengek Ammar dan kemudian membenamkan kembali wajahnya ke pelukan Yola.
Dan mendengar itu Yola jadi mendelik jengkel pada Ilham.
"Ini gara- gara Abang... " bisik Yola lirih dan dibalas dengan siulan oleh Ilham seolah tak tahu apa yang terjadi.
"Ammar ... Ammar nggak boleh ngomong begitu. Punya adik itu menyenangkan, tau! Mommy aja pengen punya adek, mommy tak punya pun," bujuk Yola.
"Tak naaaak .... "
"Eh, tak boleh gitu, Sayang. Adik nanti sedih kalau Abang tak inginkan dia. Abang Ammar suka kan kalau tiap waktu ada yang menemani abang Ammar main?" pancing Yola.
Ammar terdiam, berpikir beberapa saat.
__ADS_1
"Abang?" tanyanya lugu. Terdengar atusias. Sepertinya dia suka dipanggil begitu.
Yola tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk membujuk Ammar.
"Iya. Abang. Abang Ammar. Dia akan panggil kau Abang Ammar. Abang! Abang!" kata Yola mencoba menirukan suara anak kecil yang memanggil abangnya.
Dan Ammar semakin antusias.
"Ammar suka dipanggil macam tu?" tanya Yola dengan pandangan menyelidik.
Ammar dengan ragu mengangguk.
"Kalau macam tu Ammar mestilah ada adik dulu. Ammar nak adik?" tanya Yola dengan logat Melayu.
Sebenarnya dalam hatinya dia merasa tergelitik menanyakan hal itu. Rasanya agak sedikit aneh menerima kenyataan kalau sebentar lagi akan jadi ibu dari dua orang anak.
Ammar akhirnya mengangguk.
"Ammar mahu, Mom. Tapi dimana adik Ammar? Tak de pun kat sini," tanyanya bingung.
Yola pun kemudian bingung namun tetap dia juga.
"Dia ada di perut Mommy," kata Yola sambil menunjuk perutnya sendiri.
"Macam mana dia boleh kat situ? Tak de pun Ammar tengok," kata bocah itu tak percaya.
"Hmm ... "
Tambah bingung Yola bagaimana cara menjelaskannya.
"Abang bantuin ...." pinta Yola pada Ilham yang kekeh mendengar satu demi satu pertanyaan bocah itu.
Ammar memang bocah yang responsif. Apa pun hal yang mengganjal dalam pikirannya pasti akan langsung dipertanyakannya.
"Kau tak boleh lihat adik kerana dia masih kecil sangat. Masih segini," kata Ilham sambil menujuk ujung kelingkingnya.
Di saat Ilham sedang sibuk menjelaskan setiap jawaban dari pertanyaan Ammar. Yola kembali melirik ponselnya yang dia silent itu. Terlihat layarnya menyala. Dan kini dia menghela napas mengambil ponsel itu. Dan dengan memberanikan diri, akhirnya dia menyentuh tombol pengunci layar ponsel dan mulai membaca pesan yang menumpuk banyak.
Yola menguatkan diri membuka salah satu dari hampir belasan pesan dari Abimanyu.
[Yola, kau benar-benar mau melawan Papa, hmm?
***
Like, koment dan beri rating 5 guys. Maaf update telat. Author beres- beres rumah dari pagi. Happy reading...
__ADS_1