Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Satu Kesempatan Untuk Membuktikan


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan dari klinik ke hotel, Yola lebih banyak berdiam diri. Dia menatap nanar ke luar jendela mobil dengan hati yang sangat berkecamuk. Saat ini Ilham tak berani mengganggunya melihat perubahan suasana hati Yola yang sangat drastis sejak mengetahui kalau dia sedang hamil.


Sesampainya di hotel, begitu keluar dari mobil Yola langsung keluar dan langsung menuju kamar hotel. Dia membuka sandalnya dengan kasar dan membanting tasnya di ranjang. Beberapa kali dia mengusap wajahnya.


"Yola ...." Ilham memanggilnya lembut.


Yola menepis tangan Ilham yang berusaha memeluk dirinya.


"Abang!! Aku belum mau hamil saat ini. Abang tau nggak? Ya Tuhan .... Bagaimana ini? Ini semua gara- gara Abang!!!" tudingnya dengan kesal.


Ilham kembali merengkuh wanita itu, meski Yola memberontak. Dia mencium puncak kepala Yola. Bagaimana pun inilah sebenarnya yang diinginkan Ilham. Bagaimana pun Yola menyalahkannya, dia tak akan pernah menyesal telah melakukannya.


"Semuanya akan baik- baik saja, Sayang. Jangan khawatir," kata Ilham.


Yola mendorong tubuh Ilham.


"Abang enak ngomong gitu karena bukan abang yang ngalamin!! Dulu aku hamil Ammar, semua orang menghujat aku abang! Karena aku hamil masih di bawah umur. Dan sekarang, ya Tuhan .... Kita bahkan tidak menikah secara resmi! Kita nggak punya dokumen pernikahan. Belum lagi nanti reaksi Mama dan Papa .... Ya Tuhan, bagaimana ini? Bagaimana nasib anak aku nanti??!! Huhuhuhu ...."


Dengan kesal Yola membanting tubuhnya dan duduk di ranjang. Dia menangis tersedu-sedu.


Ilham ikut duduk di samping Yola.


"Abang betul- betul menyesal pernah menelantarkan kau dan Ammar saat kau mengandung dia dulu. Kini itu takkan pernah terjadi lagi. Abang akan jaga engkau dan adik Ammar ni, mulai detik ni. Abang janji!" ucap Ilham sembari menyentuh perut Yola dengan tangannya.


"Abang bisa ngomong kayak begitu. Tapi bagaimana dengan status kita? Sonia? Abang bahkan belum bercerai dengannya secara resmi. Dan kita juga belum menikah secara resmi, Abang! Aku hanya pelakor di mata orang lain!!" jerit Yola menumpahkan semua kesedihan dan kekesalan yang bersarang di hatinya saat ini.


Ilham kembali meraih tubuh Yola dan memeluknya erat.

__ADS_1


"Abang akan selesaikan semua persoalan itu untuk Yola, Abang akan tepati janji abang," kata pria itu sembari mengelus punggung istrinya itu. "Yola tolong berikan Abang kepercayaan lagi, ya?"


Yola tak langsung menjawab. Dia masih menangis sesenggukan.


"Berikan abang satu kesempatan lagi untuk membuktikannya, hmm?" tanya Ilham sekali lagi.


Dan kini Yola mengangguk dalam pelukan hangat pria itu.


Karena emosi Yola sudah mulai mereda, Ilham pun melepaskan pelukannya.


"Kerana kau dah memaafkan dan memberikan kesempatan pada Abang, Abang juga mahu kau memberi maaf dan kesempatan untuk dirimu sendiri untuk bisa menjadi orang tua yang lebih baik. Dulu kau dan Abang tidak sempat memberikan mase dan kebersamaan terbaik saat Ammar masih dalam kandungan Yola. Tapi kali ini kite bersama, sayang. Kite akan bersama-sama membesarkan mereka, Ammar dan calon adiknya ini hingga mereka dewase nanti. Yola usah khawatir, hmm?"


"Tapi Abang ...."


"Tak de tapi- tapi. Kali ini kau mesti percaya dengan Abang. Abang pun mesti menepati janji pada Yola. Abang berjanji akan menjaga kau dan anak- anak kite yang comel- comel tu. Hmmm? Dengar Daddy tak, Mommy Ammar?"


"Sekali pun papa Abimanyu akan menentang Abang untuk bersama dengan Yola, kali ini Abang tak akan mengalah. Sejak papa menikahkan kau dengan Abang, sejak saat tu pula, kau adalah tanggung jawab Abang. Abang lebih berhak atas kau saat ini. Yola cuma perlu bersabar dan bertahan di sisi Abang. Yola paham tak? Abang tak sanggup lagi kehilangan kau, sayang ...." bujuk pria itu sambil menghapus air mata di pipi Yola.


Yola mengangguk tanda mengerti, meskipun hatinya masih saja resah. Di pelukan Ilham, diam- diam tangannya memegangi perutnya sendiri. Di sana telah tumbuh calon anak mereka. Entah itu Ilham junior atau Yola junior, Yola sendiri belum tahu.


****


"Yola mahu makan ape?" tanya Ilham pada bumil baru itu.


Ini hari ketiganya dengan Ilham di Penang. Dan mereka besok sudah harus pulang ke Kuala Lumpur.


Yola menggeleng. Sebelum tahu dia sedang hamil rasanya nafsu makannya memuncak, tapi setelah dia tahu, walaupun rasanya dia lapar tapi nafsu makannya seperti menguap begitu saja.

__ADS_1


"Kau tak boleh macam tu. Kau boleh marah dengan Abang, tapi jangan dengan dia," kata Ilham lembut sembari menyentuh perut Yola. "Die perlu makan makanan yang sihat."


"Ck ..." Yola berdecak sebal.


Tapi Ilham tau, itu tanda Yola menurut padanya.


"Kau berkemaslah, ganti pakaian. Kite pergi cari makan," kata Ilham.


Dengan malas Yola beranjak mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi.


Selagi Yola mandi, Ilham menerima panggilan dari Zubaedah.


"Hallo, Mah ...."


"Ilham, kau sedang bersama Yola??!!" tanya Zubaedah gusar.


Ilham tak menjawab. Dalam hatinya bertanya kenapa Mamanya bisa sampai tau.


"Ilham, jawab!!! Ini genting!!! Mamah dah tanya dengan Nadira. Dia kate kau memang pergi dengan Yolanda!"


Ilham menarik napas panjang.


"Iya. Ilham memang pergi dengan Yola ke Penang. Kami dah rujuk, Mah!"


"Kau buka email kau sekarang!" perintah Mamah Zubaedah.


***

__ADS_1


Hai reader, jangan bosan like, koment dan votenya ya... Kalau kalian rajin memenuhi novel ini dengan like, koment dan vote, aku kan juga jadi rajin ngeupdatenya...


__ADS_2