Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Kambing Hitam


__ADS_3

"Uhhhukk!!!Uhhuuukk!!!"


Melisa terbatuk-batuk karena asap tebal dan berusaha keluar dari pintu kamar Atok Yahya. Tadi saat dia hendak keluar dari kamar itu tiba-tiba saja dia mendengar Ilham menerobos masuk dan berteriak memanggil Atoknya.


Melisa tak punya pilihan lain selain bersembunyi sementara di bawah ranjang Atok Yahya meski pun asap tebal membuat matanya pedih dan napasnya terasa tercekik.


Dengan pertahanan diri yang mulai lemah gadis itu memilih jalan dari pintu samping untuk keluar. Dia takut kalau dari depan akan bertemu anggota keluarga ini dan memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang akan sulit dia jawab nanti.


Sekarang dia harus segera memberi tahu tentang surat itu pada Mr. Y. Di tangannya kini ada 2 buah amplop yang dia ambil secara sembarangan. Melisa ingin mengambil semuanya dan membacanya satu persatu tapi kemudian dia urung melakukannya. Dia takut terlanjur ketahuan sementara dia belum melakukan misinya. Dan kini dua buah amplop berisi surat itu, dia masukkan ke dalam kantong celananya.


"Astaghhhfirullah!!! Ade orang kat sini!!! Tolong!!! Dik, kau tak ape ke?" Seorang bapak-bapak yang ternyata adalah tetangga yang turut memadamkan api terkejut melihat Melisa yang berada di teras samping rumah dengan tubuh lemas.


"Tak ape, Pakcik! Tak ape. Saye dapat berjalan sendiri," tolaknya saat pria itu ingin membantunya.


"Mari saye bantu papahkan hingga depan. Tak ape, saye bukan orang jahat. Saya jiran kat sini," kata pria yang tampaknya berusia 40 tahunan itu.


Dan mau tak mau Melisa terpaksa menurut saat lelaki itu membantunya berjalan hingga ke depan.


"Kakak Zubaedah, ade pembantu rumah Kakak saye temukan di samping rumah," kata lelaki itu melaporkan pada Zubaedah penemuannya atas Melisa.


Zubaedah memeriksanya.


"Astaghfirullah, ini bukan pembantu rumahlah, Dik. Ini juru rawatnya Sonia," kata Zubaedah sesaat setelah dia berhasil mengenali Melisa.


"Oh macam tu? Saye tak tahu pun, Kak. Saya tak sengaja tengok dia sedang terduduk lemas kat samping. Lalu saye pun tolonglah," kata orang itu.


Zubaedah mengangguk-angguk.

__ADS_1


"Terima kasihlah, kalau macam tu, Dik!" ucap Zubaedah. "Melisa kau kau tak ape ke?"


Zubaedah mengalihkan perhatiannya pada Melisa yang segera dijawab oleh gadia itu dengan anggukan.


"Kalau macam tu saye permisi pula. Api dah pun mati. Dan kalau kakak sekeluarga nak bermalam di rumah saye hingga besok, jomlah ikut saye kat rumah. Di rumah ni masih banyak sangat asaplah, takkan boleh dapat diduduki (ditempati) malam ni," kata pria yang menjadi jirannya Atok Yahya itu.


Zubaedah menimbang-nimbang sejenak.


"Tetapi ade banyak sangat pembantu rumah kat sini, takkan bolehlah rumah Dik Amir menampung kami semua," kata Zubaedah pada tetangganya yang ternyata bernama Amir itu.


"Haisss, meski rumah saye taklah sebesar rumah keluarga Nirwan, tapi kalau hanya nak tampung 15-20 orang je untuk bermalam, masih dapat kite nak aturkan tempat tidur bersama di bilik tamu tu," kata Amir meyakinkan.


Setelah berpikir-pikir sejenak akhirnya Zubaesah pun menjawab," Baiklah, kalau tak membuat susah Dik Amir dan Keluarga. Kalau berkenan, kami meminta ijin untuk bermalam hingga esok sahaja rumah selesai dibersihkan."


"Tak payah merase segan dengan saye. Macam dengan siape je. Kite dah lama sangat berjiran, untuk ape merasa tak enak hati?" kata Amir.


"Sama-sama."


Zubaedah pun akhirnya setuju pada penawaran sang jiran untuk mereka mengungsi sementara di rumah tetangga itu.


Lagi pula hanya untuk semalam saja.


Dan akhirnya di sinilah mereka beramai-ramai malam ini. Di rumah tetangga yang berjarak tiga rumah dari rumah keluarga Nirwan itu.


Setelah semua asisten rumah tangga keluarga Nirwan itu berkumpul, Zubaedah pun mulai bertanya apa yang terjadi hingga sampai terjadi kebakaran seperti itu. Dari keterangan yang didapatnya dari orang yang ikut membantu memadamkan api, api itu nampaknya berasal dari tabung gas yang meledak.


"Sekarang tolong jawab saye dengan sejujur-jujurnya! Siape di antara kalian yang menyalakan api dan tinggalkannya begitu saja hingga membuat ledakan besar kat dapur macam tu? Untung sahaja tak ade yang cilaka. Tetapi akibatnya Ayah mertua saye Tengku Yahya Nirwan terpaksa mesti di bawa kat hospital kerana terkejut dengan ledakan tu. Saye boleh memaklumi dan memaafkan jika kalian jujur dan mengaku lupa matikan tungku (kompor) daripade pura-pura tak tahu," tanya Zubaedah tegas.

__ADS_1


Semua para asisten rumah tangga itu terdiam tak bisa bicara.


"Tak ade yang mengaku?" tanya Zubaedah lagi. "Atau saye nak bawa perkara ni ke polis terlebih dahulu ke barulah korang semua mahu berterus terang?" tanya Zubaedah lagi.


"Maaf, Puan. Saye tak tahu ape keterangan yang saya buat ni boleh membantu. Saye tak ade alasan apa pun untuk menjatuhkan orang lain melakukan ni, tetapi saye sempat tengok kakak yang itu ...." Melisa menunjuk ke salah seorang asisten rumah tangga yang sempat dilihatnya membawa termos air panas keluar dari dapur sebelum Melisa melancarkan aksinya.


"Kakak tu saya tengok keluar dari dapur membawa tempat air panas, ketike saye nak ke tandas. Habis tu saye baliklah ke kamar dan tak lama terdengar suara ledakan macam bom," kata Melisa mengarang cerita.


Sesungguhnya Melisa ingin mencari kambing hitam agar tak ada yang mencurigai dia sebagai pelaku yang sebenarnya pembakaran dapur itu.


"Murni?? Betul ke itu?" tanya Zubaedah pada pelayannya yang bernama Murni itu.


Murni spontan pucat dan menggeleng-gelemg ketakutan. Sedari tadi saat ada ledakan dia sendiri khawatir ada yang menuduhnya karena tak lama berselang sejak dia keluar dari dapur itu, suara ledakan itu langsung terdengar dan membakar hampir seluruh dapur itu.


"Pu- puan. Itu bukan saye. Saye memang ke dapur tadi, memasak air panas untuk dibawa ke kamar. Sebab saye tak dapat minum air dingin. Saye selalu minum air hangat. Saye selalu siapkan air panas dalam termos setiap malam. Tapi saye tak pernah lupakan tungku. Sungguh Puan .... Tadi malam pun saye dah pastikan tungku tu dah mati. Saye pun telah agak lama di bilik barulah terdengar suara ledakan tu," katanya membela diri.


Murni hampir menangis karena dituduh menjadi penyebab kebakaran.


"Tolong percaye pada saye, Puaaan," ratapnya dengan tangis. "Tolong jangan adukan saye ke polis. Siape nak carikan untuk ibu saye yang sudah tua bile saye masuk ke dalam bui? Huuuuu ...."


Zubaedah menjadi terenyuh mendengarnya. Dia mengenal Murni dan keluarganya. Gadis itu adalah tetangga keluargo Atok Yahya yang berada di Penang. Bekerja selama 3 tahun dengan keluarga Nirwan, Zubaedah tahu gadis berusia 27 tahun itu selalu bekeerja dengan rapi dan teliti. Tapi .... kalau bukan dia, siapa?


Lalu Zubaedah pun memandang Melisa dengan kening mengkerut membuat Melisa jadi gugup dan menundukkan pandangannya.


***


Next? Like dan komentarrnya dulu beib ...

__ADS_1


__ADS_2