
"Maaf, Puan! Kami dah tak punye kamar kosong lagi," kata resepsionis hotel saat Yola ingin memesan satu kamar lagi.
Resepsionis itu beralasan bahwa ada rombongan tamu yang datang beramai- ramai ke hotel mereka dan menginap di sana. Namun yang sebenarnya terjadi adalah Ilham yang menelepon pihak resepsionis untuk tidak membukakan kamar mana pun untuk istrinya.
Kau percaya itu? Hotel apa sampai kehabisan kamar seperti ini? gerutu Yola dalam hati.
Yola sempat memikirkan akan mencari hotel lain untuk menginap. Namun karena dia baru pertama kali datang ke tempat ini, ia tak berani melakukannya. Tapi egonya yang tinggi membuat dia juga tidak mau kembali ke kamar.
Yola bertahan untuk menunggu pagi di lobby hotel. Sumpah, Yola sangat kesal dengan Ilham. Dia berjanji begitu pagi menjelang, sesegera mungkin dia akan ke bandara untuk pulang ke Kuala Lumpur. Dan bulan madu ini? Persetan dengan honeymoon. Buktinya Ilham duluan yang mencari ribut dan memulai pertengkaran dengannya.
Lelaki memang begitu, selalu bersikap sok manis di awal. Namun begitu dia mendapatkannya, sifat aslinya mulai terlihat. Ini sama dengan Ilham. Dari awal dia sudah tahu soal ciuman Yola dan Hafiz, bahkan dia sampai mengucapkan talak pada Yola. Kalau begitu kenapa harus mengejarnya lagi? Merayu Yola untuk rujuk kembali padanya, dan setelah dia mendapatkan apa yang dia inginkan mengungkit lagi kesalahan Yola dan Hafiz. Yola tak habis pikir dengan semua itu.
Pusing memikirkan semua itu, Yola pada akhirnya memilih duduk saja di sofa. Biar saja dia menunggu di lobby ini sampai pagi. Tapi jangan harap dia kembali ke kamar dan membuat Ilham merasa menang akan dirinya. Tak semudah itu ferguso ...
Entah sudah berapa lama Yola duduk di sofa lobby. Dia sudah mulai lelah dan mengantuk setelah beberapa saat yang lalu dia hanya bisa mengotak- atik ponselnya setelah mengakhiri panggilan teleponnya dengan Mama. Kantuk pun sudah tak bisa ditahannya lagi. Ya sudah deh, tidur di sini aja, pikirnya. Dengan posisi duduk Yola memejamkan matanya.
Entah sudah beberapa lama Yola tertidur, tapi yang pasti Yola bisa merasakan saat seseorang mengangkat tubuhnya. Siapa lagi yang akan sudi menggendongnya seperti ini kalau bukan Ilham? Ilham ditelepon oleh pihak resepsionis untuk memberi tahu bahwa istrinya tertidur di lobby.
Perlahan Yola membuka sedikit matanya untuk melihat reaksi lelaki itu saat menggendongnya. Seperti tidak ada rasa penyesalan sama sekali. Menyebalkan, umpat Yola dalam hati.
Tapi dia tak punya pilihan lain. Tidur di lobby dalam posisi duduk sangat membuat tidak nyaman sekali, membuat punggung dan pinggangnya terasa pegal- pegal. Jadi biarkan saja Ilham memindahkannya ke kamar. Dia akan tetap pura- pura tidur seolah tidak tahu kalau dia dipindahkan. Jadi dengan begitu besok dia tidak akan kehilangan muka di hadapan suaminya itu. Ya, ya, ya ... Sebaiknya memang begitu.
Ilham sendiri sebenarnya tahu kalau Yola sudah terbangun. Namun dia memilih untuk pura- pura tidak tahu sehingga mereka tidak akan bertengkar lagi. Dari sudut bibirnya tersungging sedikit senyum melihat Yola tak menolak digendong olehnya.
Ilham membuka pintu kamar hotel dengan susah payah karena kedua tangannya sedang menggendong Yola. Lalu setelah berhasil pria itu pun lalu meletakkan tubuh istrinya itu di ranjang.
Yola masih saja berpura- pura tidur saat dia merasa tangan Ilham membuka kancing bajunya. Tangannya sigap menghentikan tangan Ilham. Yola membuka matanya. Pandangan matanya bertemu dengan mata Ilham.
"Abang hanya ingin mengganti baju Yola dengan baju tidur," kata Ilham sembari menunjukkan gaun tidur tipis yang baru dia ambil dari koper.
Yola segera bangkit dan duduk. Sedikit kasar dia meraih baju tidur itu dari tangan Ilham.
__ADS_1
"Yola bisa ganti baju sendiri," katanya ketus seraya berdiri dan masuk ke kamar mandi.
Yola mengganti bajunya di sana dan kembali ke ranjang. Yola membaringkan tubuhnya dan mengambil posisi tidur menyamping membelakangi Ilham.
Ilham mendesah frustasi. Yola masih marah padanya. Tentu saja. Ilham kini merasa sedikit bodoh. Kata- katanya tadi memang agak keterlaluan. Karena kecemburuannya dia sampai menuduh istrinya telah melakukan asusila dengan adiknya Hafiz, tentu saja semua orang pasti akan marah kalau dituduh begitu.
Ilham mematikan lampu dan menggantinya dengan menyalakan lampu tidur di atas nakas. Beberapa menit berlalu mereka dalam diam tak saling bicara satu sama lain padahal keduanya belum tidur. Hingga akhirnya Ilham tak tahan dan memeluk Yolanda dari belakang.
"Maafkan Abang, Sayang ... Abang hanya terlalu cemburu pade Hafiz. Abang takut Yola akan merasa sulit lepas dari die. Abang takut kehilangan Yola lagi," kata pria itu.
Yola masih diam saat Ilham mengecup puncak kepalanya dan menghirup wangi aroma rambutnya dalam- dalam.
Ilham tahu Yola belum tidur. Dia lalu membalik tubuh gadis itu agar menghadap ke arahnya. Di keremangan cahaya lampu tidur, mereka saling bertatapan. Yola ingin membelakangi Ilham kembali tapi pria itu tidak memperbolehkannya.
"Yola mau tidur," kata wanita itu.
"Kamu maafkan Abang dahulu," kata Ilham tegas.
"Diihhh, minta dimaafkan kok maksa," ledek Yola.
"Siapa juga yang ngajak bertengkar tadi," sindir Yola.
"Iya, Abang tahu, Abang salah. Maafkan Abang, ya ..."
"Maafin nggak, ya ...." kata Yola pura- pura berpikir keras.
"Mestilah ... "
"Oke, aku maafkan tapi ada syaratnya," kata Yola.
"Syarat?" tanya Ilham sambil mengernyitkan dahinya. "Ape?"
__ADS_1
"Abang harus melakukan sesuatu hal yang romantis untukku besok," kata Yola.
"Romantis macam mana?" tanya Ilham bingung.
Ilham memang bukan pria yang bisa bersikap romantis. Dia pria realistis. Bahkan tak bisa dipungkiri dia bahkan belum pernah melakukan hal yang mengesankan di mata wanita.
"Ya pokoknya romantis. Aku nggak mau tau. Pokoknya itu harus membuatku tersenyum terkesan dan merasa 'waaaah ... Abang Ilham memang mencintaiku'. Tapi kalau Abang nggak mau ya sudah. Toh masih ada Hafiz yang selalu bisa bersikap romantis padaku. Kalau aku ingat dia melamarku di Royale hotel waktu itu. Aku jadi merasa meleleh. Dia memang pria idaman," kata Yola pura- pura membayangkan Hafiz.
Ilham kembali lagi merasa terprovokasi oleh kata- kata Yola. Merasa panas di hatinya saat Yola terang-terangan memuji Hafiz di depan dirinya. Meski bagaimana Hafiz tetaplah pria lain saingan cintanya.
"Baik! Abang akan buat kejutan romantis untuk Yola esok," janji pria itu.
"Yakin bisa?" kata Yola seakan meremehkan. "Aku kok nggak yakin King Devil ini bisa romantis, ya ..."
"Queen Devil bolehlah tengok besok sahaja," kata Ilham.
Yola mengangguk- angguk.
"Oke, kalau gitu kita tidur sekarang. Dan lagi besok aku harus meninjau lokasi pembangunan mini market N-one. Aku mau istirahat dulu," kata Yola sembari menarik selimut dan kembali membelakangi Ilham.
Tapi belum Yola memejamkan matanya tangan Ilham sudah mulai menyusup ke dalam selimutnya.
"Yola ..."
"Apaan siiih ...."
Yola menepis tangan Ilham yang mulai ke mana- mana.
"Abang boleh tunjukkan keromantisan Abang dari sekarang," kata Ilham sambil tangan nakalnya mulai mengelus- elus leher mulus Yola.
"Nggak boleh, ya! Abaaang aaaa ...., diam coba tangannya, Yola mau tidur ..."
__ADS_1
***
Like dan komentar yang banyak guys, biar author rajin updatenya. InsyaAllah nanti author update satu bab lagi ...