
Ilham sedang bosan, lebih tepatnya kesal. Telah beberapa hari Hafiz berangkat ke Kamboja. Dia sedang menantikan perkembangan terbaru dari informasi yang sedang diselidiki Hafiz. Kemarin siang orang yang dsuruhnya mengawasi sekaligus menjaga Hafiz di Kamboja, mengabarkan kalau pria itu nampak sedang jalan berdua dengan gadis licik itu di Pnom Penh. Dan menariknya sekaligus bagian buruknya, keduanya jalan berdua bak pasangan kekasih. Mereka pergi ke tempat hiburan, bukan ke perusahaan milik Lucas. Itu membuat Ilham semakin jengkel sekaligus bete.
Beberapa kali dia ingin menanyakan hal itu pada Hafiz di telepon tapi pria itu nampak terlihat menolak. Bahkan mematikan panggilan telepon terburu-buru. Apakah itu artinya Hafiz sedang menjalin hubungan dengan Yuri di belakangnya? Oh, no! Jangan sampai Hafiz masuk dalam perangkap Yuri dan Lucas.
Merasa tidak enak memikirkan hal itu, Ilham kmbali menghubungi Hafiz. Tak ada jawaban. Hingga 4 kali dial, lelaki itu baru mengangkatnya.
"Ndut!! Kenape kau baru angkat?"
"Aku tadi baru saja ke tandas," kata Hafiz dengan nada hati-hati, membuat Ilham jadi berpikir mungkinkah saat ini ada orang lain di dekatnya? Mungkinkah itu Yuri?
"Hafiz, kapan kau balik kat sini?" tanya Ilham tak sabar.
"Mungkin dalam sepekan," jawab Hafiz.
"Hah? Lamanya? Abang sangka korang kat sana hanya 5 hari je?" tanya Ilham bingung.
"Abang, nanti lagi aku talipon, hmm?"
"Hey, Hafiz!!!"
Panggilan telepon itu pun akhirnya mati, dan tak butuh banyak waktu bagi Ilham berpikir untuk menghubungi orang suruhannya. Hafiz memang tidak tahu kalau Ilham menyuruh orang lain untuk mngawasinya.
"Kau ade kat mana? Kau tak lengah awasi dia, kan?" tanya Ilham tanpa basa-basi. Jelas saja, orang itu sengaja dibayar untuk mengawasi Hafiz. Jika dia tidak bekerja untuk apa?
__ADS_1
"Jangan khawatir, Tuan. Saye ade tak jaub dari dia. Mase ni dia sedang bersama Yuri," lapor mata-mata Ilham itu.
"Hah? Yuri lagi?" tanya Ilham jengkel.
"He em."
"Mereka buat ape?" tanya Ilham penasaran.
"Hanya bercakap kat kedai ais krim," lapor orang itu.
Emosi Ilham nampaknya sudah sampai di ubun-ubun. Dia tak menyangka kalau Hafiz akan terjebak dengan wanita itu. Sungguh dia ingin melompat pakai "pintu kemana sajanya" doraemon saat ini andai bisa, dan langsung menimpuk kepala pria itu dengan keras untuk menyadarkannya.
"Awasi lagi mereka," titah Ilham tak punya solusi lain.
Kesal tak bisa mnghubungi sang adik, pria itu kini menghempaskan tubuhnya di kasur. Rumah sedang sepi. Sepi karena Yola dan kedua mamanya, yakni mama kandung dan mama mertua serta Ammar pergi berjalan-jalan sekedar untuk shoping ke mall.
Hari ini pegawai office di N-one libur semua. Kecuali supermarketnya tentu, yang tak ada liburnya meski tanggal merah sekali pun. Ilham semakin bete dan kesal dengan semua apa yang tejadi belakangan ini. Tadi sebenarnya Yola mengajaknya untuk ikut, tetapi membayangkan akan ikut dengan ketiga emak-emak untuk shoping ke mall, membuatnya urung. Hanya dengan membawa salah satu antara Yola dan Mamah Zubaedah saja terkadang Ilham sampai kewalahan mengekori emak-emak yang maha benar dan maha lambat. Apalagi kalau dia mengangkut ke tiganya dalam satu waktu secara bersamaan.
Tak memiliki sesuatu untuk dikerjakan pria kepala tiga itu pun baru teringat sesuatu. Surat yang ditemukan dalam tas Melisa. Kesibukan di N-one membuatnya sampai terlupa akan keberadaan surat-surat itu. Tak menunggu lama, Ilham pun segera mencari dimana dia meletakkan tas itu dan dia baru ingat tas itu masih berada di rumah Atok Yahya yang lain, yang mereka tempati untuk mengungsi saat rumah utama keluarga Nirwan sedang dipasang line police.
Setelah menyambar jaket dan kunci mobil di atas nakas, Ilham pun segera berkemas ke rumah itu. Hanya butuh perjalanan 15 menit, begitu sampai dia pun langsung masuk ke dalam kamar dan akhirnya bisa bernapas lega saat tas itu masih ada di sana, di tempat terakhir kali dia menyembunyikannya.
Tak sabar Ilham segera membuka tas itu dan mengeluarkan semua amplop dan kertas dari laci dalam tas itu. Satu persatu dari surat itu ia baca dan hal yang dia tangkap dari beberapa lembaran surat Salim Gunawan, kakeknya Yola pada atoknya Yahya Nirwan, bahwa keduanya sepertinya terlibat masalah di masa lalu. Entah dengan siapa, karena di dalam surat itu Salim Gunawan selalu menyebutkan "dia", tanpa menyebutkan nama orang yang dia maksud.
__ADS_1
Ilham mengernyitkan dahinya saat tiba di sepenggal sebuah surat, Salim Gunawan menyebutkan tentang patung emas.
Yahya, kalau kau setuju kita jual saja patung itu. Itu patung emas, dengan itu kita bisa mendapatkan banyak uang dan membangun usaha masing-masing dari uang hasil penjualan patung itu.
Kini teringat lagi di benaknya, saat Lucas datang ke majlis perkawinannya dan menuding atoknya mencuri sesuatu dari Lucas. Bahkan dalam rapat pun Lucas sempat mengklaim kalau N-one adalah sesuatu yang harganya sebanding dengan apa yang Atok Yahya curi darinya. Astaga! Apakah patung emas ini yang Lucas maksud?
Ilham masih tak mengerti, namun dia tetap bersabar membaca lembaran surat yang lain. Dalam hati Ilham bertanya-tanya apakah Melisa sampai tega membunuh Atoknya karena patung emas itu?
Deg!!
Tiba-tiba jantung Ilham seakan dipukul keras saat dia menyadari sesuatu. Melisa berkata musuh terbesar Ilham adalah Mr. Y, itu artinya dia tahu keberadaan Mr. Y dan bukan tidak mungkin kalau dari awal dia memang sudah mengincar atok, bukan hartanya Atok. Tetapi mengingat dia baru tahu soal patung emas ini, mungkin dia bermaksud mencari tahu sendiri apakah patung emas itu masih ada dan memilih mencoba berkhianat pada Mr.Y?
Tunggu, tunggu, tunggu ... otak Ilham baru menyadari sesuatu. Jika pemilik patung itu benar adalah Lucas, dan dia tidak terima barang berharganya diambil, bukankah itu berarti Mr. Y dan Lucas adalah orang yang sama?
Sampai disini Ilham masih mencoba ingin memahami situasi ini dengan pemikiran yang jernih bukan sebatas emosi dan ketergesa-gesaan. Jika Mr. Y dan Lucas adalah orang yang sama, bukankah artinya dia yang menculik Andini dan memporak-porandakan hidupnya bahkan keluarganya sejak bertahun-tahun lalu?
Kini Ilham baru menyadari, saat rapat, pria tua itu ketika memaparkan posisi Hafiz di keluarga Nirwan, hingga semua tentang usaha Hafiz dia tahu, bahkan dia memiliki pendukung di N-one Grocery yang sudah bekerja tahunan di syarikat milik atoknya. Bukankah itu menandakan kalau Mr. Lucas alias Mr.Y ini telah merencanakan semuanya dari awal? Biadap!
Tapi itu masih hanya sebatas pemikirannya saja, lalu bagaimana cara membuktikannya?
Ilham termenung dalam pikirannya. Dia tak boleh membiarkan ini semakin lama berlarut-larut. Jika lelaki itu bisa merencanakan semua ini dengan apik kenapa dia tidak?
***
__ADS_1
othor pengen bikin bab tamat kilat kayak novel othor dulu cinta di lauhul mahfud. Ada versi normal dan tamat instan, gimana menurut kalian beib... jangan lupa like koment ya ....