
"Ini, bicaralah dengan mama!" Ilham menyerahkan ponselnya pada Yola.
"Nggak ah, malas!" tolak Yola.
"Yola, Mama Ratih dan Papa Abi nak bicara dengan Yola," bujuk Ilham.
Yola yang baru saja mengenakan gaun tidurnya menarik selimut hingga ke kepala, mengacuhkan Ilham yang masih menyodorkan alat komunikasi berbentuk pipih itu.
"Yola!" Ilham memaksa menarik selimut yang membungkus istrinya itu dan membuangnya jauh-jauh.
"Abang!" pekik Yola tak terima. Dia mencoba merangkak ingin meraih selimut yang kini berada di lantai di sisi sebelah berlawanan tempat tidur itum
Ilham yang tak mau menyerah menarik kaki Yola untuk mencegahnya kemana-mana.
"Abang, lepasiiiin ..."
"Kau bicara dengan mama Ratih dahulu," kata Ilham tak mau mengalah.
"Nggak mau ...."
"Yola, tak boleh macam tu dengan orang tua lah," nasehat Ilham.
"Orang tua juga nggak boleh harusnya membohongi anaknya bertahun-tahun. Udah deh! Abang nggak usah ikut-ikutan. Ini antara aku, mama, sama papa aja," kata Yola kesal.
"Eh, mana boleh macam tu ..."
"Bolehlah! Aku anaknya, beda sama abang!" jawab Yola ketus.
"E eh, abang pun menantunya, macam mana?"
"Cuma menantu doank, nggak akan ngerti mah ..." balas Yola.
Perdebatan kedua pasutri itu terdengar oleh Ratih dan Abimanyu. Ya, Yola masih marah pada mereka perkara masalah Eva. Sudah beberapa bulan Yola masih tak berniat beramah tamah pada sang papa dan sang mama.
"Ilham ..." panggil Ratih di telepon.
Ilham yang mendengar panggilan sang mama mertua di telepon, kembali melekatkan ponsel itu ke telinganya, sementara tangannya masih mencengkram pergelangan kaki Yola agar tak kabur kemana-mana.
"Ya, Mama?" sahut Ilham.
"Gimana? Yola masih nggak mau ya, ngomong sama Mama dan Papa?" tanya Ratih.
"Abang, lepasiiiin ..." Terdengar suara rengekan Yola lagi.
"Hmm, tunggu sekejap, Mamah ..." Kali ini Ilham berinisiatif menggelitik telapak kaki Yola.
Wanita itu menggeliat-geliat kegelian.
"Abang apaan .... hahaha ... berhenti nggak, itu geli tau. Lepasin .... abang!!" jerit Yola lagi sambil tertawa-tawa tak henti.
"Kau mesti bercakap dengan Mama dahulu baru abang lepas," kata Ilham, masih tak mau menghentikan aksinya menggelitik telapak kaki Yola.
"Isss ..."
"Mahu tak? Kalau tak abang tak lepas ..."
Abimanyu yang mendengar semua kemesraan anak dan menantunya itu hanya bisa berdehem, sementara Ratih tertawa geli melihatnya. Ilham dan Yola mengingatkannya pada masa mereka berdua masih muda dulu. Tetapi tentu mereka tidak sama dengan anak menantunya beda generasi itu. Abimanyu jelas tidak seperhatian Ilham pada Yola. Namun meski Abimanyu adalah seorang pribadi yang agak kaku, di saat-saat tertentu dia bisa sangat romantis pada Ratih.
"Ilham, Yola ...." panggil Mama Ratih.
Keduanya masih tak fokus pada panggilan Ratih. Ilham masih sibuk menggelitiki Yola, sementara Yola tertawa-tawa terkekeh.
Astaga, anak-anak ini! Haiss, mereka itu apa nggak ingat kalau telepon ini masih tersambung. Ckckck... sebenarnya apa yang sedang mereka lakukan sih? Mama Ratih mulai negatif thinking nih.
"Yola! Ilham!" panggil Mama Ratih lebih keras.
"I-iya, Mah sekejap. Tunggu sekejap!" sahut Ilham tetapi masih tetap tak menghentikan aksinya menggelitiki Yola.
Ratih akhirnya pasrah dan menghela napas. Padahal ada yang ingin dikatakannya pada Yola dan Ilham. Hingga akhirnya,
A few minute laters ...
"I-iya, ampun! Ampun ... ampuni mommy, Dad!"
Akhirnya Yola menyerah. Tak tahan digelitiki oleh Ilham. Bukan hanya telapak kakinya lagi yang digelitiki oleh pria itu, melainkan Ilham mulai mencuri-curi kesempatan menyentuh tipis-tipis area pribadinya yang selalu menjadi favorit lelaki itu.
__ADS_1
"Udah, udah Abang!" Yola memohon. Napasnya terengah-engah sekarang. Pelipisnya bahkan sampai berkeringat.
Alangkah gila apa yang dilakukan Ilham saat ini padanya padahal panggilan telepon dari Jakarta itu masih terhubung. Meski hanya panggilan telepon, tetapi Mama dan Papanya bisa mendengar semua itu, kan?
Dan untungnya hanya mendengar. Kalau bisa melihat ya Tuhan, alangkah tak sopannya.
"Baru macam tu dah menyerah?" tantang Ilham.
"Siniin teleponnya," pinta Yola sebal.
Ilham tertawa kecil dan bangkit dari atas tubuh istrinya itu. Setelahnya dia membantu Yola untuk duduk.
"Nih, kau bicaralah dengan Mama. Tak payah marah-marah. Awas sahaja kalau abang dengar Yola marah pada mertua abang!" ancam pria itu.
"Huuu ... Itu mamaku tau!" cibir Yola.
Ratih yang mendengar celotehan putrinya dengan sang menantu hanya bisa senyum-senyum mengetahui betapa manisnya tingkah kedua pasutri itu.
"Mertua abang!" Ilham balas mencibir dan segera ke kamar mandi untuk buang air kecil. Rasanya dia merasa ada yang ON di tubuhnya akibat terlalu berlebihan memberi pelajaran pada istrinya si tukang merajuk itu.
Yola mengatur napasnya sesaat sebelum dia mulai melekatkan ponsel itu di telinganya.
"Hallo, Mama ..." sapanya.
"Udah mesra-mesraannya?" sindir Mama Ratih.
Yola sedikit tersipu mendengar sindiran sang Mama yang lebih mirip godaan itu.
"Mesra-mesraan apanya? Orang abang gelitikin kaki Yola. Kalau nggak malas deh ..." Yola tak melanjutkan kata-katanya lagi.
"Malas apa? Malas ngomong sama Mama? Sama Papa juga?" tebak Ratih.
Yola memanyunkan bibirnya, memilih untuk tidak menjawab.
"Yola, sampai kapan sih kamu diamin mama sama papa kayak gini? Mama sama Papa kan udah minta maaf, Sayang. Udahan donk marahnya. Soal Eva, biarin aja dia ah, nggak ngaruh juga. Pokoknya hanya kamu Yolanda yang ada di keluarga Gunawan. Apa itu belum cukup?" tukas Ratih pada putri semata wayangnya itu.
Yola menghela napas dalam.
"Yola marah bukan karena itu, Mama! Yola sebal sama Mama dan Papa karena ngerahasiain ini dari Yola. Harusnya Mama sama Papa cerita aja, sebelum Yola tahu dengan cara begini. Nggak enak tau Yola sama Eva. Sejak Yola kecil hingga kita dewasa, Yola sudah bermusuhan dengan dia. Padahal kalau Yola pikir-pikir lagi sekarang, kasihan Eva donk, Ma! Selain dia nggak diakui secara resmi oleh Papa, nama dia juga Yola ambil, padahal dia duluan yang punya nama. Sekarang aku harus gimana donk, ngadepin di? Aku nggak mungkin ganti namaku kan, Ma? Atau mau diganti aja jadi Markonah? Atau Siti Ropeah?" kata Yola dengan tawa sedikit miris.
"Habis gimana donk? Akunya merasa nggak enak sebenarnya sama Eva, dia juga anak Papa. Tapi terlepas mama setuju atau nggak dengan pendapat Yola, selama ini dia pasti merasa sudah diperlakukan nggak adil," keluh Yola.
Ilham yang baru keluar dari dalam kamar mandi mengerutkan keningnya mendengar Yola. Saat hamil begini entah mengapa Ilham merasa kalau tingkat kebaikan hati istrinya ini berkali-kali lipat dari biasanya. Misalnya pada Sonia, dan sekarang pada Eva? Ckckck ... Ilham nggak habis pikir.
"Habis kamu maunya gimana? Kamu mau ngakuin dia jadi kakak kamu?" cibir mama Ratih. "Kalau Mama sih ogah."
Yola berpikir-pikir sejenak. Sebuah ide terlintas di benaknya.
"Ya, nggak ada salahnya juga sih," kata Yola mengejutkan Ratih.
"Hey, apa maksudmu, Yola? Jangan bilang kamu benar-benar mau saudaraan sama dia ya? Mama nggak setuju pokoknya. Ogah banget Mamah," kata Ratih kesal.
"Ihh, mamah apaan? Kalau mamah ogah sama Eva mah terserah Mamah. Nggak ada yang maksa kan Mamah harus anggap dia seperti anak sendiri.Tetapi biar bagaimana pun, Eva itu anak kandungnya Papa, kan? Berarti kakaknya Yola donk?"
Ratih menjadi gemas sendiri pada sikap putrinya itu.
"Ilhaaam!! Ilham, kamu dimana?" panggilnya.
Ilham segera mendekat dan duduk di sisi Yola.
"Kenape, Mah?" tanya Ilham.
"Kamu kasih makan apa istri kamu sampai pikirannya rada-rada oleng kayak gitu? Sebal mamah sama dia! Dia bilang mau jadikan Eva sebagai kakaknya, kan nggak beres otak nih anak?"
Ilham melirik Yola.
"Kenapa abang lihat aku begitu? Kan nggak apa-apa donk, ya, aku jadiin dia kakak? salahnya dimana?" tanya Yola dengan polosnya.
"Tak salah kalau dia tak jahat. Tetapi mase tu dia ada niat jahat tersembunyi sama kamu, sayang! Kau dah tahu itu, kan?" tutur Ilham.
Yola mengangguk.
"Iya, tetapi itu karena dia merasa diperlakukan dengan tidak adil, kan Bang? Udahlah, coba tarik dia dari Alor Setar ke KL lagi, aku pengen ngomong sama dia. Ada banyak hal yang perlu diluruskan di sini," ujar Yola.
"Udah, udah! Jangan ngomongin Eva lagi. Pusing kepala Mama dengar kamu ngoceh-ngoceh terus tentang Eva dari tadi," sela Ratih. "Yola, kamu dengarin Mama, mama telepon kamu bukan buat ngomongin Eva. Nggak penting banget itu anaknya Mira. Nggak usah diomongin, eneg mama dengar! Kayak orang penting aja. Udah bahas yang lain!"
__ADS_1
Ratih menjadi uring-uringan sendiri mendengar putrinya malah ingin menganggap kakak seorang Eva, anak haram suaminya itu. Sumpah dia tidak rela!
"Bahas apa?" tanya Yola.
Ratih mendengus, hampir saja dia lupa tujuannya menelepon Yola saat ini.
"Mama mau buatkan kamu acara 7 bulanan dedek utun, kamu maunya gimana? Kita bikin di rumah sini atau di sana aja?" tanya Mama Ratih.
"Tujuh bulanan?" gumam Yola.
"Hu um, harusnya sih dari empat bulanan kemarin kita udah bikin syukuran, tetapi karena waktu itu, Atok kalian baru berpulang, mamah nggak enak ngusulinnya sama mertuamu. Tapi ini udah tujuh bulanan sayang, jangan sampai lewat deh, biar nggak pamali," kata Ratih.
"Ihh, Mama pake pamali-pamaian segala. Katanya sudah hijrah ..." cibir Yola.
"Ya nggak apa-apa donk, sayang. Kan cuma syukuran. Bikin pengajian sekalian doa bersama biar kamu dan cucu mama sehat hingga lahiran nanti nggak terkendala apa pun dan dijauhkan dari segala penyulit," kata Ratih. "Dulu waktu kamu hamil Ammar, kamu lupa kalau Mamah juga adain pengajian untuk kamu? Yah, walaupun waktu itu nggak ada Ilham, Ammar tetap mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan."
"Mamah ..." tegur Yola. Dia merasa tidak enak hati pada Ilham saat Mama Ratih mengungkit kembali soal itu.
"Tak ape, Yola. Betul kata Mama. Mase tu abang tak ade. Sedih hati abang kerana papa mertua abang tak perbolehkan abang tengok anak isteri abang apalagi nak buat walimatul hamli untuk anak pertama abang."
Abimanyu yang sedari tadi mendengarkan perbincangan mereka melalui speaker ponsel Ratih, memutar bola matanya dengan malas mendengar kata-kata Ilham yang terkesan membalikkan kata-kata Ratih dengan memojokkannya. Menantu brengseknya itu memang sialan!
"Jadi untuk adiknya Ammar ni bolehlah kite buat majlis walimatul hamli sebagaimana mestinya. Undang kerabat, family, kawan handai taulan. Abang ni sebetulnya nak buat di Jakarta juge, tetapi abang kasihan tengok Yola dengan badan bengkak macam tu bepergian terlalu jauh. Kasihan kalau anak isteri abang sampai merasa penat," ujar Ilham dengan olokannya.
Dan lagi, dan lagi, itu membuat Yola kembali meradang.
"Abang! Abang ngatain Yola bengkak lagi, kan? Jahatnya!!!!"
"A-ampun, Sayang. Abang tak maksud cakap macam tu. Maksud abang bukan bengkak lah, tetapi sejahtera, subur dan makmur ..." seloroh Ilham dengan tawa yang tak bisa ditahannya.
"Mama! Lihatin coba menantu mama ini! Ngolokin aku mulu!" adu Yola pada sang Mama.
Tetapi tak sesuai harapannya, Ratih malah ikut menertawainya.
"Isss!! Mamah sama abang jahat! Malas aku kalau kayak gini. Mama sama abang aja deh yang ngomong kalau gitu. Yola mau tidur aja!" katanya.
Yah, tukang ngambek kumat lagi merajuknya.
****
"Papa, Dini bingung deh, kok Yola bisa tau ya kalau aku tinggal di sini? Masa tiba-tiba dia datang ke kostnya Dini, Pa? Udah ngagetin, baru dia tau siapa Dini, kan aneh? Dia bilang Dini ni adik iparnya. Udah gitu dia tau selama ini Dini stalking-in dia. Ih, rasanya Dini mau cari tempat tinggal lain deh. Malas banget Dini didatangin terus sama Dia. Sumpah dia nyebelin!" adu Andini pada Abraham.
Abraham yang sedang menonton televisi, hanya terkekeh mendengar curhatan putrinya yang nyerocos tak henti sedari tadi. Masih tertawa Abraham mengganti channel televisi dengan remot.
"Ihh, Papa kok ketawa sih!" Andini menjadi sebal karena respon sang Papa.
"Memang Dini niat stalking Yola selama ini buat apa? Orangnya dah pun di depan mata, Andini nak menghindar pula. Papa jadi tak habis pikir dengan Andini ni," jawab Abraham.
"Aku stalking dia cuma pengen tau aja gitu kok bisa dia masih mau aja nerima cowok buaya darat kembali? Kalau aku mah ogah, Pah! Ihh apaan, kayak nggak ada cowok lain aja!" cibir Andini.
"Ilham maksudnya? Papa rase dia sangat bertanggung jawab dengan Yola. Yang terjadi di masa silam, tak seperti yang kau lihat selama ni. Ade alasan dia berkahwin lagi dengan orang lain sehingga rumah tangga dia dan Yola sampai hancur berantakan selama beberapa tahun belakangan ni," tutur Abraham.
"Ihhh, Papa sok tau deh. Memang Papa tau darimana? Ikut-ikutan stalking-in keluarga Nirwan juga ya? Papa pasti takut anak kesayangan papa balik ke mereka kan?" cibir Andini lagi.
Abraham menghela napas panjang. Kini dia mematikan televisi dengan remot.
"Dini, Papa rase sudah saatnya kau balik ke keluarga Nirwan, Sayang."
Andini terhenyak mendengar kata-kata sang Papa.
"Apa maksud Papa?" tanyanya balik dengan nada yang sangat dingin.
Abraham terdiam sejenak. Dia membayangkan Andini saat ini ada di hadapannya. Ingin dipeluknya putri yang selalu dianggapnya kecil dan berharga itu.
"Papa sudah bertemu keluarga Nirwan. Yang terjadi selama ini tak seperti yang kita pikir selama ini. Bahkan perkahwinan dini Yola dan Ilham terjadi hingga akhirnya berantakan selama ini, itu semua dikeranakan kamu, Sayang. Mereka telah terlalu banyak berkorban untukmu. Sudah saatnya kamu pulang ke keluargamu yang sebenarnya."
Andini tak dapat mengerti dan sulit baginya menerima semua ini.
"Apa maksud Papa? Apa hubungannya aku dengan pernikahan Ilham dan Yola, Papa? Dan keluarga yang sebenarnya apa maksudnya itu? Keluargaku hanya Mama dan Papa, bukan siapa-siapa!" sangkal Andini.
"Dini, Papa dan Mama selalu akan jadi Mama dan Papa kamu, sampai bila pun. Tetapi di sana ada seorang ibu yang selalu menunggu kamu dengan air mata sudah puluhan tahun lamanya. Pulanglah, Sayang. Dia merindukanmu!"
****
Supportnya donk beib .... masih sabar menunggu nggak nih?
__ADS_1