
Royale Intenational Hotel,
Majlis perkahwinan itu masih berlangsung. Kedua mempelai itu masih duduk di pelaminannya. Kalau tadi mereka memakai pakaian pengantin dengan model modern, kali ini mereka baru selesai berganti pakaian dengan baju pengantin khas melayu berwarna abu-abu kombinasi putih.
Meski semua undangan memandang takjub pada pasangan serasi itu, namun ada yang berbeda dengan Ilham. Resepsi pernikahan itu tidak lagi seperti yang diharapkan Ilham seperti selama masa persiapan beberapa minggu ini.
Hatinya gelisah saat ini, terasa tidak tenang karena kehadiran Lucas yang tidak disangka-sangkanya justru malah merusak suasana itu. Dan hatinya semakin terasa tak menentu dengan kondisi Atok Yahya yang telah diantar pulang sedari tadi lebih dahulu oleh Hafiz. Meski pun Hafiz telah menelepon Mamah Zubaedah dan memberi tahu kalau Atok telah diperiksa dan membaik setelah ditangani dokter, tapi hati Ilham tetap merasa risau.
"Abang!" panggil Yola pada Ilham di tengah hiburan tari melayu yang dipersembahkan untuk kedua mempelai dan tamu yang diundang.
Ilham menoleh pada Yola. Dia tak bisa menyembunyikan raut cemas di wajahnya.
Yola tersenyum seakan menguatkan hati prianya itu. Sembari dia menggenggam tangan lelaki yang benar-benar sah secara agama dan hukum negara itu sebagai suaminya sekarang.
"Sayang, Abang! Jangan gelisah, ya. Atok pasti akan baik-baik saja sekarang. Hafiz sudah membawanya ke dokter dan mungkin sekarang Atok hanya perlu istirahat saja," kata Yola berusaha meyakinkan Ilham.
"Yola, abang benar-benar risau," kata Ilham gundah.
Jika dilihat pada hatinya, ingin sekali saat ini Ilham berlari ke luar gedung dan pulang menemui sang Atok. Tetapi ada banyak yang perlu dia jaga di sini. Ilham boleh dibilang adalah wajah perusahaan N-one. Apa jadinya kalau Ilham pulang dan meninggalkan pelaminan? Bisa-bisa seluruh orang akan membuat cerita kalau pengantin pria meninggalkan istrinya di pelaminan
"Abang merasa risau saat ni. Perasaan Abang mengatakan akan ada sesuatu yang buruk terjadi," kata Ilham gelisah.
"Abang, jangan ngomong macam itu, ahhh!!!" larang Yola. "Perkataan itu do'a, Abang!"
Ilham akhirnya terdiam mendengar kata-kata Yola. Bahkan meski hanya perkataan, dia tidak mau kata-katanya menjadi doa yang buruk untuk Atok Yahya.
"Abang, tenang ya," bujuk Yola sambil mengelus punggung Ilham seperti yang biasa ia lakukan jika sedang membujuk Ammar juga.
Ilham berulang kali menarik napas dan membuang napas, sambil sesekali menanyakan jam pada siapa pun yang dia kenal. Rasanya dia sudah tidak sabar ingin mengakhiri pesta ini.
Setengah jam kemudian, mata Ilham menangkap sang Mamah Zubaedah yang menerima telepon dari seseorang.
"Apa Hafiz??? Kamu usah bergurau macam tu! Mama tak suke!!!" Zubaedah nyaris berteriak di telepon.
Semua orang memperhatikan. Termasuk Yola dan Ilham juga.
__ADS_1
"Kenape, Mah?" tanya Ismail.
"Ayah, Abang ... Ayah ...." ratap Mama Zubaedah.
"Atok kenape, Mah?" tanya Ilham yang buru-buru berdiri dari kursinya di pelaminan saat melihat sang Mama meratap setelah menelepon.
Ismail segera merebut ponsel itu dari Zubaedah. Sementara Ilham segera menghampiri sang Mamah yang meratapi mertuanya dengan isak tangis yang mengharu biru.
"Mamah, Atok kenape?" rengek Ilham frustasi.
"Ilhaaam ... Atok! Atok ...." Zubaedah merasa hampir tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Air matanya mengalir deras bercucuran.
"Atok kenape?" desak Ilham mengulangi pertanyaannya.
"Kau cakap yang betul, Hafiz! Korang sekarang ade dimane?"
Telinga Ilham kini menangkap sang Papah yang menelepon pada Hafiz.
Sesekali Ismail terdengar diam saat membiarkan Hafiz menjelaskan di telepon. Hingga kemudian, Ismail juga merespon berita Hafiz sama denga Zubaedah. Air matanya berderai.
"Mamah sebenarnye ade apa?" tanya Ilham tak sabar lagi.
"Ilham, Atok ... mu dah meninggal dunia ... Huhuhu ...." Tangis Zubaedah pecah seiring tangis Ismail juga.
Majlis perkahwinan itu dalam sekejap berubah menjadi majlis air mata. Tangis pecah Zubaedah membuat semua orang disana dapat merasakan sedihnya.
Ilham menatap Mamah Zubaedah masih tak percaya. Sementara Yola yang juga terkejut masih bisa mengendalikan dirinya. Namun tidak dengan Ilham.
"Ape? Ape Mamah cakap ni?" tanya Ilham tak percaya. "Tak patutlah bergurau macam ni, Mamah."
Zubaedah menggeleng masih dalam isak dan tangisnya.
"Atok meninggal, Ilham! Meninggal!"
Ilham terhenyak. Untuk kesekian kalinya dia tidak bisa percaya akan berita kemalangan yang begitu mendadak ini.
__ADS_1
"Atok ..." gumamnya lirih.
"Kite mesti ke hospital sekarang," kata Ismali dengan suara serak menahan tangis.
Tak ada kompromi untuk hal ini. Pesta megah itu bubar begitu saja, saat kedua mempelai dan keluarganya meninggalkan hotel mewah itu untuk pergi ke rumah sakit.
Lalu di rumah sakit, mereka menemukan bahwa Hafiz tidak mengada-ngada. Atok memang telah menghembuskan napas terakhirnya.
"Atooook!!!!" raung Ilham meratapi jenazah sang kakek yang telah terbujur di ranjang pasien.
Semua terpaku melihat Ilham yang menangisi sang kakek. Hafiz pun sama. Sebelum mereka semua diberitahu tentang kondisi Atok Yahya, Hafiz telah membawa kakek angkatnya itu ke rumah sakit, berharap nyawa Atok Yahya yang meregang karena kekurangan oksigen masih bisa diselamatkan. Namun takdir berkata lain. Sesampai di rumah sakit nyawa orang tua itu tetap tidak dapat terselamatkan.
"Atok, bangun Atok! Ilham dah datang dengan Yola. Atok mahu Yola dan Ilham bahgia, kan? Bangunlah, Tok! Macam mana Atok boleh tinggalkan kami macam ni. Atoookk!!!!" ratap pria itu.
Yola terhenyak melihat pemandangan di depannya ini. Sungguh semua ini terjadi seperti mimpi. Bukankah tadi pagi mereka masih bersama-sama menuju hotel? Sampai sebelum pria itu datang, Atok Yahya masih baik-baik saja.
"Atok, siape yang buat Atok macam ni? Kenape Atok pergi macam ni, Atok?! Atok tak sabar ke tinggalkan Ilham? Kenape macam ni Atok?!!"
Ilham masih meratap tak jelas kesudahannya sambil memeluk tubuh ringkih Atok Yahya. Dari dia kecil hingga dewasa, Ilham hidup dengan sang Atok. Orang tua itu bahkan lebih dekat dan memahaminya dibandingkan Mamah dan Papanya. Bahkan di saat tak ada lagi harapan baginya untuk bersama Yola, Atoknyalah yang mempersatukan mereka kembali.
"Macam mana Ilham dapat hidup tanpa Atok? Hmm? Huuuu ..." tangisnya lagi sambil menggenggam tangan keriput itu.
Semua orang menangis di sana. Tetapi semua bisa merasakan Ilhamlah yang paling hancur hatinya saat ini. Bukan hanya sedih yang dia rasakan. Perasaan gagal menjaga sang Atok menyelimutinya sekarang.
"Sayang, kamu udahan donk nangisnya," bujuk Mama Ratih pada Yola yang juga ikut ke rumah sakit menyusul keluarga besannya itu.
Yola juga tak dapat menghentikan tangisnya. Banyak hal janji yang belum bisa dia penuhi pada Atok Yahya, bahkan janji menaikkan omset N-one sebanyak 30%. Dan sekarang melihat suaminya meratap seperti itu, hati Yola merasa disayat-sayat.
Lama menangisi Atok Yahya, Ilham tiba-tiba bangkit dari duduknya. Dengan mata sembab, Ilham menghampiri Hafiz yang duduk dipojokan. Mata Hafiz juga memerah dan bengkak.
"Hafiz! Kau cakap, siape yang lakukan ni pada Atok! Aku akan habisi orang tu sama dengan yang dia perbuat dengan Atok!!!"
****
Ya Tuhan othor saampe mewek bikin bab ini. Jangan lupa like dan koment ya beib. Dan mampirlah kalian di novel author yang lain ya ...
__ADS_1