
Wanita berusia 24 tahun itu berjalan tergopoh-gopoh sambil menggendong putri kecilnya dengan gendongan depan ala kanguru. Wanita itu merasa tidak sabaran ingin sampai ke pos keamanan untuk menjumpai suaminya yang katanya sedang selingkuh bersama kekasih gelapnya.
Yola, wanita itu sangat penasaran dengan wanita yang dimaksud oleh Victor. Bahkan dia sempat mendengar suaminya dan Victor sampai baku hantam. Sebenarnya siapa yang ditemui Ilham di bandara? Wanita? Siapa dia? Untungnya saja Ammar sudah sedari tadi berangkat ke tadika di jemput oleh supir keluarga Nirwan, sehingga dia hanya perlu membawa Ruby saja ke bandara.
Sementara itu di pos keamanan bandara Ilham masih menatap Victor dengan tatapan berapi-api. Tadinya Ilham ingin mengantar Sonia ke rumah orang tuanya dan sengaja tidak memberi tahu Yola kalau yang dia jemput di bandara adalah Sonia demi menjaga perasaan istrinya itu. Bagaimana pun Sonia adalah mantan istrinya, Ilham takut itu bisa mempengaruhi mood bahkan hati Yola sehingga wanita itu cemburu pada Sonia. Andai saja Leon bisa ia perwakilkan untuk menjemput Sonia, tentu dia tak akan repot-repot melakukannya sendiri. Sayangnya, Ilham pun tak bisa membiarkan rumah tangga sahabat karibnya terancam bermasalah hanya karena Sonia. Yola masih lebih pengertian dibandingkan Nadira, hingga Ilham memutuskan untuk menjemput sendiri mantan istrinya itu ke bandara.
"Kenapa kau tengok aku macam tu? Kau keberatan aku bagi tahu Yola kalau kau bermain sulit dengan Sonia di belakangnya?" tanya Victor sinis.
"Victor, kau ni tengah sakit kepala ke? Siapa yang bermain sulit dengan Sonia?" balas Ilham dengan gemas. Rasanya dia ingin membenturkan kepala Victor ke tembok untuk menyadarkannya yang.
"Kalau kau tak bermain sulit untuk apa? Kita tunggu sahaja Yola hingga tiba kat sini. Kau akan beralasan apa lagi?" cemooh Victor.
Ilham geleng-geleng kepala melihat kebodohan Victor. Ya sudahlah, dia pasrah saja. Untuk apa takut kalau memang dia tidak berselingkuh dengan Sonia? Lalu dia pun hanya duduk manis di posisinya yang tadi sembari menunggu wanita itu. Sedari tadi dia berusaha menghubungi Yola, tetapi Yola tidak mengangkat teleponnya sama sekali.
Tak lama berselang akhirnya orang yang ditunggu datang juga.
"Abang?" serunya dari ambang pintu.
Semua orang yang ada di sana menoleh ke arahnya.
Yola begitu tercengang melihat siapa yang tengah duduk di sebelah Ilham. Victor yang melihat itu tak bisa menyembunyikan senyum menyeringai mengejek pada Ilham. Cilakelah kau, Ilham! Kali ini kau dah tak boleh mengelak lagi dah! batinnya dalam hati.
"Kakak? Kakak Sonia?!" Mulut Yola sampai menganga melihat Sonia yang terlihat sehat dan sedang duduk di samping Ilham. Ada sepasang kruk yang disandarkan di dinding sebelahnya. Yola bisa menyimpulkan kalau itu adalah milik Sonia.
Sonia melempar senyum tulus padanya. Yola segera menghampirinya, memeluk mantan istri suaminya itu dengan erat.
"Kakak Sonia sudah sehat? Kenapa nggak ngomong kalau mau pulang?"
Sonia hampir menangis mendapat perlakuan hangat dari Yola.
"Yola apa kabar? Yola sihat sahaja ke?" tanyanya balik.
"Iss! Aku nanya duluan, malah nanya balik!" Yola mencubit gemas lengan wanita itu hingga Sonia mengaduh.
"Aww!!"
__ADS_1
"Makanya jawab dulu! Kenapa kakak Sonia balik tanpa ngabarin aku terlebih dahulu? Abang juga! Nggak ngomong-ngomong kalau orang yang dijemput ternyata kakak Sonia. Is, is, is ... teganya kalian bermain cantik di belakangku!" omelnya.
Dan Victor yang melihat reaksi Yola seperi itu hanya bisa bengong. Meski mengomel tapi wanita itu tidak terlihat marah seperti yang diharapkannya.
"Bermain cantik ape? Abang ni hanya jemput Sonia kat sini. Hanya itu, Sayang," bujuk Ilham sebelum istrinya itu salah paham.
"Terus kenapa nggak ngomong dari tadi kalaau yang mau dijemput itu Kakak Sonia. Haiss!! Curiga aku kalian berdua memang mau selingkuh di belakangku, iya kan?" katanya pura-pura menuduh padahal sesungguhnya dia tak sedikit pun berprasangka seperti itu pada Ilham dan Sonia.
"Surprise, Honey. Abang ni sebetulnya nak hantar Sonia ke rumah orang tua dia. Kau tahu kan Leon tak dapat lagi abang minta tolongi pasal Sonia?" kata Ilham membela diri. "Meski begitu abang juge dah ade rencana pertemukan korang nanti setelah Sonia balik kat rumah dia, rehat dan kite boleh berkunjung kat sana. Tetapi siape sangka kat sini malah berjumpe dengan Mak Nyah ni kat sini!" tuding Ilham sambil mencibir Victor.
Yola manggut-manggut, kini perhatiannya beralih pada Victor yang nampak cuek untuk menutupi rasa bersalah di wajahnya. Lalu bergantian melirik Sonia.
"Abang!"
Ilham dan Victor spontan menoleh berbarengan. Itu membuat Ilham berang.
"Yola! Kenape kau panggil pondan satu ni dengan panggilan abang juge? Abang tak nak kau panggil dia macam tu!" protes Ilham tak rela.
"Bang Victor kan memang lebih tua dari aku abang, jadi wajarlah kalau kupanggil abang," kata Yola membela diri.
"Iss! Abang nih, suka cemburu nggak jelas gitu. Biar Yola bicara sebentar dengan Bang Victor. Ya, ya ya?" bujuk Yola. "Please!!! Demi kemaslahatan bersama."
"Hah? Kemaslahatan bersama ape?" protes Ilham.
"Please!!! Nanti aku kasih tau deh, ya? Please!" bujuk Yola.
Karena Yola terus memaksa, Ilham akhirnya mau tidak mau membiarkan Yola berbicara dengan Victor berdua saja di luar pos yang kira-kira tak bisa didengar oleh orang-orang di dalam pos keamanan itu. Sementara Yola dan Victor berbicara, Ruby, Yola serahkan pada Ilham dan Sonia sesekali mengajaknya bermain.
"Sebenarnya mereka berdua tu nak bercakap apa?" gerutu Ilham mana kala telah sepuluh menit berlalu Yola dan Victor tak juga menyudahi pembicaraan mereka yang entah apa.
"Ya Tuhan, kau sabar sikitlah, Ilham! Kau ni macam budak baru pertama jatuh cinta. Nampak cemburu sangat tengok Yola dan Victor berbual berdua. Mereka tu hanya sekejap sahaja bercakap. Lepas tu kau akan bawa balik Yola kat rumah," bujuk Sonia.
"Kau tak akan boleh mengerti macam mana perasaanku melihat Yola dengan lelaki lain," jawab Ilham ketus.
Sonia tertawa kecil, ironi mendengar kata-kata Ilham.
__ADS_1
"Tentu aku sangat mengerti Ilham. Mungkin rasanye macam aku tengok kau dan Yola bersama," katanya getir..
"Jangan mulai, Sonia!" Ilham memperingatkan.
"Tentu sahaja, Ilham. Aku cukuplah sedar diri dimana aku sekarang berada. Tak payah dibagi tahu, aku pun tahu di hatimu hanya ada Yola, betul, kan?"
Ilham mendengus, tak suka kalau Sonia mulai sentimen lagi, seolah-olah dia adalah lelaki jahat.
Untungnya sebelum Sonia keburu terbawa perasaan Yola dan Victor telah kembali.
"Dah selesai?" tanya Ilham sinis.
Yola mengangguk. Lalu berbicara sebentar pada pihak keamanan bandara dan menjamin Ilham dan Victor tidak akan mengulangi perbuatan mereka membuat keributan di fasilitas publik.
"Abang, kita pulang sekarang," kata Yola.
"Pulang? Oke. Kite hantar Sonia dahulu balik kat rumah dia," kata Ilham.
Yola menggeleng.
"Nggak, Abang! Bang Victor yang akan antar Sonia," kata Yola mantap.
Ilham menatap Victor seolah Victor adalah makhluk menjijikkan.
"Yang betul? Takutnya nanti Sonia bukan dihantar kat rumah tetapi ke tempat lain," kata Ilham memancing emosi Victor lagi. Tetapi Yola buru-buru menengahi
"Nggak, Abang. Iss jangan kayak anak-anak kenapa. Yuk pulang, yuk! Bang Victor! Kami titip kakak Sonia, ya?" Yola buru-buru menarik Ilham pergi dari sana.
"Eh, Yola, Yol ...."
Sonia ingin protes, tapi Victor sigap mencegahnya.
"Biar saye yang hantar, Sonia!"
****
__ADS_1
Maaf lama updatenya... btw, kenapa Sonia ditinggal sama Victor yo?