Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Kau Hanya Boleh Memilih Satu


__ADS_3

Yola tersentak mendapat pelukan mendadak itu dari Hafiz. Posisinya yang duduk di kursi, sementara Hafiz yang berdiri sambil menunduk memeluk Yola, membuat kepala Yola tenggelam dalam dada bidang itu.


Lama Hafiz memeluk Yola berusaha menahan gemuruh di hatinya mengingat kejamnya jalan hidup yang tak berpihak pada cintanya terhadap Yola. Bukan hanya wanita itu yang telah kembali pada Ilham, tetapi Hafiz pun kini terjebak oleh Yuri.


"Yola, jangan pernah tinggalkan aku, hmm?" pinta pria itu sekali lagi.


Yola membalas pelukan itu, menarik tubuh Hafiz lebih erat memeluknya sehingga kini kepalanya berada di pundak Hafiz. Entah mengapa sekarang dia merasa iba pada Hafiz, tapi seperti yang Ilham selalu bilang dia tidak boleh lemah.


"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Ndut," kata Yola di telinga Hafiz. "Kamu penting bagiku, kamu berarti bagiku, aku sayang padamu sebagai sahabat ...."


"Tak .... jangan lanjutkan itu, Yola. Aku tak mahu dengar ape yang kau mahu kate selanjutnya," kata Hafiz.


Yola melepaskan pelukannya dari Hafiz.


"Kau harus tetap mendengarnya, Ndut. Aku berjanji aku tak akan pernah meninggalkanmu, tapi Ndut rencana pernikahan kita ini tidak bisa lagi diteruskan. Maafkan aku ... tapi aku harus jujur padamu. Aku telah rujuk dengan abang. Aku rasa kamu juga sudah tahu itu, kan? Malam itu saat kami ada di Green House, kamu menyusulku ke sana, kan? Aku tidak ingin berbohong padamu lebih lama lagi, Ndut. Tolong mengerti situasiku," kata Yola memohon.


Yola menyadari itu tadi pagi saat dia memeriksa laci meja riasnya. kunci rumah di Green House tak ada lagi di tempatnya. Kunci rumah itu sebelumnya tidak pernah Yola sentuh karena memang Yola tidak punya kepentingan apa pun untuk datang sendiri ke sana. Selama ini jika Yola pergi dengan Ilham, maka kunci yang di tangan Ilhamlah yang mereka pakai untuk membuka rumah itu. Itu artinya ada orang yang mengambil kunci itu di laci meja rias. Dan hanya Hafiz yang bebas keluar masuk mondar- mandir ke apartemennya.


Hafiz berlutut di hadapan Yola yang sedang duduk di kursi makan. Dia meraih kedua tangan Yola dan menggenggamnya.

__ADS_1


"Jangan cakap pasal itu, please ... Dia tak pantas untuk kau, Yola! Aku tahu kau masih sangat cinte dengan dia, tapi ... kau tak mestilah kembali dengan die. Kau tak ingat ke macam mana die menyakiti hati kau 7 tahun lalu? Lupakan dia, Yola! Tak mengape mase ni kau tak cintakan aku, aku akan sabar menanti, kau mahu pending planning perkahwinan kite pun tak apa. Tapi tolong usah kembali dengan dia. Aku tak tahan pabila tengok dia sakiti hati kau terus," kata Hafiz.


Yola menarik napas panjang melihat kegigihan Hafiz yang ingin mempertahankan hubungan mereka. Tak ada cara lain selain mengakui kalau dia tengah hamil saat ini.


"Aku hamil, Ndut!" akunya.


Yola memperhatikan ekspresi Hafiz yang terlihat tidak terkejut sama sekali.


"Kau juga sudah tahu itu?" tanya Yola heran.


Hafiz mengangguk.


"Maafkan aku, Ndut. Kau mungkin berpikir aku murahan. Ya tentu saja, bahkan Mama juga mengira aku gampangan. Tapi aku dan abang melakukan itu sebelum dia mengucapkan talak padaku. Jadi saat kau melamarku itu, sebenarnya tanpa aku tahu, aku sudah mengandung anaknya abang. Itu artinya talak yang diucapkannya padaku itu tidak sah. Sampai sekarang aku masih istrinya abang, Ndut," kata Yola mencoba menjelaskan.


Hafiz terhenyak mendengar penuturan Yola. Dia tidak berharap seperti ini. Dia masih ingin memperjuangkan cintanya pada Yola terlepas Yola membalasnya ataupun tidak. Karena itulah dia sampai mengirim Diana kesini untuk membantunya memperbaiki hubungannya dengan Yola. Walaupun akhirnya berakhir dengan pertengkaran mereka tadi siang dan membuat Diana memutuskan untuk kembali ke Johor karena Hafiz bersikeras tidak mau meninggalkan Yola.


"Tak Yola. Ku tak boleh kembali dengan dia. Dia telah ade Sonia pula. Kite teruskan planning perkahwinan kite sahaja. Pasal kau mengandung tu kau tak usah risau. Ada aku hmm? Aku yang akan jadi Papanya. Aku akan rawat dan jaga dia macam anak aku sendiri. Hmmm .... Please jangan cakap kau nak tinggalkan aku, Yola!"


Yola menangkup wajah Hafiz dengan kedua tangannya. Hafiz terlihat menyedihkan saat moemohon pada Yola seperti itu. Yola jadi kasihan melihat sahabatnya itu.

__ADS_1


"Hafiz, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kau sahabatku. Kau punya posisi sangat spesial di hatiku. Bahkan untuk hal ini abang pun tidak akan bisa menggeser posisi itu. Di saat aku dalam masa keterpurukanku, kau selalu ada menemaniku. Di saat semua orang membullyku dan menghinaku kau memasang badan untuk melindungiku. Bagaimana mungkin aku tega meninggalkanmu? Aku juga tidak mau kehilanganmu, Ndut."


Yola menangis sekarang.


"Tapi masalah hati aku juga tidak bisa mengendalikannya. Aku mencintai abang. Tujuh tahun aku kira rasa itu akan berkurang dengan sendirinya. Tapi tidak. Aku masih sangat mencintainya. Aku juga ingin bahagia dengan perasaan itu. Aku mencintainya di usia sekecil itu sejak dia menikahiku. Empat tahun, aku memendamnya dalam hatiku mengira cintaku tidak akan pernah terbalas selamanya. Aku bahagia Ndut saat suatu hari dia datang menjemputku ke sekolahan kita, meminta ijin ke Mama dan Papa untuk membawaku ke KL. Abang bilang dia mencintaiku, aku sangat bahagia. Bisa kau bayangkan bahagianya aku waktu itu? Seakan seluruh dunia ini ada di genggamanku," kata Yola dengan mata yang masih berkaca- kaca.


"Yola ...."


"Tunggu dulu, Ndut. Aku belum selesai. Lalu di tiga hari yang singkat itu dia berjanji akan membina bahtera rumah tangga yang sebenarnya denganku. Tapi kau tau? Tak lama setelah itu aku hancur saat dia menikahi Sonia. Bukan, bukan karena aku telah menyerahkan diriku seutuhnya padanya. Tetapi karena aku merasa dibohongi olehnya. Kenapa abang bilang kalau dia mencintai aku padahal yang dicintainya Sonia? Kenapa memberiku harapan setinggi langit kalau pada akhirnya dia akan menjatuhkanku dari ketinggian itu? Itu yang aku rasakan saat itu. Itu menyakitkan. Dan saat ini pun aku tidak ingin kau merasakan hal yang sama, Ndut. Aku tidak ingin membohongi dirimu dan kau juga jangan membohongi dirimu. Aku tidak mau kau menderita. Aku ini orang yang sangat egois memang. Aku tidak ingin kehilangan kau sebagai sahabatku, tetapi aku juga tidak akan melepaskan abang sebagai orang yang kucintai. Bisakah kau memaklumi keegoisanku kali ini, Ndut?"


Hafiz menghembuskan napasnya berat mendengar semua curahan hati Yola. Lalu dengan pelan dia melepas tangan Yola yang menangkup wajahnya. Lalu dia bangkit dari posisinya yang berjongkok di hadapan Yola.


"Tak. Aku tak boleh paham. Kau hanya boleh memilih satu antara aku dan abang."


***


Duh, nelangsa banget jadi Yola ya...


Jangan lupa like dan komentarnya, ya para readerku yang baik hati.

__ADS_1


__ADS_2