Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Aster Putih


__ADS_3

Ilham mengusap wajahnya kasar saat Yola meninggalkan dia yang sedang merasa ON. Dia tau ini tidak benar, meskipun tadi hampir saja sedikit lagi dia dan Yola akan mengulang lagi percintaan mereka seperti di green house waktu itu. Yola tentu saja akan menolaknya saat ini dengan status mereka yang telah bercerai meski pun sebenarnya Ilham memiliki niat untuk rujuk lagi dengan Yola setelah menyelesaikan urusannya dengan Sonia.


"Sabarlah sikit lagi, Ilham!" gumamnya pada diri sendiri.


Sementara itu Yola bergegas mempercepat langkah kakinya menuju ke dalam apartemen. Beberapa orang memperhatikannya dengan pandangan heran karena berjalan terpincang-pincang tanpa alas kaki.


Yola segera memencet tombol lift sebelum Ilham mengejarnya. Hatinya berdebar-debar tak karuan. Dia masih cinta dengan Ilham. Sangat. Karena itulah hati dan tubuhnya bisa merespon semua itu. Tapi mengingat Hafiz entah mengapa membuat Yola menjadi merasa sangat jahat.


Dia sudah tau kalau Hafiz mencintainya sejak lama, bahkan sejak mereka remaja. Lelaki itu setia berada di sampingnya hingga kini. Dan bukan salah Hafiz jika kini Yola merasa seperti menjalani hubungan terpaksa. Bukankah dia yang dengan tak tahu diri meminta untuk menikah dengan Hafiz? Dan dengan tidak tahu malu dia sendiri yang melemparkan dirinya ke Hafiz, mencium pria itu bahkan meski dia tau kalau Hafiz adalah adik dari suaminya. Bukan salah Hafiz kalau dia menerimanya dengan senang hati.


Cinta yang bertepuk sebelah tangan, saat Yola memberikannya kesempatan, bukankah salah Hafiz kalau gayung itu kini bersambut. Dan kenapa sekarang Yola memberikan juga pada Ilham kesempatan?


Dengan lesu Yola mengeluarkan kartu akses dari tasnya. Namun sebelum ia benar- benar menggeseknya tiba- tiba pintu apartemennya terbuka.


"Ehsan?" sapa Yola gugup saat melihat sosok Hafiz dengan badan tegapnya membukakan pintu.


Hafiz memperhatikan Yola dari ujung kaki hingga ujung rambut. Wanita itu bertelanjang kaki, baju kusut dan rambutnya berantakan. Dia terlihat berkeringat dan apa itu?


Nyesss!!! Hati Hafiz tiba- tiba bak disayat oleh pisau tajam. Dia melihat kissmark dari balik kerah kemeja kerja di leher Yola. Meski agak tersembunyi, tapi Hafiz masih bisa melihatnya. Apakah Ilham yang melakukannya? Ya, ya, siapa lagi? Hal itu tak mungkin Hafiz tak tahu. Yola tak akan dengan sembarangan memberikan ciuman dan tubuhnya pada orang lain selain Ilham. Atau ada kaitannya dengan Ilham, seperti ketika Yola menciumnya waktu itu. Semua hanya karena Ilham.


Hafiz berusaha menahan diri untuk tidak bertanya. Dia tidak ingin kehilangan Yola sebagai calon istrinya. Oleh karena itu dia tidak ingin gegabah menanyakan hal itu. Yola pasti melakukannya karena dipaksa Ilham, begitu pikirnya


"Yola? Kau kemane sahaja? Ini dah malam tapi kau baru sahaja balik, darimana? Aku dah tunggukan kau sedari tadi. Dan kasut kau kemana?" tanya Hafiz beruntun.


"Kakiku sakit banget Ndut, makanya tadi sepatuku kutinggal di N-one," jawab Yola berdusta.


"Kau balik bersama siapa?" tanya Hafiz. Sebenarnya dalam hatinya dia sudah tahu jawabannya. Tetapi entah mengapa dia masih ingin tahu jawaban yang akan diberikan Yola.


"Aku sendiri, Ndut. Udah ya, aku mau masuk dulu. Aku capek dan lapar sekali. Kamu nggak bawain aku makanan, Ndut?" tanya Yola sembari masuk ke dalam.


"Kau bersih- bersihkan badan kau dululah. Usah mandi, ini dah malam pun. Usai tu bolehlah kau ku ajak makan di luar," kata Hafiz.


Yola mengangguk dan bergegas masuk ke dalam untuk mandi. Dia tak sanggup menatap wajah Hafiz.


Sementara itu Hafiz masih berada di luar flat Yola. Dia bersandar di dinding dekat pintu. Kalau dugaannya benar tak lama Ilham akan datang.


Dan benar saja, tak lama dari ujung koridor, di mana lift berada, Hafiz melihatnya. Kakak, mantan suaminya Yola, dan yang kini menjadi rival cintanya. Ilham juga kini melihatnya dan sedikit memperlambat langkah kakinya sebelum akhirnya dia memutuskan berhenti di depan pintu flatnya yang bersebelahan dengan flatnya Yola. Hafiz tak sabar untuk tidak mendekat sebelum Ilham masuk ke apartemennya. Dia harus memberikan pria ini peringatan


"Kau benar-benar tak tahu malu!" umpatnya pada Ilham. "Kalau kau nak Yola bahagia, sebaiknya kau tinggalkan sahaja dia, jangan pernah gaanggukan dia lagi!"


Ilham tersenyum tipis.


"Kau yang mesti tahu diri sikit. Yola tu kakak ipar kau! Macam mana kau tak punya malu miliki perasaan padanya? Dan sekarang kau nak berkahwin dengannya? Ape kau tak boleh dapatkan perempuan lain untuk jadi isteri kau sampai- sampai kakak ipar kau sendiri yang nak kau harapkan?" kata Ilham dengan nada mengejek.


"Yola itu wanita istimewa bagi aku. Aku hanye anggap dia sebagai Yolanda Gunawan. Tak ade hubungan dengan kau! Ape kau cakap tadi? Kakak Ipar? Siape isteri kau? Yola bukan isteri kau lagi! Siape adik kau? Aku bukan anggota keluarga Nirwan lagi! Jadi Tuan Ilham, kau cakap tolong disaring sikit! Aku dan Yolanda akan berkahwin usai mase iddahnya berlalu. Andai bukan kerana itu aku dah kahwinkan dia sejak kau ceraikan dia pada hari tu! Kau paham tak?" balas Hafiz.


Ilham lagi- lagi hanya tersenyum sinis terkesan meledek.


"Mimpi saja, Ehsan Gendut! Itu takkan terjadi. Yola dan aku saling mencintai. Tak de siapa pun yang boleh membantah pasal tu. Hanya aku pria di hatinya dan takkan lama aku akan membuat dia rujuk denganku. Jangan berharap terlalu tinggi, adik! Nanti kau jatuh, sakit pula! Kau hanya menipu diri kau sendiri kalau tetap bersamanya," ledek Ilham.


"Kau ...."


Hafiz masih ingin membalas namun mengurungkannya saat mendengar Yola menutup pintu apartemennya.


"Kita berangkat sekarang, Ndut!"


Yola hanya memakai jelana jeans dan baju dengan turtleneck. Jelas sekali dia ingib menyembunyikan tanda kepemilikan yang dibuat Ilham di lehernya.


Senyum di bibir Hafiz tersungging melihat wanita itu. Dia mendekatkan dirinya dan berbisik pada Ilham.


"Terserah ape yang kau kate. Tetapi akulah yang saat ni ade bersamanya, kau mau ape?"


Ilham mengepalkan tinjunya menahan geram saat Hafiz menjemput Yola ke depan pintu apartemen dan menggenggam tangan wanita pujaannya itu. Sementara Yola sendiri tak sanggup menatap Ilham setelah apa yang mereka berdua lakukan tadi di dalam mobil. Sungguh sangat gila! Rasanya Yola ingin mengubur dirinya sampai ke dasar bumi yang paling dalam.


Dan Yola hanya bisa menunduk saat Hafiz menautkan jari jemari mereka berdua dan berjalan begitu saja melewati Ilham.


"Kau mau makan dimane?" tanya Hafiz.


"Hmmm .... Ter- terserah," jawab Yola terbata saat ekor matanya menatap Ilham yang sedang memandang dirinya dengan penuh intimidasi.


***

__ADS_1


Sepeninggalan Yola dan Hafiz, Ilham pun masuk ke dalam unit apartemennya dan membanting pintu karena kesal. Andai Hafiz bukanlah adik yang dia sayang sedari dulu, mungkin saat ini lelaki ini telah terkapar karena babak belur. Hal itu juga yang membuat Ilham tak berkutik saat melihat Yola mencium Hafiz, di depan rumahnya kala itu. Rasa sayangnya pada adiknya itu bisa mengalahkan rasa cemburunya. Banyak hal yang ingin Ilham jaga.


Ilham sedari dulu sudah tahu kalau Hafiz bukanlah adik kandungnya. Saat Andini hilang, usianya sudah berusia 7 tahun. Memorinya sudah berfungsi dengan baik. Tentu dia bisa melihat kalau adiknya yang harusnya perempuan tiba- tiba menjadi lelaki setelah hilang setelah beberapa minggu.


*Flashback*


"Ilham, mulai mase ni, Hafiz adalah adik kau. Dia comel kan?" kata Mamah Zubaedah kala itu.


Ilham terpaku menatap bayi laki- laki gembul yang berada di pangkuan Mamahnya itu.


"Mamah, mana Andini? Ini bukan adik Ilham!" jawab Ilham yang begitu polosnya saat dia masih seumuran Ammar itu.


Zubaedah merasa tercekat mendengar pertanyaaan putranya itu. Namun dia berusaha menahannya demi tidak membingungkan Ilham.


"Mamah dah tukar Andini dengan Hafiz. Kau ingat tak dulu? Kau kate kau tak nak punya adik perempuan sebab tak boleh main bola sepak, Ilham ingat tak?" tanya Mamah sembari mengelus rambut putra sulungnya itu.


Ilham kecil mengingatnya, dan sedih setelahnya.


"Tapi Ilham sekarang suka dengan Andini. Dia comel, cantik, kawan- kawan Ilham pun suka dengan Andini, Mamah. Ilham pun sayang dengan Andini. Di mana Andini, Mamah? Kasihan Andini, nanti dia rindukan kite macam mana?"


Kali ini Mama Zubaedah tak lagi bisa membendung tangisnya. Dia memeluk Ilham sembari masih tetap menggendong Hafiz dalam pelukannya.


"Kau usah tanyakan Andini lagi, ye? Hafizlah adik kau sekarang. Dan kau pun ada adik baby perempuan seorang lagi yang tak kalah cantik. Kau pasti suke padanya nanti," kata Zubaedah disela- sela isak tangisnya yang sudah mulai mereda.


Ilham mengernyitkan keningnya heran.


"Adik babynya kembara ke? Mana baby satunya, Mamah?"


"Dia tak de di sini. Dia ade di Indonesia sana. Nanti kalau Ilham cuti sekolah, kite tengok adik kau yang comel tu. Namanya Yolanda."


Ilham mengingat semua itu sekarang. Dan kini dia membaringkan tubuhnya di sofa dengan kaki menggantung. Angannya kembali ke masa puluhan tahun yang lalu.


"Inilah adik baby yang Mamah maksud. Dia cantik, kan?" tanya Mamah.


"Hu uh," jawab Ilham sembari mengelus- elus pipi baby Yola.


Bayi berusia 6 bulan itu tertawa- tawa saat Ilham mengajaknya bermain. Bersama baby Hafiz ketiganya bermain di lantai rumah keluarga Gunawan.


"Ah hahaha .... Nampaknya adik Yola sangat suka dengan abang Ilham. Macam mana ni? Nampaknya kalian ni memang berjodoh Mamah tengok," kata Zubaedah sambil melirik Ratih yang hanya tersinyum simpul.


"Berjodoh?" tanya Ilham tak mengerti.


"He em. Kau tanyalah Makcik Ratih, boleh tak Yola kite bawa balik ke KL untuk abang Ilham?" Suruh Zubaedah lagi- lagi melirik Ratih.


Karena Yola dan Ilham masih sangat kecil waktu itu, Ratih hanya menganggap itu bukan hal yang harus dia cemaskan. Lagi pula dia mengerti perasaan Zubaedah yang kehilangan anaknya.


"Makcik, boleh ke adik Yola ikut Abang Ilham ke KL?" tanya Ilham dengan polosnya menuruti suruhan Mamahnya.


Ratih tersenyum dan mengelus rambut anak tampan yang katanya bakal jadi suami Yola di masa depan.


"Boleh saja, Sayang. Tapi tunggu Yola besar dulu. Dan Abang Ilham pun sekolah dulu yang rajin, biar bisa memimpin N-one, barulah datang jemput adek Yola," kata Ratih.


Ilham mengangguk dan kembali melihat baby Yola.


"Adik Yola cepatlah besar, besar, besar biar abang boleh jemput kau untuk dibawa ke KL, ya?"


Ilham mencium pipi bayi mungil itu.


Selang 3 tahun setelahnya, Yola dan orang tuanya berkunjung ke Kuala Lumpur. Ilham yang memang tinggal bersama Atok kebetulan bertemu dengan Yola. Sementara, Mamah, Papah dan Hafiz tinggal di Serawak.


"Ilham, kau masih ingat ke siapa ni?" tanya Atok padanya yang baru pulang sekolah.


Ilham segera mencium tangan Abimanyu dan Ratih.


"Adik Yola! Ini adik Yola, kan Makcik?" tanya Ilham menunjuk pada Yola yang saat itu berusia 3 tahun.


Ratih mengangguk.


"Makin cantik abang tengok Yola ni," katanya pada Yola yang menatap takut- takut padanya dengan wajah imut.


"Kamu dah lupa dengan abang ke? Ini abang Ilhamlah, kau lupa ke?"

__ADS_1


Anak lelaki berusia 10 tahun itu berusaha membujuk Yola kecil untuk kembali dekat dengannya.


"Jom, abang tunjukkan kamu mainan abang. Kamu pasti suke!"


Ilham membawanya ke kamar menunjukkan koleksi mainannya. Tapi tak ada yang menarik bagi Yola kecil. Hingga akhirnya Ilham membawa Ilham keluar rumah berjalan- jalan di sekitar komplex yang memang tidak ramai.


"Itu, Yola mau i-tu!"


"Kamu nak ape?" tanya Ilham.


"Itu ..." tunjuk Yola.


Ilham melihat kemana jari telunjuk Yola mengarah.


Taman kecil milik tetangganya. Tetangga yang terkenal galak. Bunga? Yola mau bunga?


"Emmm, Yola, kite cari bunga di tempat lain je. Atau nanti kite beli di kedai bunga sahaja. Petang nanti Atok kate kite akan melancong ke Petronas. Nanti di tengah jalan, bolehlah kite beli bunga macam tu," bujuk Ilham.


"Aku dak mau. Yola mau itu! Mau itu!"


Karena tak tahan dengan rengekan Yola, akhirnya Ilham pun nekad menjulurkan tangannya dari pagar untuk menggapai bunga itu. Dia bisa meraih bunga mawar merah dan memetiknya.


"Yola mau yang utih, abang! Yola dak mau yang melah. Itu ada dulinya," tolak Yola.


Ratih sangat suka bertanam bunga. Karena itu Yola juga menyukainya. Meski masih kecil dia tau kalau mawar itu memiliki duri.


Tak punya pilihan lain, Ilham pun akhirnya nekad memanjat pagar tetangganya itu dan buru- buru memetik bunga aster putih yang dimaksud Yola. Setelah berhasil memetik segenggam bunga di tangannya, Ilham segera memanjat pagar lagi untuk keluar dari pekarangan rumah itu. Tapi ....


"Bagus sangat kelakuan kau Ilham! Kau curi bunga makcik yang makcik tanam dengan susah payah dan mahal pula harganya. Sejak kapan kau belajar mencuri?"


"A- aw .... Ampun, Makcik!" Ilham meringis saat telinganya di jewer oleh makcik itu.


"Ampun, ampun! Panggil Atok kau kat sini!" teriak makcik itu.


"I- iya. Lepas dulu, Makcik! Ilham nak kasih dulu bunga tu untuk adik Yola, nanti Ilham panggilkan Atok ," kata Ilham memohon.


Makcik itu menatap Ilham.


"Adik?"


"Tuh ...."


Makcik yang sudah lama tak punya anak itu pun tiba- tiba berbinar senang melihat Yola.


"Ya ampun, comelnyaaaa. Cantik sangat dia Ilham! Ini adik kau ke?" tanya Makcik itu dan segera keluar untuk melihat Yola. "Budak kecil, kau suke dengan bunga ke? Jom masuk tengok bunga di tempat Makcik!"


Lama mereka berada di tempat Makcik itu sampai Atok dan kedua orang tua Yola panik karena mereka tak ada di dalam rumah. Hingga akhirnya mereka melihat Yola dan Ilham ada di rumah tetangga yang hanya berjarak dua rumah dari rumah Atok.


"Kalian disini rupanye," kata Atok heran.


"Hehehe, iya Pakcik," kata Makcik itu. "Ilham tadi ambilkan bunga saye untuk si gadis kecil ni. Anak siapa ni, Pakcik? Comel sangat! Dia dan Ilham serasi sangat saye tengok. Tapi tak macam abang adek."


"Memanglah. Die calon isteri Ilham dari Jakarte."


"Pakcik ni, macam betul je gurauannya ...." Makcik itu terkikik mendengar dua bocah itu dijodohkan.


"Tak bergurau. Yolanda memang calon isteri Ilham. Di mase depan, Yola yang akan mendampingi Ilham "


"Haaa? Betul ke?" Mulut makcik sampai menganga.


Atok Yahya tersenyum sambil mengangguk. Dia mengulurkan tangannya pada Yola untuk menggendongnya.


"Jom, balik kat rumah, cucu menantu Atok!"


*FLashback end*


Ilham mengangkat lengannya yang sedari tadi menutupi matanya dalam posisi terbaring. Sepertinya kini dia telah ingat semuanya. Yolanda adalah gadis kecilnya sedari dulu. Hanya dia yang boleh bersama Yola. Soal Hafiz dia akan memikirkannya nanti bagaimana cara membujuk Hafiz untuk melepaskan Yola. Yang terpenting sekarang membereskan masalah yang sudah berlarut- larut sejak dulu.


Ilham merogoh ponsel di kantongnya. Lalu membuka email Sonia yang dia minta beserta passwornya beberapa hari yang lalu. Lalu dia pun mengetik pesan dan mengirim pesannya pada seseorang yang memang telah menjadi salah satu kontak di email itu.


[Tuan Y, mertuaku nak berjumpa dengan Andini. Ape yang harus kulakukan? Dia terus desak aku, atau kalau tak Ilham akan menceraikanku. Tolong aku!]

__ADS_1


Ilham mengirim email itu ke kontak Mr. Y. Di luar dugaannya, ternyata email itu langsung dapat balasan.


__ADS_2