Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Interview


__ADS_3

"Yola baik- baik aja, Ma. Yola belum pasti juga diterima. Mama jangan khawatir. Kalau pun diterima ini hanya untuk membawa Ammar balik. Mama ingin Ammar kan?"


Sambil menelepon Yola memakaikan jam tangan di pergelangan tangannya sementara ponselnya dijepit di antara telinga dan bahunya agar tidak jatuh.


"Nggak akan, Ma. Atok bilang dia juga tidak ada di KL, kok. Dia sekarang di Johor. Bahkan kalau pun dia ada di sini, Mama harus percaya kalau Yola nggak akan memberi kesempatan untuk dia kembali," kata Yola menjawab omelan Mamanya jauh di seberang sana.


Usai mengakhiri panggilan itu, Yola pun melakukan touch- up terakhir untuk riasan flawless di wajahnya. Sempurna! Dengan atasan berlengan panjang berwarna peach dipadukan dengan rok hitam 5 senti di atas lutut, Yola cukup percaya diri untuk melakukan sesi wawancara hari ini. Dan penampilannya itu pun disempurnakan dengan sepatu stiletto berwarna senada dengan pakaian yang di pakainya. Sementara rambut panjang ikal coklatnya dibiarkan tergerai rapi menyusuri punggungnya.


"Oke. Siap berangkat!" katanya pada diri sendiri.


Lalu dengan menenteng tasnya, Yola pun segera meninggalkan hotel tempat dia menginap. Dengan mengenderai taksi ke gedung N-one Grocery milik Atok Yahya.


N-one Grocery adalah pusat perbelanjaan seperti supermarket yang cabangnya tersebar di setiap kota di seluruh Malaysia. Perusahaan sebesar ini adalah Atok Yahya yang mendirikannya sejak dari nol. Untuk hal satu ini, Yola sangat mengagumi kepemimpinan Atok Yahya.


Dan tujuannya kali ini adalah ke gedung N-one Grocery yang berada tepat di tengah kota Kuala lumpur. Gedung ini bukan gedung pencakar langit seperti yang sering ada di televisi. Namun gedung berlantai 10 ini cukup luas, dengan pusat perbelanjaan N-one Grocery berada di lantai 1 hingga lantai 3 gedung. Sementara lantai ke 4 dan 5 gedung digunakan untuk gudang. Lantai selanjutnya hingga ke atas digunakan untuk segala aktivitas karyawan dan staff.


Yola dengan helaan napas keluar dari taksi menatap gedung itu. Setelah bertanya pada pihak keamanan akhirnya Yola tau kalau lift untuk karyawan berada di sisi timur gedung. Hal itu membuat Yola terpaksa harus berjalan mengitari gedung itu. Padahal kalau dia tau lebih awal dia pasti akan menyuruh sopir taksi untuk menurunkannya di sisi timur.


Yola berjalan sambil melirik jam tangannya. 15 lagi tepat jam 9 pagi. Dia di undang untuk interview ke gedung itu tepat jam 9 pagi.


Sedikit mempercepat langkah kakinya, tiba- tiba saja langkahnya terhenti melihat seorang anak laki- laki berusia sekitar 6 tahun sedang menangis di depan supermarket N-one grocery. Hati kecilnya sedikit tersentuh melihat anak itu. Ammar, putranya pasti sudah sebesar itu sekarang. Sejak Ammar di bawa keluarga Nirwan ke Malaysia Yola memang tak pernah melihat anak itu. Dia juga tak pernah berusaha menemuinya. Hatinya sakit mengingat semua apa yang telah Ilham lakukan padanya. Usianya yang masih sangat muda kala itu, ditambah pengalaman buruknya selama hamil tanpa perhatian dan dukungan suaminya membuatnya ingin menjauhkan anak itu darinya. Dia tidak ingin memiliki anak dari pria itu. Ditambah lagi Yola tak mau kalau anak itu akan membuatnya terjerat dan tak bisa lepas dari Ilham. Maka dia pun memutuskan melepaskan Ammar dan Ilham. Mereka berdua bukan miliknya.


"Hey, sayang. Kenapa kamu menangis, hmm? Mana mamamu?" tanya Yola lembut.


Matanya celingak-celinguk memperhatikan sekitarnya siapa tau menemukan seseorang yang sedang mencari anaknya.


Bukannya diam, anak itu semakin mengencangkan suaranya.


"Huaaaa ...."


"Hey diamlah, sayang. Tante di sini! Tante akan bawa kamu ke bagian informasi," kata Yola mencoba menenangkannya.


Anak itu diam tapi masih terisak sambil menatap Yola.


"Makcik, tante itu ape?" tanyanya polos.


Hah? Aku di panggil makcik? Kayak mak- mak aja, sungut Yola dalam hati.


"Tante itu adalah aunty. Kamu paham tidak aunty? Ya sama saja dengan makcik,"jawab Yola.


"Tapi aku nak panggil makcik," kata anak itu dengan menyebalkan.


"Oke, oke. Terserah saja. Tapi kita harus segera temukan mamamu," kata Yola. "Ayo, ikut makcik!"


"Siapa namamu?" tanya Yola.


"David."


Yola menuntun tangan anak itu ke dalam supermarket.


Sementara itu dari kejauhan, seseorang menatap Yola dari dalam mobil.


Macem mana kau boleh peduli pada budak lain, sementara dengan anak kau sendiri tak kau pedulikan? batin pria itu dalam hati.


"Kita masuk sekarang, Tuan?" tanya sopir dalam mobil itu.


"Sekejab lagi." jawabnya.


Sementara itu di dalam supermarket, Yola segera mencari- cari bagian announcement N- one grocery dan akhirnya menemukannya dengan bantuan security.


"Maaf, anak ini kehilangan ibunya. Bisa tolong umumkan pemberitahuan agar ibunya bisa menjemputnya di sini?" tanya Yola.


Staff wanita yang bertugas di announcement itu tidak menghiraukan. Dia sibuk menelepon dengan ponselnya.


"Maaf, bisa tolong ...."


Staff wanita itu memberikan kode dengan telapak tangannya yang berarti menyuruh Yola diam karena dia tengah sibuk menelepon. Dan yang membuat Yola kesal adalah sepertinya itu bukanlah telepon yang sangat penting. Yola bisa mendengar kalau staff itu dengan gayanya yang genit sedang menelepon pacarnya.


Hal itu membuat Yola jadi tak sabar dan sedikit berang. Tanpa berpikir panjang dia lalu mencondongkan tubuhnya dan meraih micropone kecil itu ke mulutnya.


"Selamat pagi Bapak dan Ibu pengunjung N-one Grocery. Kami telah menemukan seorang anak laki- laki bernama David. Jika anda datang bersama David, mohon untuk datang ke bagian pelayanan customer. Terima kasih."


Mata staff itu langsung mendelik, melihat Yola yang dengan lancang mengambil microphone tanpa seijinnya.


"Kau ni ...."


Gadis di bagian informasi itu ingin merampas mic itu dari Yola, namun Yola mengabaikannya dan kembali membuat pengumuman.


"Good Morning, ladies and gentleman customer N- one Grocery, we have found a little boy named David. If you are with David, please come to costumer service office. Thank you."


"Hey! Siape kau??!! Laju sangat tangan kau tu. Kau bukan pegawai di sini, kenape nak lancang sangat pegang- pegang barang di sini?!!!" teriak staff itu marah.


Yola tak menanggapi teriakan marah staff itu. Dengan sabar ia tersenyum sambil menunggu orang tua David. Benar saja tak lama kemudian seorang perumpuan. Setengah baya datang tergopoh-gopoh dan menghambur memeluk anaknya.


"David! Kau tak apa- apa ke? Kenape tadi lepas tangan mama, sayang?"


"Tak ape- ape. Ade makcik tolongkan David." jawab anak itu menunjuk pada Yola.


"Terimakasih ye, Dik. Terimakasih dah tolongkan anak saye." ucap wanita itu.


"Sama- sama, Ibu. Lain waktu tolong jaga anaknya. Dan kamu boy, jangan jauh- jauh dari mama kamu lagi," nasehat Yola.

__ADS_1


"Ok, makcik! Tapi kenape makcik kalau cakap berbeza dengan aku?" tanyanya lugu.


"Karena makcik orang Indonesia. Tidak terlalu berbeda. Hanya sedikit je," jawab Yola menambahkan sedikit logat melayu pada kata- katanya.


"Indon? Makcik orang indon ke? Jiran aku pun ade pula orang Indon," kata anak itu.


"Kita memang jiran," jawab Yola tersenyum. "Dan juga saudara."


Selepas anak dan Ibu itu pergi. Staff announcement itu pun keluar dari posnya.


"Jadi kau siape? Ikut campur pekerjaan aku?"


Yola tersenyum.


"Aku sudah minta tolong tadi. Tapi kamu masih saja sibuk menelepon. Karena itu aku bantu kamu mengerjakan tugasmu, dan sekarang kamu masih ingin marah, saudari Berlina Riski?" kata Yola dingin setelah membaca nama staff itu pada bet namenya.


"A- ape? Siapa nak suruh kau ...."


"Berdo'a saja agar kamu tak bertemu aku lagi," kata Yola sembari menepuk pundak staff itu sembari meninggalkan announcement area itu.


 


\\\*


 


"Yolanda Gunawan! Kami panggil sekali lagi, Yolanda Gunawan!"


"Saya! Saya ada di sini," Yola segera berjalan cepat ke arah lelaki yang sedang memanggilnya.


"Sila duduk! Perkenalkan saye Nadira. Saya Pengarah bahagian Personalia. Boleh juga disebut Direktur HRD," kata wanita itu ramah.


Mereka berjabat tangan.


Nadira terlihat sangat cantik. Usianya juga masih terlihat sangat muda. Mungkin dia sebaya dengan Ilham, pikir Yola.


"Saudari Yolanda Gunawan, Anda tahu hari ini pukul 9 pagi ada jadwal interview, kan?" tanya lelaki di sebelahnya.


Lelaki itu juga kira- kira berusia sekitar 30 an sama dengan Ilham. Tapi dia sepertinya tidak seramah Nadira.


Yola mengangkat pergelangan tangannya dan melihat jam tangannya.


"Pukul 9 tepat. Saya sampai tepat waktu," jawabnya menegaskan.


"Kalau ditengok dari cara penalaran waktu Anda, Anda mestilah orang yang berprinsip pekerja dan karyawan mesti datang dan pulang tepat waktu. Jadi kalau masih ada job macam mana? Ape akan dipending hingga keesokan hari? Pabila dipending terus, kapan pekerjaan boleh selesai?" tanya lelaki yang ternyata adalah wakil direktur itu.


Yola yang mendengar nada tidak puas dari lelaki itu akan dirinya, menjadi tidak senang akan hal itu. Dia segera bangkit dari duduknya.


Tanpa menunggu jawaban dari orang- orang yang akan menginterviewnya, Yola segera berbalik badan bersiap untuk pergi. Namun ....


"Beginikah Bacherol of business administrasion University Warthon Amerika Serikat? Hanya karena satu almamater dengan Donal Trump, lalu saat kau tak suke langsung pergi begitu je?"


Ilham, entah bagaimana kini telah berdiri di hadapannya. Jantung Yola seakan ingin lepas dari tubuhnya, namun untungnya dia segera bisa mengendalikan dirinya. Dia telah mempersiapkan saat- saat seperti ini. Cepat atau lambat dia pastilah akan bertemu dengan Ilham meski Yola tak mau.


"Maaf, anda adalah ...? Yola mempertanyakan jabatan Ilham di tempat itu.


"Ketua Pengarah N- one Grocery atau boleh juga disebut Direktur Utama, Tengku Ilham Nirwan," jawabnya tegas.


Yola mengangguk- angguk paham. Sepertinya Atok berbohong padanya. Nyatanya Ilham tidak ada di Johor, melainkan di sini.


"Untuk merespon pertanyaan atau pernyataan Anda baru saja, pertama- tama, saya jelaskan pewawancara menyatakan ketidakpuasannya terhadap diri saya karena tidak datang lebih awal, yang mana dalam hal ini saya sama sekali tidak terlambat," kata Yola menatap wakil direktur itu kemudian kembali menatap Ilham.


"Lalu, dia merasa kalau pekerja datang dan pulang tepat waktu berarti tidak dapat menyelesaikan pekerjaan. Ini benar- benar konyol sekali. Karena yang harusnya dilihat dari sebuah jabatan adalah kemampuannya bukan seberapa banyak waktu lembur yang akan saya habiskan di sini. Jadi menurut saya, antara kedua belah pihak, si penginterview dengan yang diinterview boleh saja memilih. Dan terus terang saja sikap dari N-one grocery cukup membuat saya kecewa. Meneruskan interview ini hanya akan membuang- buang waktu saya." jawab Yola.


Ilham menarik napas.


"Mendengar jawaban dari saudari Yolanda, saya boleh menarik inti dari hal ini, bahwasanya wakil direktur kami yang salah dalam pasal ini. Saye memohon maaf atas namanya. Tetapi, N- one grocery adalah perusahaan besar berskala nasional, saudari Yolanda tidak semestinye menilai kami hanya dari satu kalimat itu sahaja. Jadi, bolehkah kite saling memberikan kesempatan lagi?


Yolanda menatap lelaki di depannya ini hampir tak percaya. Lelaki itu bersikap formal padanya. Benar- benar tak berperasaan. Namun pada akhirnya dia mengangguk.


"Baik, terimakasih Pak Direktur."


 ***


"Menurut anda, ape tiga keterampilan penting untuk berkarier dalam pemasaran?" tanya Nadira memulai tugasnya sebagai penginterview.


Kali ini ada 3 orang yang menginterviewnya. Nadira, wakil direktur bernama Leon itu dan juga Ilham, mantan suaminya sendiri.


"Pertama-tama, saya pikir keterampilan komunikasi itu penting. Seseorang yang bekerja di bidang marketing perlu memahami klien dan bisa mempresentasikan ide dan konsep. Kedua, keterampilan bekerja secara teratur. Ketiga, bersikap proaktif dan mencoba mengantisipasi kebutuhan klien.” jawab Yola.


"Ape yang membezakan kamu dari kandidat lain yang kami wawancara untuk posisi ini?"


“Sesuatu yang membedakan saya dari kandidat lain adalah kemampuan saya dalam mempresentasikan sesuatu. Sebelumnya, saya bekerja sebagai koordinator sukarela untuk organisasi nirlaba besar dan sering mengadakan presentasi kepada kelompok-kelompok yang terdiri lebih dari 100 orang. Saya sangat nyaman berada di depan atau sekelompok orang, tidak peduli ukurannya. Dengan kemampuan ini, saya percaya diri bahwa saya layak bekerja di tempat ini.”


Yola dengan gamblang menjelaskan pertanyaan demi pertanyaan.


Giliran Ilham bertanya.


"Pasar saham sedang bergejolak. Kalau kamu adalah tradernya, apa yang kamu lakukan?" tanyanya.


Yola tersentak. Ilham mengganti panggilannya dari "saudari" menjadi "kamu". Dan terlebih- lebih laki- laki ini mengungkit soal saham dan trader padahal Yola tidak menyertakan itu dalam CV-nya. Kenapa dia bisa tau?

__ADS_1


"Trader ada di wall street dan bursa efek. Tidak ada hubungannya dengan posisi yang akan saya duduki nanti di N- one. Bisa lanjut dengan pertanyaan lainnya?" tanyanya tidak senang.


Sekarang giliran Nadira bertanya lagi.


"Status perkahwinan. Ape Saudari Yolanda telah berkahwin?" tanyanya.


Pertanyaan itu membuat Ilham dan Yola saling pandang sejenak. Perasaan dalam hati Ilham berkecamuk, sedangkan Yola merasa itu pertanyaan menjengkelkan.


"Saya telah menyertakan di CV saya identitas card saya sebagai warga Indonesia. Saya tidak pernah menikah!" katanya tegas.


Kata- kata itu sangat menusuk dalam relung hati Ilham.


"Baiklah. Pertanyaan berikutnya dari saye," kata Leon. "Berapa banyak salary yang Anda minta bilamana anda diterima pada bidang pekerjaan ini?"


"50.000 RM," jawab Yola santai.


"Whatt???!!! 50.000 RM? Wow, fantastic! Anda tahu salary saye sebagai wakil direktur utama saje, hanya berkisar 25.000 je. Dengan pengalaman bekerja hampir 5 tahun lamanye. Dan Anda belum ape- ape dah pun menuntut banyak sangat!" pekiknya tak suka.


Yola tersenyum.


"Itu masalah anda. Saya meminta sebegitu banyak karena saya yakin dengan kemampuan saya sebagai lulusan Warthon University. Tapi kalaupun pihak N- one tak sanggup membayar sebanyak itu untuk salary saya, seperti saya katakan tadi. Kita masing- masing sebagai orang yang diinterview dengan yang menginterview bisa memilih," kata Yola.


Sebenarnya dia mengatakan gaji tak masuk akal hanya agar punya alasan menolak kerja di sini. Yola telah memikirkannya. Dia tak mau lagi terlibat dengan Ilham.


Tapi di luar dugaan, Ilham malah menyetujuinya.


"Baiklah, sepakat! 50.000 RM bilamana kau berhasil diterima di sini," kata Ilham.


"Ilham!!!" pekik Leon tak terima.


"Saya masih direktur di perusahaan ni."


"Baiklah, Tuan direktur. Tapi bukankah ini terlalu ...."


"Nanti sahaja dibahas."


Leon tak lagi dapat berkata- kata.


"Baiklah, kami rase sesi interview dapat kita cukupkan hingga mase ni sahaja. Sila saudari Yolanda tunggu dalam beberapa hari." kata Nadira.


"Baiklah. Saya pamit. Terima kasih atas interviewnya," kata Yola.


Tanpa berjabat tangan lagi dengan ketiganya. Yola segera berbalik arah dan keluar dari sini.


Usai Yola pergi, Leon akan menyuruh sekretaris memanggil pelamar berikutnya. Tapi Ilham melarang.


"Suruh je pelamar tu balik. Sampaikan permintaan maaf yang tulus bagi semuanya. Direktur Marketing kite telah dipastikan," kata Ilham datar.


"Siape?!" pekik Leon sambil menganga. "Gadis arogan tadi ke?"


Dia tak percaya sahabatnya Ilham punya pemikiran tak masuk akal seperti ini.


Ilham menghela napas. Memilih tak menjawab.


"Jadi dia ke, Mommy Ammar yang sesungguhnye?" tanya Nadira membuat Leon semakin menganga tak percaya.


"Ape? Ape maksudnya Mommy-nya Ammar?" tanya Leon pada Nadira.


Nadira tersenyum penuh arti.


"Jadi ini ke alasan kau balik dari Johor setelah aku membagi tahu profil masing-masing kandidat? Yolanda Gunawan, membuat Ilham yang workhaholic tak peduli urusan lain langsung terbang kat sini dalam sekejab je?" godanya pada Ilham.


"Betul ke yang dikate Nadira tu Ilham?" tanya Leon penasaran.


"Betullah. Kau tak percaye ke isteri kau?" tanya Nadira pada Leon.


Nadira dan Leon keduanya adalah sahabat Ilham semasa sekolah. Keduanya pasangan suami istri. Meski berasal dari lulusan universitas nasional, Ilham mengajak mereka untuk bergabung di perusahaan N- one setelah mempertimbangkan kemampuan keduanya dalam membantunya mengurusi masalah perusahaan.


"Tapi, kau kate dia sangat benci pade kau. Macam mana die boleh nak masuk ke N- one? Ape alasan dia?" tanya Leon bingung.


"Pasti Atok yang ingin dia masuk N- one," jawab Ilham.


"Presiden direktur?"


Ilham mengangguk.


"Buat ape? Dia benci sangat kau Ilham. Kenape dia nak masuk kat sini?"


"Demi Ammarlah. Ape lagi?"


"Tapi kate kau dia juga tak nak dengan anaknya sendiri. Macam mana dia boleh mau ambil Ammar sekarang?"


"Mase boleh merubah seseorang, mungkin Yola juga. Mungkin mase ni dia telah menginginkan Ammar kembali," kata Ilham.


"Lalu kau akan memberikan Ammar?" tanya Nadira.


"Ya. Asal dia kembali padaku."


"Lalu .... Sonia? Dia tidak akan suke dengan hal ni. Kalau dia tahu hal ini, dia tak kan membiarkan apa yang kau mahu terjadi."


"Dah lama pun aku mengalah pada wanita ular tu. Dah saatnya pun melepaskan diri dari dia. Dan aku percaye Atok dah aturkan ini, agar aku dapat rujuk kembali dengan Yola. Aku tak boleh sia- siakan kesempatan ni," kata Ilham.

__ADS_1


__ADS_2