Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Adik Ipar


__ADS_3

"Hum? Maksudnya, Dok?" tanya Yola bingung. Sama bingung dengan mereka semua yang ada di ruang dokter itu.


"Ya, Andini menyukaimu," katanya memperjelas pernyataannya.


"Dia mengenalku?" tanya Yola.


Dr. Abraham mengangguk sambil tersenyum.


"Bukan hanya kamu. Dia mengenal kaflian semua sebagai keluarga kandungnya," jawab dr. Abraham memperjelas.


"Lalu, kalau macam tu, kenape dia tak nak menunjukkan diri dia pada kami? Dia tak nak berjumpa dengan keluarga kandung dia ke?" desak Ilham masih dengan intonasi yang penuh emosi. "Doktor pun, kenape nak sembunyikan Andini dari kami selama bertahun-tahun? Datuk, sebenarnya ape yang terjadi?"


Desakan demi desakan terus dilancarkan Ilham hingga mau tak mau Datuk Abidin pun mulai mau membuka suaranya.


"Ilham, dengarkan Datuk. Ape yang datuk ceritakan ni adalah benar adanya tak ade yang datuk tambah-tambahi atau datuk kurang-kurangi. Lepas tu kalau awak masih menyalahkan datuk pun tak ape. Datuk ni tak punya pilihan lain mase tu," kata datuk Abidin memulai cerita masa lalu yang hendak dikisahkannya.


Lalu kemudian, mengalirlah cerita masa lalu itu dari mulut datuk Abidin. Semua dari awal dia bekerja di toko N-one, hingga sering bertemu dengan seorang pelanggannya yaitu dr. Abraham Yusuf yang saat itu masih merupakan remaja muda dan sedang menempuh pendidikan coass-nya di Penang. Hingga sampai di poin utama cerita, ketika dia bertemu dengan seorang yang mengaku dirinya adalah Mr. Y.


"Orang tu mengancam Datuk dengan keselamatan Farida, makcikmu yang kala itu masih bersekolah di sekolah menengah. Awalnya datuk tak percaya dan berusaha untuk abaikan ancaman tu. Tetapi dua hari kemudian, dia buat ancaman itu menjadi nyata. Makcik Faridamu tak pulang semalaman dari sekolah, membuat datuk menjadi ketakutan setengah mati. Orang itu ... yang bernama Mr. Y itu, mengancam datuk kembali, menyuruh Datuk memilih antara Makcik Faridamu, Andini dan awak ..." kenang orang tua itu dengan mata mulai berkaca-kaca.


Ingatannya seperti terputar kembali bak sebuah film dari masa lalu. Entah kenapa hari ini ingatannya menjadi normal kembali setelah berbulan-bulan lamanya ingatan itu tenggelem oleh demensia yang di deritanya. Datuk Abidin menceritakan kisah dilema itu dengan sangat lancar.


Ilham yang mendengarkan dengan seksama beberapa kali menginterupsi kisah dari datuk Abidin, menanyakan beberapa hal yang tidak dia mengerti hingga datuk Abidin menjelaskannya.


"Mase itu ade Zuhri, kaki tangan dari Mr. Y yang akan mengawasi datuk agar tidak berbuat licik saat menculik Andini. Dia yang usulkan untuk menukar Andini dengan anak seorang temannya yang bekerja sebagai perempuan malam pada Mr.Y, kerana dia merasa kasihan tengok datuk yang belum ape-ape dah merasa bersalah tak berkesudahan jika terjadi sesuatu yang buruk pada Andini. Hanya ini jalan keluar yang terpikir oleh datuk saat itu. Datuk menyetujuinya dan ketika Zuhri bertanya Andini yang asli akan diserahkan pada siape, yang terpikir oleh datuk ketika itu hanya ananda Yusuf. Seingat Datuk semenjak dia menyelesaikan study dia kat Penang, dia dah pun ade planning untuk melakukan study lanjutan di Jakarta. Datuk sebetulnya tak yakin tetapi Datuk terus mendesak Zuhri untuk mencari tahu tentang keberadaan dr. Abraham Yusuf asal Malaysia yang siapa tahu saja masih berada di Indonesia. Datuk pun tak sangke kalau orang tu ternyata dapat dipercaya. Dia amanah untuk satu hal ni," tutur Abidin.


"Tetapi kenape datuk tak bagi tahu kite, datuk? Kite boleh laporkan orang tu ke balai polis," kata Ilham frustasi.


Datuk Abidin menggeleng.


"Tak senang macam tu. Zuhri kate Mr. Y itu pemimpin sindikat jaringan internasional yang keji. Dia tu jahat, dapat berbuat apa sahaja yang dia inginkan. Kalau pun Datuk tak nak turuti mahu dia, dia mesti cari orang lain untuk melakukan ape yang dia mahu dan datuk tak dapat jamin Andini akan baik-baik sahaja jika orang lain yang dia suruh mencelakai Andini. Jadi Datuk berpikir, biar datuk sahaja yang menanggung semua ini. Asal Andini baik-baik sahaja," papar Datuk Abidin dengan rasa bersalah.


"Lalu lepas tu, ape yang membuat Datuk berubah pikiran hari ini? Mengape baru hari ini, Tuk?" tanya Ilham dengan perasaan yang campur aduk.


"Datuk ni dah tua. Umur datuk pun tak akan lama lagi. Nak sampai bila Datuk nak rahsiakan perkara ni? Tak tenang arwah datuk ni dalam kubur bila tak ungkap rahsia ni. Awak pun mesti tahu macam mana keadaan datuk mase ni. Tak tahu pabila-bila esok Datuk tak ingat lagi pasal ni, nak siape lagi bagi tahu kalau Andini masih hingga saat ini?" keluh Datuk Abidin akan kondisi kesehatan dan ingatannya yang semakin menurun dari hari ke hari.


Ilham terdiam. Amarah untuk Datuk Abidin masih ada dalam hatinya saat ini. Bagaimana pun harusnya Datuk Abidin tidak berpikir untuk menangani masalah ini sendiri. Bukankah ini bisa dimusyawarahkan? Ahh tidak! Ilham mengusap wajahnya kasar.


Dia pun pernah melakukannya di masa lalu. Dan kasus mereka tidak jauh berbeda. Selalu karena Mr. Y sia*an itu! Dan Ilham pun jauh merasa lebih bodoh kalau mengingat kembali hal itu. Bisa-bisanya dia membiarkan Mr.Y memporak-porandakan hidupnya dan juga pernikahannya. Harusnya waktu itu, keluarga Nirwan dan Keluarga Gunawan membicarakan hal itu dengan musyawarah, hingga dia tak perlu berpisah lama dengan Yola.


Dan mengingat kondisi kesehatan Datuk Abidin yang tidak menguntungkan membuat Ilham urung untuk melampiaskan kekesalannya pada orang tua itu. Tetapi tunggu ... tidak dengan dokter itu, ya! Ilham masih tidak habis pikir kenapa dokter itu tidak mengabari mereka selama puluhan tahun kalau Andini ada bersamanya. Kenapa dia diam saja?


Sekarang Ilham berpaling pada Dr. Abraham.


"Kepada Tuan Doktor pula, kenape Tuan Doktor sembunyikan Andini? Mengapa tak pernah kabari kami? Kalau ditengok dari ape yang tuan doktor katakan tadi, berarti telah sejak lama Tuan tahu kalau Andini mempunyai family dia sendiri. Mengape tak bagi tahu kami?" tuntut Ilham dengan geram.


"Saye tahu siape Andini dari semenjak saye temukan dia di depan rumah saye di Jakarta. Dari surat tu, saye boleh menebak kalau yang mengirim Andini mestilah orang Malay, yang mengenal saye semenjak lama. Tak ade orang lain yang mungkin mengirimi Andini pada saye selain pakcik Abidin. Dan lagi kerana dalam surat tu dia berkate Andini akan dalam bahaya jika berada bersama keluarga kandungnya, saye dan isteri memutuskan untuk mengasuh dan membesarkan Andini sendiri. Kami pun tak ade beisi anak. Andini anak kami satu-satunya. Dia buah hati kami. Maafkan saye dan isteri saye pabila akhirnya kami menjadi tamak ingin mempunya Andini sendiri sahaja, kami tak sanggup kehilangan dia, dia ...."


Bughhhh!!!


Sebuah pukulan dari Ilham mendarat di wajah dr. Abraham.


"Abaaaang!!!" pekik Yola sambil menarik Ilham agar tidak melakukannya lagi.


"Astaghfirullah, Ilham!" teriak Makcik Aminah pula.


Sementara Datuk Abidin malah menjadi bingung dan linglung kembali.

__ADS_1


"Senang bagi awak becakap macam tu! Tuan doktor, awak tahu ke, mamah saye kat rumah sana menangisi anaknya yang hilang sejak baby hingga hari ini. Bahkan datuk saye telah mencari anak pengganti untuk gantikan Andini, tetap tak dapat hilangkan kesedihan Mamah saye. Hari ini pun awak tahu ke, Mamah saye sampai menyangka seseorang krimanal sebagai anaknya kerana dihasut oleh Mr.Y itu. Awak tahu ape artinya itu? Itu artinya mamah saye tak dapat lupakan anaknya yang hilang hingga detik ni! Macam mana awak boleh berpikir kalau awak lebih punya hak atas Andini? Awak takut kehilangan budak yang awak temukan dan telah awak anggap anak sendiri, habis tu awak tak pikir ke macam mana dengan keluarga yang ditinggal? Mamah saye, Papah saye dan saye hanya tak dapat mengungkapkan ape yang kami rase semenjak Andini hilang. Tetapi awak senang je nampaknya menerima kebahgiaan di atas penderitaan keluarga saye! Kalau dah macam ni, macam mana?"


Dr. Abraham mengelus pipinya yang kelihatannya memar karena di pukul Ilham. Tepat ketika dia ingin menjawab, perawat jaga tadi tiba-tiba datang dan mengetuk pintu.


"Doktor, nampaknya mase rehat doktor dah usai. Patient dah tak sabar menunggu giliran untuk diperiksa, Doktor," perawat itu melaporkan.


"Ahh, hmm sekejap! Bagi tahu mereka untuk menunggu 5 minit lagi," jawab dr. Abraham.


"Baiklah, Doktor!"


Lalu perawat itu kembali undur diri.


Dr. Abraham menatap Ilham.


"Saye akan jelaskan semuanya pada korang semua setelah saye usai bekerja. Dapatkah awak menunggu dahulu?" tanyanya sambil melirik pada Yola, berharap wanita itu berkenan membujuk Ilham.


Yola nampaknya mengerti.


"Abang, dokternya masih ingin melanjutkan pekerjaannya terlebih dahulu. Sepanjang dokternya masih bekerja, kita urus Sonia dulu yuk? Dan datuk juga ke sini mau berobat, kan?" bujuknya pada Ilham.


Ilham mendengus, dia masih ingin melampiaskan kekesalannya tetapi bujukan istrinnya tak bisa diabaikannya begitu saja. Yola harus tetap merasa bahagia di masa kehamilannya. Dan menuruti permintaan-permintaan kecil dari sang istri termasuk salah satu yang bisa mewujudkannya melakukan hal itu.


"Jadi kapan kita bisa membicarakan ini, Dokter?" tanya Yola setelah melihat Ilham mulai melunak.


"Seusai saya bekerja. Katakan saja, dimana sebaiknya kita membicarakan ini?" tanya dr. Abraham kembali dengan mode Indonesian language saat dia berbicara pada Yolanda.


"Mungkin di rumah dokter? Atau disini juga tak apa. Panggil Andini sekalian, kami perlu bertemu dengannya juga," kata Yola.


Dr. Abraham menggeleng.


"Dia tak ada di sini," jawabnya, membuat Yola dan Ilham kembali menatap dokter itu dengan mata memicing.


Jangan sampai dokter ini sengaja ingin menjauhkan mereka dari Andini. Bisa-bisa Ilham akan mengamuk lagi.


Dr. Abraham tahu apa yang dipikirkan oleh mereka-mereka tamu tak diundang yang adalah keluarga kandung dari putrinya ini.


"Dia di Kuala Lumpur, ingin kuliah mengambil gelar magister-nya," jawab dr. Abraham sebelum mereka salah paham kembali padanya.


Yola mengangguk-angguk takjub. Tentu saja dokter ini akan menyekolahkan putrinya tinggi-tinggi, meski dia bukan ayah kandungnya. Dirinya saja belum sempat mengambil kuliah S2 dikarenakan kesibukannya bekerja dan saat ini sedang mengandung pula.


"Hmm, baiklah. Kita akan bicarakan ini seusai dokter selesai praktek nanti. Sebelumnya maaf kalau lancang, boleh saya meminta nomor ponsel dokter?" pintanya.


"Oh iya tak apa ... silahkan dicatat," kata dr. Abraham.


Yola segera mengambil ponsel dari tasnya.


"Baiklah, berapa nomornya, Dok?"


Dr. Abraham pun menyebutkan beberapa digit nomor yang segera dicatat Yola pada ponselnya. Dan ketika Yola menyimpan nomor kontak dr. Abraham, dia tertegun saat mengetahui kalau nomor dokter itu telah tersimpan sebelumnya di kontak ponselnya. Ini kan nomor dokter spesiali yang direkomendasi oleh ibunya pasien orang Indonesia yang kemarin? batin Yola.


Yola terpaku menatap foto profil sang dokter yang belum berubah seperti foto yang dia lihat saat pertama kali menyimpan nomor kontak dokter itu.


Yola menunjukkan ponselnya pada dr. Abraham, menunjukkan foto profil sang dokter dengan seorang gadis muda.


"Ini ...?"


Dr. Abraham memakai kaca matanya dan memicingkan matanya untuk melihat dengan jelas apa yang ditunjukkan Yola padanya. Kemudian dia tersenyum.

__ADS_1


"Dia Andini."


"Hah?" Yola membelalak tak percaya.


Ilham sendiri sampai merebut ponsel Yola dari tangan istrinya itu. Dia ingin melihat wajah adik kandung yang dia tidak kenal lagi rupanya itu.


"Abang, dia adalah perempuan yang aku bilang nyopet tas dan Hp-ku waktu itu," adu Yola.


Ilham mengernyitkan keningnya heran. Ahh, yang betul?


"Iya. Ini dia, dua kali dia menjambret aku. Yang pertama udah lama sekali, pertama kali waktu di mall waktu itu. Terus yang kedua, yang pas kita di depan resto waktu kita baru bertemu dengan pihak airport," kata Yola lagi mencoba mengingatkan Ilham. "Habis itu aku juga sempat ketemu dia di sini, di Penang, di N-one minimart, waktu kita honeymoon. Inilah orangnya, Bang! Ya Allah, bisa kebetulan gini ya?"


Yola sangat antusias memaparkan penjelasannya pada Ilham.


"Jambret?" Dr. Abraham mengernyitkan keningnya.


"Hu um, dulu sekali pas aku ke Malaysia, waktu itu aku masih SD, dia menjambret tas dan HP-ku di mall di area Petronas," kata Yola menjelaskan.


Dr. Abraham memang tidak tahu apa yang terjadi waktu itu karena dia tidak turut ikut ke Kuala Lumpur.


"Oh, pantas saja dia tahu banyak tentangmu. Ckckc ... anak nakal!" gerutunya.


"Maksudnya?" Yola mengerutkan keningnya tak mengerti.


"Dia mencuri itu darimu pasti untuk stalking lebih banyak tentang iparnya," kata Dr. Abraham lagi. "Seperti yang saya katakan tadi. Dia mengenalmu sejak lama. Dan mungkin alangkah baiknya saat ini, kamu yang harus lebih banyak mengenalnya."


Yola terdiam beberapa saat sebelum benar-benar mengerti maksud perkataan dari dr. Abraham.


"Ahsyiiap, dokter!!" jawabnya dengan senyum.


****


Beberapa hari kemudian ...


Di sebuah kost-kostan putri di salah satu area universitas swasta terkemuka di Kuala Lumpur, seorang gadis sedang bersiap-siap hendak berangkat ke kampusnya. Hari ini dia ingin registrasi ulang ke kampus.


Dia Andini Yusuf, bayi keluarga Nirwan yang hilang dan telah tumbuh dewasa dan masih tak mau menunjukkan identitas dirinya pada keluarga aslinya. Tetapi rasa penasarannya belu hilang terhadap keluarga itu. Itulah sebabnya dia memutuskan untuk mengambil kuliah di Kuala Lumpur agar lebih mudah memata-matai keluarga Nirwan itu, orang-orang yang telah membuangnya.


Untuk apa dia melakukannya? Tak ada. Hanya untuk bersenang-senang saja. Tak ada niat ingin kembali ke keluarga itu sebenarnya.


Baru saja Andini menyemprotkan parfum di lengan bajunya, tiba-tiba pintu kostnya ada yang mengetuk.


"Siapa??" teriaknya dari dalam kamar.


Dia belum kenal dengan para tetangga kamarnya, karena semua saling sibuk dengan urusan kuliah masing-masing. Atau ini salah seorang dari mereka? Atau ibu kost?


Tak ada sahutan dari luar kamar, melainkan terdengar suara ketukan lagi.


Ahh, sungguh tak sopan! Apa dia nggak bisa ucapkan salam dan menyahuti pertanyaan pemilik kamar? gerutu Andini dalam hati.


Lalu dengan berdecak dia pun segera menuju pintu, membukanya dan tetkejut melihat siapa yang sedang berdiri di sana. Andini ingin kembali menutup pintu itu, tetapi wanita itu menahannya. Wanita seusianya dengan perut membuncit sedang menahan gagang pintu agar tidak menutup.


"Hai, adik ipar! Akhirnya aku bertemu denganmu!" kata wanita itu dengan nada senang.


Dia Yola! Sial! Kenapa dia bisa ada di sini?


****

__ADS_1


Hallo reader jangan lupa like dan komentnya ya. Habis JDM tamat kayaknya othor mau lanjutin season dua i love you dr. gagu deh sama assalamualaikum my ceo. Kalian yang belum mampir di situ, boleh mampir ya. Sebelum itu jangaj lupa tinggalin suportnya donk, like dan koment juga ...


__ADS_2