
Hafiz membawa Yuri ke mall. Dia harus menjauhkan gadis ini sementara dari rumah Lucas. Semua yang terjadi harus berjalan sesuai rencananya dan sang abang, Ilham.
Usai memeriksa CCTV tetangga rumah yaitu Adly, Hafiz pun langsung menelepon Ilham menanyakan apa yang harus ia lakukan dengan rekaman CCTV itu. Untuk masalah sepenting ini, dia tidak mau gegabah dan melakukan rencana dengan penuh emosi tentu saja. Bukti yang ada harus lebih dari cukup. Dan berembuk dengan Ilham membuatnya setidaknya bisa mengesampingkan amarah dalam dada dan dapat berpikir lebih jernih.
"Mase ni kau ke balai polis, kalau kau rase perkara ni tak dapat menanti abang balik dari Penang. Abang ni untuk beberapa hari yang akan datang nampaknya belum dapat pulang. Sonia masih pemeriksaan awal. Kite baru dapat bilik rawat dia, belum lakukan CT scan dan prosedural hospital lainnya, belum lagi abang sempat kunjungi rumah datuk kat kampung baru. Abang juga tak dapat tinggalkan Yola sendiri kat sini," kata Ilham di telepon.
"Jadi menurut abang sebaiknya record CCTV ni langsung dibawa ke balai polis sahaja?" tanya Hafiz agak sedikit tak setuju.
Hafiz mendengus kasar.
"Abang, macam mana kalau mereka tak segera memproses case ni? Hanya bukti berupa CCTV nampaknya belumlah cukup membuktikan kalau Yuri adalah pelaku yang sebenarnya. Ditambah lagi record CCTV tak menampakkan dengan jelas kalau Yuri adalah orang yang berada di sana. Sebab terlalu jauh jarak pandang kamera CCTV tu dengan rumah kite. Dan pula disitu tak menampakkan dia sedang mencelakai Atok. Dia hanya tertangkap kamera sedang memanjat di jendela kamar yang Sonia duduki (tempati). Jadi aku rase polis tak akan mahu segera berbuat tindakan untuk tangkap dia tanpa bukti yang memadai," tanya Hafiz seraya memaparkan pendapatnya.
Ilham terdiam sejenak, entah karena memikirkan jawaban dari pertanyaan Hafiz atau karena Yola berusaha menyela pembicaraan mereka untuk mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan. Dan Hafiz hanya bisa bersabar menunggu jawaban dari sang Abang.
"Hafiz, kau tahu ke di mana Yuri dan Lucas beduduk (tinggal) selama ade kat KL?" tanya Ilham.
Hafiz terdiam mengingat-ingat.
"Kalau tak salah, dia pernah cakap mereka duduk kat Setiawangsa," jawab Hafiz.
Di seberang sana Ilham sedang mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kau talipon datangi dia kat sana, ajak dia keluar," perintah Ilham.
"Hmm? Buat ape?" tanya Hafiz tak mengerti.
"Lucas sedang tak ade kat sana. Dia ade kat Phnom Penh. Kite mesti dapatkan sesuatu yang dapat menjadi barang bukti untuk mengungkap semua kebenaran. Sepandai-pandainya mereka nak sembunyikan kejahatan mereka tu, pasti ada celah atau bukti tertinggal kat situ. Nanti abang akan suruh beberapa orang untuk cari di seluruh rumah tu, ape yang kita-kira mencurigakan di sana," papar Ilham.
Hafiz mengangguk meski Ilham tak dapat melihat anggukannya. Sepertinya itu adalah ide yang lumayan bagus.
"Baiklah, kalau macam tu tutup talipon ni dahulu. Abang mesti talipon Leon nak suruhkan dia cari orang-orang yang dapat tolong kite untuk masuk dan periksa rumah Lucas," imbuh pria berusia 31 tahun itu.
Dan hanya butuh waktu setengah jam, Hafiz dihubungi langsung oleh Leon untuk membicarakan planning mereka untuk menggeledah rumah Lucas yang sedang ditinggal pergi oleh penghuninya.
Dan disinilah mereka saat ini. Sedang berada di toko sandal brand ternama di salah satu pusat perbelanjaan di kota Kuala Lumpur ini.
"Bagus yang ini atau yang ini, Ndut?" tanya Yuri sambil menunjukkan dua pasang sandal wanita yang modelnya tidak terlalu feminim.
Yuri sebenarnya tidak terlalu suka segala sesuatu hal yang terlalu feminim.
"Terserah kamu sahaja hendak pilih yang mana," jawab Hafiz datar.
Matanya tertuju pada toko aksesoris di sebelah toko sepatu dan sandal. Hafiz tertarik pada ikat rambut lucu bermotif love berwarna pink kombinasi putih itu. Putri pasti akan terlihat sangat cantik memakainya, batin Hafiz.
Sementara Yuri sibuk memilih-milih sandal, Hafiz menyempatkan diri untuk menyelinap sejenak ke dalam toko itu dan membeli barang khas milik perempuan yang sedari tadi menarik hatinya itu. Menolak dibungkus, Hafiz pun mengantongi ikat rambut itu.
"Kau dari mana?" tanya Yuri dengan pandangan mata memicing begitu melihat Hafiz kembali.
"Dari sebelah. Nak tengok sesuatu yang dapat dibeli untuk Mamah, tetapi nampaknya di situ hanya ade untuk perempuan-perempuan muda saja," keluh Hafiz.
Yuri tertawa mendengarnya.
"Jelas aja donk. Kamu nggak lihat itu toko khusus aksesoris remaja. Tuh lihat, ikonnya aja hello kitty semua," gelak Yuri. "Aku kira tadi kamu beliin sesuatu buat pacar kamu!"
Hafiz tersenyum. Memanglah, batinnya.
"Kamu mau?" tanya Hafiz menanyakan.
Berlagak seperti Yuri adalah pacarnya adalah hal memuakkan. Entah harus berapa lama lagi dia berakting sampai orang-orang suruhan Leon selesai dengan menggeledah rumah Lucas.
__ADS_1
"Kamu mau belikan emang?" tanya Yuri balik.
Hafiz mengangkat bahu.
"Aku sangka kau tak suke barang-barang feminim macam tu," katanya.
"Memang. Tapi kalau itu dari kamu, ada pengecualian," jawab Yuri malu-malu.
"Baiklah, habis kau pilih kasut tu, kau pilihlah yang mana hiasan rambut yang kau suka," ujar Hafiz lagi.
***
Sementara itu di rumah Lucas, keempat orang suruhan Leon itu sibuk menggeledah setiap ruangan yang ada di rumah itu. Dari ketiga kamar hingga dapur bahkan dari ruang yang tidak tersembunyi sekali pun mereka mencari.
Salah seorang dari mereka menemukan berbagai macam obat-obatan yang tidak dia tahu tahu apa itu, di kamar Lucas. Ada juga tembakau dan pipa rokok. Semua tak luput dari perhatiannya.
Sementara di kamar Yuri, mereka juga menemukan stamp pad dan lebih mengejutkan ada senjata api juga. Dan jangan lupakan beberapa senjata tajam berbagai macam jenis dan ukuran. Sekilas orang yang tidak kenal Yuri tidak akan tahu kalau pemilik semua barang itu adalah wanita.
"Saye temukan ini!" pekik orang yang memeriksa kamar Lucas.
Di tangannya yang memakai sarung tangan karet, dia memegang secarik kertas yang dia temukan dalam sebuah map di bawah lipatan baju di lemari Lucas.
Ketiga lainnya yang sedang memeriksa ruang lain menghampiri, dan membaca surat itu dengan seksama. Itu adalah surat penjanjian jual beli saham atas nama Tengku Yahya Nirwan kepada pihak pembeli. Lucas.
"Kau talipon Tuan Hafiz!" suruh temannya.
Dan segera tak menunggu lama orang itu pun melakukan panggilan suara pada Hafiz.
Hafiz yang baru selesai membayar sepatu pilihan Yuri, saat mendapat panggilan itu menyuruh Yuri untuk kembali memilih barang aksesoris yang diinginkan wanita itu terlebih dahulu di toko sebelah toko sepatu.
Sungguh dia seperti seorang hewan buas yang sengaja ingin memberi mangsanya makan sekenyang-kenyangnya dahulu, sebelum memakannya nanti. Bersenang-senanglah dahulu, Yuri, sebelum kau lama di dalam bui nanti! Atau sebaiknya kau dihukum mati saja? batin Hafiz geram.
Tanpa punya firasat apa pun, Yuri dengan girang masuk ke dalam toko aksesoris itu. Baru kali ini dengan rasa gembira dia memasuki toko perlengkapan aksesoris wanita seperti ini. Sebelumnya dia adalah wanita yang tomboy dan hampir tidak pernah senang dengan segala barang remeh temeh wanita tak penting semacam ini. Tetapi kali ini, entah bagaimana seorang Yuri bisa dengan sangat antusias memilih aneka pernak-pernik wanita untuk dirinya sendiri semacam ini. Lihatlah, bagaimana cinta bisa mengubah seseorang berubah menjadi seseorang yang bukan dirinya.
Harus ada! Tidak boleh tidak! Kalau bukan sekarang, dia tidak tahu bagaimana cara dia untuk dapat mencari tahu lagi bukti kejahatan Lucas dan Yuri.
"Tunggu sekejap!" Pria yang meneleponnya, mematikan panggilan telepon itu sebentar dan mengirim beberapa foto barang yang mereka temukan pada Hafiz.
Hafiz memperbesar tampilan gambar yang mereka kirimkan. Sebuah surat, Hafiz lebih tertarik penemuan itu dibandingkan penemuan lainnya.
Seketika senyum mengembang di bibirnya. Senyum senang sekaligus senyum mentertawakan Lucas. Betapa cerobohnya pria itu!
Hafiz menebak mungkin karena buru-buru ingin ke Phnom Penh untuk menyelesaikan masalah perusahaannya, pria tua itu sampai tidak ingat lagi tentang dokumen-dokumen penting yang harusnya dia tidak simpan sembarangan. Mungkin tak terbersit olehnya kalau suatu ketika pihak keluarga Tengku Yahya Nirwan selaku orang yang dia curi haknya bisa saja akan berada di rumah ini dan mengambil kembali apa yang tidak seharusnya dia ambil secara tidak wajar. Dan naas untuknya, di saat dia sedang tidak berada di rumah tentunya
Tak lama pria itu meneleponnya kembali.
"Kat sini ade kita temukan juge jenis ubat-entah ape. Dan ade pula tembakau yang saye rasa cukup mencurigakan," lapor orang itu. Nampaknya dialah yang mengetuai kelompok mereka.
Hafiz berpikir banyak hal saat ini.
"Ape yang harus kami lakukan saat ni? Ape perlu kami bawa semua barang temuan ni?" tanya orang itu lagi.
Hafiz menggeleng.
"Tak payah. Bawakan sahaja saye sijil (surat) jual beli saham tu. Lepas tu korang katakan pada Leon untuk melaporkan Yuri mase ni juge ke balai polis. Minta tolong polis datang segera ke rumah tu untuk menjemput Yuri. Jangan lupa pula untuk membawa record CCTV tu," titah Hafiz lagi.
Sungguh dia tidak akan melepaskan Yuri lagi kali ini.
"Tetapi ubat-ubatan tu?" Pria yang menggeledah rumah kediaman Lucas itu sepertinya masih bersikukuh agar Hafiz juga menjadikan barang temuannya itu untuk dijadikan barang bukti memperkuat laporan mereka pada sang target.
__ADS_1
"Biar polis yang temukan sendiri barang-batang tu ade kat sana. Kite akan kena perkara kalau polis tahu kite masuk ke rumah orang lain tanpa ijin. Dan korang semua jangan sampai meninggalkan jejak apa pun kat sana, Ok? Biar pun sidik jari tak boleh tertinggal sama sekali. Korang semua paham maksudku, kan?" tanya Hafiz.
Orang yang menelepon itu manggut-manggut. Benar juga apa kata kliennya kali ini. Keberadaan mereka sebagai orang suruhan merangkap detektif swasta tak berijin, bisa jadi terancam kalau polisi sampai tahu. Karena pekerjaan yang mereka jalani ini acap kali sering melanggar hukum negara dan batasan-batasan dalam memperlakukan orang lain. Termasuk salah satunya ini, menerobos rumah orang lain tanpa ijin dan sepengetahuan pemiliknya. Andai tidak ditemukan bukti apa pun, bukankah mereka bisa dianggap penyusup atau pencuri? Walau pun niatnya tidak seperti itu.
"Hmm, baiklah kalau macam tu, Tuan Hafiz!"
"Hafiz sini! Nelpon mulu!" seru Yuri dari toko aksesoris.
Hafiz tersenyum sambil memberi kode "sekejap" pada Yuri.
"Baiklah, kalau macam tu lakukan ape yang saye perintahkan. Kabari Leon, dan awasi rumah tu. Saat polis dah ade kat sana korang bagi tahu saye. Sementara ni saye akan tetap mengulur waktu bawa dia pusing-pusing!" kata Hafiz.
"Baik, Tuan!"
Begitu panggilan telepon itu usai, Hafiz kembali menemui Yuri di toko aksesoris.
"Macam mana? Ade yang sesuai?" tanyanya, sambil mengambil satu buah jepit rambut dan langsung menyelipkannya di rambut Yuri.
"Itu nampaknya elok dan nampak cantik di rambutmu yang pendek," puji Hafiz.
Kata-kata pujian dari Hafiz sontak membuat pipi Yuri merona. Sumpah, dia baru tahu kalau Hafiz bisa seromantis ini. Sungguh bodohnya Yola menolak pria seperti Hafiz, pikirnya.
"Terima kasih, Ndut. Eh Hafiz," jawab Yuri malu-malu.
Hafiz hanya menanggapi dengan senyum dan mengambil beberapa lagi bandana, jepitan rambut yang lucu-lucu dan mungil. Biar kau tampak cantik di bui nanti, batinnya geram.
Usai membayar, Hafiz menoleh lagi pada Yuri.
"Kau lapar tak? Kau nak makan ape? Aku ni merasa lapar lah," katanya pada Yuri. "Kau suke makanan ape?"
"Hafiz! Tumben kamu baik banget hari ini? Aku jadi terharu tau nggak sih? Memang ada apaan sih?"
Yuri bergelayut manja bak seorang kekasih. Hafiz sangat memanjakannya hari ini. Ya Tuhan, dia ingin selamanya seperti ini.
"Membuat bahagia orang yang dicinta ape harus ada alasan ke?" gombalnya, walau dalam hatinya dia ingin muntah.
Dan gombalannya sukses membuat Yuri tersipu-sipu malu.
"Hafiz .... kamu ini ..." Dia mencubit lengan Hafiz, merasa malu.
Hafiz tertawa renyah.
"Lekaslah kau cakap, nak makan ape? Aku tak akan selamanya baik macam ni. Siapa tahu lepas ni kau tak akan pernah makan yang sedap-sedap lagi dikawani abang Hafiz, maka gunakanlah kesempatan ni. Pilih makanan yang kau suke. Makan yang banyak!" kata Hafiz.
"Yakin? Nanti aku makan banyak dan mahal, kamu sampai bangkrut gimana?" balas Yuri.
"Boleh dicuba!" tantang Hafiz dengan tawanya yang khas.
Hafiz benar-benar mengeluarkan banyak uang hari ini demi moment terakhir kebebasan Yuri. Selain membawa makan dan belanja, Hafiz juga membawanya menonton di bioskop. Apa tidak merasa sayang akan uangnya? Tidak. Hafiz menikmati memberi makan musuhnya sekenyang-kenyangnya sebelum masanya dia memberi balasan padanya. Ibarat nyamuk, dia akan membiarkan darahnya dihisap dulu sampai kenyang sebelum akhirnya menampar nyamuk itu hingga mati.
"Kita balik?" tanya Hafiz sesaat setelah dia menerima pesan chat dari Leon bahwasanya polisi telah berada di kediaman Lucas dan menggeledah semua yang ada di rumah itu.
"Oh, sekarang?"
Hafiz mengangguk.
"Saye masih ade urusan penting. Saye akan hantarkan kamu balik dahulu," kata Hafiz.
Sekarang waktunya mengantarkan Yuri ke tempat dimana seharusnya dia berada!
__ADS_1
*****
Hai reader! Tetap suport author ya... jangan lupa like dan komentarnya ya ...