
Ilham dan Victor masih saja saling pandang bermusuhan antara satu dengan yang lainnya, meski pun mereka telah di gelandang ke pos security karena berkelahi di area bandara dan mengganggu kenyamanan para pengunjung. Setelah mendengar ceramah dan omelan dari pihak security, keduanya diminta untuk menghubungi keluarga masing-masing, sebagai penanggung jawab pada pihak keamanan bandara kalau mereka tidak akan berbuat seperti itu di lain waktu.
"Huh, rasanye aku nak uji kejujuran Presdir N-one ini," kata Victor seraya merogoh kantong celananya. Ia mengambil ponsel dari sana.
Sementara itu Ilham yang akan menelepon Leon, mengernyit heran mendengar kata-kata Victor yang terdengar masih berniat memprovokasinya. Dia pun memperhatikan gerak-gerik Victor sambil menunggu panggilan teleponnya pada Leon tersambung.
"Hallo, Leon? Aku boleh meminta kau datang nak jemput aku ke airport tak?" tanya pria itu.
"Kenape?" tanya Leon. "Bukankah kau cakap kau sendiri yang akan jemput Sonia?"
"Jangan banyak cakap dahulu lah, Leon.Aku ni perlu bantuan kau mase ni," ujarIlham.
"Helleh, bukan hanya mase ni. Biasa kau selalu perlu bantuan aku setiap hari, setiap minit, setiap detik," cibir Leon di seberang sana.
"Iya, betul itu. Aku sangat berterima kasih terhadap pertolongan yang selalu kau berikan saat aku perlukan kau. Kali ini pun sama. Boleh aku meminta pertolonganmu jemput aku di airport, Leon? Aku dan Sonia ditahan oleh pengawal keamanan airport. Aku perlu kau sebagai penjamin. Kau datanglah kat sini. Aku mohon pada engkau," pintanya setengah memohon.
"Ditahan? Kenapa boleh ditahan?" Leon masih bertanya keheranan.
"Aku akan bercerita pada kau nanti. Sekarang kau datang kat sini dahulu!" desak Ilham, lebih tepatnya memaksa.
Sementara itu di hadapan Ilham yang sedang menelepon Leon, Victor tanpa Ilham duga menghubungi Yola.
"Hallo, Yola?" sapa Victor begitu sambungan telepon itu tersambung.
Ilham yang masih bertelepon dengan Leon, perhatiannya langsung teralihkan mana kala lelaki yang seringkali menjadi saingannya ini baik, cinta dan bisnis menyebutkan nama istrinya ditelepon. Sontak dia langsung menghentikan pembicaraannya dengan Leon.
"Tunggu sekejap, Leon," ucapnya sambil menatap tajam pada Victor yang sedang memegang benda pipih berupa ponsel itu tepat di depan mulutnya.
Melihat fokus Ilham yang kini teralih padanya, Victor tersenyum menyeringai, menaikkan satu sudut bibirnya. Ia kini mengaktifkan mode speaker pada ponselnya. Apa lagi tujuannya kalau bukan agar Ilham mendengar dengan jelas apa yang menjadi percakapannya di telepon dengan Yola.
"Victor?" suara Yola meyambut sapaan Victor terdengar jelas di telepon.
"Cilake!" umpat Ilham lirih, merutuki tindakan Victor yang sudah jelas ingin memprovokasi dirinya.
__ADS_1
Ia sudah ingin menyerang Victor lagi, tapi Sonia menghalangi. Mereka sedang berada di pos keamanan pihak bandara dan disuruh memanggil pihak keluarga atau penjamin untuk menjemput masing-masing dari mereka. Tetapi kalau Ilham menyerang Victor lagi, yang Sonia khawatirkan, mereka justru akan di gelandang ke kantor polisi untuk kasus yang lebih serius.
"Sabar, sabar sikit Ilham! Kau tak boleh terpancing!" kata Sonia sambil mencoba mencekal tangan Ilham agar tetap duduk di kursinya.
Victor yang melihat hal itu malah menjadi jengkel karenanya. Dia sudah lama mencintai Sonia, sejak gadis itu masih remaja. Tetapi kelihatannya di hatinya hanya ada Ilham. Hingga di suatu waktu terjadi kesalahan itu. Sonia mendatanginya ke hotel dan mengajaknya minum hingga waktu itu Sonia dalam keadaan mabuk berat. Wanita itu mengeluhkan Ilham yang tak lagi mencintainya. Sonia terlihat memprihatinkan karena rumah tangganya dengan Ilham tidak baik-baik saja. Dari pengakuan Sonia yang sedang mabuk saat itu, dia tahu kalau Ilham mencintai wanita lain. Sonia yang berada antara sadar antara tidak, dengan berani meminta Victor untuk tidur dengannya.
Victor tetaplah hanya seorang lelaki normal. Diajak begitu oleh orang yang dia cintai, membuatnya lemah iman dan berani menggauli wanita yang dicintainya itu, meski pun wanita itu berstatus istri orang. Saat tidur dengan Sonia tak ada yang aneh, Sonia juga bukan lagi perawan, karena sebelumnya pergaulannya saat di Berlin cukup bebas. Usai bercinta dengan Sonia, Sonia tak menuntut apa pun padanya.Yang ada malah wanita itu memintanya untuk melupakan apa yang terjadi di antara mereka malam itu.
Siapa yang sangka karena hubungan satu malam itu akan menjadi berujung Sonia yang mengandung anaknya. Awalnya Victor tidak tahu. Sonia hamil, itu bisa saja anaknya dengan Ilham, kan? Ilham adalah suaminya dan lagi pula dia dan Sonia hanya melakukan itu satu kali.
Hingga akhirnya Ilham datang padanya dengan marah, memberi tahu kalau Sonia mengandung anaknya. Lelaki itu menuntut Victor untuk bertanggung jawab. Dari situ pun ia sudah bisa menebak kalau antara Sonia dan Ilham memiliki hubungan yang tidak harmonis.Bagaimana bisa seorang suami menuduh kalau istrinya telah mengandung anak orang lain jika hubungan mereka baik-baik saja?
Bukan, bukan Victor tak mau bertanggungjawab waktu itu, tetapi Sonia yang tidak ingin ia bertanggungjawab. Meski akhirnya ia mengaku kalau ia mengandung anaknya Victor, nyatanya wanita itu tetap tidak mau berpisah dari Ilham.
Hingga kecelakaan itu terjadi, karena mengejar Ilham yang sedang marah padanya Sonia kehilangan bayi dalam kandungannya. Sejak saat itu Victor yang kesal memutuskann hubungan kerja sama yabg terjalin antara N-one dan Victoria Hotel. Hubungannya dengan Sonia pun tak lagi sama. Ia benci pada wanita itu dan memutuskan untuk menjauh. Kekecewaannya semakin menjadi karena setelah itu ia melihat Sonia kembali mesra dengan Ilham. Setidaknya itulah yang ia lihat dari media.
"Victor?!" Victor yang sempat melamun karena hal itu tersadar ketika Yola memanggilnya di telepon.
"Ah, iya maaf. Aku lupa. Abang telepon kenapa, ya? Tumben?" terdengar suara lembut Yola di seberang sana sambil sesekali ia berusaha mendiamkan Ruby yang sedikit rewel.
Yola! Kenape kau panggil dia abang?! batin Ilham. Dia semakin meradang mendengar suara lembut istrinya memanggil lelaki dengan panggilan yang sama dengannya. Abang? Huh! Lihat saja kalau mereka sudah keluar dari bandara ini, dia pasti akan memukuli pria itu nanti.
"Nah macam tu kan nampak elok kedengarannya? Senang abang dengar. By the way, Yola macam mana kabarnya sehat ke? Budak-budak tu macam mana?" Victor kembali berbasa-basi sambil melihat Ilham yang wajahnya sudah terlihat marah maksimal.
"Alhamdulillah sehat, anak-anak juga. Ammar dan Ruby sehat aja, Abang," jawab Yola. "Ngomong-ngomong abang telepon ada masalah penting atau gimana? Apa ada masalah dengan kerja sama kita? Bukannya apa-apa ni. Ruby lagi rewel, mau aku coba tenangkan dulu."
Ilham menyunggingkan senyum kemenangan pada Victor. Sangat terlihat kalau Yola ingin mengakhiri panggilan telepon itu.
"Oh, maaf, maaf. Abang talipon hanya nak bertanya sahaja, Ilham mana?"
Yola diam sejenak. Dia tahu hubungan Ilham dan Victor tak begitu baik.
"Bang Ilham udah berangkat kerja sih dari tadi. Dia buru-buru mau jemput seseorang ke airport. Kenapa ya, Bang?" tanya Yola heran.
__ADS_1
Victor tak langsung menjawab.
"Dia menjemput siapa kat airport?" tanya Victor balik.
Yola terdiam sebentar, mengingat-ingat.
"Entah, aku nggak tahu. Seorang kolega mungkin?" katanya asal.
"Oh, jadi kau tak tahu dia dengan siape? Ahh, kalau macam tu datanglah kat pos security kat airport sekarang. Kau akan tahu dia dengan siapa kat sini. Nampak sangat kalau dia tu nak sembunyikan sesuatu dari kau Yola." Lagi Victor berusaha memprovokasinya.
"Sembunyikan apa?" Yola tak mengerti.
"Wanita, maybe ...."
Yola tertawa kecil.
"Itu nggak mungkin,Abang!"
"Datanglah sendiri kalau kau tak percaya dia dah bermain sulit di belakang kau, Yola. Dia ni tak akan pernah berubah. Masih sam ..."
BUGHHH
Sebuah bogem mentah mendarat di wajah Victor, hingga bahkan ponselnya terjatuh.
"Ilhaaam!!!" pekik Sonia segera mendekati mantan suaminya itu dengan ruang gerak yang terbatas.
Yola yang mendengar suara pekikan Sonia di telepon menjadi tertegun karena. Sementara itu,Victor mengusap wajahnya bekas di pukul oleh Ilham itu dengan tawa terkekeh, sambil memungut kembali ponselnya yang terjatuh.
"Yola, kau tak dengar itu ke? Husband kau tengah bersama kekasih gelap dia ..."
****
Is, is, is si Victor nih ya .... Kelakuannya kayak bocah. Maafin othor ya reader kalau updatenya lambat... 😁 author fokus di aplikasi kuning dulu... Tapi di sini author sempatin update walaupun sekali berapa hari... makanya kalau mau updatenya cepat like dan komentarnya di banyakin donk. Soalnya kurang semangat lanjut kalau feedback dari reader sedikit..
__ADS_1