
Sehari setelah acara malam berinai, keesokan harinya kedua orang tua Yola dan Ammar pun datang ke Kuala Lumpur. Selain agar keduanya bisa menghadiri resepsi pernikahan putri kesayangan mereka itu, tak lupa agar mereka bisa menghadiri acara adat melayu yang lainnya seperti acara tepuk tepung tawar dan berinai lebai.
"Mommy cantik sekali!" puji Ammar pada Yola yang hari ini sedang melaksanakan tradisi adat tepuk tepung tawar bersama Ilham.
"Hmm, kamu juga very-very handsome, sayang!" puji Yola sambil mencubit kecil pipi bocah itu.
"Daddy lebih handsomelah," sela Ilham.
"Ya, ya, ya .... terserah Daddy sahaja. Special today biar Daddy sahaja yang handsome, Mom. Ammar mengalah untuk Daddy," kata bocah itu.
Yola tertawa.
"Pandai budak kecilnya Mommy," puji Yola sembari mengelus-elus rambut bocah itu.
"Bukan budak kecil, Mom. Abang Ammarlah," protes Ammar.
Semua yang mendengar celoteh Ammar hanya bisa tertawa.
"Oh, ya ampun! Mommy lupa!" kata Yola pura-pura terkejut.
"Mommy kau ni dah tua, Ammar. Itu pun lupa," ledek sang Ayah.
"Hu uh. Macam mana nih? Mommy juge hampir lupa kalau semalam calon menantu Mommy juge datanglah. Siape tu ya ... Mommy lupalah ..." kata Yola pura-pura sedang berusaha keras untuk mengingat. Dengan Ammar Yola mulai terbiasa berbahasa melayu.
"Lily?" celutuk Ammar.
"He em. Lily datang ke sini bersama Mamanya nak berjumpa dengan Ammar," kata Yola. "Tapi Mommy bilang Ammar tak ada di sini. Masih ada rumah nenek di Jakarta. Kasihan Lily, dia jadi nggak bisa ketemu Ammar," kata Yola.
__ADS_1
Ammar manggut-manggut.
"Biarlah, Mom. Ammar tak nak berkawan dengan budak perempuan. Ammar ni budak jantanlah," kata bocah itu.
Yola tertawa.
"Baiklah, baiklah, sayang! I know," kata Yola mencoba memaklumi sang buah hati.
"Bajunya nggak kesempitan?" tanya Ratih pada putrinya itu.
Ratih dari dahulu memang sangat memperhatikan kenyamanan Yola, terlebih-lebih saat putrinya ini tengah mengandung saat ini.
"Nggak kok, Ma. Bajunya kemarin memang sengaja dibuat agak besaran karena Yola lagi hamil," kata Yola.
"Hmm, syukurlah. Tapi Mama senang kamu berhijab sekarang," kata Ratih.
"Abang yang nyuruh," kata Yola agak sedikit cemberut.
"Iya, Ma. Tapi abang nyuruhnya nggak tepat waktu. Coba nyuruhnya sebelum fitting baju pengantin kan Yola bisa minta dibikinkan baju pengantin yang khusus untuk wanita berhijab. Kalau gini kan Yola jadi terpaksa harus pesan ulang dengan design seadanya dan yang nggak sesuai dengan pesanan Yola. Mana ukurannya nggak ada yang pas. Giliran badannya ngepas, eh di perutnya kesempitan. Eh dapat gaun yang diperutnya besaran, sebadanan kedodoran, Ma," keluh Yola.
"Duuuh, sayang Mama. Jangan ngomel-ngomel terus donk. Kasihan cucu Mama, kalau mommy-nya ngoceh terus, coba," kata Mama Ratih sambil mengelus-elus perut Yola.
Yola tersenyum mendengar antusiasme sang Mama. Terlihat sekali Mama Ratih yang sangat menyayangi calon cucu keduanya itu.
"Ma, Putri gimana? Mama udah coba ngomong belum sama tante Imelda soal Hafiz?" tanya Yola yang tiba-tiba teringat pada sepupu dan sahabatnya itu.
Mama mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
"Putri, Tante Imel dan Paman Hatta udah balik. Mama sih sempat ngomong sama tante Imelda. Ya, tapi Mama masih berani ngomongin seadanya aja dulu. Soalnya kan kamu yang bilang kalau Hafiz masih ada masalah yang harus diselesaikannya. Memang ada masalah apa sih?" tanya Mama Ratih kepo.
Yola tersentak. Iya ya, bagaimana dengan Yuri? Sejak Yola pulang dari Jakarta, Yola belum sekali pun balik ke apartemen. Bahkan untuk sekedar menghubungi Yuri pun dia sampai lupa karena disibukkan dengan masalah resepsi pernikahannya. Dan Yola baru ingat bukankah terakhir kali Yuri menghubunginya untuk menumpang menginap di apartemennya. Apakah Yuri masih ada di apartemen Gold Century sekarang? Kenapa Yuri juga tidak menghubunginya lagi? Minimal sekedar mengucapkan terima kasih karena telah diijinkan untuk menginap?
Ahhh, Yola tiba-tiba merasa tidak enak saat ini. Dia mengadakan acara di rumah keluarga Nirwan, tetapi tidak memberi tahu Yuri sama sekali. Padahal jika Yuri memang berjodoh dengan Hafiz, bukankah harusnya Yuri juga akan menjadi menantu keluarga Nirwan?
Mengingat hal itu segera Yola mengambil ponselnya. Dia harus menghubungi Yuri sekarang. Atau kalau tidak Yuri akan protes padanya, kenapa Yola tidak memberi tahu bahwa keluarga Nirwan mengadakan acara untuknya. Saat acara pinangan di Jakarta kemarin saja, sahabatnya semasa SD itu saja sudah mengungkapkan kekecewaannya pada Yola saat tahu keluarga Nirwan memberikan kejutan romantis berupa pinangan padanya di saat Yuri bahkan belum mendapat kejelasan tentang nasib janin Hafiz yang sedang di kandungnya itu.
Bagaimana reaksi Yuri nanti yang bahkan telah diberikan harapan oleh Yola untuk mereka bersanding di pelaminan yang sama, tetapi malah kehadiran gadis itu tidak diperhitungkan? Yola khawatir Yuri akan kecewa berat lagi nanti. Karena itu Yola buru-buru menghubungi Yuri sebelum Yuri semakin mengamuk nanti.
Yola mencari nomor kontak Yuri dan memencet ikon telepon berwarna hijau itu. Sekali, dua kali, hingga tiga kali panggilan itu tidak tersambung juga. Hingga akhirnya Yola memutuskan untuk berhenti menghubungi gadis itu. Fix! Nomor ponsel Yuri tidak bisa dihubungi. Ada apa ini? Seketika perasaan tak enak mulai menyelinap di hati Yola. Sebenarnya apa yang terjadi.
"Yola, jom! Keluarlah! Acara dah pun dimulai. Hanya tunggu mempelai wanita je," kata Mama Zubaedah yang sengaja datang ingin memanggil menantunya itu.
Yola tersentak dari lamunannya dan buru-buru menyimpan ponselnya. Nanti saja setelah selesai acara ini dia meminta Ilham atau Hafiz untuk mengecek ke apartemen nanti. Sungguh hatinya merasa tidak tenang saat ini.
***
Acara tepuk tepung tawar dan acaran berinai lebai itu selesai juga menyisakan lelah bagi kedua mempelai dan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Besok tinggal resepsi resmi saja yang akan diadakan di sebuah hotel mewah dan semua kehebohan ini akan selesai, begitulah pikiran Yola.
Sesunguhnya dia sudah sangat lelah jiwa dan raga dengan segala urusan majlis perkahwinan yang diadakan keluarga Nirwan untuknya. Dia yang sedang berbadan dua sebenarnya lelah jika harus bertemu dengan banyak orang dan duduk hampir seharian dengan jeda waktu istirahat sangat sedikit. Ini agak tidak nyaman. Namun demi menghargai keinginan suaminya yang ingin dia bahagia, jadilah Yola mengetepikan semua perasaan itu.
Di antara lelahnya, Yola masih sempat memikirkan masalah tentang Yuri dan menyuruh Hafiz untuk mengecek ke apartemen apa masih ada Yuri di sana.
Dan semua terasa mengejutkan dan tak seperti yang Yola duga, manakala Hafiz mengabarinya kabar mengejutkan di telepon.
****
__ADS_1
Holla beib... Jangan lupa like dan koment ya... Dan mampir di novel baru karya author ya...