
Robby tersungkur jatuh akibat pot bunga yang dipukulkan Hafiz padanya. Pot bunga itu terbuat dari semen membuat kepala Robby sepertinya bocor dan berdarah.
"Hafizzzz!!!" pekik Yola histeris.
Kedua teman Robby yang tak menyangka Hafiz akan seberani itu tak terima dan kini mereka membalas Hafiz. Keduanya mengeroyok Hafiz dengan memukuli dan menendangnya.
Perkelahian tak seimbang itu baru bisa dihentikan salah seorang guru yang baru datang dan kemudian melerai merekam.
Ricuh di pagi itu berakhir dengan dibawanya Robby ke rumah sakit dan dipanggilnya Zubaedah sebagai orang tua Hafiz. Robby mengalami geger otak ringan.
"Ape kau bikin ni Hafiz? Begaduh bikin kacau sahaja," omel Zubaedah di kantor guru BK.
Hafiz hanya diam. Dan pada akhirnya Zubaedah paham asal muasal kenapa perkelahian itu bisa terjadi. Terlebih- lebih dia tahu kalau hanya ingin menolong Yola.
"Ke depannya, Bu, kami harap semoga Ibu bisa menasehati Hafiz agar lebih bisa menjaga sikapnya, ya! Saya mengerti mungkin Hafiz tidak terima Yolanda diganggu oleh kakak kelasnya. Tapi mencederai orang lain pun itu adalah perbuatan melanggar hukum. Saya juga sebenarnya kasihan pada Yolanda. Di usia sedini ini dia harus mengalami ini. Hamil saat masih sekolah ... Ya Tuhaaan ... sebenarnya apa yang dipikirkan oleh kedua orang tuanya saat menikahkan anak sekecil itu? Kalai begini bagaimana? Yang kasihan anaknya juga, kan?" keluh guru BK itu.
"A- ape maksud Ibu?" tanya Zubaedah. "Mengandung?
Hamil? Yola?
Guru BK itu mengangguk.
"He em. Dia ketahuan hamil saat pingsan ketika upacara bendera senin kemarin. Tapi Papanya sudah kesini untuk mengkonfirmasi kalau Yolanda memang sudah menikah dan saat ini sedang mengandung. Kasihan sekali Yola itu, padahal dia anak yang berprestasi. Aduuuuh .... apa sih yang dipikirkan kedua orang tua dia dan suaminya itu? Anak masih di bawah umur kok sudah dinikahkan? Tunggu sampai lulus sekolah dulukah? Saya jadi gemas, Bu! Untung saja Pak Kepsek masih ada hubungan kekerabatan apa gitu makanya membiarkan Yola untuk tetap bisa bersekolah di sini. Kalau tidak alamat itu anak akan di DO seperti di sekolah lain," kata Guru BK itu.
Zubaedah sempat tertegun shock antara harus merasa bahagia atau prihatin dengan kabar ini. Bahagianya kali ini seperti tidak tepat. Tapi jauh dalam lubuk hatinya dia juga menginginkan ada masa Yola dan Ilham akan memberikannya cucu seperti yang Zubaedah harapkan.
"Sebenarnya saye adelah Mamah mertua dari Yolanda. Dia menantu saye," kata Zubaedah pada guru itu.
Guru BK itu ternganga mendengar pengakuan Zubaedah.
"Jadi Yola dan Hafiz ....?"
"Tak. Bukan Hafiz, tapi abangnya Hafiz. Keluarge kami dan keluarga Yola punya suatu kesepakatan di mase silam untuk mengawinkan putra dan putri kami. Yola dan Ilham telah berkahwin semenjak 4 tahun lalu. Namun Ilham selama ni belajar di Berlin untuk mengambil gelar sarjananya," kata Zubaedah menjelaskan.
Tak lama keduanya larut dalam pembicaraan tentang pernikahan dini Yola dan Ilham. Hingga pembicaraan itu berkembang menjadi ungkapan-ungkapan dan nasehat sang guru BK tentang bencinya dia dan sangat menentang kasus pernikahan dini.
__ADS_1
Zubaedah hanya mengiyakan tiap kali sang guru BK berusaha memojokkannya sebagai orang tua yang paling memiliki andil dalam pernikahan dini tersebut. Zubaedah mengalah dan berharap urusannya dengan guru BK ini selesai sehingga dia bisa pergi menemui Yola.
Pembicaraan mereka akhirnya selesai setelah hampir setengah jam Zubaedah seperti mendapat siraman rohani dan penyuluhan tentang bahayanya menikah di usia dini.
"Yola, kau baik- baik sahaja, kan?" tanya Zubaedah pada menantunya yang kini telah berada di dekatnya setelah ia mencari di mana ruang kelas wanita kecil yang sedang mengandung itu.
Yola terdiam. Dia tak ingin sebenarnya mengabaikan ibu mertuanya ini.Atau sekarang telah menjadi ibu mertuanya Sonia? Memikirkan hal itu Yola lebih memilih untuk tidak menjawab.
Sementara Zubaedah sendiri sibuk melihat perubahan fisik Yola yang sedikit terlihat gemuk. Perutnya juga terlihat sedikit membuncit dibalik kemeja putih dan rok abu- abunya.
Zubaedah membelai rambut Yola dengan sayang
"Mamah tak minta kau maafkan kami dan Mamah juge tak boleh jelaskan pasal ni. Tapi Mamah janji abangmu Ilham akan kembali padamu, sayang. Ini hanya sementara je," kata Zubaedah dengan nada membujuk.
Yola tak bergeming.
"Yola mau masuk ke kelas dulu," pamitnya sembari berdiri.
Yola sungguh tak ingin mendengar apa pun tentang Ilham dan keluarga Nirwan apalagi dijanjikan. Yola sungguh lelah dengan semua itu.
Memasuki usia 9 bulan kandungannya, Yola tetap saja pergi ke sekolah seperti biasa meskipun pandangan sinis dan menghakimi selalu dilemparkan orang- orang padanya.
Melihat pemandangan tak lazim seorang gadis berseragam SMA dengan perut besar tak bisa ditutupi, membuat teman- temannya seringkali tanpa basa basi langsung mencemoohnya bahkan langsung di depan hidungnya. Namun untungnya Yola selalu ada Hafiz yang setia menemaninya kapan pun dia butuh.
Ya hubungan mereka kembali membaik sejak masalah Robby tempo hari, meskipun terkadang Abimanyu suka uring-uringan jika Yola terlalu dekat dengan Hafiz. Bagi Abimanyu Hafiz tetaplah bagian dari keluarga Nirwan.
Hari itu Yola memberanikan diri ke kantin, untuk membeli air minum dalam kemasan. Biasanya dia tidak berani berkeliaran di luar kelasnya kalau tidak ada kepentingan khusus. Yolla takut dibully oleh siswa- siswi dari kelas lain.
Tapi hari ini dia lupa membawa bekal makan dan minuman, sementara dia haus sekali. Menyuruh salah seorang teman sekelasnya pun tak mungkin, sebab semua teman sekelasnya pun andai bisa memilih pun pasti tak sudi sekelas dengannya yang hanya membuat aib di kelas mereka. Apalagi untuk disuruh- suruh. Siapa yang mau?
Setelah mendapatkan pesanannya dan membayar, Yola pun ingin segera kembali ke kelas. Namun saat dia melewati lapangan menuju ke kelasnya, tiba- tiba saja seseorang dari lapangan sekolah menendang sebuah bola langsung ke arahnya.
Brukk!!!
Bola itu melayang tepat ke arah Yola sehingga menjatuhkan minuman dan makanan yang sedang dipegangnya.
__ADS_1
"Yola maaf, lempar ke sini bolanya!!!" seru orang itu.
Yola sebenarnya merasa kalau orang itu seperti sengaja ingin mengusilinya, namun Yola berusaha untuk tetap sabar.
Dengan perutnya yang sudah besar itu, Yola kesulitan mengambil bola. Tetapi demi agar dirinya tidak terlalu dimusuhi di sekolah ini, Yola tetap mencoba mengambilnya dan kemudian melemparnya pada siswa- siswa yang sedang bermain bola itu.
"Wah, makasih ya, Yol!" seru orang itu.
Yola mengangguk. Lalu ia pun kembali merunduk untuk memungut jajanan dan air minumnya yang terjatuh tadi. Tapi lagi- lagi ...
Bruuukkk!!!
Bola itu seperti sengaja ditendang ke arahnya.
"Hahaha ... maaf, aku memang payah! Bisa kesiniin lagi nggak bolanya?" seru pria itu.
Yolla mendengus dan segera berdiri. Dengan marah dia memungut bola itu dan melemparnya dengan keras ke arah lapangan yang segera ditangkap lelaki itu dengan sempurna.
"Kamu sengaja ya?!!" teriak Yola gusar.
"Kalau iya kenapa, kalau nggak kenapa?" tantang lelaki itu. "Masih mau?"
Dan lelaki itu meletakkan bola di atas tanah, bersiap menendangnya, dan...
Brukkk!!!
Tendangan bola itu tepat mengenai perutnya. Yola tersungkur menahan sakit sementara dari sela kakinya keluar cairan berupa air dan darah.
"Argghhhh!!!! Sakiiit ..."
***
Hallo reader, makasih udah baca JDM hingga part ini. Jangan lupa like dan komentarnya.
Oh iya kalian yg ingin bergabung di grup chat author agar bisa saling mengenal dengan sesama reader, atau author boleh banget ya guys..
__ADS_1
Dan author ngantuk berat lagi.