Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Gadis Itu Bernama Andini


__ADS_3

Hari masih gelap saat Ilham membuka matanya dan melihat bidadari surganya itu tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk. Wanita itu memakai bathrobe dan sandal hotel berwarna putih.


"Sepagi ini Yola dah bangun?" tanya Ilham yang juga segera turun dari tempat tidur.


Sangat membahagiakan rasanya bisa melihat wanita ini begitu dia bangun tidur. Hal yang terlewatkan selama 7 tahun belakangan ini.


Ilham mengambil air minum dalam kemasan di atas nakas dan meneguknya sampai habis.


Karena Yola tak kunjung menjawab, Ilham akhirnya mendekatinya dan memeluk istrinya itu dari belakang?


"Masih marah, hmm?" tanya Ilham sembari meletakkan dagunya di pundak Yola.


"Abang, Yola mau ngeringin rambut dulu, awaaas aaa...," omelnya.


"Cakap dulu kalau Yola tak marah lagi," desak Ilham masih memeluk erat tubuh Yola dari belakang.


"Iya, iya. Nggak marah."


"Betul, ke?" tanya Ilham membalik tubuh Yola agar berhadapan dengannya.


"Iya aaah ... Bawel deeh ...."


Ilham melirik jam yang melekat di kamar hotel itu. Ternyata masih jam 4 pagi.


"Sepagi ini Yola mandi tak dingin, ke?" tanya Ilham heran.


Yola menggeleng.


"Nggak tuh, aku gerah malah, panas. Makanya Yola mandi," jawab wanita itu.


Ilham mengernyitkan keningnya heran. Dia merasa aneh. Sedingin ini, Yola merasa gerah? Biasanya kalau di Kuala Lumpur, Ilham tidur malah biasa hanya menggunakan boxer dan bertelanjang dada, tapi malam ini suhu udara memang terasa sangat dingin ditambah lagi suhu dari AC yang tidak diperbolehkan Yola untuk dikecilkan apalagi dimatikan. Hingga Ilham yang biasa jarang menggunakan selimut terpaksa menggulung dirinya dalam bed cover semalaman. Tapi Yola bilang dia kepanasan? Bahkan di dalam ruangan ber AC seperti ini?


"Abang, aku lapar," kata Yola sedikit memelas.


Terus? So? Ilham mengernyitkan dahinya lagi. Apa wanita ini bermaksud mengerjainya untuk membalaskan sakit hatinya karena pertengkaran mereka semalam?


"Yola tunggu pagi sikitlah, Abang dapat makanan di subuh buta ni di mane?" tanya Ilham.


"Yola mau sekarang, Abang. Yola benar- benar lapar. Yola mau makan nasi. Tadi malam Yola cuma makan pasembur sayuran aja," rengeknya. "Kelamaan kalau sampai menunggu pagi, mah."


Ilham masih tidak bergeming.


"Kita cari makan sekarang, ya? Lagi pula tenagaku terkuras habis semalam karena Abang, Abang nggak mau tanggung jawab gitu?" tuding Yola mengingatkan Ilham kalau semalam dia memang agak sedikit memaksa Yola untuk berhubungan pasutri dengannya walaupun gadis itu sebenarnya enggan.


"Hmmm ... Iyalah, iyalah. Yola pakailah baju tebal dan jaket. Di luar dingin mase ni," kata Ilham mengalah.


Dan akhirnya demi menuruti wanitanya ini, Ilham kembali membawa Yola di subuh buta mencari warung- warung makanan yang masih buka di pinggir jalan.


Untungnya di daerah Gurney Drive selalu ada penjual makanan dari malam hingga pagi hari.

__ADS_1


"Kamu nak makan ape?" tanya Ilham sembari menarik kursi agar Yola bisa duduk di situ.


Ilham berusaha menghalau dingin yang menyerangnya, meski dia telah memakai jaket. Bahkan saat berbicara saja, mulutnya sampai mengeluarkan uap.


"Pasembur lagi? Atau mahu cuba makan lok- lok?"


Yola menggeleng. Sungguh dia tidak ingin mencoba kuliner baru sekarang. Dia benar- benar lapar dan merindukan makan berat.


"Yola mau makan nasi, Abang," katanya.


"Nasi lemak mahu, tak?"


Yola langsung mengiyakan. Nasi lemak kurang lebih sama dengan nasi uduk. Jadi daripada mencoba jenis makanan baru, Yola berpikir untuk makan nasi lemak saja.


Yola benar- benar lapar sehingga menghabiskan dua porsi nasi lemak. Itu adalah sesuatu yang tidak biasa di mata Ilham. Biasanya Yola sangat peduli pada apa yang dimakannya dan sangat menjaga berat badan tubuhnya yang proporsional.


"Dah kenyang?" tanya Ilham.


Yola mengangguk.


"Kalau macam tu kite balik kat hotel. Abang masih sangat mengantuk," kata Ilham.


Keduanya pulang setelah Yola menghabiskan makannya. Namun di tengah jalan Yola masih meminta mampir di sebuah mini market yang buka 24 jam. Ilham hampir tak percaya dengan yang dilihatnya saat wanita itu membawa keluar satu kantong besar berbagai macam jajanan dan cemilan.


"Buat siape kudapan sebanyak tu?"


"Buat Yola donk. Di hotel nggak ada makanan, makanya Yola beli banyak," jawab Yola.


Yola menggeleng. "Kan Abang sendiri yang bilang Yola terlalu kurus? Kenapa memangnya kalau Yola gemuk? Abang nggak mau lagi sama Yola kalau Yola gendut?"


"Bukan macam tu, Abang hanya heran," jawab Ilham.


Keduanya sampai di hotel saat terdengar adzan subuh dari kejauhan. Menyempatkan diri sholat berjamaah bersama, Ilham pun kembali melanjutkan tidurnya yang kurang.


***


"Jadi ini salah satu lokasi pembangunan mini market N- one?" tanya Yola pada Ketua Cabang N- one Grocery Kota Penang.


"Iye, Puan. Lokasi ni dah pernah ditinjau sebelumnya oleh pihak N-one Grocery Pusat. Dan pembangunan pun telah dirancangkan dengan sangat seksama. Saye pun heran kenape dilakukan kembali peninjauan ulang terhadap lokasi ni," kata Ketua Cabang itu.


Yola memperhatikan sekeliling tempat itu. Ini hanya pembangunan mini market biasa, itu pun dengan tempat yang sudah bisa dipastikan strategis karena dekat dengan fasilitas umum, lalu kenapa dirinya masih harus direpotkan untuk jauh- jauh meninjau lokasi ke tempat ini?


Ck, oh iya, Yola lupa. Ini kan hanya akal-akalan Ilham untuk bisa mengajaknya honeymoon ke sini tanpa harus dicurigai oleh orang lain.


"Baiklah, Tuan Ketua. Saya rasa tidak ada masalah dengan lokasinya. Bisa kita lanjutkan ke titik lokasi yang lain? Saya masih ada janji lain soalnya," kata Yola.


"Mari, Puan!" jawab Ketua Cabang itu.


Keduanya pun ditemani oleh Abbas kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan ke titik lokasi pembangunan N-one yang lain. Yola ingin cepat- cepat menyelesaikan masalah pekerjaannya yang hanya kedok untuk menutupi honeymoon dia dan Ilham ini dan kembali ke hotel. Ilham telah berjanji dengannya akan memberikan dia kejutan romantis sepulang dia selesai dengan urusan peninjauan lokasi ini.

__ADS_1


Semua berjalan sebagaimana mestinya. Mereka melakukan peninjauan di 3 titik dan memutuskan untuk kembali. Di saat Pak Cik Abbas ingin mengantar Yola kembali pulang ke hotel, Yola melihat salah satu cabang supermarket N-one Grocery. Tergerak hatinya untuk mampir di situ. Siapa tau dia bisa membawa pulang laporan perbandingan supermarket N-one Penang dan N-one Kuala Lumpur.


"Pak Cik, bisa kita mampir sebentar di N-one situ? Ada yang ingin saya beli," katanya.


Pak Cik Abbas pun mengiyakan dan maauk ke area parkir N-one Grocery.


Wanita itu pun langsung masuk ke dalam dan berkeliling- keliling di sekitar rak pajangan, memeriksa harga barang yang satu dengan yang lainnya, terkadang- kadang memeriksa tanggal ekspired di kemasan produk tersebut.


Supermarket itu kelihatannya memiliki tata kelola yang sangat bagus, bahkan melebihi N-one Grocery cabang Kuala Lumpur. Yola bisa melihat kinerja karyawannya yang terlihat serius saat bekerja. Produk- produk tersusun sangat rapi, dan kebersihan yang sangat di jaga di dalam dan di luar supermarket.


"Maaf permisi, Puan. Ade yang bisa saye bantu?"


Seorang karyawati wanita mencoba menyapa Yola. Dari tadi dia melihat gerak gerik Yola yang hanya mondar- mandir dan memeriksa barang- barang di rak namun tak juga membeli apa pun.


Yola menoleh," Hmmm, saya hanya ...."


Yola terpaku melihat seraut wajah familiar di hadapannya itu.


"Kau kan ...."


Gadis itu panik melihat Yola.


"Maaf, permisi. Saye masih ade job yang mesti saye kerjakan," kata gadis itu buru- buru membalikkan badannya.


"Hey, tunggu!" Yola berusaha mencegatnya.


Gadis itu adalah gadis yang telah dua kali menjambret dirinya. Jadi dia bekerja di sini? Mata Yola sempat terpaku pada bet name gadis itu. Andini Y.


Andini? Apakah ini hanya kebetulan semata?


Gadis bernama Andini itu tidak melewatkan kesempatan untuk kabur saat Yola lengah. Dengan menepis tangan Yola, dia segera berlari dari sana.


"Hey, tunggu!!!"


Yola masih ingin mengejarnya, tetapi tiba- tiba perutnya terasa keram.


"Aduuuh ...."


Yola mengaduh. Yola memang selalu merasakan perut keram dan nyeri setiap kali dia akan datang bulan. Tapi kapan terakhir dia merasakannya, ya?


Yola tak bisa lagi mengingatnya. Rasa keram itu membuat dia tak bisa berpikir apa- apa lagi selain mencari rak yang memajang produk pembalut dan mencari jamu pereda nyeri datang bulan buatan Indonesia yang memang banyak dijual di Malaysia.


Yola segera masuk ke toilet N- one setelah membayar pembalut yang dia beli. Dan benar saja, terdapat flek kecoklatan pada celana dalam yang dia kenakan. Setelah memakainya, Yola pun kembali menemui Abbas dan memintanya untuk mengantar Yola ke hotel.


Sepanjang perjalanan dia baru ingat kembali tentang gadis bernama Andini itu. Siapa dia? Apa yang diinginkannya? Kenapa kebetulan dia bernama Andini? Nama yang sama dengan adik ipar yang tidak pernah dilihatnya itu? Dan kenapa orang itu selalu berusaha mengambil harta benda Yola, padahal dia punya pekerjaan di N-one?


Yola benar- benar tak habis pikir.


***

__ADS_1


Gengs, jangan pelit like, dan komentarnya ya. Itu sangat berharga bagi author untuk menaikkan performa.... Jangan lupa untuk ikuti terus kelanjutannya, ya ....


__ADS_2