Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
I Love You Too


__ADS_3

"Hafiz!" panggil Putri saat dia sadar lelaki itu masih berada di belakang sementara dia sudah berjalan hampir mencapai pintu lobby.


"Tunggu, tunggu sekejap kat sini Putri. Jangan kemana-mana!" katanya seraya berlari kembali menuju lift.


Hafiz ingin menemui Imran, notaris Atok Yahya yang memang belum sempat ia temui dengan Ilham karena kesibukan mengurus N-one. Sebelumnya keduanya sudah berencana ingin menemui Imran untuk menanyakan kejelasan dan keabsahan pengalihan saham 42% Atok Yahya terhadap Lucas. Tetapi telah beberapa lama, pria itu agak sulit ditemui karena sering berada di luar kota penempuh pendidikan lanjutan. Hanya sekali dia bisa dihubungi di telepon dan berkata bahwa pengalihan saham itu legal dan diakui oleh negara. Itu pun sang notaris tak bisa berlama-lama bicara di telepon karena ada urusan. Dan kali ini Hafiz tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk bertanya langsung pada Tuan Imran.


Pintu lift itu hampir tertutup sempurna, namun untungnya Hafiz masih keburu mengejarnya.


"Stop! Tunggu sekejap! Tunggu!" panggil Hafiz dan ... tangannya untung masih sempat meraih pintu lift yang hampir tertutup, membuat penghuni lift, utamanya Tuan Imran terkejut.


Tuan Imran pastinya terkejut melihat siapa yang ada di hadapannya saat ini. Dia anggota keluarga Nirwan, orang yang sangat ingin dihindarinya akhir-akhir ini.


"Tuan Hafiz ..." pekiknya dalam keterkejutan.


Tidak! Dia tidak berharap bertemu salah satu anggota keluarga Nirwan yang mana pun hari ini, atau besok atau selamanya. Kalau bisa dia bahkan tak ingin lagi berurusan dengan keluarga itu.


"Tuan Imran, mari kite berbicara sekejap!" kata Hafiz sembari mengatur napasnya yang sempat memburu akibat berlari tadi.


Lift itu perlahan naik membawa ketiga orang di dalamnya naik ke lantai 8. Hafiz menyempatkan melirik wanita muda di samping Tuan Imran. Kalau boleh menebak, Hafiz memperkirakan kalau gadis itu adalah wanita panggilan pemuas hasrat para lelaki hidung belang meski pun dengan penampilannya yang elegan tidak seperti wanita penghibur sekelas warung remang-remang. High class, heh?


"Maaf, Tuan Hafiz! Saye ni tengah sibuk. Ade urusan. Boleh ke kite berbicara di lain waktu?" tolak pria berusia hampir mencapai lima puluh tahunan itu.


Hafiz melirik lagi pada wanita itu.


"Sibuk? Dengan wanita ini ke?" sindir Hafiz. "Aku sangka Tuan Imran tengah berade di luar kota. Sebab waktu tu, Tuan Imran cakap pada abang saye Ilham, Tuan sedang menempuh pendidikan lanjutan. Yang mana betul?"


Tuan Imran mendengus.


"Tolonglah! Kite akan bicarakan di lain waktu sahaja. Saye betul-betul tak ade waktu malam ini." Tuan Imran bersikeras menolak Hafiz.


Tringg!!!


Lift itu akhirnya sampai di lantai 8. Tuan Imran segera keluar lift dan langsung menarik tangan wanita yang ada bersamanya tadi.


"Tuan Imran! Tuan Imran!" seru Hafiz memanggil pria yang berprofesi sebagai notaris itu.


Tetapi usahanya sia-sia. Karena detik berikutnya, Hafiz menyaksikan Tuan Imran yang bejalan tergopoh-gopoh demi menghindari Hafiz, bersama wanita itu masuk ke dalam sebuah kamar dan membanting pintu kamar hotel begitu saja.


Hafiz tertegun beberapa saat. Tak ada gunanya kalau dia memaksakan diri bertemu dengan Tuan Imran sekarang. Lelaki itu jelas menghindarinya. Jika dia membuat keributan saat ini, bisa-bisa dia yang akan ditendang oleh staf keamanan hotel karena membuat keributan di sini. Dan lagi pula sekarang sudah hampir jam 11 malam. Dia terlalu lama membawa Putri pergi. Bisa-bisa orang rumah salah paham padanya.


Lalu teringat olehnya hadiah kamar yang diberikan oleh Nizam padanya. Mungkin dia bisa memanfaatkan itu. Baiklah! Dia akan coba datang lagi besok!


Setelah memikirkan hal itu, Hafiz pun memutuskan untuk kembali turun ke lobby. Di sana Putri telah menunggu dengan muka cemberut dan uring-uringan.


"Kamu kemana aja sih?" omelnya. "Tega-teganya ninggalin aku sendiri di sini!"


Hafiz tersenyum.


"Abang nak berjumpa seseorang tadi. Tetapi dia tak nak berjumpa dengan abang," kata Hafiz menjelaskan. "Putri, abang boleh meminta keycard yang dibagi Nizam tadi ke? Abang nak pakai untuk sesuatu."


Putri memicingkan matanya dengan pandangan menuduh.


"Dipakai buat apa? Mau dipakai sama cewek lain ya?" tuduhnya. "Atau mau dibalikin?"


Hafiz menggeleng sambil tertawa kecil.


"Buat ape dengan gadis lain kalau ade Putri," godanya lagi.


Putri lagi-lagi mencubit kecil lengan pria itu.


"Iiiiss ... nyebeliiin! Kalau ditanya itu jawabnya yang benar donk!"


"Abang akan ceriterakan nanti sahaja. Abang minta dahulu keycard-nya!"


Putri meski belum paham akhirnya mengalah dan menyerahkan kartu itu pada Hafiz. Usai mendapatkan apa yang ingin dia dapatkan, Hafiz menuju resepsionis untuk menanyakan apa kamar suite room hadiah dari Nizam, bisa ditukar dengan kamar lain di lantai 8. Awalnya pihak hotel menolak dengan berbagai alasan. Salah satunya karena nama yang check-in di kamar itu bukanlah atas nama Hafiz sehingga mau tidak mau Hafiz terpaksa menelepon dan meminta Nizam untuk membantunya, meski pun tentu saja pria itu menggodanya setengah mati.


Lelaki itu turun ke lobby dan mendapati Hafiz telah menunggu di resepsionis.


"Ape hal biliknya mesti diganti ke lantai delapan?" tanya pria itu sembari menatap Putri yang duduk di sofa.


"Putri tak nak kat suite. Terlalu mahal dia kate. Kami nak pakai lantai 8 sahaja kalau boleh," kata Hafiz.


"Kenape mesti lantai delapan?"


"Kerana dia suka," jawab Hafiz asal.


Alasan yang aneh, tentu saja. Tetapi Nizam mengabulkan permintaan Hafiz. Sambil membicarakan hal itu pada resepsionis, dia berbincang dengan Hafiz.

__ADS_1


"Jadi kau berjumpe dengan Putri kat mana?" tanya Nizam kepo.


"Jakarta. Dia sepupu Yola," jawab Hafiz jujur.


"Heuh? Sepupu Yola? Kau dah gile?" Nizam terlihat terkejut.


"Tak. I'm sure. Aku dah ade rancangan nak kahwinkan dia," jawab Hafiz jujur.


"Betul ke? Lepas tu macam mana dengan Yola?"


"Betul. Yola dah pun bahgia dengan abang, apalagi?"


Nizam manggut-manggut.


"Lepas tu Putri, kau cintakan dia ke? Jangan cakap kau hanya nak jadikan dia pelarian?"


"Taklah ... aku bersungguh-sungguh. Cinta boleh datang nanti kerana terbiasa," jawab Hafiz.


"Woaaaah, tetapi kau ni degilnyaaa ... dah boleh bawa anak gadis orang kat hotel. Orang tua dia tak tahu ke?"


Hafiz menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Bagaimana cara dia menjelaskan pada Nizam, kalau sebenarnya dia membawa Putri ke hotel bukan untuk ber 'iya-iya' ria?


"Nizam sebetulnya ..."


"Maaf, Tuan. Di lantai delapan masih ade beberapa bilik kosong tetapi bukan bilik suite, dan kerana sedari awal Tuan dah check-in kat suite room, kami pun tak dapat kembalikan wang deposite yang telah dibayarkan. Jadi macam mana? Ambil bilik economy class?"


Nizam beralih pada Hafiz.


"Macam mana? Class economi? Hmmm kenape tak bilik yang tadi sahaja hmm? Kat situ lebih ehmmm eheemmm untuk ehemm eheem," godanya sambil menggerak-gerakkan alisnya.


"Tak ape. Class ekonomi sahaja," jawab Hafiz cepat sebelum otak kotor Nizam yang menggodanya membuatnya malu di depan resepsionis itu.


Usai urusan kamar, Nizam kembali ke kamarnya sementara Hafiz mendatangi Putri kembali.


"Iss lama banget siihh!!" keluh Putri yang sedari tadi sudah menguap berulang kali karena mengantuk.


"Maaf, membuatmu menunggu. Kite balik kat rumah sekarang! Jom!" ajak Hafiz sembari menarik tangan Putri.


Di dalam mobil Hafiz menceritakan panjang lebar tentang apa yang menimpa keluarga Nirwan khususnya tentang kematian Atok Yahya yang masih menjadi misteri, hingga masalah yang mengguncang N-one sehingga mengharuskan ia harus mendekati Yuri untuk mendapatkan informasi tentang Lucas. Sepanjang perjalanan Putri mendengarkan dengan seksama. Rasa kantuknya bahkan hilang mengetahui betapa rumitnya masalah yang tengah menimpa keluarga Nirwan saat ini.


"Jadi kamu benar-benar nggak pacaran sama yang namanya Yuri itu?" tanya Putri ingin tahu.


Hafiz menggeleng sambil tersenyum geli, melihat Putri yang ekspresif karena tak bisa mènyembunyikan perasaannya.


"Tapi waktu itu di apartemen ...?" Putri menggantung kalimat tanyanya, membayangkan Yuri yang saat itu hanya menggunakan bathrobe dan Hafiz juga yang kelihatan baru selesai mandi.


"Kenape?" Hafiz mengernyitkan keningnya.


"Kamu dan dia waktu itu kelihatannya baru selesai mandi bareng," cibir Putri, kali ini berusaha membuat suaranya setenang mungkin.


"Hah?" Hafiz mengingat-ingat, hingga kemudian dia tertawa terbahak-bahak. "Hahahaa! Kau cemburu?"


Wajah Putri langsung memerah mendengar tebakan Hafiz itu.


"Ihh, apaan? Siapa yang cemburu! Orang cuma nanya. Beneran juga nggak apa-apa!" bantahnya.


"Putri cemburu, putri cemburu!" Hafiz bersenandung mengolok gadis itu.


"Hafiiiz!" pekik Putri tak tahan digoda seperti itu.


"Hahaha ... wah ternyata ade yang cemburu tetapi tak nak mengaku!" ledek Hafiz lagi. "Hahahaha ..."


"Iss! Usil banget deh. Aku nggak cemburu!" Lagi-lagi Putri membantah.


Kali ini mobil yang mereka kenderai sudah masuk komplek perumahan Atok Yahya. Sekitar 300 meter dari gapura, akhirnya mobil itu pun sampai di rumah besar dengan design modern seminl klasik itu. Hafiz memarkirkan mobil di dalam garasi.


Saat Putri hendak membuka pintu mobil, Hafiz menahannya.


"Apalagi?" sungut Putri yang karena digoda terus oleh Hafiz.


Hafiz mengelus rambutnya dengan sayang. Tampaknya tidak akan sesusah itu mencoba mencintai Putri. Sepertinya dia mulai bisa merasakannya. Benih-benih asmara itu.


"Tak payah cemburu dengan Yuri. Kami tak buat apa pun. Mase tu kite baru balik dari Phnom Penh, dia hanya singgah kat apartemen sekejap untuk rehat. Kite mase tu mandi di bilik air yang berbeza. Tak payah risau, jiwa dan raga abang ni masih murni dan suci. Baru Putri sahaja yang tengok semuanya. Hahaha ..." Hafiz tergelak mengingat insiden di kamar mandi ketika berada di Jakarta.


"Isss, Hafiz! Apaan sih! Jangan diingatkan soal yang itu! Jorok banget sih!" gerutu Putri uring-uringan sembari membuka pintu mobil.


Sangat berbahaya berada di ruang tertutup seperti itu bersama Hafiz. Tadi saja Hafiz berani menciumnya di luar ruangan dengan banyak orang di sana. Apalagi kalau berduaan saja di mobil. Putri jadi bergidik membayangkannya.

__ADS_1


Putri segera keluar dari mobil dan bergegas berjalan ke depan menuju pintu utama. Sekarang pasti sudah pukul setengah 12 malam. Terlalu larut untuk seorang anak gadis sepertinya pulang ke rumah. Apa yang harus di katakannya nanti pada Yola.


"Putri!" panggil Hafiz yang segera menyusul Putri di belakang.


"Apaan? Pulang ke apartemen sana!"


"Tak boleh macam tu. Abang mesti hantar kau dengan selamat hingga masuk ke dalam rumah," kata Hafiz.


"Ini udah di depan rumah. Tinggal bunyikan bell doank. Sebentar!"


Putri hendak menekan bell rumah, tetapi Hafiz menurunkan tangannya lagi.


"Apa siiih?" protes Putri.


"Tunggu sekejap! Ade yang nak abang katakan pada Putri," kata Hafiz serius.


"Bukannya udah semua tadi? Masa masih ada lagi?" tanya Putri tak percaya.


"Masih ade. Satu lagi!"


"Apa lagi? Besok aja lagi kalau masih ada yang perlu diceritakan ya? Aku ngantuk nih, aku juga nggak enak pulang kemalaman kayak begini," gerutu Putri.


"Tak payah pening. Kau pergi bersama abang. Tak akan ade yang khawatir pasal tu," kata Hafiz mencoba menenangkan.


"Justru berbahaya kalau perginya bersama kamu mah. Udah ahh, aku mau masuk dulu!" Putri mengangkat tangannya untuk memencet bell, tetapi lagi-lagi Hafiz menahan tangannya.


"Apa siiiiih?" rengek Putri frustasi.


Hafiz menggenggam telapak tangan Putri.


"Putri, rasanya tak payah menunggu lama. Abang rase, abang mase ni ... abang ..." Hafiz bingung bagaimana cara mengungkapkannya.


"Abang apaan? Buruaaan!" Putri mulai tak sabar.


Hafiz menghirup napas dalam-dalam sebelum mengecup kening Putri dengan penuh perasaan.


Putri tersentak. Ah, apa yang dilakukan pria ini? pikirnya.


"Putri, abang rase, abang telah jatuh cintalah dengan Putri," aku Hafiz, akhirnya.


Mulut Putri sampai menganga tak percaya pada apa yang didengarnya. Lalu kemudian, dia tertawa.


"Hahaha ... cieee! Mau ngeprank aku nih? Ih, nggak banget deh caranya. Aku nggak akan tertipu kali. Udah ah, nggak lucu! Garing banget!" katanya sambil melipat tangan di dada.


"Serius ...."


"Ya,ya,ya ... aku percaya. Tapi bo'ong! Baru beberapa jam lalu kamu bilang kamu masih punya perasaan sama dia. Eh, sekarang ngomongnya lain, iya kali aku bakal percaya. Nggak ya. Nggaaak!!!" omel Putri.


"Hey, abang pun tak tahu kalau perasaan itu akan datang secepat ini. Tetapi itu betul. Abang tak bohong pun. Cuba sini tangannya!" Hafiz meraih tangan Putri dan meletakkannya di dadanya.


Putri mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya melihat tingkah Hafiz.


"Macam mana? Kau dapat rasa tak suara jantung abang?"


Putri menarik tangannya dari Hafiz. Lelaki ini sudah gila, pikirnya.


"Putri, abang bersungguh-sungguh. Sepertinya abang mulai jatuh hati padamu," ucap Hafiz.


Putri terdiam. Sepertinya Hafiz memang terlihat bersungguh-sungguh dengan apa yang diucapkannya.


"I love you!" ucap Hafiz lagi.


Ungkapan cinta yang mendadak itu membuat Putri merasa bingung. Apakah ini sungguhan? Atau Hafiz hanya mempermainkannya?Benar-benar lelaki yang membingungkan. Atau dia memang plin-plan?


"I love you," ucap Hafiz lagi kedua kalinya sembari merapikan rambut Putri yang sedikit kusut dan menyelipkan anak rambut yang berantakan itu ke telinga Putri.


"I love you too."


Ucapan balasan itu sontak membuat Hafiz terkejut, karena itu tidak berasal dari mulut Putri melainkan dari orang lain. Putri pun sama terkejutnya. Keduanya pun langsung menoleh ke asal suara itu.


"A-abang?!!" Keduanya serentak nyaris berteriak melihat Ilham yang kini berada di belakang mereka dengan posisi berlipat tangan di atas dada.


"I love you!!"


****


Hahahaha ... Ilham mengacaukan ungkapan cinta Hafiz guys. Sleding nggak nih?

__ADS_1


Maaf ya beberapa hari ini othor cuma bisa up 1 bab sehari. Hari ini babnya agak panjang loh... Jangan lupa like dan koment yak!


__ADS_2