
Kekesalan Yola pada Ilham tak hilang hingga akhirnya bumil itu sampai juga di Jakarta dengan Ammar. Tadinya dia ingin meminta ijin baik-baik pada Ilham untuk pulang sementara ke rumah orang tuanya, namun nampaknya kali ini kepulangannya lebih tepat dikarenakan merajuk pada Ilham yang tidak peka pada apa yang diinginkannya.
"Neneeeek!!!" seru Ammar sambil berlari ke pelukan Ratih.
"Ammaaaaar!!!" Mamah Ratih langsung menangkap sang cucu ke dalam pelukannya.
Rasanya belum ada sebulan mereka berpisah, dia telah rindu lagi pada cucu lucunya itu.
"Ada acara apa di sini, Ma?" tanya Yola yang tercengang melihat suasana rumahnya yang agak ramai.
Bahkan di depan ada tenda yang Yola tidak mengerti untuk apa.
"Yolaaaa ...." seru seseorang dari dalam rumah.
"Putriiii!!!!" Yola dengan senang hati menyambut orang yang menyambutnya hingga berlari dalam rumah.
Putri adalah sepupunya, anak dari kakak kandung Ratih.
"Yola baru datang, Tan?" tanya Putri pada Ratih.
Ratih mengangguk.
"Ini ... anaknya Yola?" tanya Putri lagi menunjuk pada Ammar yang masih bergelayut di pelukan sang Nenek.
"Iya, donk. Cucunya Tante neh. Ammar. Ammar, ini Tante Putri namanya," kata Ratih memperkenalkan Putri pada Ammar.
"Nenek, Tante itu apa?" tanya Ammar dengan mimik lucu.
"Tante itu, Makcik, Sayang!" sahut Yola menimpali dengan mimik usil.
"Ihhh, kok aku dipanggil Makcik sih? Kesannya aku kayak udah tua banget gitu," keluh Putri dengan wajah cemberut. "Panggil Tante aja, ya!" bujuknya pada Ammar.
"Kalau Ammar panggil aunty sahaja macam mana?" usul Ammar.
Putri langsung merespon dengan menjentikkan jarinya.
"Cucok!!! Kamu memang keponakan yang keren nggak kayak Yola yang norak. Huh!" ledeknya.
"Norak tu ape, Aunty?" tanya Ammar bingung.
Putri berpikir sesaat.
"Norak tu kamseupay, Sayang. Kamu tahu apa itu Kamseupay?" tanyanya.
Ammar menggeleng.
__ADS_1
"Kampungan. Mama kamu tu kampungan, tau nggak?" katanya masih meledek Yola.
Yola malah menjulurkan lidahnya tak peduli. Dia dan Putri memang seumuran. Mereka sepupu yang kompak sedari dulu. Berbeda halnya dengan Eva.
Tak diduga jawaban Ammar malah mengejutkan.
"Ape salahnya orang kampung Aunty? Orang kampung tu baik-baiklah. Ammar pernah diajak Atok kat kampung, kat Penang sana. Mereka semua baik hati. Ammar suke dengan orang kampungan," katanya dengan wajah polos.
Yaaaah, sepertinya Ammar salah penafsiran dengan kata "kampungan". Dan kini mati kutu alias mati kamus karena tak dapat lagi menjawab ucapan bocah kecil itu. Akhirnya dia hanya mengangguk-angguk sambil mengiyakan saja.
"Iya deh, iya. Mama kamu kampungan, makanya Aunty suka," katanya ngeles sambil mengerutkan keningnya pada Yola meminta bantuan.
"Mommy, Aunty! Mommy Yola. Bukan mamalah," ralatnya.
"Ya,ya, ya! Kamu benar, Sayang. Mommy Yola. Hihihi, ngomong-ngomong, Ammar ikut Aunty ke dalam, yuk!" ajak Putri pada Ammar. "Di dalam ada orang kampung lainnya."
Yola tak bisa menahan tawanya melihat tingkah sepupunya itu dengan Ammar.
"Ya sudah, kita ke dalam sekalian," ajak Mama Ratih sambil merangkul Yola ke dalam rumah.
"Kok rumah ramai, Ma? Ada acara apa?" tanya Yola terheran- heran mana kala melihat rumahnya sepertinya sangat banyak orang.
Sepupu, keluarga Gunawan dan beberapa kerabat lainnya dari Mama Ratih nampak ada di rumah mereka. Dalam rangka apa? Jangan bilang Mama dan Papa ada rencana menikahkan ulang Yola dan Ilham sekarang? Tapi kalau pun iya, abang kok nggak diajak datang ke Jakarta? Dan lagi, bagaimana reaksi Mama nanti kalau si Abang ternyata belum menceraikan Sonia? Bisa berabe .... itu yang ada di pikiran Yola.
"Jangan bilang, Mama membuatkan aku dan abang resepsi juga di sini?" selidik Yola.
"Hah? Beneran?" tanya Yola tak percaya. "Yola sih bukan nggak mau, tapi ini kan nggak diplanning sebelumnya. Repot donk nanti kalau resepsi di sini jarak waktunya saling berdekatan satu sama lain? Abang juga masih di KL, belum disini. Repot donk Ma, nanti," keluh Yola mengeluarkan pendapatnya.
"Idiiiih pedenya, siapa bilang Mama lagi persiapin resepsi untuk kamu?" cibir Ratih.
"Terus?"
"Ini Putri yang mau nikah. Nikahnya dilaksanakan di sini," jawab Mama Ratih.
"Kok di rumah kita?" tanya Yola masih belum mengerti.
"Calon suaminya orang Jakarta sini. Biar dekat aja daripada calon suami dan keluarganya mondar-mandir ke Palembang?" kata Mama Ratih menjelaskan. "Calon suaminya biasa aja, nggak sanggup ngongkosin keluarganya untuk acaraan di Sumatera, Sayang."
Yola manggut-manggut mendengar penjelasan Mama Ratih.
"Oh, gitu? Jadi Mama sengaja panggil Yola ke sini untuk surprise kawinannya Putri gitu?" tebak Yola.
"Ya gitu deh," jawab Ratih. "Kalian kan dulu dekat sebelum Putri pindah ke Palembang? Memang kamu nggak pengen hadirin pernikahan dia gitu?"
"Ya pengen sih. Tapi kalau begitu coba Mama kasih tau dari awal, Yola bisa belikan kado kan?" kata Yola sebal.
__ADS_1
"Nggak apa-apa. Nanti kadonya nebeng sama kado Mama aja," kata Ratih.
"Memang bisa gitu?"
"Bisa donk. Atau kalau sungkan kan bisa ngamplop," kata Ratih memberi usul.
Yola mengangguk-angguk mengiyakan.
***
Tiga hari berlalu sejak Yola sampai di Jakarta. Dengan uring-uringan karena Ilham tak juga mengangkat teleponnya, Yola hampir saja merusak riasan di wajahnya karena kesal.
Hari ini adalah hari yanng ditetapkan untuk pernikahan Putri. Rumah Keluarga Gunawan sudah didekor sedemikian rupa, dari dalam rumah hingga ke tenda di depan rumah.
"Memang harus banget ya, Ma, Yola pakai beginian?" tanyanya sambil menatap sang Mama dari pantulan cermin.
"Cantik, kan?" tanya sang Mama.
"Cantik sih cantik. Tapi Yola merasa aneh berhijab begini," katanya jujur.
"Aneh gimana? Cantik gitu kok dibilang aneh?" kata Mamah.
"Yola rasanya belum siap, Ma. Nunggu hidayah datang dulu kali, ya?" kata Yola sambil merapikan hijab di kepalanya.
"Kata Pak Ustadz, hidayah itu kita yang menjemput, Sayang. Bukan ditungguin. Mama aja selepas ini mau pake terus, kok. Kamu juga, ya ...." bujuk sang Mama.
"Ehmmm, nanti deh Yola pikir-pikir dulu," jawab Yola seadanya.
Dia kembali menatap dirinya di cermin. Sebagai seorang sepupu, bukankah penampilannya kali ini agak sedikit berlebihan? Yola terlihat cantik dengan kebaya berwarna kuning gading dengan bawahan batik pekalongan yang membuatnya tampak terlihat ayu saat ini tidak lupa hijab yang entah bagaimana bisa membuatnya terlihat anggun dan bersahaja. Dia tampak seperti seorang pengantin sekarang.
Masih pangling dengan penampilannya sendiri, tiba-tiba Yola dikagetkan dengan kedatangan Putri yang tiba-tiba menyelonong masuk begitu saja ke dalam kamarnya. Dan penampilan Putri terlihat sangat "biasa saja" dibandingkan penampilannya saat ini.
"Hai, Mommy Ammar! Ayo turun! Daddy Ammar sudah datang dengan keluarganya," kata Putri dengan tawa.
"Hah? Apaan?" tanya Yola tak mengerti.
"Mereka datang membawa seserahan sebagai untuk lamaranmu, Yola. Ayo cepat!"
Lamaran? Lamaran apa?
Namun sebelum Yola sempat bertanya lagi. Yola telah ditarik oleh Putri ke luar kamar.
****
Surprise untuk Yola dan buat kalian yang telah lama menanti kapan Yola dan Ilham hidup bersama dengan bahagia. Selama beberapa part ke depan mungkin othor akan mengisahkan yang manis-manis dulu tentang dua sejoli ini. Tetap pantengin terus ya ...
__ADS_1
Dan like dan komentnya dulu donk jangan lupa ....