
"Kenapa??!" protes Yola.
"Kenape? Kerana abang sungguh-sungguh mahu kau dan Abang bersama di dunia dan akhirat, Sayang. Abang tak nak bersama Yola di dunia sahaja. Abang sampai ke syurga kite tetap bersama selamanya. Wanita tu mestilah pandai menjaga aurat. Kalau tak dosanya akan ditanggung oleh ayahnya, dan kalau dah berkahwin suaminya pula yang akan tanggungkan dosa dia. Hmmm? Yola mahu ya?" bujuk Ilham.
"Abang .... Tapi aku belum siap untuk itu. Masih ada banyak hal-hal yang buruk di diriku yang belum bisa kubenahi," kata Yola murung.
"Yola, kau tengok ni?" Ilham mengelus pundak Yola yang terbuka. "Ini juge."
Pria itu menyingkap sedikit gaun terusan Yola di bagian bawah dan sedikit mengelus paha bagian dalam wanita itu hingga Yola spontan menepis tangan Ilham sambil tertawa geli.
"Ini semua milik abang. Abang tak nak ade orang lain yang tengok. Semua keindahan ini biar abang yang dapat lihat, hmm?" bujuk pria itu lagi.
Sesungguhnya dia pun merasa permintaan Ilham adalah hal yang wajar. Dia adalah istrinya Ilham dan Ilham berhak atas dirinya.
"Haiss, abang, aku nggak biasa. Itu pasti gerah," kata Yola.
"Ala bisa kerana biasa, Sayang. Saat pinangan semalam abang sampai terpukau melihat adinda Yola ni. Cantik sangat abang tengok. Tak tahu lagi abang mesti berapa kali jatuh hati pade Yola. Yola mahu, ya?" bujuk Ilham tak mau menyerah.
Yola akhirnya tak sampai hati menolak keinginan Ilham yang nampaknya sangat kekeuh ingin dia berhijab dan menutup aurat itu.
Yola mengangguk.
"Tapi untuk awal permulaan, pas keluar rumah aja dulu, ya?" katanya.
Ilham mengangguk senang. Yah, biarlah untuk sementara Yola membiasakan diri dulu berhijab di luar rumah. Toh lama-lama jika telah terbiasa dia akan risih sendiri jika tak menggunakan hijab.
Ilham membelai rambut Yola dengan sayang dan menariknya dalam pelukannya.
"Kalau macam ni, Abang makin sayanglah dengan Yola," puji Ilham. "Dah, ganti baju sana!"
Yola pun akhirnya menurut dan kembali mencari-cari bajunya di dalam lemari. Yola adalah wanita yang modis. Namun bukan berarti dia tidak punya out fit yang bisa dipakai untuk berhijap. Dia punya beberapa di lemari yang terkadang di pakainya untuk beberapa acara penting yang mengharuskan dia harus memakainya.
"Wooaaa cantiknya, isteri Abang!" Ilham mengacungkan jempolnya pada Yola saat melihat bumilnya itu telah siap dengan penampilannya.
Baju terusan putih dengan brand ternama dengan hijab berwarna hijau tosca membuat penampilannya terlihat matching dengan sepatu kets berwarna putih. Tak lupa dengan tas mini ransel yang fungsinya hanya bisa menyimpan ponsel dan dompet saja.
"Begini? Yakin abang nggak malu bawa aku begini?" tanya Yola.
"Tak lah. Abang mesti tambah bangga bawa isteri sendiri macam ni," kata Ilham sambil merangkul bumil itu.
"Jadi kemarin juga abang yang minta Mama buat nyuruh aku pakai hijab?" tanya Yola.
__ADS_1
"Hu um," jawab pria itu. "Dah lama abang ingin melihat Yola memakai kerudung."
"Oh, ya? Sejak kapan?" tanya Yola.
"Semenjak pertama lihat Yola di N-one. Sedang interviewlah. Skirt Yola pendek sangat. Abang rasanya pengen tutup dengan baju abang sendiri. Dan mase anniversary N-one tu pun. Ckckck ... Baju Yola semua macam kurang bahan sahaja," olok Ilham.
"Tapi suka, kan?" cibir Yola tak mau kalah.
"Dari pade macam tu, abang lebih suke kalau Yola tak pakai apa-apalah. Tetapi kite berdua sahaja dalam bilik macam ni," bisik Ilham menggoda.
"Isss!!! Abang!!! Jangan genit, kenapa?" kata Yola sembari mencubit perut Ilham gemas.
Ilhaam tertawa.
"Abang hanya bergurau je. Jomlah kite bertolak sekarang!" ajak Ilham.
Dan kedua sejoli itu pun akhirnya berangkat menuju ke gedung kedubes Malaysia untuk mengurus dokumen pernikahan mereka. Keduanya di antar oleh Pak Darman, sopir keluarga Gunawan yang telah lama mengabdi pada Abimanyu.
Perjalanan menuju Kedubes Malaysia tadinya lancar-lancar saja. Namun sebelum mereka sampai ke tempat tujuan, tiba-tiba saja Pak Darman menghentikan mobil.
"Kenapa, Pak?" tanya Yola ingin tahu.
"Entah, Mbak Yola. Tuh di depan nggak bisa lewat kayaknya. Saya cek dulu ya, ada apaan! Kalau nggak bisa lewat depan kita mutar aja," kata Pak Darman.
"Iya, Pak! Tapi yang cepat ya. Takutnya kesiangan keburu jam makan siang kedubesnya. Nunggu lagi kita sampai sore," kata Yola memperingatkan.
"Iya, mbak sebentar!"
Lalu Pak Darman pun keluar mobil dan berjalan untuk ngecek kerumunan apa yang terjadi di depan. Belum berapa lama Pak Darman pergi tiba-tiba di belakang terdengar suara klakson motor dan teriakan seorang gadis.
"Woyyy!!! Cepatan maju donk!!! Jangan halangin jalan gua napa???!!"
Yola yang berada di kursi di belakang kemudi menoleh ke belakang.
"Siapa sih? Rese banget. Nggak lihat apa dia di depan ada kerumunan?" gumam Yola.
"Kenape, Sayang?" tanya Ilham pada Yola.
Pria itu memang sengaja duduk di depan untuk menemani Pak Darman ngobrol.
"Nggak tau. Ada orang teriak-teriak nggak jelas. Aneh banget deh ihhh," kata Yola malas.
__ADS_1
Yola memutuskan untuk cuek pada teriakan gadis bermotor yang berada di belakang mobil mereka. Toh dia punya mata. Nggak bisa lihat apa di depan memang ada kerumunan banyak orang. Memang jalanannya yang macet. Bukan mereka yang sengaja berlama-lama berhenti di tengah jalan.
Yola kembali memainkan game di ponselnya. Tetapi kemudian fokusnya jadi teralihkan saat pintu mobil di ketuk oleh wanita yang nampaknya adalah wanita yang sedari tadi rusuh berada di belakang.
Yola menoleh dan melihat dari kaca film mobilnya yang berwarna gelap itu. Wanita itu nampak mengetuk pintu mobil dari pintu di dekat kemudi dengan sesuatu yang nampaknya seperti kayu.
Ilham membuka setengah kaca mobil dan mengernyitkan keningnya tak suka pada gadis itu. Tidak sopan sekali, mengetuk jendela mobil dengan menggunakan alat seperti itu, begitulah pikiran Ilham. Gadis itu langsung menundukkan kepalanya hingga sejajar jendela mobil.
"Hey, Mas!!! Sopirnya mana? Pinggirin donk mobilnya!! Gua mau lewat tau!!"
"Hey, Dik! Kau tak tengok ke di depan sana? Ade keramaian kat situ. Pakcik driver kami sedang kat sana nak tengok ape yang sedang terjadi. Kenape kau tak tengok sendiri kat sana? Kau ni nak begaduh ke ape? Mengetuk kereta orang sahaja tak boleh beradab sikit ke? Tak mestilah kau gunakan kayu macam tu!" kata Ilham mulai kesal.
"Hey, Bro! Lu pasti bukan orang sini ya? Gua kasih tau ya, harusnya tuh elu bersyukur, gua pake media buat ngetok jendela mobil lo ya mahal ni. Timbang aku ngetok sendiri pake tangan. Hancur-hancur ntar mobil lu, elu salahin gue lagi," kata gadis itu.
Ilham tahu penggunaaan bahasa elu, gua adalah bahasa anak gaul yang sering dipakai di Jakarta. Beberapa kali dia sempat melihatnya di sinetron Indonesia. Dan dia tahu jika dilihat secara usia, gadis ini masih berusia jauh di bawahnya. Mungkin dia masih berusia belasan? Dan Ilham menganggap sungguh tak sopan gadis itu berbicara dengan panggilan 'elu, gua" pada dirinya yang berusia jauh lebih dewasa darinya.
"Hey, Dik! Sebaiknya kau pergi sahaja. Kite tak ade urusan denganmu. Kau boleh tengok sendiri bukan kite yang ingin berdiam di kereta ni. Kalau kau nak menuntut sesuatu, sebaiknya kau tuntut sahaja orang-orang di sana. Pinggir-pinggir sikit! Saye nak tutup lagi jendela kereta ni!Kalau kau masih ade yang perlu dikatakan, sopan sikit! Ketuklah dengan santun!" kata Ilham sambil menutup kembali jendela mobil milik mertuanya itu.
Gadis itu dengan terpaksa mengeluarkan kepala dan tangannya dari dalam mobil saat kaca jendela itu perlahan naik.
"Sialan!!! Lo pikir gua apaan sampai perlakuin gua kasar kayak gitu?!!! Baru mobil beginian belagu amat lo! Bokap gua jua punya yang beginian kalee!!!" makinya.
Ilham yang sudah menutup kembali kaca mobil, menatap lurus ke depan. Sungguh tak penting mengurusi gadis seperti itu, pikirnya.
Tapi tidak dengan gadis itu. Sikap Ilham yang terlihat memperlakukannya bak gadis tengil membuat dia tak terima.
"Lo yang minta gua ngetok sendiri dengan sopan, kan? Oke! Jangan panggil gua Rizka kalau gua nggak bisa nularin kesialan gua ke elo!!!"
Tak menunggu lama, gadis bernama Rizka itu pun mengetuk jendela kaca mobil itu.
PRAAAKK!!!
Yola dan Ilham yang berada di dalam mobil terkejut saat menyaksikan di depan mata kepala mereka sendiri kalau kaca jendela mobil itu retak dan di ketukan kedua gadis itu, kaca mobil itu benar-benar pecah sempurna.
"Ka-kau???!!!"
"Sudah gua ketuk dengan sopan. Puas nggak lo??"
****
Hai gengs, kalian pasti bingung kan siapa Rizka? Hehehhe... Sebenarnya dia karakter novel di karya teman author juga di Noveltoon Writing Academy. Jadi untuk episode ini sama satu lagi episode ke depan, author colaborasi sama dia gitu. Nanti di novel dia juga bakal ada part Yola sama abang Ilham. Buat kalian yang mau kepoin boleh ya gengs cari judul novelnya "Dipaksa Menikah Karena Aku Pembawa Sial" karya BellaBiyah.
__ADS_1
Oh, ya ini cuma selingan aja kok. Ga lari dari alur tenang aja beibs... Jangan lupa like dan komentarnya ya beib ...