
"Sayang, you're very- very handsome!" pekik Yola yang melihat Ammar keluar dari dalam kamar salah satu resor tak berapa jauh dari Kota Kuala lumpur.
Ammar dengan pakaian kemeja putih berlengan panjang dan celana panjang hitam, sudah siap untuk mengikuti sesi pemotretan prewedding plus foto maternity sang Mommy.
Konsepnya mereka berempat dengan calon adik Ammar yang sedang berada dalam kandungan Yola itu akan mengambil foto di area kaki gunung, yang ada anak sungainya. Nantinya foto itu akan dipajang di acara resepsi pernikahan Yola dan Ilham.
"Mommy pun very- very beautifull, Mom!" balas Ammar tak kalah senang.
"Semua dah ready?" tanya photografer yang bertugas untuk mengambil foto keluarga kecil itu.
"Sudah, tapi suami saya sedang menelepon. Tunggu sebentar lagi, ya?" pinta Yola.
"Oke!" kata photografer itu mengiyakan.
Di teras resor itu, Ilham sedang sibuk berbicara dengan Leon di telepon.
"Macam mana boleh macam tu? Tak dapat diketahui penyebabnya macam mana?" tanya Ilham yang mulai pusing akan penyakit yang diderita oleh Sonia.
"Ya, macam tulah. Kata dokter tu, sebagian syaraf di badan Sonia dah mengalami kerusakan entah dikeranakan ape. Dugaan mereka Sonia mungkin pernah menjadi pecandu ubat- ubatan terlarang," kata Leon melaporkan.
Ilham menggeleng.
"Tak betul kalau pasal tu. Aku dapat menjamin hal tu. Sonia bukan pecandu," bantah Ilham.
"Habis tu macam mane? Kau usah bikin aku pening, Ketua Pengarah. Kau pun yang suami die, aku pula yang mesti uruskan," keluh Leon.
"Leon, kau usah bising! Kau cari second opinion untuk Sonia ke hospital lain kat sana," jawab Ilham menjawab keluhan Leon yang membuat kupingnya menjadi sakit mendengarnya.
"Ilham kau tak dengar ke tadi aku cakap ape? Ini dah hospital ke tiga tempat aku bawa Sonia untuk diperiksa. Dan ketiga hospital tu, opininya sama sahaja. Mereka cakap Sonia mungkin pernah terdampak candu ubat terlarang dan mereka memberi saran untuk mengubati Sonia sahaja secara intensive kat rumah. Dukungan dan kasih sayang dari family sangat diperlukan supaya kesihatan dia dapat balik seperti sedia kala," kata Leon.
"Habis tu maksudmu, dia dirawat dan balik ke tempat family dia? Kau dah pun aku bagi tahu, Mama Sonia tak nak terima Sonia kembali dalam keadaan lumpuh macam tu. Korang belum paham ke?" kata Ilham mulai jengkel.
__ADS_1
"Kalau macam tu kau bawa balik sahaja Sonia kat rumah keluarga Nirwan," jawab Leon enteng.
"Kau gila ke? Kau sahaja yang bawa die kat rumahmu sana!" balas Ilham semakin jengkel.
"Kalau dia isteri aku, aku akan bawa dia balik terlepas aku cinte atau tak cinte sekalipun. Tetapi dia isteri kau Ilham. Meski kau tak cinta pun dengan dia, kau masih ade tanggung jawab dengan dia," kata Leon, berusaha mempengaruhi Ilham.
"Kau cakap yang bagus sikit, Leon. Aku dah pernah cakap kan? Aku dah ceraikan Sonia! Secara hukum agama, kami telah resmi bercerai. Aku dah pun ucapkan talak pada die," bantah Ilham.
"Betul tetapi kalau ditengok dari hukum negara, die masih menjadi isteri kau yang sah, bahkan lebih dari Yola. Jomlah kawan, ape yang kau takutkan dengan wanita yang telah lumpuh macam tu? Die takkan boleh ganggu kau dan Yola. Dan lagi, kau masih perlu persetujuan die untuk kau berkahwin lagi dengan Yola. Kau hanye perlu biarkan die tinggal kat rumah Keluarga Nirwan, kau carikan dia perawat untuk rawat dia, dah selesai. Kau pun boleh awasi perkembangan dia agar die tak macam- macam," kata Leon memberi saran dan masukan.
Ilham menjadi berpikir sejenak saran yang diberikan Leon untuknya. Secara garis besar benar juga apa kata Leon. Terkadang musuh lebih baik jika diawasi di sarang sendiri daripada dibiarkan berkeliaran di segala macam tempat.
"Macam mana?" tanya Leon lagi.
Ilham menarik napas dalam- dalam, sehingga akhirnya dia bisa menjawab Leon.
"Baiklah, aku berunding dahulu dengan Yola," kata Ilham. "Kalau dia setuju, tak ade salah, mencuba ape yang kau cakap tadi."
"Hmmm ..."
Ilham menutup telepon dan berbalik. Dia hampir terkejut setengah mati saat mendapati Yola yang kini telah berada di belakangnya.
"Abang ...."
"Yola?"
Ilham merasa terkejut akan kedatangan Yola persis seperti maling tertangkap basah.
"Photografernya udah nungguin tuh," kata Yola dengan nada terlihat kesal.
"Oh, oke," jawab Ilham buru- buru mengejar Yola yang telah berjalan lebih dulu.
__ADS_1
Dan prosesi foto prewedding dan foto maternity itu pun berlangsung tanpa hambatan.
"Puan Yola!!! Tersenyum sikit!" perintah photografer itu.
Yolanda yang sedang berdiri di hadapan Ammar dan Ilham, mencoba tersenyum. Kedua lelaki itu tengah bersiap memercikkan air sungai padanya. Ketiganya kini sedang berada di anak sungai yang jernih yang kedalaman airnya hanya sebatas betis saja.
Konsep yang akan dibuat si fotografer adalah betapa Yola adalah wanita paling disayang oleh suami dan anaknya. Di sesi pemotretan berikutnya mereka berada di indoor dengan pakaian semi formal. Ammar dan Ilham membuat fose sedang mencium perut Yola, seakan menunjukkan betapa sayangnya mereka pada calon bayi yang akan lahir itu.
Hingga sesi pemotretan itu berakhir, Ilham masih merasa Yoka seperti menjauhinya.
"Yola marah dengan abang ke?" tanya Ilham saat sesi pemotretan itu berhenti sejenak untuk mereka agar dapat beristirahat.
Yola mendengus kasar. Pandangannha jauh menerawang ke balik pepohonana nan rimbun.
"Abang beneran mau Sonia ikut tinggal dengan kita?" tanya Yola tak senang.
"Abang tak nak sebetulnye, tapi abang pikir baik juga macam tu, jadi kite dapat mengawasi Sonia jike seumpama dia nak berbuat macam- macam," kata Ilham mencoba menenangkan Yola.
Ilham mencoba menggenggam tangan Yola tapi Yola melepaskan tangan itu.
"Aku nggak nyaman tinggal sama dia. Kalau dia ikut sama kita, aku mau tinggal sendiri di apartemen aja sama kayak dulu. Abang urusi aja dia!" kata Yola dingin.
Lagi- lagi Ilham hanya bisa menarik napas melihat sikap istrinya itu. Dengan penuh kasih sayang Ilham membelai rambut istrinya itu.
"Yola, kau dah cukup dewase untuk dapat melihat keadaan ni untuk sebuah kebaikan bersama. Kau tahu, abang hanye cinta dan sayang pada kau seorang. Ape yang kau risaukan, sayang? Dia takkan dapat mengganggu kite lagi. Dia lumpuh, abang dah bagi tahu Yola, kan?"
Yola menahan gemuru dalam dadanya. Rasanya dia ingin berteriak pada lelaki ini, agar pria ini sadar, masalah ini tidak akan sesederhana itu.
"Terserah abang aja, deh!" kata Yola kecewa.
***
__ADS_1
Like dan komentar jangan lupa ya ....