Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Pengaman


__ADS_3

"Wellcome to Pulau Pinang, Honey! Huhuyyyyy !!!!!" teriak Ilham begitu turun dari pesawat.


"Abang!!! Apaan sih norak banget?!" protes Yola sambil melirik kiri kanan orang- orang yang memperhatikan mereka.


"Hahaha .... Ini kerana abang sangat bahgia dapat menghabiskan waktu berdua sahaja dengan Yola," kata Ilham. "Di KL kite tak boleh jalan bergandengan dan berpelukan macam ni," kata pria itu sambil merangkul pundak Yola.


"Iya tapi nggak gitu juga kali, kayak nggak pernah ke sini aja. Harusnya kan Yola yang kayak gitu? Ckckck ...." Yola berdecak sambil geleng-geleng kepala.


"Kalau macam tu cobalah," kata Ilham.


"Coba apaan?"


"Macam abang tadi!"


Yola menatap Ilham sejenak, kemudian masih berada di landasan, Yola pun berteriak.


"Penaaaaang!!!! I'm coming!!! Huhuyyyy!!!!" teriak Yola.


"Yola, Yola!! Sudah, sudah!!!"


Ilham menghentikan Yola yang sedang berteriak kesenangan. Ternyata memang memalukan. Hahaha!


"Abang apaan? Bilang tadi suruh teriak ...." protes Yola.


Ilham mencubit pipi Yola gemas. Menggemaskan sekali, seperti anak kucing saja.


"Kau penurut sekali, Honey. Tapi yang betul itu penyebutannya bukan Penang, Sayang! Tapi Pineng. Penang itu penulisan dalam english. Kalau orang kite Melayu menyebutnya Pulang Pinang," kata Ilham menjelaskan.


"Tapi orang Indonesia biasanya menyebutnya Penang, Abang," kata Yola tak terima dikritik.


"Iya, betul. Abang hanya nak bagi tahu Yola sahaja. Nanti pun Yola akan jadi warga Negara Malaysia juge. Jadi mestilah ikut dengan bahasa orang sini," kata Ilham.


Yola terdiam sesaat. Soal pindah kewarganegaraan dia bahkan belum pernah memikirkannya. Hubungannya dengan Ilham pun masih abu- abu. Pernikahan mereka saja tidak pernah tertulis di atas kertas. Tidakkah terlalu muluk kalau sampai memikirkan pindah kewarganegaraan?


"Kenape? Kau tak nak?" tanya Ilham melihat perubahan ekspresi istrinya itu.


Yola menggeleng.

__ADS_1


"Aku mau, Abang. Tapi hubungan kita saja masih seperti ini. Belum tau nanti reaksi kalau Papa tau, Mama tau, Hafiz tau ...."


Ilham mengelus lengan gadis yang sangat dicintainya itu.


"Abang yang akan mengurus pasal itu nanti. Yola usah khawatir, hmm?" jawab Ilham.


Yola mengangguk.


Usai mengambil koper dan barang- barang mereka, Ilham pun menemui seseorang pihak N-one cabang Penang yang telah menunggu kedatangan mereka sedari.


"Tuan Ilham, sila lewat sini! Kereta ade kat sana!" katanya mengarahkan Ilham dan Yola mengikutinya hingga ke tempat di mana mobil mereka akan di parkir.


"Tuan Ilham, siape Puan cantik ni?" tanya oramg itu sesaat setelah ketiganya berada di dalam mobil.


"Oh, ini istri saya," kata Ilham.


"Abang ...." protes Yola keberatan saat Ilham jujur tentang hubungan mereka pada orang ini.


"Tak ape. Dia Pak Cik Abbas. Dia orang kepercayaan Atok," kata Ilham tenang. "Yola tak tahu ke, kalau Pulau Pinang ni adelah kota kelahiran Atok? Itulah sebab Atok nak bangun N- one lebih baik dari pada di daerah lain."


Yola menggeleng. "Yola tak tau, Abang."


"Oh, jadi inilah Puan Muda Yolanda? Cucu menantu kesayangan Tuan Besar Yahya Nirwan?" tanya Abbas. "Lama saye nak tahu dan nak berjumpe langsung dengan Puan. Tuan Besar banyak sangat berceritera tentang cucu menantunya. Ternyata hari inilah saye boleh berjumpe langsung."


Yola tersenyum mendengar cerita Abbas. Yola tahu, Atok Yahya memang sangat menyayanginya sejak dahulu. Persahabatannya dengan almarhum kakek Yolanda membuat dia menganggap Yolanda adalah cucunya sendiri.


"Atok memang sayang sangat dengan Yola ni, Pakcik. Kalau dah menyangkut Yola, aku pun dah macam cucu pungut je," keluh Ilham yang langsung disahuti Yola dengan cubitan.


"Jadi, pasal ape Tuan Ilham dan Puan Yola berkunjung bersame ke Penang?"


"Selain kite datang ke sini nak lihat lokasi planning pembangunan cabang minimarket N-one, kami pun datang kat sini untuk honeymoon, Pakcik. Siape tahu balik dari sini kite bawa balik juge bakal adiknya Ammar," jawabnya sambil melirik menggoda pada Yola.


"Abang!!! Apaan sih ngomong kayak gitu?" Yola merengut tak suka.


"Kenape memang? Tak salah kan abang cakap pasal tu? Kite datang kat sini untuk honeymoon. Kalau balik bawa kabar bahgia salahnya dimane?" tanya Ilham balik.


Yola masih ingin menjawab Ilham, namun urung saat matanya bertemu dengan mata Pakcik Abbas di kaca depan.

__ADS_1


"Nggak usah dibahas di sini," kata Yola jutek.


Segera dia merapatkan duduknya ke dekat pintu mobil dan memandang pemandangan di sepanjang jalan.


Di sepanjang jalan Yola hanya banyak diam, membiarkan Ilham dan Pak Cik Abbas, bercerita dan mengobrol seputar perkembangan dan kemajuan N-one. Pak Cik juga banyak bertanya tentang kabar Atok Yahya yang akhir- akhir ini jarang ke Penang. Hingga keduanya sampai di hotel di pinggir pantai batu ferringhi, Pak Cik Abbas hanya mengantar mereka sebentar ke lobby hotel dan membawakan tas dan koper.


Usai chek-in, kedua pasangan lama rasa pengantin baru itu pun di antar oleh house keeping ke kamar Presidential Suite Room yang telah dipesan oleh Ilham. Kamar itu mengarah ke laut lepas.


Yola dan Ilham segera meletakkan tas dan barang bawaan mereka.


"Macam mana? Yola suka tak? Meski tak seindah pantai di Bali, tapi di sini pun cantik juga kalau nak tengok sunset di petang hari nanti. Lain waktu kalau segala problem kite dah usai, abang akan bawa Yola jelajah ke luar negeri. Ke Berlin misalnya ...." kata Ilham dengan nada membujuk.


Dia tahu Yola sedang berada dalam suasana hati yang kurang baik.


"Di sini juga bagus, kok," jawab Yola sembari beralih ke balkon.


Tapi karena terik matahari siang cukup menyengat, Yola urung berdiri di sana dan memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kamar.


"Abang, kita jalan- jalan yuk sambil cari makan," ajak Yola.


"Ini masih siang, sayang. Nanti petang abang bawa Yola pusing- pusing kat sini. Kite istirahat dulu," ajak Ilham sembari menarik tangan Yola ke ranjang


Istirahat yang dimaksud Ilham tentu saja bukan istirahat yang sebenarnya. Dia berencana akan mengajak Yola melakukan olahraga ranjang. Itulah salah satu tujuannya membawa Yola kemari, kan? Menikmati moment berdua dan mengganti kebersamaan mereka yang telah hilang.


Dengan tak sabar Ilham langsung ingin menyalurkan naluri lelakinya. Merasa tak perlu meminta persetujuan gadis yang sudah tidak gadis itu, Ilham pun langsung menindih tubuh Yola dan menjadikannya berada di bawah kungkungannya.


"Abang ...." Yola terlihat gelisah. "Ini masih siang."


"Terus kenape? Kite tak sedang berpuasa kan?" jawab Ilham tak sabar.


Yola menghela napas.


"Abang beli pengaman dulu deh," kata Yola sembari mendorong Ilham dari atas tubuhnya.


****


Guys... Sekarang aku updatenya satu episode segini- segini aja ya... Tapi aku usahakan update dua hari sekali, biar bisa naik level. Mungkin tengah malam nanti aku update lagi. Itu pun kalau kalian rajin, ngelike, komentar dan kasih voting bagi yang ada poinnya...

__ADS_1


Tetap Setia baca kelanjutannya ya...


__ADS_2