Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Berita dari Hafiz


__ADS_3

Hafiz sedang berada di sebuah bakery shop sekaligus merangkap coffe dan tea shop yang tak jauh dari gedung pabrik Indopenh Group milik Lucas. Hafiz tengah menunggu Yuri memesankan mereka beberapa roti dan kopi untuk mereka sarapan pagi ini.


Suasana pagi ini sungguh sangat menegangkan bagi Yuri dan Hafiz. Pasalnya ada fakta baru yang mereka temukan tentang bahan-bahan mentah yang mereka temukan untuk produk Indopenh Grup dan wajib untuk Hafiz laporkan segera pada Ilham. Tetapi yang menjadi masalah saat ini adalah mereka tahu, khususnya Yuri tahu kalau akses mereka menghubungi Malaysia terbatas. Di hotel, Lucas memasang perekam suara bahkan kamera tersembunyi yang sialnya harus mereka hindari. Yuri pun tentu tak mau kalau Lucas sampai tahu dia saat ini sedang berkhianat, kan?


Dan disinilah mereka saat ini. Sedang sarapan sambil memikirkan cara bagaimana agar mereka bisa menghubungi Ilham tanpa ketahuan. Bahkan mereka sendiri pun tak yakin dengan ponsel yang mereka miliki. Lucas selalu punya cara menyelundup ke wilayah lawan. Termasuk ke perangkat lunak ponsel mungkin. Siapa yang tahu?


"Maaf, lama!" kata Yuri sembari meletakkan nampan berisi dua cangkir kopi dan sepiring roti yang nampaknya baru keluar dari oven dan terlihat menggugah selera.


Dan keduanya pun mulai lagi dengan sandiwaranya. Tak jauh dari meja mereka, Yuri bisa melihat dirinya dan Hafiz sedang diperhatikan oleh seseorang yang dia yakini adalah anak buah Lucas. Dia tak berani menanggung resiko jika dia tak total memainkan perannya. Lucas mungkin telah memasang alat penyadap suara di dirinya, atau di ponselnya, seperti plankton. Silent dan tak diketahui keberadaannya namun tiba-tiba telah mengancam jiwa.


Hafiz tersenyum pada Yuri, seolah Yuri adalah kekasihnya.


"Mestinya aku sahaja yang membeli roti dan coffe tu supaya kau tak penat mengantri," kata Hafiz.


Yuri balas tersenyum.


"Nggak apa-apa. Lagi pula kamu nggak bisa bahasa daerah sini, kan? Nanti kamu minta roti mereka ngasihnya yang lain, hayoo gimana?" jawab Yuri terdengar manis.


"Speak english-lah, kau ni, itu pun tak tahu," balas Hafiz.


"Iya kalau mereka ngerti, kalau nggak gimana? Kecuali kamu bisa bahasa khmer nggak apa-apa kamu aja yang pesanin sekaligus antriin," jawab Yuri lagi.


Dan obrolan mereka di meja itu berlanjut dengan obrolan ringan yang hangat seolah mereka sudah lama menjadi sahabat hingga akhirnya kini menjadi kekasih. Padahal yang sebenarnya Hafiz masih enggan bertegur sapa dan beramah tamah dengan Yuri, mengingat bagaimana licik dan jahatnya Yuri pada Yola. Tetapi lagi dan lagi, jika hanya dari Yuri Hafiz bisa memperoleh informasi dari Mr.Y bahkan bisa menghancurkannya, why not? Lagi pula lepas menyingkirkan Lucas, Yuri pun dengan sendirinya pasti bisa disingkirkannya.


"Lalu macam mana Friska boleh berjumpa dengan dia punya hus..."


Tiba-tiba obrolan mereka terhenti sejenak saat Hafiz merasa kakinya diinjak Yuri di bawah meja. Lalu dengan ekor mata Yuri, Hafiz bisa melihat kode Yuri agar dia melihat kemana bola mata Yuri bergerak.


Hafiz dapat melihat bola mata Yuri bergerak mengikuti seorang pelayan bakery shop yang berjalan menuju toilet. Hafiz menggerakkan alisnya sedikit seolah bertanya, apa itu orang yang dimaksud oleh Yuri. Yuri memejamkan kelopak matanya agak lama, memberi kode kalau itu memang orang yang dia maksud.


"Kamu ngomong apa tadi, Ndut? Kok diam?" tanya Yuri.


"Hisss ... perutku sakit sikit. Aku nak ke tandas sekejap," kata Hafiz membalas akting Yuri.


"Hah? Sakit perut? Memangnya kamu makan apaan? Cuma roti kan? Jangan becanda kamu, Ndut," kata Yuri berlagak manja.

__ADS_1


"Tak bergurau pun. Perut aku sakit memang. Tandas ni ade kat manalah?" tanya Hafiz pura-pura meringis dengan sedikit memegang perutnya.


"Hmmm, dimana ya ... bentar aku tanya ke pelayan bakery ..." Yuri berlagak menawarkan.


"Tak. Tak payah biar aku sahaja cari sendiri. Kau usah risau. Tunggu aku sekejap kat sini," cegah Hafiz lembut.


"Oh, baiklah ..." sahut Yuri dengan nada yang khawatir.


Kemudian Hafiz pun melengos pergi, dan mendatangi beberapa karyawan toko bakery untuk menanyakan toilet dengan menggunakan bahasa Inggris. Dan perlu digarisbawahi tindakan ini pun semata-mata untuk pelengkap sandiwaranya saja. Tentu saja dia tahu dimana toilet. Dia tidak buta sehingga tidak bisa melihat simbol toilet wanta dan toilet pria yang melekat di di dinding bangunan itu.


Tiba di toilet, Hafiz pun masuk dan seorang pria yang memakai baju karyawan toko bakery telah menunggunya di sana.


"Mr. Hafiz?" tanya pria itu.


"Yap. I'm Hafiz," jawab Hafiz mantap.


"This is the cell phone that your girlfriend has borrowed from me. It can be used directly to make calls outside Cambodia. Don't worry," kata pria itu


(Ini adalah ponsel yang dipinjam pacarmu padaku. Ini bisa langsung dipakai untuk melakukan panggilan ke luar negara Kamboja. Jangan khawatir)


"You're welcome." (Sama-sama)


"Ehmm, can I ask you a favor one more time? Just a moment, please keep a while outside as long as I call, so that no one can hear me calling," Hafiz memohon pada pria itu.


(Ehmm, bisakah aku meminta tolong sekal lagi? Hanya sebentar, tolong jaga sebentar di luar sepanjang aku menelepon. Jangan biarkan ada satu orang pun yang bisa mendengar aku saat menelepon)


"Only that? Don't worry, it's a small matter."


(Hanya itu? Jangan khawatir, itu hanya masalah kecil).


Usai mengatakan hal itu pria itu pun pergi meninggalkan Hafiz dan berjaga di luar. Hafiz sendiri tak menunggu lama baginya untuk segera menghubungi ilham. Terlalu lama dia ditoilet akan mengundang kecurigaan mata-mata Lucas yang mengawasi mereka.


Lalu begitu panggilan itu terhubung,


"Hallo ..." Suara Ilham terdengar menyapa di seberang sana.

__ADS_1


"Abang, ini aku Hafiz!" jawab Hafiz cepat.


"Hafiz, kau pakai nomor siape ni? Tak de nomor ni di kontak talipon bimbit abang lah," kata Ilham.


"Tak payah banyak bertanya, Bang. Cuba dengarkan aku sahaja sekejap. Aku tak dapat berlama-lama," kata Hafiz.


Ilham pun mendengarkan dengan seksama. Dia bisa mendengar nada urgensi di kata-kata Hafiz.


"Abang, aku menemukan sesuatu yang nampak tak baik pada bahan produk kosmetik Indopenh Group."


Ilham nampak tak terkejut mendengarnya.


"Apa tu?" tanyanya.


"Mereka memakai formaldehid (formalin) dalam takaran (dosis) tinggi. Bahkan untuk produk baby pun," Hafiz menjelaskan, sementara Ilham masih mendengarkan dengan penuh perhatian.


Seorang Lucas melakukan kecurangan seperti itu, itu nampak tak aneh. Justru akan aneh kalau usaha dan perusahaannya lurus-lurus saja, kan? Mengingat dia pun mendapatkan saham Atok dengan cara yang luar biasa curang pastinya.


"Ape yang mesti aku lakukan, Abang?" lanjut Hafiz.


Ilham menarik napas.


"Kumpulkan bukti, jangan sampai dia curiga. Dan Hafiz ... abang nak minta tolong satu hal pada kau juga, berkebetulan kau ade kat sana," pinta Ilham.


"Selidik pasal Montha Somnang. Ini tak akan senang. Sebab jika senang (mudah), Lucas mesti dah dapatkan information pasal patung emas tu," pinta Ilham.


"Patung emas ape?" tanya Hafiz bingung.


Belum sempat Ilham menjawab, terdengar ribut-ribut di luar toilet. Membuat Hafiz berinisiatif mematikan panggilan teleponnya pada Ilham.


"Abang, nanti ku talipon lagi," katanya.


****


Segitu dulu reader beib... jangan lupa like dan komentnya ya ....

__ADS_1


__ADS_2