Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Kisah Tentang Andini


__ADS_3

"Abang, aku ade di Jakarta," kata Abidin di telepon.


"Hmm?" Suara di telepon seperti tidak percaya. "Macam mana kau ade juge di Jakarta? Nak buat ape?"


"Ikut kawan kat sini, Abang. Dia ajak saye untuk ikut pelelangan tanah kat sini. Dia kate harganya jauh lagi murah dibanding tanah kat Malay. Berkebetulan saye ade sikit wang simpanan nak tengok-tengok juge. N-one saye suruh jage Aminah sementara mase, tak ape kan?"


Tengku Yahya Nirwan di seberang sana manggut-manggut.


"Tak pe. Baik pula macam tu. Kau mesti berpikir untuk mase yang akan datang. Tetapi Bidin, abang masih ade kat pelelangan mase ni. Kau ni duduk kat mana?" tanya Yahya.


"Justru ni saye nak berjumpa dengan abang, di Jakarta abang bermalam kat mana?" tanya Abidin balik.


"Saye bermalam di rumah Salim, kawan abang yang pernah abang cerita. Datanglah dahulu kat sana. Sekejap kalau dah selesai pelelangan hari ini abang segera balik ke rumah Salim. Di sana ade Zubaedah pula," kata Yahya.


Lalu lewat telepon Yahya pun segera memberi alamat rumah Salim Gunawan pada Abidin. Dan Abidin dan Zuhri pun usai mendapatkan alamat itu segera meluncur ke kediaman keluarga Gunawan.


"Awak ni nampaknya dah sangat paham jalan menuju rumah ni ya?" tukas Abidin saat mobil yang mereka tumpangi berhenti tak jauh dari rumah keluarga Gunawan.


Zuhri tersenyum penuh makna. Tentu saja dia tau. Beberapa kali dia sempat dapat tugas dari Mr.Y untuk memata-matai Salim Gunawan dan keluarganya.


Sebelumnya, setelah mereka mendarat di Jakarta, keduanya tak langsung menuju ke rumah keluarga Gunawan, melainkan ke sebuah rumah bordil, tempat teman wanita Zuhri yang berprofesi sebagai seorang kupu-kupu malam itu berada. Di sana, Zuhri tanpa banyak basa-basi langsung mengutarakan maksud dan tujuan mereka datang untuk meminta anak dari perempuan itu. Miris, sungguh sangat miris, wanita itu tidak keberatan sama sekali.


"Jadi, kamu meminta anakku untuk kamu apakan?" tanya wanita. "Jangan bilang kamu ingin merawatnya sendiri. Aku nggak akan percaya itu. Seberandalan kamu merawat bayi itu nggak mungkin, kan? Kau dan aku tahu kita sama-sama brengsek, iya kan?"


"Untuk paman ini, bukan untukku. Yang benar aja hahaha," sangkal Zuhri.


Wanita itu memandang Abidin dari ujuk kaki hingga ujung rambut.


"Om setua ini, belum punya anak?" tanyanya tak mengerti.


Abidin hanya tersenyum simpul. Berbohong sama sekali bukan kebiasaannya. Rasa menyesal karena akan melakukan banyak dosa hadir lebih awal dimana biasanya penyesalan selalu datang di akhir. Sesal tidak bisa melakukan apa-apa.


"Memangnya kenapa, kalau paman ini belum punya anak. Sekarang gini, kamu mau nggak ngasih anakmu untuk dirawat paman ini? Siapa tadi namanya? Yuri? Atau jangan-jangan kamu mau minta duit? Berapa? Asal jangan banyak-banyak aja sih. Paman ini bukan orang kaya juga soalnya," berondong Zuhri dengan banyak pertanyaan.


Wanita bernama Della itu menatap Abidin yang terlihat bermuram durja itu. Di dalam pikirannya lelaki itu pastilah sedang bersedih memikirkan dirinya yang sudah berusia uzur namun belum memiliki keturunan. Sejenak dia menjadi iba karenanya.


"Ayolah, Dell, coba kamu pikirkan lagi, di sini pun anakmu Yuri itu akan jadi apa, ya kan? Seburuk-buruknya seorang ibu pasti nggak mau anaknya bernasib sama. Kamu pasti beranggapan sama, kan? Nanti sesekali kamu kupertemukan dengan anakmu deh," katanya.


Tak berapa lama Della berpikir dia pun mengangguk.


"Oke, deh. Yuri kamu bawa aja. Di sini juga aku nggak bisa ngerawat dia lama-lama. Aku susah nitipin ke orang juga kalau aku lagi kerja. Kemarin sih mau kutitip di panti aja dia, cuma belum sempat nyari pantinya. Tetapi kalau om ini mau ngerawat juga nggak apa-apa sih. Rawat aja. Nggak perlu pertemukan kami lagi. Dia juga nanti bakal malu kalau tau ibunya kerjaannya begini," katanya sedikit sendu.


"Tenang aja, di tangan paman ini anakmu pasti akan baik-baik saja. Berapa umurnya sekarang?" tanya Zuhri.


"Lima bulan," jawab Della.

__ADS_1


Kebetulan yang sangat kebetulan. Usia bayi itu dengan bayi Andini juga hanya beda satu bulan. Mr. Y tak akan curiga kalau bayi itu telah ditukar.


Dan mereka pun berjanji akan mengambilnya nanti. Setelah mereka menculik Andini tentu saja.


****


Dan akhirnya disinilah Abidin berada, di depan rumah besar keluarga Nirwan. Pintu pagar dibiarkan terbuka. Sepertinya pemilik rumah ini sama sekali tak punya kekhawatiran akan kemungkinan munculnya orang berbahaya, sehingga rumahnya tidak seperti rumah orang kaya kebanyakan yang memiliki security. Atau mungkin juga karena rumah itu berada di dalam komplek perumahan elit sehingga mereka mempercayakan sepenuhnya keamanan rumah mereka security komplek yang berjaga di depa gapura. Dan mereka telah lolos dari penjaga di depan saat petugas keamanan itu menanyakan rumah tujuan mereka dan mengkonfirmasi kedatangan mereka pada keluarga Yahya Gunawan.


Kedatangan mereka disambut dengan heran oleh Zubaedah. Sebelumnya mertuanya yang sedang berada di pelelangan tanah bersama Salim Gunawan telah menelepon kalau adiknya Abidin Nirwan sedang dalam perjalanan ke sana.


"Pakcik! Pakcik ade kat sini juga?" tanya Zubaedah sambil menimang baby Andini.


"He em, dari Malay bersama kawan pakcik, tetapi datang ke rumah ni pacik hanya sendiri sahaja. Pakcik datang nak tengok jua tanah-tanah yang dilelang kat sini. Siapa tahu berjodoh bolehlah pakcik cuba buat usaha kat sini. Saye mengganggu ke?" tanya Abidin pada Ratih yang turut menyambut tamunya.


Wanita itu sedang mengandung.


"Tentu tidak. Saudara Pakcik Yahya adalah keluarga kami juga. Jangan khawatir, Pakcik," kata Ratih dengan senyum ramahnya.


"Ahh, terima kasih kalau macam tu," ucap Abidin yang dibalas oleh senyuman dari Ratih.


Zubaedah mengangguk-angguk mendengar penjelasan Abidin.


"Oh, macam tu? Pakcik sendiri sahaja ke? Kenape tak langsung ke tempat lelang tu?"


"Lelang tu dah hampir selesai, sia-sia juge kat sana hari ini. Besok dan besoknya lagi masih ade kesempatan tak ape. Saye hanya singgah sekejap sahaja kat sini. Boleh tengok cucu saye ke?" tanya Abidin pada Zubaedah.


"Cantiknya cucu Datuk. Nampak baik tak suka menangis ye?" katanya sambil membelai-belai pipi bayi mungil itu.


"Hu um, dia kat sini tampak tenang tak macam di KL. Mungkin disana kerana ade abang Ilham suke ganggu dia selagi tidur, makanya nak menangis terus. Di sini dia nampak suke," kata Zubaedah lagi.


"Kalau macam tu Andini di sini sahaja bersama tante, hum?" Kali ini Ratih yang menyahut. "Biar nanti kalau adeknya lahir langsung ada teman." selorohnya lagi.


"Boleh juga macam tu," Zubaedah balas berseloroh.


Kedatangan Abidin di rumah keluarga Nirwan tak sedikit pun mengundang kecurigaan. Dia diperkenankan untuk menginap di rumah keluarga teman sang abang itu. Dan itu memuluskan rencana dia dan Zuhri. Dengan adanya Abidin di rumah itu, membuat Zuhri lebih gampang menyusup ke dalam rumah.


Hingga di hari kedua kedatangan mereka, Zuhri dengan kemampuan kriminal yang telah banyak dia pelajari dari Lucas dan komplotannya pun memulai aksinya. Saat itu Abidin, Yahya dan Salim Gunawan sedang pergi ke pelelangan. Suatu alibi yang sangat bagus untuk Abidin karena waktu itu dia tidak ada di tempat kejadian perkara. Sementara itu Abimanyu bekerja di kantornya. Di rumah keluarga Gunawan hanya ada Ratih, Zubaedah dan beberapa orang asisten rumah.


Zuhri hanya perlu mengintai pergerakan Zubaedah dan bayinya dari balik jendela kamar. Instingnya memperkirakan cepat atau lambat Zubaedah pasti akan meninggalkan bayinya meski hanya sebentar untuk mengambil sesuatu atau hanya sekedar ingin buang hajat ke toilet. Dan benar saja, di suatu ketika Zubaedah pun meninggalkan Andini untuk mandi karena anak bungsunya itu telah tertidur pulas di kamar tamu. Saat itu pula Zuhri tak membuang kesempatan itu dan segera masuk melalui pintu samping rumah terdekat dengan kamar tamu dan bergegas mengangkat Andini dari ranjang. Dengan menggunakan selendang jarik Zuhri menggendong bayi itu dan berlari menuju halaman belakang rumah serta beberapa kali dia terpaksa harus bersembunyi agar tidak ketahuan oleh ART yang kebetulan lewat. Aksinya berhasil dengan sempurna saat dia berhasil memanjat tembok halaman belakang rumah keluarga Gunawan melewati kebun-kebun kecil milik warga di belakang komplek perumahan dan berakhir di mobilnya setelah menyeberang sungai kecil. Sungguh perjuangan yang luar biasa untuk menculik bayi ini demi sesuatu yang disebut kasihan. Lalu bagaimana dengan baby Yuri? Dia kasihan juga. Tapi bersama ibunya pun hidupnya belum tentu lebih baik, kan? Berbeda dengan bayi Andini ini. Begitulah pemikiran Zuhri.


Dan usai menculik Andini, Zuhri pun segera mengamankan bayi itu ke tempat yang dia pikir cukup untuk menyembunyikan Andini sementara waktu, hingga dia menemukan alamat sang dokter. Sementara itu bayi Yuri seperti rencana awalnya dia serahkan pada Lucas. Lucas yang waktu itu telah berangkat ke Phnom Penh mempercayakan begitu saja Yuri untuk diurus oleh ART-nya, orang yang dikira Yuri adalah ibu kandungnya.


Lucas percaya sepenuhnya kalau Zuhri telah menyelesaikan tugasnya dengan benar. Zuhri adalah salah satu anak buahnya yang terpercaya, tak mungkin berkhianat, dan tak ada terlintas di pikirannya sama sekali kalau Zuhri akan berkhianat, sebab lelaki itu tak punya motif untuk mengkhianatinya. Setidaknya itulah yang berada di pikiran Lucas.


Di rumah kediaman keluarga Gunawan sendiri bisa ditebak apa yang terjadi saat Zubaedah menemukan putrinya hilang. Segera melapor ke kepolisian terdekat. Tak ada bukti tak ada saksi waktu itu. Zuhri memang ahli meninggalkan TKP tanpa meninggalkan jejak sama sekali. Dan peristiwa itulah yang membuat keluarga Gunawan dituntut oleh Zubaedah untuk mengganti putrinya dengan bayi yang dikandung oleh Ratih yang akhirnya berakhir dengan perjodohan Ilham dan Yolanda.

__ADS_1


Beberapa hari sejak hilangnya, Andini, Abidin segera bertolak pulang ke Malaysia. Dengan menitipkan Andini tentunya pada lelaki itu, Zuhri. Berikutnya dia mempercayakan pada lelaki itu nasib cucunya, Andini. Semoga dia berhasil menemukan dokter itu, Yusuf. Dan semoga saja Yusuf bersedia merawat anak itu.


Di masa depan Zuhri adalah orang yang selalu ditugaskan Lucas mengirimi foto-foto Andini palsu pada keluarga Nirwan, dia yang mengatur semuanya berjalan seperti maunya Lucas, seperti mengirimi foto seorang gadis dari arah samping, belakang yang menunjukkan tanda lahir buatan di pundak gadis itu. Hingga Zubaedah bisa dengan mudahnya percaya kalau foto-foto yang dikirimi itu adalah memang foto anaknya yang hilang ketika bayi.


****


Dr. Abraham Yusuf, memandang tak percaya lelaki di hadapanya ini. Lelaki ini sudah jauh menua dibandingkan dengan terakhir kali mereka bertemu. Terang saja, dirinya pun sekarang sudah jauh menua. Berbeda saat dia meninggalkan Penang 27 tahun yang lalu. Kala itu dirinya masih bujangan, belum menikah. Setelah itu dia pun menyelesaikan pendidikan coass-nya hingga internship di Indonesia, jatuh cinta dengan gadis Indonesia teman sejawatnya hingga mereka menikah pada akhirnya.


Dua tahun berselang setelah pernikahannya, dirinya dan istri yang belum memiliki anak hingga saat itu menemukan seorang bayi di dalam sebuah kardus di depan rumah mereka di Indonesia. Dalam kardus itu ditemukan sepucuk surat yang isinya berbunyi seperti ini.


*Salam Dokter,


Bisakah saya menitip bayi ini pada awak? Jangan tanya alasannya apa. Tapi dia adalah cucu saya sendiri. Ada banyak masalah yang tak bisa saya ceritakan yang intinya, bayi ini ada dalam bahaya jika dia bersama kami. Tolong jaga dia. Namanya Andini.


Dari Orang Tua yang mungkin telah awak lupakan*.


Dr. Abraham Yusuf tak perlu berpikir banyak tentang siapa yang menitipkan bayi itu padanya. Di ingatannya langsung terbersit Pakcik Abidin. Di indonesia jarang sekali dia menemukan pasien dengan logat melayu. Apalagi di kata-katanya yang menyebutkan "awak", dan "Orang tua yang mungkin telah awak lupakan", tak ada yang berkemungkinan sebesar itu selain Pakcik Abidin.


Lalu setelah berembuk dengan sang istri, dan mungkin dikarenakan sangat ingin juga memiliki sang buah hati, keduanya menjadi egois dengan tak melaporkan penemuan bayi itu ke kantor polisi. Mereka ingin memilikinya sendiri, bahkan membuatkan akte kelahiran bayi itu dengan nama mereka sebagai orang tuanya. Dan nama yang diberikan oleh Abraham tetap Andini, dengan mengambil nama belakang darinya. Andini Yusuf.


Selang beberapa tahun Abraham dan istrinya belum juga memiliki keturunan dikarenan ada masalah infertilitas dalam sistim reproduksinya, akhirnya keduanya berpasrah dan berserah diri kalau Andini memang adalah anak mereka yang dititip melalui rahim perempuan lain. Namun sebagai seorang wanita istrinya Abraham juga terkadang memikirkan nasib dari ibu kandungnya Andini, hatinya saja bisa hancur berantakan kalau Andini sakit meski tidak parah, apalagi jika sampai hilang dari sisinya? Tapi bukankah di surat itu kakeknya Andini yang mengatakan kalau Andini akan berada dalam bahaya jika bersama mereka? Harusnya ibunya Andini juga tahu, kan kalau bayi itu merekalah yang mengurusnya dan telah mengikhlaskannya untuk mereka asuh?


Di usia Andini yang ke 12, Abraham menanyakan kado apa yang diinginkan oleh putri kesayangannya itu. Dan jawaban dari Andini membuatnya tercengang.


"Papa, Dini tahu Dini bukan anak kandung Mama sama Papa, kan? Bisa tolong kasih tau Dini siapa orang tua Dini yang sebenarnya?" tanya gadis kecil itu dengan logatnya yang khas Indonesia. Mamanya adalah Indonesia asli. Dia besar dan pergaulannya di sana meski pun papanya berkebangsaan Malaysia. Jadi sudah pasti bahasanya pun Indonesia.


"Dini? Dini tahu darimana soal itu, Nak?" tanya istrinya Abraham waktu itu. Hatinya hancur saat mengetahui kalau Andini akhirnya tahu, mereka bukan orang tua kandungnya.


"Dini dengar waktu Tante Leni ngomong sama temannya saat Dini ke rumah sakit mau nemuin Mama, katanya Papa harusnya nggak bisa punya anak. Dan Dini cuma anak angkat, iya kan, Ma? Pa?"


Abraham terdiam.


"Jadi siapa orang tua kandung Andini yang sebenarnya?" tuntut Andini.


Setelah berpikir-pikir beberapa saat, Abraham pun akhirnya menyerah.


"Baiklah, Papa akan cerita. Tapi kamu harus janji, tidak akan ada yang berubah setelah papa menceritakan ini. Kamu tetap hanya anak papa sama mama, okay?"


Andini kecil mengangguk setuju.


***


Hai reader, jangan lupa like dan komentarnya ya.


Oh iya, author mau promoin novel keren punya temannya othor ni. Jangan lupa mampir di karya keren ini yak...

__ADS_1



__ADS_2