Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Penangkapan Yuri


__ADS_3

Hafiz dan Yuri tiba di depan rumah Lucas di saat hari sudah petang. Suasana rumah nampak sepi dan gelap akibat lampu-lampu di luar dan di dalam belum dinyalakan.


Tak ada kecurigaan apa pun bagi Yuri saat pria itu, Hafiz, yang menemaninya sedari tadi siang hingga menjelang malam begini mematikan mesin mobil, namun tak kunjung membukakannya pintu. Pria itu malah sibuk dengan ponselnya, dan Yuri enggan mengganggu. Biarlah dia menunggu sesaat lagi.


Hingga untuk beberapa waktu, Hafiz sepertinya selesai dengan ponselnya dan menaruh ponsel itu di dashboard. Pria itu kini menoleh padanya. Hafiz menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk Yuri artikan.


"Hafiz, terima kasih atas semua yang kamu lakukan hari ini. Traktirannya, jalan-jalannya dan semua hal yang kamu lakukan, hingga membuatku sangat senang dan merasa bahagia sekali. Ini sangat berkesan bagiku dan aku tak akan lupakan hal ini sampai kapan pun," ucap Yuri.


Hafiz tersenyum. Lebih tepatnya menyeringai.


"Jadi kau sangat suke dengan ape yang kulakukan ya?" tanyanya lirih.


Yuri mengernyitkan keningnya heran. Bingung akan sikap Hafiz yang tiba-tiba sepertinya berubah, tidak sehangat tadi saat mereka jalan berdua di mall, makan dan juga menonton bioskop. Yuri merasa Hafiz seperti memperlakukannya dingin kali ini.


"Tentu saja aku suka. Memangnya ada cewek yang tidak suka dapat perhatian seperti itu?" tanya Yuri balik.


Dia sungguh tak mengerti kenapa sikap Hafiz seperti berubah 180° padanya. Lelaki itu seperti sinis memandangnya. Apa salahnya?


Hafiz manggut-manggut.


"Baiklah kalau macam tu, berarti kau tak akan ade penyesalan lagi kan? Meski ini adalah yang terakhir kau mendapatkannya?"


"Ma-maksudnya?" tanya Yuri terbata. Feeling-nya mulai tak enak sekarang.


"Yuri, sebaiknya kau jujur saat ini padaku!"


"Ju-jur apa?" tanya gadis itu tak mengerti.


Hafiz kini menatapnya lekat-lekat, sebelum dia membuka percakapan berat kini.


"Atok ..." Hafiz sengaja menggantung kata-katanya itu untuk melihat reaksi Yuri.


Dan benar saja, Yuri tak bisa menyembunyikan rasa terkejut di wajahnnya. Membuat Hafiz yakin seyakin-yakinnya kalau Yuri memang terlibat pembunuhan yang direncanakan terhadap Atok Yahya.

__ADS_1


" ... kenapa kau membunuh Atok, Yuri?"


Yuri terhenyak. Bagaimana Hafiz bisa tahu? Darimana dia mengetahuinya? batinnya gugup.


"A-apa maksudmu?" tanya Yuri tergagap.


Hafiz tersenyum sinis.


"Tak payah bersandiwara macam tu terus menerus. Kau tak penat ke?"


"Aku ... aku ... tak mengerti apa maksudmu," jawab Yuri lirih.


Ya Tuhan, ketahuan! Bagaimana ini?


Yuri berusaha membuka pintu mobil, tetapi rupanya Hafiz telah mengunci semua pintu mobil dengan central door lock untuk berjaga-jaga seandainya Yuri ingin kabur.


"Hafiz, buka pintunya!" pinta Yuri mulai panik. Dia menarik-narik handle pintu dan berusaha keras menarik-narik tuas pintu mobil secara manual. Tetapi sayangnya pintu itu tetap tidak akan bisa terbuka jika bukan Hafiz yang melakukannya dari tuas pintu pengemudi di sebelahnya.


Yuri semakin gugup dan panik manakala dia melihat satu persatu orang berseragam polisi entah darimana datangnya mendekat ke mobil yang mereka tumpangi dan mengepung mereka. Salah seorang dari mereka mengetuk pintu kaca.


"Stop berdusta! Entah sampai bila kau akan berlakon macam ni," geram Hafiz.


"Aku tidak berdusta. Aku tidak mengenal beliau sebelumnya, jadi mana mungkin aku melakukan hal sekeji itu?" sangkal Yuri.


"Kalau macam tu ape yang kau lakukan di rumah Atok ketika semua orang sedang pergi menghadiri majlis perkahwinan Abang dan Yola?"


Haaaa? Bagaimana Hafiz bisa tahu? Bukannya waktu itu CCTV telah dirusak lebih dulu oleh Melisa? Yuri kini mulai meragukan situasinya. Sepertinya akan sulit meloloskan diri dari keadaan ini.


"Kau mungkin tak sangke kalau semua akan terbongkar seperti ini, kan?" kekeh Hafiz.


Yuri terperangah, tersadar sesuatu. Jadi perhatian dan kebaikan yang ditunjukkan oleh Hafiz seharian ini apa? Apakah ini sandiwara yang telah terencana sebelumnya? Seketika Yuri merasa terhempas ke jurang yang dalam setelah terlebih dahulu dibawa Hafiz melayang hampir ke syurga. Perasaan dicintai oleh Hafiz itu apakah itu semu? Yuri ingin menangis saat ini. Hal yang sudah lama tidak pernah dia lakukan.


Tunggu dulu, sebentar, sebentar. Jadi apakah Hafiz sengaja membawanya keluar agar dia lengah dan bisa menjebaknya? Apakah dia juga yang memanggil para polisi ini?

__ADS_1


"Jadi kau sudah merencanakan ini sebelumnya?" tanya Yuri getir.


Hafiz tak menjawab. Dia menatap lurus ke depan.


"Jadi hari ini, semua yang kau lakukan, membelikanku banyak barang, mengajakku makan bahkan nonton, itu semua hanya sandiwara, betul? Kau hanya ingin menjebakku!" tuding Yuri.


Hafiz mengangguk.


"That's right!! Dan sekarang kau tak bisa mengelak lagi. Bahkan rumah yang kau dan Lucas tempati pun dah diperiksa oleh pihak polis. Sangat mengejutkan mengetahui ape yang kalian simpan kat sana. Yuri, aku tak sangke akan kenal dengan orang semacam kau ni. Dan pasal Atok, ape salah Atok padamu? Kau sendiri cakap kalau kau dan dia tak saling mengenal. Lalu, alasan kau menghabisi nyawa Atok ape?!" teriak Hafiz.


Yuri sampai tersentak diteriaki oleh Hafiz. Lalu pandang matanya tertuju keluar jendela mobil ke arah rumah Lucas yang ditempatinya sudah beberapa bulan sejak dia berada di KL. Jadi para polisi ini bahkan sudah menggeledah rumah ini? Berarti mereka sudah menemukan obat-obatan ilegal dan barang bukti lain? Sungguh Yuri tak menyangka kehancuran mereka akan berada di depan mata seperti ini.


"Jadi selama kita berada di Kamboja, aku membantumu banyak hal untuk mengalahkan Lucas hingga tadi kita jalan-jalan di mall melakukan banyak hal yang kupikir itu membahagiakan, apa semua itu hanya sandiwara agar kau dapat terus memanfaatkan aku?" tanya Yuri tajam.


Hafiz menyunggingkan senyum meremehkannya.


"Mestilah, memang kau nak ape lagi? Kau berharap ape dari hubungan kite ni? Aku tak cinta padamu Yuri. Sampai bila pun wanita macam kau tak pantas untuk mendapatkan cinta. Kau ni bukan manusia. Kau tak punya hati.Jadi macam mana rasanya di khianati, didustai dan dimanfaatkan? Kau lupa macam mana kau mengkhianati Yola, menggunakan kebaikan dia, kau khianati dia demi bekerja sama dengan Lucas. Dan kini Lucas pun ... kau berkhianat padanya, kan? Sampai bila pun kau hanya tahu berkhianat, tak akan dapat dijadikan kawan, rekan, apalagi kekasih. Nak berharap kebahgiaan? Mimpi sahaja! Semua yang kita tabur pasti akan kita tuai"


"Hafiz!! Teganya kau!" teriak Yuri tak terima. Air matanya berderai. "Aku benar-benar cinta padamu! Aku sudah melakukan banyak hal untuk membantumu mengalahkan Lucas! Beginikah balasanmu?!"


"I don't care! Kau mestinya bersyukur aku tak balas membunuhmu mase ni juge!"


Yuri mencengkram lengan Hafiz, menariknya dan memukul-mukulnya. Sementara pria itu yang mulai merasa jengah melepas tangan Yuri dengan kasar dari pundaknya dan menghempasnya hingga punggung Yuri terbentur pintu mobil. Lalu segera dia membuka pintu mobilnya mempersilahkan polisi yang sedari tadi sudah tak sabar menunggu di luar, menangkap dan mengeluarkan Yuri yang bersikukuh tak mau kooperatif.


Drama penangkapan Yuri itu cukup menarik perhatian banyak orang komplek perumahan itu. Setelah yakin Yuri sudah di bawa ke kantor polisi, Hafiz pun mengurus urusannya dengan orang-oranh suruhan itu. Termasuk masalah pembayaran dan meminta surat jual beli saham yang mereka temukan di kamar Lucas.


Satu masalah kelar. Dan sekarang hanya tinggal Lucas.


Hafiz menghela napas. Hari ini lumayan melelahkan. Di rogohnya kantong celananya. Ikat rambut dengan "love" berwarna pink itu masih utuh di kantongnya.


Sekarang waktunya pulang menemui pujaan hatinya. Si pengobat lelahnya.


****

__ADS_1


Hai reader, jangan lupa suportnya ya ...


__ADS_2